Sindikasikan konten
FOTO MINGGU INI

Lagi-lagi nomor dua. Jalan Khatib Sulaiman, Padang, Sumatera Barat (12/10/11). Setelah sekian lama tujuan semua produk konsumsi adalah menjadi nomor satu, akhir-akhir ini tampak sejumlah produk agak rendah hati dengan menyebut produknya sebagai “nomor dua” bagai semacam tren. Namun seperti semua yang trendy, alih-alih membuat produk tersebut jadi menarik, strategi iklan semacam ini jadi membosankan. Tak perlulah kita bertanya apa kira-kira yang menjadi nomor satu. Rajab Muda | Februari 2012

Sindikasikan konten
KOLOM LAYAR KACA
Ifan Adriansyah Ismail
28.07.2011
10,123 komentar
Ifan Adriansyah Ismail
10.05.2011
13,107 komentar
Ifan Adriansyah Ismail
19.03.2011
6,933 komentar
Sindikasikan konten
ULASAN
Halim Bahriz
03.08.2011

Adalah kesalahan fatal ketika menganaktirikan nilai fungsi dalam memunculkan kekuatan arsitektur sebuah bangunan atas nama estetika.

26,642 komentar
Sindikasikan konten
SPEKULASI
Ardi Yunanto
22.06.2011

Benarkah ruang kota sudah penuh untuk dijadikan hunian warga yang layak dan terjangkau? Masih ada ruang yang terabaikan, dan itu banyak.

181 komentar
Sindikasikan konten

FOKUS 7: INISIATIF WARGA DI RUANG KOTA

Fokus jurnal Karbon selama Desember 2010 - Desember 2011 membahas tentang profesi dan kreasi warga kota yang selama lima tahun terakhir aktif menanggapi berbagai cacat sistem di ruang publik kota, termasuk kreasi-kreasi para perancang dan seniman yang masuk lebih dalam pada isu ruang publik dan warganya, serta membahas hubungan antara praktik seni secara luas di ruang publik dengan ruang dan warganya. Kami undang Anda untuk menulis bersama kami. Informasi lebih jelas bisa dilihat di sini. Kami tunggu sambutan Anda.

FOKUS 7: Des 2010 - Des 2011
Anonim

Arsitek biasanya dianggap sebagai "penulis tunggal" atas karya-karyanya. Namun di Jakarta dan Depok ada tiga perpustakaan SD yang interiornya dirancang bersama-sama oleh para arsitek, mahasiswa, murid, dan guru. Mungkinkah cara merancang partisipatoris yang melibatkan pengguna tersebut dapat menjadi sebuah penyeimbang—atau bahkan penawar—bagi perancangan kota yang kian seragam? Kajian kritis tentang perancangan partisipatoris ini ditulis oleh seorang pengajar arsitektur, yang tidak mau disebutkan identitasnya demi mengurangi kemungkinan tak terelakkan bagi dirinya untuk menjadi "penulis tunggal" esai ini.

FOKUS 7: Des 2010 - Des 2011
Rika Febriyani

Odong-odong telah menjadi wahana permainan yang selain digemari anak-anak, juga membantu orang tua mengasuh mereka. Lincah melintasi area permukiman, Odong-odong juga mengatasi kurangnya taman bermain kota dan, dalam perkembangannya, menjadi sarana hiburan bagi warga kota segala usia. Langsung dari jalanan ibukota selama berbulan-bulan, Rika Febriyani menelusuri fenomena unik ini dan memaparkan amatannya untuk Anda, dalam sebuah tulisan paling bernas yang pernah ada sejauh ini tentang fenomena Odong-odong.

FOKUS 7: Des 2010 - Des 2011
Roy Thaniago

Dengan kelihaiannya menyelinap di antara kemacetan kota, ojek telah sejak lama menjadi solusi ampuh sementara bagi gagalnya transportasi publik kota. Kian lama, ojek makin marak dan malah turut dituduh sebagai biang kemacetan. Namun pada awal 2011 di Jakarta, ada sekelompok orang muda yang mendirikan Go-Jek, bisnis berwatak sosial yang menggandeng tukang ojek sebagai mitra. Salah satu misi mereka: meningkatkan pelayanan penumpang dan menambah penghasilan ojek. Redaktur baru kami, Roy Thaniago, menuliskan amatannya atas generasi baru ojek Jakarta ini untuk Anda.

