-A A +A
Versi ramah cetakPDF version

“Monas dan kita”: menjelajahi beragam interaksi

Irma Chantily
29 Mei 2009


SELAIN MENIKMATI suasana Monumen Nasional (Monas) dan berwisata, kita bisa sekaligus menikmati karya fotografi yang dipasang di pintu masuk Monas sepanjang 1-28 Februari 2009 lalu. Mendapati karya fotografi di sebuah ruang publik saat itu, membuat saya terbawa dengan suasana ‘ramai’ yang berhasil ditangkap oleh keseluruhan proyek fotografi tersebut. Bukan sekadar ramai karena banyaknya orang yang terpampang di satu bagian foto kelompok, pun bukan karena banyaknya foto pengunjung Monas dengan pose beraneka ragam. Melainkan kerumitan antar-interaksi yang mungkin terjadi selama pembuatan proyek tersebut, itulah letak ‘ramai’ yang tiba-tiba menerpa saya ketika memandangi foto demi foto yang terpajang di sana (Gambar 1).

Di muka sebuah papan besar berukuran sekitar 2x7 meter, dilekatkan cetakan yang terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama, di sisi paling kiri bidang gambar terdapat foto kelompok; 32 laki-laki yang terbagi menjadi dua baris, berpose di hadapan kamera dengan latar belakang Monas (Gambar 2). Pose mereka tidak berlebihan; tangan dimasukkan ke dalam saku atau dibiarkan jatuh ke samping tubuh, senyum tipis mengambang di beberapa wajah. Selain itu juga ada beberapa objek lainnya yang ikut di dalam bidang foto. Tidak ada yang istimewa dalam foto itu.

Melangkah sedikit ke kanan, adalah bagian kedua dari rangkaian foto. Terdapat 128 foto ukuran 4R yang menampilkan orang-orang yang berbeda, dengan pose yang unik (Gambar 3.1—3.10). Kebanyakan dari mereka berinteraksi dengan Monas; seperti menyulut rokok dengan api Monas, bersandar ke Monas dan berbagai pose lain hasil permainan efek distorsi yang dihasilkan oleh pemilihan sudut pandang kamera. Foto-foto bagian ini menarik, membuat saya langsung terbayang keriaan yang terjadi ketika foto-foto ini mengambil tempat. Saya mengandaikan tiga anak kecil yang baru pertama kali datang ke Monas. Setelah naik ke puncak Monas, ternyata si anak dapat berfoto bersama Monas, dengan pose menyentuh ‘api’ Monas atau duduk di penyangganya. Imaji-imaji yang tidak normal, dan mereka senang mendapati bahwa mereka dapat berdiri sama tinggi dengan Monas, yang pada kenyataannya menjulang setinggi 137 meter. Adegan demi adegan proses pemotretan para pengunjung Monas yang beragam seperti itulah yang segera melintas di benak saya, dan semuanya terangkum dalam satu kata: kegembiraan.

Lebih ke kanan lagi, terdapat bagian terakhir dari keseluruhan bidang, sebuah teks pengantar karya. Rupanya, pameran ini adalah hasil karya dari Lokakarya Seni Rupa Publik—bagian dari Zona Pertarungan, salah satu rangkaian acara Jakarta Biennale XIII 2009 yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Lokakarya ini bertujuan untuk menanggapi keberadaan ruang publik Jakarta yang semakin terbatas dan untuk menciptakan ruang baru; yang tak hanya berarti ruang fisik namun juga ruang gagasan.

Jakarta Biennale XIII 2009 sendiri memang mengusung tema besar tentang “area” yang berubah menjadi “arena”. Niatnya adalah untuk mengangkat permasalahan di ruang kota yang telah berubah fungsi atau menjadi ‘arena pertarungan’ antarkepentingan. Berbagai permasalahan dan wacana tersebut kemudian didiskusikan dan diperdebatkan oleh para perupa dalam lokakarya-lokakarya dan proses kuratorial. Hasilnya adalah gagasan-gagasan yang direpresentasikan ke dalam karya-karya seni yang banyak digelar di ruang publik dan mengutamakan interaksi dengan khalayak ramai; masyarakat luas yang mungkin tidak memiliki tradisi untuk mendatangi pameran di galeri-galeri. Selain itu, para perupa juga menghasilkan karya seni publik yang memiliki kaitan langsung dengan lokasi tempat karya seni itu disajikan. ‘Arena’ pertarungan Jakarta Biennale XIII 2009 dan para perupanya adalah Jakarta, ibu kota yang terus bergerak dinamis, di mana batasan-batasan antara komersil-non komersil dan publik-privat menjadi demikian tipis.

