Biografi singkat berikut baru meliputi kontributor dan narasumber kami pada edisi jurnal-online Karbon. Biografi singkat kontributor pada Karbon 2000-2006 akan kami tampilkan kemudian.
Agung Hujatnikajennong lahir di Tasikmalaya, 9 Januari 1976. Sejak 2001 sampai saat ini bekerja sebagai kurator di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung. Selain menjadi staf pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, ia juga aktif menulis telaah-telaah seni rupa di berbagai media massa dan jurnal. Tulisannya dalam jurnal ini adalah “Lubang-lubang jalan Handy Hermansyah”.
Anissa S. Febrina lahir di Jakarta, 27 Februari 1980. Lulusan Jurusan Arsitektur, Universitas Indonesia ini, pernah mencoba bekerja selama tiga bulan di sebuah biro arsitek di Jakarta, sebelum akhirnya berhenti dari pekerjaan yang membuatnya menjadi jarang bisa bersentuhan dengan hal-hal yang menjadi perhatiannya: kota dan penghuninya. Saat ini, ia menjadi wartawan harian The Jakarta Post, menghabiskan waktu berkeliling kota, menulis berbagai hal tentang Jakarta dan orang-orang di dalamnya. Saat ini ia sedang melanjutkan studinya di Berlin, Jerman. Tulisannya dalam jurnal ini adalah “Punya mobil tanpa tempat parkir, Jakarta punya jawabannya”.
Arief Ash Shiddiq lahir di Bandung, 8 November 1978. Ia mulai belajar membaca dengan bimbingan komik-komik Cypress. Setelah mampu bersepeda, ia mulai menghantui taman-taman bacaan di sekitar rumahnya, dan di sekitar rumah teman-temannya. Kini, setelah tiga tahun jadi buruh tinta di Jakarta dengan bekerja sebagai redaktur pelaksana majalah Visual Arts selama 2005-2008, ia menjadi Manajer Operasional di SIGIarts gallery, Jakarta demi memuaskan kebutuhan membeli komik setiap bulannya.
Bambang Susantono, Ph.D adalah Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (2004-2007). Alumnus dari Jurusan Teknik Sipil ITB Bandung ini melanjutkan program pascasarjana di Universitas Kalifornia Berkeley dan menyelesaikan program MCP untuk perencanaan kota dan wilayah, MSCE untuk teknik transportasi, dan Doctor of Philosophy (Ph.D.) di bidang perencanaan infrastruktur. Ia antara lain telah bertugas sebagai Staf Ahli Menko Perekonomian hingga saat ini, Sekretaris Tim Koordinasi Infrastruktur Pedesaan, dan Kepala Sekretariat Komite Kebijakan Percepatan Pembangunan Infrastruktur. Ia merupakan Anggota Dewan East Asia Society of Transportation Studies EASTS yang berpusat in Tokyo, Jepang, dan Anggota Dewan SouthsouthNorth Foundation yang berpusat di Johanesburg, Afrika Selatan. Ia mengajar dan membimbing tesis di Program Pascasarjana Bidang Ilmu Teknik Universitas Indonesia. Tulisannya dalam jurnal ini adalah “Transportasi yang Humanis”
Darrundono lahir di Solo, 29 Juli 1934. Sejak 1974, ia menjadi sekretaris untuk Proyek Muhammad Husni Thamrin. Pada tahun 1980, ia mendapatkan penghargaan The Aga Khan Award for Architecture atas pengabdiannya melaksanakan proyek tersebut. Esai ini ditulis ulang berdasarkan disertasinya, yang membuatnya memperoleh gelar Doktor dalam Ilmu Lingkungan di Universitas Indonesia pada awal tahun 2007. Saat ini, ia menjadi Ketua Harian Komite Evaluasi Lingkungan Kota; suatu badan independen yang dibentuk oleh Pemprov DKI sebagai mitra kerja Gubernur, selain menjadi dosen Planologi dan Arsitektur di Universitas Tarumanagara, Jakarta. Tulisannya dalam jurnal ini adalah “Mencari Model Pembangunan Perumahan yang Berkelanjutan”.