FOKUS 7: Des 2010 - Des 2011
jurnal Karbon

Lebih banyak karya mural dan grafiti di jalanan perkotaan yang dapat dicibir karena cuma menjadi bentuk ekspresi individual pembuatnya, sementara sudah selayaknya karya seni rupa di ruang publik bisa berdialog dengan khalayak ramai. Di Jakarta, inisiatif seniman muda bernama Serrum, membentuk divisi khusus yang berkarya di ruang publik untuk warga, dengan nama yang begitu resmi: Dinas Artistik Kota. Redaktur kami, Farid Rakun dan Ardi Yunanto mewawancarai MG Pringgotono, gembong inisiatif ini, untuk menguak alasan, latar belakang, strategi yang mereka miliki, juga mengajak Anda untuk berdiskusi lebih jauh tentang isu hangat ini.

FOKUS 7: Des 2010 - Des 2011
Kristanti Paramita

Dari awal sampai pertengahan 2010 lalu, para editor kami, Ardi Yunanto dan Farid Rakun, diundang oleh Universitas Tarumanagara untuk ikut memfasilitasi sebuah studio arsitektur eksperimental. Hasil studio tersebut diterbitkan sebagai sebuah buku. Untuk jurnal Karbon, Kristanti Paramita, seorang peneliti dan pendidik arsitektur berbasis komunitas dari Universitas Indonesia menulis ulasannya tentang buku dan proses studio tersebut. Hal apa saja yang bisa diambil dari usaha tersebut demi terciptanya pendidikan kreatif yang lebih baik? Dan yang lebih penting, apa saja yang perlu dibenahi?

FOKUS 7: Des 2010 - Des 2011
Rika Febriyani

Sudah sejak lama ngopi membudaya di Nusantara, namun baru menemui ledakannya sebagai sebuah ‘gaya hidup’ di kota-kota besar Indonesia setelah gerai-gerai kopi waralaba global menyerbu dan mengubah wajah kota, pelan tapi pasti. Tukang kopi sepeda adalah reaksi khas. Untuk pembaca jurnal Karbon, Rika Febriyani melakukan investigasi terhadap keberadaan tukang kopi sepeda yang sering luput dari perhatian kita di Jakarta. Pola operasi, alasan keberadaan, sampai konsekuensi keruangan yang disebabkan profesi ini, dengan puitis ia paparkan dalam tulisan yang menjadi pembuka fokus Karbon kali ini.

FOKUS 6: HUMOR DI RUANG KOTA

FOKUS 6 | Agustus 2009
Farid Rakun

Sebuah blog SERASA merekam produk Indonesia yang memplesetkan merk terkenal luar negeri. Farid Rakun, dari balik layar komputernya, terus bertanya: apakah blog ini sungguh hendak berbagi kelucuan atau hanya sekadar menertawakan? Atau jarak—berupa layar komputer, bahkan negara—yang bukan langsung di jalanan tempat foto-foto itu diambil, yang membuat semua benci menjadi rindu, atau bahkan mencaci bisa menyamar jadi melucu?

FOKUS 6 | Agustus 2009
Evi Mariani Sofian

Jalanan bisa jadi satu-satunya tempat seorang anak kaya menabrak pejalan kaki papa, namun ia juga bisa jadi tempat seorang pebisnis mapan tersenyum pada petugas parkir miskin dan memberinya upah karena mencarikannya tempat parkir yang nyaman. Evi Mariani menuliskan pengalaman dan pandangannya tentang jalanan Jakarta yang sebenarnya penuh dengan kasih-sayang jika kita melihatnya dengan hati.

FOKUS 6 | Agustus 2009
Nuraini Juliastuti

Di kota yang panas, berjaket atau tidak berjaket kadang memusingkan, terutama bagi perempuan. Antara berpakaian tertutup lalu panas sendirian atau terbuka lalu panas ramai-ramai dari sejuta mata yang memandang. Nuraini Juliastuti menceritakan pengalaman dia dan Ani, temannya, tentang kebiasaan berjaket di Yogyakarta.