Jadi ketika mengamati proyek fotografi di Monas, saya berusaha mencermati: cerita tentang Monas seperti apa yang hendak dibawa oleh karya ini? Bagaimanakah interaksi antarmasyarakat yang terbangun di monumen bersejarah ini?


MENJADI WISATAWAN DI MONAS
Sebagai salah satu ruang publik dan tujuan wisata di Jakarta, Monas tidak luput dari pengamatan salah satu perupa peserta Jakarta Biennale XIII 2009. Adalah Daniel Kampua, fotografer lulusan Institut Kesenian Jakarta, yang berada dibalik karya yang bertajuk “Monas dan Kita” ini. Daniel, yang seumur hidupnya tinggal di Jakarta, baru membangun ketertarikannya terhadap situs bersejarah ini pada 2007. Sebelumnya, Daniel tidak terlalu peduli dengan keberadaan Monas.

Awalnya, tugu bersejarah yang dibangun di atas lahan seluas 80 hektar ini didedikasikan untuk memperingati perjuangan Indonesia semasa revolusi kemerdekaan. Kini, Monas menarik minat 700 hingga 1000 pengunjung per hari. Kawasan Monas memang asri, penuh dengan tanaman dan pepohonan yang tertata apik. Lapangannya sangat luas, orang bisa piknik, duduk-duduk di taman atau menikmati pemandangan Jakarta dari ketinggian lebih dari 100 meter. Ditambah lagi dengan statusnya sebagai ikon Ibukota, Monas semakin terkenal dan ramai dikunjungi wisatawan.

Jika awalnya Monas terbuka untuk umum dengan akses masuk yang sangat mudah, kini Monas dikelilingi oleh pagar-pagar besi yang menjulang tinggi. Akses masuk menjadi rumit dan mudah sekali kehilangan arah di dalam sana bagi wisatawan yang tidak terbiasa. Memang, Monas yang sekarang menjadi lebih bersih dan terkesan lebih terawat. Namun sebagai ruang publik yang idealnya ramah terhadap pengunjung, Monas seharusnya lebih diakomodir untuk kemudahan akses keluar-masuk para wisatawan.

Dulu, Daniel bahkan sama sekali tidak terganggu dengan perubahan-perubahan dan wacana pro dan kontra mengenai perubahan pengaturan kawasan Monas. Baru dua tahun lalu ia menyempatkan diri untuk ke Monas, berawal dari proyek pembuatan sebuah esai foto tentang monumen bersejarah tersebut. Ketika itulah Daniel mulai menemukan keberagaman aktivitas pengunjung yang ada di sana. Tiba dalam kelompok besar atau kecil, para pengunjung Monas biasanya datang untuk berolahraga, tamasya, pacaran, sampai mabuk-mabukan di berbagai sudutnya. Ternyata, meski sudah ditutup pagar besi, Monas tetap dipadati pengunjung dari berbagai latar belakang sosial dan ekonomi, dengan berbagai alasan kedatangan mereka.

Sedikit banyak, meningkatnya pamor Monas terkait dengan kenyataan bahwa sebagian warga Jakarta mulai merasa kekurangan ruang publik yang terbuka seperti taman. Sedangkan bagi masyarakat di luar Jakarta, nampaknya kunjungan ke ibukota belum lengkap kalau belum mengunjungi Monas dan Ancol, termasuk Dunia Fantasi.

Lalu apa yang biasa kita lakukan jika sedang melancong? Tentu kita akan berfoto di sana, untuk mengenang keberadaan dan menegaskan pengalaman kita sebagai wisatawan. Di sinilah peran fotografi dan interaksi yang pertama terjadi.

Berfoto dan mengabadikan momen merupakan satu hal yang selalu menghubungkan perilaku wisatawan dengan fotografi. Sebabnya jelas, untuk dokumentasi, karena karateristik fotografi yang paling utama itu dapat membekukan momen, ruang, dan waktu. Maka selembar foto dokumentasi dapat memberikan bukti sahih bahwa suatu kejadian atau kegiatan pernah terjadi dan juga menegaskan bahwa orang-orang yang berada di dalam bidang gambar itu memang pernah berada di sana, ketika penutup lensa membuka untuk sepersekian detik. Bahkan foto akhirnya menjadi lebih abadi daripada kejadian atau orang-orang yang direkamnya.