Eric Sasono lahir di Jakarta dan tamat dari jurusan Ilmu Politik FISIP UI. Sekarang ini aktif sebagai redaksi di situs www.rumahfilm.org yang didirikan bersama dengan beberapa rekannya. Eric pernah mendapat Piala Citra untuk Kritikus Film Terbaik 2005 dan 2006, dan ia ikut mengembalikan kedua pialanya bersama dengan para pembuat film, pemain film dan musisi ilustrator film yang kemudian membentuk Masyarakat Film Indonesia (MFI). Ia juga mendapat penghargaan sebagai Kritikus Film Terbaik 2005 versi Dewan Kesenian Jakarta. Tulisannya dalam jurnal ini adalah “Sketsa Jakarta dalam Film Indonesia”.
Evi Mariani Sofian lahir di Bandung, 1976. Ia lulus dari Universitas Gadjah Mada pada 2001 setelah berjuang tujuh tahun agar bisa lulus dari Jurusan Ilmu Komunikasi. Pada 2002 mulai bekerja di harian The Jakarta Post dan tugas pertamanya adalah mewawancarai supir-supir Metromini. Satu kenek sepertinya tertarik dan memberi permen sambil membantunya turun Metromini. Sejak itu ia tertarik pada isu perkotaan, lalu mengambil Urban Studies di Universiteit van Amsterdam. Saat ini di koran tempatnya bekerja ia menjadi editor di City Desk, dekat dengan isu yang disukainya, namun jauh dari semua hal-hal keren yang terjadi di kota karena kerjanya hanya di kantor terus, menjelajah Internet dan main game.
Farabi Fakih lahir di Jakarta, 8 Januari 1981. Ia pernah menjadi asisten peneliti di Pusat Studi Sosial Asia Tenggara, Universitas Gadjah Mada dan Koordinator Penelitian di Syarikat, Yogyakarta. Saat ini, ia menjadi asisten dosen di Universitas Gadjah Mada, yang sementara ditinggalkannya untuk belajar sejarah di Universitas Leiden, Belanda. Ia pernah menulis buku Membayangkan Ibukota, Jakarta dibawah Soekarno (2003). Tulisannya dalam jurnal ini adalah “Rumah Indonesia Indah”.
Farid Rakun. Lahir di Jakarta pada 1982, ia belajar arsitektur di Fakultas Teknik Universitas Indonesia pada 2000 - 2005. Setelah terjun ke industri konstruksi selama empat tahun dan menjadi tukang gambar di Bali, New Orleans, dan Phnom Penh, ia memutuskan untuk rehat. Selain menjadi redaktur Jurnal Karbon sejak Januari 2010, saat ini ia menjadi asisten dosen di almamaternya.
Grace Samboh lahir di Jakarta, 1983. Mangkir dari kesarjanaannya, Komunikasi Periklanan STIKOM YTKP, sejak 2007 ia melanjutkan sekolah ke Pengajian Seni Rupa Pascasarjana Universitas Gajah Mada dan giat menulis tentang seni rupa. Sekarang ia sibuk mengais data dan fakta yang ‘dilupakan’ sejarah seni rupa Indonesia sambil menyelesaikan fabel grafis Rawalelatu bersama kedua sahabatnya.