FOKUS 6 | Agustus 2009
M. Isfanani Haidar Ilyas

Seorang pelacur media menulis surat ini setelah ia diusir dari ruang rapat. Sebuah protes yang ditulis oleh ‘orang dalam’ pertelevisian, yang akan mengungkapkan kepada kita: mengapa televisi Indonesia yang belum kapok-kapok membuat program komedi, selalu gagal membuat kita tertawa.

FOKUS 6 | Agustus 2009
Veven Sp. Wardhana

Tak perlu mencari tayangan khusus humor di televisi jika ingin terpingkal-pingkal. Cukup menonton televisi Indonesia, maka segala yang aneh bin ajaib dijamin bisa membuat kita geli sendiri. Veven Sp. Wardhana, pengamat televisi, menggeledah keanehan-keanehan itu. Dari mulai film horor yang bisa-bisanya menjadi sinema reliji, kegilaan infotainmen, istilah-istilah aneh, sampai tayangan sinetron absurd dan iklan-iklan siluman yang suka menyamar tapi selalu ketahuan.

FOKUS 6 | Agustus 2009
Pengantar

Hidup di kota yang suntuk dan muluk, sesekali kecemasan perlu dilemaskan oleh humor. Dengan gagah berani, edisi ini memandang kelucuan kota dengan humor. Dari esai tentang perancang acara komedi di stasiun televisi, kelucuan seluruh layar kaca itu—tontonan yang bisa kita saksikan di ruang keluarga—bahasan esai lalu keluar ke jalanan, hingga apa yang direkam kembali kepada kita, untuk kita lihat di depan layar komputer.

FOKUS 5: KOMIK DAN KOTA

FOKUS 5 | Februari 2009
Ardi Yunanto

Pada 2004, enam panel kartun karya Muhammad Reza dipamerkan di enam halte Transjakarta yang saat itu baru beberapa bulan beroperasi di Jakarta—sebelum halte itu terpasang iklan, sebelum kepemilikan Transjakarta diperebutkan. ‘Sehijau’ kehadirannya, warga Jakarta mulai beradaptasi dengan “tradisi baru bertransportasi” ini, bersama segala tingkah-lakunya yang sebagian direkam oleh Reza melalui karyanya.

 

FOKUS 5 | Februari 2009
Seno Gumira Ajidarma

Siapa yang tak kenal Doyok? Sosok berblangkon dan bercelana tiga perempat yang selalu setia muncul di harian Pos Kota? Karakter komik ini sering berkomentar tentang masalah politik mutakhir dari sudut pandang orang kebanyakan. Doyok, sungguh maunya serius, dan bagaimana keseriusan itu mendapat bentuk, ternyata sungguh-sungguh menarik, sebagaimana bahasan Seno Gumira Ajidarma dalam esainya ini.

FOKUS 5 | Februari 2009
Arief Ash Shiddiq

Ada tiga kompilasi Senggol Jakarta yang disusun Akademi Samali, berisi berbagai komik dari para komikus muda saat ini. Arief Ash Shiddiq mengamati komik-komik ini dengan pertanyaan awal sederhana: Apakah ini Jakarta? Ketika kekerasan ditampilkan tanpa konsekuensi? Ketika jalanan ditampilkan hanya sebagai tempat? Berusaha mengelak dari situasi jalanan yang sebenarnya? Arief, dengan sangat keras mengkritik, namun juga tak berhenti berharap.

FOKUS 5 | Februari 2009
Hikmat Darmawan

Jika kita ingin melihat bagaimana Jakarta pada awal 1960 hingga akhir 1970-an melalui komik, maka komik roman adalah satu-satunya genre yang setia berlatar kota metropolitan. Bergelimang cinta yang mendamba dan kota sebagai impian dalam komik roman, Hikmat Darmawan memaparkan sejumlah kesamaan pola dalam komik roman, dari kebiasaan membaca koran, interior, hingga gaya berbusana, yang tak hanya menunjukkan kenaifan, namun juga imajinasi atas kota.