Dengan berfoto di Monas, pertama, para wisatawan memiliki bukti keberadaan mereka di sana dan pengalaman-pengalaman yang telah mereka alami—dengan demikian jika melihat foto-foto di Monas beberapa tahun kemudian, mereka dapat merasa ‘memiliki’ masa lalu. Kedua, dengan difoto bersama Monas, para pengunjung telah melakukan interaksi dengan Monas. Monas bukan lagi semata tugu peringatan yang mereka kunjungi di suatu waktu. Monas menjadi milik mereka yang dapat ‘disentuh’, ‘dipeluk’, ‘disandari’, atau ‘diduduki’.

Susan Sontag pernah mengatakan bahwa bagi masyarakat luas, fotografi difungsikan sebagai pertahanan terhadap perasaan khawatir dan sebagai alat kuasa.[1] Fotografi digunakan sebagai alat untuk meneguhkan kepemilikannya atas ruang baru atau tempat kunjungan wisata yang mereka temui—sama seperti fotografi dapat meneguhkan kepemilikan seseorang atas masa lalu. Akhirnya, mungkin para wisatawan lebih mencari foto daripada mengalami pengalaman itu sendiri, sehingga akhirnya fotografi dipandang sebagai salah satu cara untuk mengalami sesuatu.

Bagaimanapun perasaan yang mereka alami ketika berwisata, para wisatawan biasanya akan menekan perasaan-perasaan sedih dan hanya menunjukkan kegembiraan. Campur baur emosi tidak akan terlihat dari hasil pengamatan sebuah foto, sebab foto memang hanya menampakkan kepada pembacanya apa yang ada di permukaan. Selembar cetakan foto akan memberikan gambaran mental atas sesuatu, tapi foto juga selalu menyembunyikan lebih banyak daripada yang diungkapkan. Itulah sebabnya, saya hanya bisa membayangkan kegembiraan ketika mengamati satu persatu foto para pengunjung Monas yang ditampilkan dalam karya fotografi ini.


WISATAWAN DAN FOTOGRAFER KELILING MONAS
Memang, semua wisatawan pasti ingin menegaskan pengalaman mereka dan ingin memiliki sekeping realitas atas kejadian yang mereka alami di Monas. Namun tak semua pengunjung Monas memiliki kamera pribadi, tapi mereka tak perlu khawatir karena selalu ada para fotografer keliling yang bisa memotret mereka.

Para fotografer keliling itu sudah lama ada di sana. ‘Sesepuh’ para fotografer keliling Monas adalah orang-orang pertama yang menjual jasa mereka dan mulai ‘merintis’ usaha menjadi fotografer keliling di Monas sejak 1970-an. Melihat peluang usaha yang cukup potensial, semakin banyak fotografer yang beroperasi di sana. Mengabadikan momen para pengunjung Monas menggunakan kamera saku seadanya dan berbekal sebuah printer, kini para fotografer keliling mematok imbalan sebesar Rp15,000 untuk satu lembar foto yang dicetak. Hasil foto para fotografer keliling ini beraneka ragam, baik lokasi ataupun posenya, namun yang paling sering dilakukan adalah berfoto di hadapan tugu bersejarah itu sendiri.

Di sini, peran fotografer keliling dalam merealisasikan foto tertentu bagi para pengunjung Monas mengambil posisi sebagai interaksi kedua. Dengan menjadi perantara antara hasil foto dengan pengalaman wisatawan, terjadi sebuah interaksi yang unik antara fotografer dengan yang difoto.

Bagi yang sudah fasih dengan fotografi, tentu tak akan heran dengan kemampuan distorsi kamera yang dihasilkan dari pemilihan sudut pandang tertentu. Di sini pula letak perbedaan cara pandang mata manusia dengan cara pandang lensa. Mata manusia bersifat binokuler, menghasilkan persepsi mengenai kedalaman dan perspektif. Kita sadar bahwa ada perbedaan cara pandang ketika kita melihat sebuah objek dengan sebelah mata. Posisi objek itu akan sedikit bergeser jika kita melihat objek dengan sebelah mata yang lain. Berbeda dengan lensa kamera yang bersifat monokuler; perspektif dan kedalaman hanya bisa dilahirkan dari pemilihan sudut pandang, lensa kamera, bukaan diafragma dan kecepatan rana.