Gustaff H. Iskandar lahir tahun 1974. Ia lulus pada tahun 1999 dari jurusan Seni Murni, Fakultas Seni Rupa & Desain (FSRD – ITB). Pada tahun 2001, bersama R.E Hartanto dan T. Ismail Reza, ia mendirikan Bandung Center for New Media Arts, sebuah organisasi yang bergerak di bidang penelitian dan pengembangan seni media dan praktik seni mutidisiplin di Indonesia. Pada tahun 2003, ia mendirikan Common Room Networks Foundation (www.commonroom.info), sebuah ruang inisiatif yang kemudian dikelola secara bersama oleh Bandung Center for New Media Arts dan Toko Buku Kecil (Tobucil). Bermitra dengan Reina Wulansari dan beberapa teman di Kota Bandung, saat ini ia aktif berkarya, menjadi kurator pameran, menulis dan menjadi pembicara dalam beberapa acara diskusi dan simposium. Tulisannya di jurnal ini adalah “Ruang Transit di Jakarta”.
Hikmat Darmawan adalah pengamat budaya populer, dengan kekhususan minat pada komik dan film. Menulis sejak 1994 di Tempo, Kompas, Gatra, Republika, dan lain-lain. Bukunya, kumpulan esai tentang komik berjudul Dari Gatot Kaca Hingga Batman: Potensi-potensi Naratif Komik (Yogyakarta: Penerbit Orakel, 2005), sedang dikemas ulang bersama kumpulan tulisannya yang lain. Ia ikut mendirikan beberapa komunitas, seperti Musyawarah Burung, Akademi Samali, dan kini bergiat di Laboratorium Kota Paramadina. Ia pernah menjadi redaktur majalah Madina. Saat ini ia menjadi redaktur Rumahfilm.org. Ia menjadi redaktur tamu untuk Fokus "Komik dan Kota" pada Februari 2009. Lihat tulisan-tulisan lainnya di On Everything Pop dan blog Multiply-nya.
Ifan Adriansyah Ismail. Ia mengaku sebagai manusia diaspora. Meskipun baru lahir pada 16 Oktober 1979 dan hanya menjalani hidup di empat kota (Malang, Surabaya, Bandung, Jakarta), berani-beraninya ia merasa diri pengembara. Hal itu lebih disebabkan karena di keempat kota itu, tidak ada satupun yang bisa membuatnya menganggap salah satunya sebagai kampung halaman. Bisa jadi ia manusia bebas, bisa juga manusia tanpa rumah. Maka tidak heran jika pekerjaannya banyak dan berpindah-pindah. Ia pernah menulis acara komedi di televisi selama empat tahun. Sekarang, ia mengajar penulisan dan penyusunan skenario cerita komik di Akademi Samali dan menjadi redaktur bungsu di Rumahfilm.org. Kini ia menambah deretan pekerjannya dengan menulis kolom di Karbonjournal.org, hadir setiap bulan menemani Anda.
Irma Chantily lahir di Jakarta, 5 Februari 1985. Setelah lulus dari jurusan Ilmu Jurnalistik Universitas Padjadjaran, ia menjadi salah satu staf pengajar di program studi Fotografi, FFTV Institut Kesenian Jakarta. Selain mengajar, ia berpartisipasi dalam beberapa kepanitiaan acara dan pameran, diantaranya sebagai Koordinator Program dan penulis pameran foto Mata Perempuan: “Ruang Perempuan”, penulis situs Jakarta Biennale XIII 2009, dan sebagai sukarelawan untuk V Film Festival 2009. Kini ia bekerja sebagai pekerja lepas di berbagai kegiatan seni budaya.
JJ Rizal lahir di Jakarta, 1975. Ia kuliah di Jurusan Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Setelah lulus pada 1998, ia mendirikan Penerbit Komunitas Bambu yang banyak menerbitkan buku-buku ilmu pengetahuan budaya dan humaniora. Penerbit ini berkembang dan pada 2005 membuat sayap penerbitan Masup Jakarta yang khusus menerbitkan buku-buku sejarah dan sastra Jakarta. Selain menjadi editor buku, ia juga menulis di berbagai media massa. Selama 2001-2006 ia pernah menjadi kolomnis tetap tentang sejarah Batavia-Betawi-Jakarta untuk MOESSON Het Indisch Maandblad di Belanda. Karyanya telah dimuat dalam kumpulan Politik Kota Kita (Penerbit Kompas, 2006), Onze Ong: Onghokham dalam Kenangan (Komunitas Bambu, 2007), dan Sejarah yang Memihak: Mengenang Sartono Kartodirdjo (Ombak, 2008).