FOKUS 5 | Februari 2009
JJ Rizal

Bila dikaitkan dengan relevansi atas zaman, terutama dalam konteks Jakarta, Benny dan Mice adalah kartunis terdepan Indonesia saat ini. Mereka ada karena kekacauan Jakarta dan menceritakan segala kekonyolan situasi hidup di ibukota itu. Di tangan penulis JJ Rizal, karya mereka selama satu dekade dibahas dari sudut pandang kekotaan secara mendalam, kritis, dan berimbang. Inilah esai paling bernas tentang karya Benny dan Mice sampai saat ini.

FOKUS 5 | Februari 2009
Pengantar

Bagaimana komik Indonesia merepresentasikan gejolak sosial kota? Sejauh apa representasi itu memiliki hubungan dengan kenyataan, mampu mencatat sejarah mental masyarakatnya, dan dengan cara apa para komikus mengatasi permasalahan medium komiknya sendiri untuk menghadirkan representasi tersebut? Dan mengapa sebagian besar komik selalu merujuk pada Jakarta? Edisi ini membahas hal-hal tersebut dan menyingkap fenomena serta permasalahan di baliknya.

FOKUS 4: SINEMA DAN KOTA

FOKUS 4 | Januari 2008
Ronny Agustinus

Esai pertama yang membahas fenomena seni video dan media baru di Indonesia secara tajam. Ronny Agustinus tidak saja mengatakan bahwa selama ini kita mengalami modernitas tanpa rasionalitas. Namun juga memberi konteks penting yang sering diabaikan dalam mengkritik kehadiran seni media baru: sosial-politik; konteks yang ironisnya justru melandasi sejarah seni rupa Indonesia sejak awal.

FOKUS 4 | Januari 2008
Ronny Agustinus

Esai pertama yang membahas fenomena seni video dan media baru di Indonesia secara tajam. Ronny Agustinus tidak saja mengatakan bahwa selama ini kita mengalami modernitas tanpa rasionalitas. Namun juga memberi konteks penting yang sering diabaikan dalam mengkritik kehadiran seni media baru: sosial-politik; konteks yang ironisnya justru melandasi sejarah seni rupa Indonesia sejak awal.

FOKUS 4 | Januari 2008
Veronica Kusuma

“Seperti juga kebanyakan film-film lain pasca 1998, film Mengejar Matahari datang hampir tanpa kritik terhadap visual ruang Orde Baru itu sendiri.” ujar Veronica Kusuma dalam esai ini, yang juga menanyakan apakah rumah susun sekadar menjadi latar cerita, atau juga menjadi area kritik dalam sebuah film yang terlanjur berlatarkan sosial ini.

FOKUS 4 | Januari 2008
Eric Sasono

Adakah Jakarta dalam film Indonesia kita? Apakah ia hanya menjadi lokasi,
atau menghidupkan film itu sendiri sebagai bagian tak terpisahkan dari konteks sosialnya? Eric Sasono membagi empat periode perjalanan film Indonesia sejak Orde Baru, melihat bagaimana Jakarta dihidupkan, menjadi inspirasi, atau dijual begitu saja sebagai eksotisme kelas menengah pembuat filmnya.


 

FOKUS 4 | Januari 2008
Pengantar

Film, sebagai dokumentasi sosial-mental masyarakatnya, mau tidak mau akan menampilkan kota dalam ceritanya. Adakah permasalahan sosial dan ruang kota yang begitu kuat dalam film Indonesia? Tidak hanya menggunakan sebuah kota sebagai latar, hanya karena di sanalah film dibuat? Edisi ini menampilkan sejumlah tulisan mengenai itu, juga sebuah program pemutaran dan diskusi film.

FOKUS 3: TRANSPORTASI UMUM

FOKUS 3 | Agustus 2007
Ardi Yunanto

Andry Mochamad (1977-2008), seniman asal Bandung, pada 2001 membuat stiker yang didedikasikan pada supir angkutan umum yang baik hati. Jika Anda melihat stikernya tertempel di angkutan umum, maka Anda bisa merasa tenang, karena stiker itu hanya ditempelkan di angkutan umum yang bersupir ramah, tidak ugal-ugalan. Penanda bahwa Anda bisa selamat sampai di tujuan.