Dengan berbagai pertimbangan itu, fotografi dapat membuat kita nampak tinggi sejajar dengan Monas atau gedung bertingkat lainnya, juga bisa membuat kita menjadi sama besar dengan sebuah pohon besar yang menjulang. Perbedaan persepsi mata dan lensa kamera dapat membuat orang-orang terkesan dengan efek distorsi yang dihasilkan. Hal-hal semacam inilah yang dipergunakan oleh para fotografer keliling untuk menghasilkan sebuah citra interaksi yang unik, yang hanya bisa dilakukan oleh kamera, antara pengunjung Monas dengan Monas.


”MONAS DAN KITA” DAN INTERAKSI DANIEL
Daniel muncul di tengah-tengah interaksi antara pengunjung Monas dengan fotografer keliling Monas. Sebagai seorang fotografer, ketertarikan Daniel terhadap para fotografer keliling dapat dengan mudah kita terka. Di sinilah peran Daniel dan interaksi yang ketiga terjadi.

Sudah cukup lama Daniel mendekati para fotografer keliling Monas. Pendekatan itu bukan sesuatu yang sulit dilakukan karena sebelumnya Daniel sudah mengenal beberapa di antara mereka. Bagaimanapun juga, Daniel pasti mengunjungi Monas jika ia punya waktu luang, bisa dua atau tiga kali dalam seminggu. Sekadar berjalan-jalan di taman, memotret untuk memuaskan mata fotografisnya, atau sebatas melamun memerhatikan orang lalu lalang. Daniel telah menjadi wisatawan tetap Monas. Maka tidak heran jika setelah terlibat dalam proyek Lokakarya Seni Ruang Publik di penghujung 2008, Daniel teringat akan ‘ritual’ mengunjungi Monas setiap kali ada kesempatan, dan berusaha mencerna, karya publik seperti apa yang bisa ia hasilkan dari sana.

Yang kemudian dihasilkan Daniel merupakan sebuah foto yang mengikat keseluruhan proyek fotografi ini; antara foto karyanya sendiri yang menunjukkan wajah para fotografer keliling Monas, foto karya fotografer keliling Monas yang menunjukkan wajah para wisatawan, dengan teks pengantar karya. Kehadiran Daniel juga berarti mendokumentasikan keseluruhan interaksi yang terjadi; antara Monas dengan pengunjungnya, dan antara fotografer keliling dengan para pengunjung Monas. Tanpa kehadiran foto kelompok para fotografer keliling yang ditangkap Daniel, pameran ini akan kehilangan esensi interaksinya.

Hal yang agak mirip pernah dilakukan oleh fotografer asal India, Rajesh Vora, yang dalam pameran Another Asia (2008) menampilkan karya dokumentasi studio foto Kulsum; sebuah studio foto keliling di India. Klien utama Studio Kulsum merupakan masyarakat kelas bawah India yang dapat merealisasikan mimpi mereka dengan sekali potret.[2] Hanya dengan 35 sen, mereka bisa mendapatkan foto-foto yang populer di India: berfoto dengan para tokoh Bollywood, berfoto dengan latar belakang religius, atau dengan dikelilingi barang-barang mewah—semua perlengkapan studio adalah papan kayu yang menyerupai tokoh-tokoh Bollywood atau merupakan layar panjang dengan beragam lukisan pemandangan indah dan religius. Dengan cara ini fotografi membuka ruang interaksi antara tokoh Bollywood dengan masyarakat India, juga membuat semua orang dapat berelasi dengan lokasi keagamaan tertentu. Dalam konteks ini, fotografi bisa menghadirkan sesuatu yang sebelumnya tidak terbayangkan oleh masyarakat: sebuah penegasan atas pengalaman masa lalu dan ilusi optik yang menggembirakan.