M. Isfanani Haidar Ilyas adalah pelaku media, yang sering menyebut dirinya pelacur media. Sehari-hari dia mengenakan kostum badut di hadapan produser eksekutifnya, karena sang atasan yakin itulah yang diinginkan pemirsa. Di malam hari dia mengenakan kostum badutnya di depan cermin seraya bertanya-tanya siapa dirinya, dan kenapa rias badut itu tidak pernah bisa dihapus dari mukanya.
Mahatmanto lahir di Klaten dan dibesarkan di Surakarta, Jawa Tengah. Ia pernah belajar arsitektur di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan melanjutkan penelitian mengenai pemikiran arsitek Belanda Henri Maclaine Pont untuk tesis magisternya di almamaternya. Ia sekarang mengajar sejarah arsitektur di Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta, serta menjadi salah satu pengurus Indonesian Visual Art Archive (IVAA) di Yogyakarta.
Nugroho Nurdikiawan lahir di Jakarta, 17 Agustus 1975. Menamatkan pendidikan Teknik Informatika di Universitas Gunadarma, Jakarta. Ia merasa sangat beruntung bisa meninggalkan dunia komputer dengan melanjutkan pendidikan di bidang Science Communication di National Centre for the Public Awareness of Science, Australian National University. Ia pernah bekerja di Jakarta sebagai pengelola Informasi dan Komunikasi untuk Yayasan Pelangi Indonesia; lembaga penelitian di bidang lingkungan hidup. Saat ini, ia menetap di Paris, Prancis bersama istri. Dalam jurnal ini, ia menjadi narasumber untuk tulisan “Semua Ada di Tebet: Wawancara bersama Nugroho Nurdikiawan tentang majalah komunitas Lintas Tebet”.
Nuraini Juliastuti sempat kuliah Sosiologi di Universitas Airlangga, Surabaya, sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah dan belajar Ilmu Komunikasi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Bersama Antariksa pada 1999, ia mendirikan KUNCI Cultural Studies Center. Ia juga menulis tentang seni budaya di berbagai media seperti Tempo, Kompas, Inter-Asia Cultural Studies Journal, Karbonjournal.org, Jurnal Lebur, dan berbagai katalog seni rupa terbitan galeri lokal maupun luar negeri; membantu program penulisan seni "Aksara" di Yayasan Seni Cemeti; dan mengajar paruh waktu di Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Indonesia. Pada 2007 ia pergi ke Belanda untuk belajar Contemporary Asian Studies di Universiteit van Amsterdam. Sekarang ia kembali ke Yogkarta dan sibuk mengerjakan proyek riset eksperimental tentang media dan teknologi untuk KUNCI.
Ronny Agustinus adalah salah seorang pendiri ruangrupa, serta penulis dan editor jurnal Karbon sampai tahun 2002. Selain aktif di Brighten Institute, Bogor, antara 2005-2007 menjabat pemimpin redaksi penerbit Marjin Kiri, dan bersama Ade Darmawan, kini mengelola penerbitannya sendiri: Antipasti. Ia menekuni penerjemahan literatur Amerika Latin dan kajian neoliberalisme. Tulisannya dalam jurnal ini adalah “Video: not all correct” dan "Sebuah esai tanpa hak cipta".