FOKUS 3 | Agustus 2007
Seno Gumira Ajidarma

Seberat apa penderitaan kita menghadapi macet jalanan daripada supir taksi? Kehidupan supir taksi justru ada di dalam kemacetan itu. Tak hanya itu, supir taksi juga melakukan pekerjaannya dengan suatu seni. Seno Gumira Ajidarma menuliskan pengamatannya yang tajam, dengan ironi, tentang kehidupan supir taksi yang sering terlihat, namun jarang kita perhatikan.

FOKUS 3 | Agustus 2007
Ardi Yunanto

Pernahkah Anda memperhatikan bahwa hanya di bus Patas AC di Jakarta, penumpangnya punya kesadaran lebih untuk duduk? Dan tentu saja, memilih dengan siapa mereka akan duduk. Ardi Yunanto menuliskan pengamatannya selama setahun tentang perilaku kolektif penumpang bus Patas AC dalam memilih tempat duduk. Tentang mereka, atau Anda, yang mungkin saja tak ingin duduk bersama.

FOKUS 3 | Agustus 2007
Yoshi Fajar Kresno Murti

Jika becak di Jakarta pernah diburu dan dibasmi demi indahnya pariwisata Indonesia, becak di Yogyakarta justru dilestarikan demi turis hingga sekarang. Yoshi Fajar Kresno Murti menuliskan secara rinci tentang keadaan becak di Yogyakarta, yang juga terpinggirkan karena tak selaras dengan perkembangan kotanya.

FOKUS 3 | Agustus 2007
Pengantar

Transportasi umum bukan saja masalah perkotaan yang tak pernah selesai. Namun juga representasi ketidakmampuan pemerintah dalam merawat perekonomian negara. Edisi ini membahas tentang becak, taksi, dan juga perilaku penumpang bus patas AC— yang menandakan, betapa persoalan transportasi umum masih harus menanggung beban lain: mengubah perilaku masyarakatnya sendiri.

FOKUS 2: PERJALANAN

FOKUS 2 | Mei 2007
Agung Hujatnikajenong

Pada April 2002, Handy Hermansyah melingkari lubang-lubang jalanan di Bandung dengan cat putih, agar masyarakat tidak mengulangi musibah dirinya: terjatuh dari motor. Agung Hujatnikajenong menuliskan kembali aksi performans ini, yang dianggapnya sebagai proyek seni publik yang berhasil.
 

FOKUS 2 | Mei 2007
Ardi Yunanto

Halte bus seharusnya ruang kota yang paling sebentar dialami. Namun bus di Jakarta selalu terlambat, juga macet, dan desain halte melupakan fasilitas penting sebagai bayaran atas itu: kebutuhan untuk duduk. Juga tak hirau bahwa halte berarti mengandung ‘komunitasnya’, yang walau tak selalu menyamankan, namun menghidupkan, sekaligus mengamankan situasi.

FOKUS 2 | Mei 2007
Anissa S. Febrina

Anda sering melihat usaha parkir tak resmi di Jakarta? Atau rumah kecil di perkampungan tanpa garasi cukup dengan dua-tiga mobil berceceran sampai ke jalan? Mobilitas ternyata sudah menjadi kebutuhan utama. Anissa S. Febrina mengulas fenomena itu dari berbagai aspek sosial, bahwa masalah lahan parkir bukan sekadar masalah ruang kota, namun juga perilaku sosial dan sadar lingkungan.

FOKUS 2 | Mei 2007
T. Ismail Reza

Sejak tol Cipularang dibuka pada 2005, mobilitas masyarakat Bandung-Jakarta berubah. Usaha travel menjamur, dan terlebih lagi, banyak ritual perjalanan Bandung-Jakarta yang juga berubah dan dimanfaatkan di sana-sini oleh berbagai pihak kapital. T. Ismail Reza, menuliskan pengalaman dan amatannya, bahwa mobilitas kini tak sekadar dorongan praktis untuk bergerak.

FOKUS 2 | Mei 2007
Bambang Susantono

Jakarta yang sangat terlambat menata sistem angkutan umum massalnya ini, akan macet total paling lama 10 tahun mendatang. Beberapa tahun lalu, sistem busway diterapkan, namun kekurangannya sampai saat ini masih berlangsung: sistem pengumpan dan lahan parkir. Bambang Susantono berpendapat bahwa kunci layanan transportasi adalah akses, bukan mobilitas kendaraan.