Tidak seperti Vora, Daniel tak sekadar mendokumentasikan karya-karya para fotografer keliling Monas, dia juga memotret para fotografer keliling tersebut. Maka eksekusi foto itu menjadi krusial dalam proyek ini. Dengan memotret para fotografer keliling di hadapan Monas, Daniel membuat Monas juga dimiliki oleh para fotografer keliling. Sontag mengatakan bahwa fotografi sedikit banyak memiliki sifat-sifat predator. Fotografi dapat ‘merusak’ orang-orang dengan memperlihatkan mereka ketika mereka tidak bisa melihat diri sendiri dan mengubah mereka menjadi objek yang bisa dimiliki secara simbolis. Monas secara simbolis telah dimiliki oleh para pengunjung yang berfoto dan berinteraksi dengannya. Namun para fotografer keliling Monas yang sehari-hari berada di sana, belum ‘secara simbolis’ memiliki Monas sebab sebagai fotografer, mereka tentu selalu berada di belakang kamera.

Ketika Daniel memotret para fotografer keliling Monas dan menghadirkan mereka ke dalam bidang gambar, para fotografer keliling Monas pun akhirnya juga memiliki sekeping realitas dari kehidupan mereka dan berinteraksi dengan Monas. Selembar foto yang dihasilkan Daniel menjadi bukti penting keberadaan dan peran mereka di kawasan Monas. Dengan proyek foto ini, Daniel mensejajarkan posisi peran fotografer keliling dan pengunjung Monas. Kini wisatawan dengan fotografer sama-sama telah berinteraksi dengan Monas. Daniel-lah yang memberikan simbol kepemilikan Monas dan masa lalu kepada para fotografer keliling tersebut.


MENJADI WISATAWAN DALAM MASA LALU ORANG ASING
Di luar tumpang tindih interaksi yang terjadi dan penegasan kepemilikan atas ruang dan waktu, ada satu hal yang membuat keseluruhan proyek fotografi “Monas dan Kita” menjadi lebih unik. Proyek ini ternyata memiliki sejumlah ekses positif.

Setelah melakukan pemotretan yang pertama, Daniel menemukan satu kenyataan baru bahwa ternyata para fotografer keliling Monas terbagi menjadi dua kubu akibat persaingan lahan usaha. Hal ini berdampak pada eksekusi karya Daniel. Ketika pertama kali akan memotret, Daniel mendapat ‘bisik-bisik’ bahwa ada beberapa fotografer keliling dari salah satu kubu yang tidak hadir. Akhirnya Daniel harus menjadwal ulang pemotretan.

Menurutnya, setelah pameran berlangsung ada perbaikan kondisi pertemanan di antara dua kubu tersebut. Kata Daniel, sekarang para fotografer keliling lebih sering berkumpul bersama; kubu utara Monas main-main ke bagian selatan, dan kubu selatan Monas juga menghampiri bagian utara. Ini adalah jenis interaksi tambahan yang sebelumnya tidak terpikirkan, seperti bonus atas kerja keras yang dilakukan Daniel. Selain itu, sesi pemotretan yang dilakukan Daniel adalah yang pertama kali yang berhasil mempersatukan ketiga puluh dua fotografer keliling ke dalam satu waktu, satu momen dan satu ruang.

Selain itu, ekses positif lainnya adalah peningkatan ekonomi. Seorang fotografer keliling Monas mengatakan kepada saya bahwa setelah pameran dibuka, pendapatannya per hari bertambah sekitar 20%. Ternyata, banyak pengunjung Monas yang memerhatikan karya Daniel dan meminta untuk difoto dengan referensi foto-foto yang dipamerkan. Mereka yang sebelumnya tidak tertarik untuk berfoto di depan Monas atau hanya akan berfoto dengan pose yang biasa, seakan terilhami oleh pose-pose lucu dan unik yang pernah dilakukan pengunjung lainnya.[3]

Saat ini, saya membayangkan keberadaan proyek fotografi Daniel sepuluh tahun mendatang. Sebuah foto tentu akan bertahan lebih lama daripada objek atau situasi yang ditangkapnya. Itulah salah satu aspek fotografi yang paling kuat; mampu merekam kefanaan manusia. Foto dapat memperlihatkan kepada kita betapa kita telah berubah sejak foto itu diambil. Daniel mengatakan kepada saya, bahwa setelah pameran ditutup, foto karyanya dibawa pulang oleh salah seorang fotografer keliling. Mungkin sekarang karya itu berada di kamarnya, menjadi sarana nostalgia dan salah satu cara berbangga sang fotografer kepada anak-cucunya.