Seno Gumira Ajidarma lahir di Boston, 19 Juni 1958. Ia adalah seorang sastrawan, fotografer dan kritikus film Indonesia. Cerita pendeknya Pelajaran Mengarang terpilih sebagai Cerita Pendek Terbaik Kompas 1993. Buku kumpulan cerita pendeknya antara lain: Manusia Kamar (1988), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (l994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (1996), Iblis Tidak Pernah Mati (1999), juga beberapa novel seperti Matinya Seorang Penari Telanjang (2000). Pada tahun 1987, ia mendapat Sea Write Award. Berkat cerita pendeknya, Saksi Mata, ia memperoleh Dinny O’Hearn Prize for Literary, 1997. Pada 2005, ia mendapatkan Khatulistiwa Literary Award 2005. Kini ia tinggal di Jakarta dan mengajar mata kuliah Kajian Media di FFTV-IKJ dan Kajian Sinema di Program Pascasarjana FIB UI. Tulisannya dalam jurnal ini adalah “Seni dan Air Seni Sopir Taksi”.
T. Ismail Reza menempuh pendidikan Arsitektur dan Tata Kota di Universitas Katolik Parahyangan dan Institut Teknologi Bandung. Ia seorang kolektor musik rock ekspemerintal dan moderator milis prog-rock@yahoogroups.com. Bersama beberapa rekan, ia mendirikan Bandung Center for New Media Arts. Pemerhati kota Bandung ini merasa bahwa Bandung harus menggali potensi kalangan bawah-tanah serta bertebarannya distro sebagai sebuah image branding yang khas dan spesifik. Pengguna setia komputer Apple Macintosh sejak 1995 ini, bekerja dan berkarya sebagai Urban Designer di UrbanE, Bandung. Ia pernah menjadi editor Karbon pada awal 2007. Tulisannya dalam jurnal ini adalah “Ziarah meruang Ritual perjalanan Bandung-Jakarta”.
Yoshi Fajar Kresno Murti. Lahir di Sragen, Jawa Tengah, 1977, ia sekarang tinggal di Yogyakarta. Lulusan Jurusan Arsitektur Atmajaya Yogyakarta ini selama tigabelas tahun lebih bergelut dengan praktik dan wacana ruang-kampung-kota. Pada 2000 - 2008 ia bergabung bersama Yayasan Pondok Rakyat. Sejak 2008, ia bekerja sebagai Koordinator Riset dan Pengembangan Program di Indonesian Visual Art Archive (IVAA) di Yogyakarta dan terus menekuni praktik 'arsitektur ugahari' secara lepas. Kini, bersama teman-temannya, ia juga mengelola Yogyakarta Kampung Field School dan Sekolah Budaya mBrosot, di Kulonprogo, Yogyakarta. Sejak 2010, ia menjadi redaktur koresponden Yogyakarta untuk jurnal Karbon.
Veronica Kusuma lahir di Yogyakarta, 17 Mei 1980. Saat ini ia menjadi mahasiswa program studi Kajian Media Departemen Film, Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta. Selain itu, bekerja paruh waktu sebagai programmer untuk Festival Film Eropa di Indonesia dan memproduseri beberapa dokumenter independen. Tulisannya dalam jurnal ini adalah “Reorganisasi order dalam Mengejar Matahari (2004)”.
Veven Sp. Wardhana kelahiran desa Turen, Malang (Selatan), kuliah di Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, wisuda pada 1984, dengan skripsi mengenai tradisi subkultur dalam sastra Indonesia modern; dengan konsultan Prof. Dr. Umar Kayam. Pada November 2004, ia mengundurkan diri sebagai pekerja di Kelompok Kompas-Gramedia (KKG), dan pada Desember 2005 bergabung sebagai senior advisor di lembaga pelaksana kementerian pemerintah Jerman, Deutsche Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit (GTZ) GmbH, program Good Governance in Population Administration (GG PAS). Beberapa bukunya yang sudah terbit, antara lain: Dari Barbar sampai Timor Timur: Mengeja Budaya Massa (2002), Televisi dan Prasangka Budaya Massa (2001), Kemelut PDI di Layar Televisi: Survei Jurnalisme Televisi Indonesia (1997), Kapitalisme Televisi dan Strategi Budaya Massa (1997), dan Budaya Massa dan Pergeseran Masyarakat (1995).