FOKUS 2 | Mei 2007
Pengantar

Edisi ini mengulas beberapa fenomena yang terjadi selama dalam perjalanan yang disebabkan oleh permasalahan infrastruktur kota. Dari mulai sistem transportasi, terbukanya akses Jakarta-Bandung, halte yang terbengkalai, bisnis tempat parkir, hingga karya seni tentang lubang jalanan.

FOKUS 1: RUMAH

FOKUS 1 | Maret 2007
Gustaff H. Iskandar

Pada 2003, ruangrupa mengadakan Apartment Project, sebuah proyek seni tentang rumah vertikal di Jakarta. Tujuh seniman dari Jakarta, Belanda, dan Jepang tinggal dan bekerja selama sebulan di dua ‘rumah’: Apartemen Taman Rasuna di Kuningan dan Rumah Susun Bendungan Hilir II di Pejompongan. Berikut adalah catatan Gustaff H. Iskandar, pelaksana proyek seni tersebut.

FOKUS 1 | Maret 2007
Ardi Yunanto

Sepanjang Oktober 2002 sampai April 2003, warga Tebet di Jakarta Selatan bisa dibilang beruntung karena pernah memiliki Lintas Tebet. Majalah komunitas ini membahas isu-isu yang terjadi di Tebet saat itu, dan mengangkat warga sebagai berita dan narasumber utama. Berikut adalah wawancara bersama Nugroho Nurdikiawan, salah satu mantan editor Lintas Tebet.

FOKUS 1 | Maret 2007
Farabi Fakih

Kota Legenda yang diresmikan pada 1996 silam di samping jalan tol Jakarta-Cikampek menawarkan gaya rumah beragam dan kitsch. Anda, kelas menengah, bisa memiliki rumah bergaya American Colonial atau Classical Eropa tanpa harus meninggalkan Indonesia sama sekali. Farabi Fakih menelurusi imajinasi kelas menengah ini berdasarkan penelitiannya dari berbagai iklan perumahan di media massa.

FOKUS 1 | Maret 2007
Darrundono

Benarkah rumah susun adalah solusi bagi permukiman kumuh? Memindahkan manusia yang bukan barang, perlu memperhatikan latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya, serta melibatkan calon penghuni dalam proses perencanaan. Berdasarkan disertasinya yang ditulis kembali untuk jurnal-online Karbon, Darrundono memaparkan pandangannya.

FOKUS 1 | Maret 2007
Pengantar

Ini adalah edisi pertama dari jurnal Karbon yang mulai 2007 mengubah dirinya menjadi jurnal-online yang membahas permasalahan kota, budaya visual, dan seni rupa kontemporer yang lebih dipandang sebagai materi analisa demi melihat hubungannya dengan konteks sosial. Edisi pertama membahas permasalahan paling menahun dalam kehidupan kota: rumah, dari berbagai sudut pandangnya.

Sindikasikan konten
ARTIKEL
Gita Hastarika
18.07.2011

Seni membingkai kehidupan, atau kehidupankah yang merangkai seni? Gita Hastarika mencoba menjawab pertanyaan ini lewat sebuah potret roman perkotaan—hasil interaksi pengunjung dengan sebuah karya seni di Galeri Nasional Indonesia. Dengan tidak menonjolkan salah satu pertanyaan tentang mana yang lebih penting, pengalaman subjektif pengunjung atau arti karya sang seniman, tulisan ini mengharapkan setiap orang untuk dapat memilih jawabannya sendiri melalui proses membaca.

24,845 komentar
Deasy Elsara
11.03.2011

Karya-karya street art yang selama ini kebanyakan hanya berupa coretan-coretan nama alias dan karakter-karakter karangan, pada akhir 2010 lalu tampil beda di Jakarta. Sejumlah karya yang beberapa di antaranya masih bertahan tersebut menanggapi permasalahan ibukota dengan berbagai pendekatan. Menempuh jalanan di tengah malam, menggambar, mencoret, dan menempel dengan cepat, tujuh individu dan kelompok seniman muda street art menorehkan aspirasi dan kritik mereka. Penulis Deasy Elsara mengulas karya-karya mereka untuk Anda.

9,588 komentar
Sindikasikan konten
BIOSKOP KITA