Memerhatikan keseluruhan proyek fotografi Daniel Kampua, saya melihat kawasan Monas yang tetap dinamis, di luar segala kesulitan akses atau teriknya matahari di Jakarta, sebuah kawasan yang tetap mengundang daya tarik wisatawan, dalam maupun luar negeri. Saya menyaksikan beragam interaksi yang tertuang dalam sebuah lembaran foto 2X7 meter itu; kebersamaan para fotografer keliling dan kegembiraan para wisatawan.

Proyek foto ini juga akan bertahan lebih lama daripada orang-orang yang berada di dalam bidang gambar atau daripada tujuan awal pembuatan yang ada dibalik pembuatan proyek ini—tentu juga bertahan lebih lama daripada ketegangan antarkubu yang pernah terjadi. Para fotografer keliling mungkin pernah bermusuhan dan berbaikan setelah difoto bersama. Mereka mungkin saja akan kembali berseteru. Namun momen keakraban di antara mereka akan abadi di dalam foto itu. Dengan mengamati pameran itu, kita juga kemudian menjadi wisatawan dalam realitas masa lalu orang-orang yang ada di dalam bidang foto, dan menjadi bagian dari seluruh interaksi yang terjadi di Monas.



Jakarta, Mei 2009



IRMA CHANTILY lahir di Jakarta, 5 Februari 1985. Setelah lulus dari jurusan Ilmu Jurnalistik Universitas Padjadjaran, ia menjadi salah satu staf pengajar di program studi Fotografi, FFTV Institut Kesenian Jakarta. Selain mengajar, ia berpartisipasi dalam beberapa kepanitiaan acara dan pameran, diantaranya sebagai Koordinator Program dan penulis pameran foto Mata Perempuan: “Ruang Perempuan”, penulis situs Jakarta Biennale XIII 2009, dan sebagai sukarelawan untuk V Film Festival 2009. Kini ia bekerja sebagai pekerja lepas di berbagai kegiatan seni budaya.



 

Gambar 1. Pameran Proyek Fotografi Daniel Kampua di Monumen Nasional, Jakarta, 1-28 Februari 2009.

Gambar 2. Foto 32 fotografer keliling Monumen Nasional oleh Daniel Kampua. Foto ini menyatukan seluruh interaksi antara para pengunjung Monas, fotografer keliling, dan interaksi mereka dengan Monas.


Gambar 3.1 & 3.2. Keluarga baru dan keluarga besar datang mengunjungi Monas
dan berfoto di depan tugu peringatan tersebut. Mereka terlihat puas dan menikmati
kunjungan mereka. Foto ini mengabadikan pengalaman mereka ketika berkunjung
ke Monas. Bahkan ketika anak-anak mereka tumbuh besar, mereka akan merasa
memiliki masa lalunya, lewat selembar foto.



Gambar 3.3 – 3.6. Anak-anak mudah digoda oleh visual yang menarik yang
dihasilkan dari efek distorsi lensa kamera dan sudut pandang pengambilan gambar.
Dengan daya imajinasinya, mereka berinteraksi dengan Monas melalui pose-pose
yang tidak biasa dan mereka terlihat menikmati interaksi tersebut.



Gambar 3.7 – 3.10. Orang dewasa pun bisa menghasilkan pose-pose yang unik.
Foto-foto ini juga membuktikan bahwa Monas dikunjungi oleh berbagai kelompok
masyarakat dari seluruh Indonesia.

Gambar 4. Sesi pemotretan fotografer Monas oleh Daniel Kampua dan rekan-rekannya.


Gambar 5. Pameran Proyek Fotografi Daniel Kampua di Monumen Nasional,
Jakarta, 1-28 Februari 2009.


Foto 1, 4, 5 oleh Deni Septiyanto © Dewan Kesenian Jakarta, 2009
Foto 2 oleh Daniel Kampua, 2009
Foto 3.1 – 3.10 oleh Fotografer Monas, 2008-2009



Catatan kaki
[1] Susan Sontag, On Photography (New York: Picador-Farrar,
Straus and Giroux, 1977) h. 8.

[2] Another Asia: Asia dari sisi berbeda, Katalog Pameran Fotografi Nooderlicht
(Jakarta: Noorderlicht & Teater Utan Kayu), 2008.

[3] Liputan media tentang proyek fotografi ini, juga karya-karya lain dalam lokakarya
Seni Rupa Publik – Jakarta Biennale XIII 2009, lihat: Sita Planasari Aquadini,
“Karya untuk Orang Biasa” dalam Tempo, 22 Februari 2009.



Komentar

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.