-A A +A
Versi ramah cetakPDF version

Bagaimana warga dimintai, dibuai, lalu dikibuli: kasus gedung bekas Kantor Imigrasi, Jakarta Pusat

Farid Rakun - Ardi Yunanto
22 Maret 2010



Apa pentingnya melestarikan bangunan bersejarah? Sebelum menjawab itu, ada baiknya kita melihat sebuah kasus. Polemik berkepanjangan pada 2009 lalu, yang sekarang menguap begitu saja di media massa, memaksa kita menengok kembali bahasan kita kali ini: gedung bekas Kantor Imigrasi, Jakarta Pusat, yang sekarang lebih dikenal sebagai Buddha Bar.

Ditilik dari kandungan kisahnya, bangunan ini memang sarat sejarah. Dibangun pada 1913 dengan PAJ Moojen sebagai arsiteknya, bangunan ini menjadi pelopor dalam penggunaan beton bertulang di Indonesia. Awalnya, arsitektur itu mewadahi Kunstkring (Perserikatan Seni) sampai 1936, lalu menjadi markas Majelis Islam A’la Indonesia dari 1942 – 1945, hingga digunakan sebagai Kantor Imigrasi Jakarta Pusat dari 1950 – 1997.

Keganjilan nasib gedung bekas Kantor Imigrasi ini dimulai pada 1997, ketika Bangunan Cagar Budaya ini ditukar-guling kepada Tommy Soeharto, anak mantan presiden Soeharto. Karena ditelantarkan, gedung ini terjarah habis-habisan. Dari kusen sampai tangganya, semuanya raib diangkut ke pasar gelap. Solusinya pun tak kalah ganjil. Pada 2003, atas perintah Gubernur Sutiyoso, pemerintah membeli kembali gedung itu dengan harga sekitar 23 – 28 miliar. Sumber dananya dari APBD. Namun setali tiga uang dengan nasibnya di tangan Tommy, setelah gedung bersejarah yang sejak awal memang tak boleh diperjual-belikan itu dibeli lagi oleh pemerintah dengan mahal, dan menggunakan uang rakyat, gedung itu masih tak jelas mau diapakan.

Sedikit titik cerah terlihat ketika atas desakan warga Menteng melalui organisasi Walibatu (Warga Peduli Bangunan Tua), pada 2003 diadakan sayembara peruntukan bangunan. Fauzi Bowo, yang saat itu menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta, berjasa memuluskan rencana itu. Sayembara lalu menghasilkan tiga pemenang, yaitu Dasin Hillery, Suci Mayang Sari, dan Agus Surya Sadana.

Tak dinyana, keganjilan masih setia menjadi penunggu bangunan tua itu. Seiring proses sayembara, pemerintah justru melakukan restorasi bangunan. Parameternya apa, tidak jelas, dan tidak mungkin bisa jelas ketika penelitian awal mengenai keadaan fisik bangunan itu—baik sebelum dan sesudah dijarah—pun belum dilakukan. Tanpa parameter, jangankan melacak kembali elemen bangunan yang terjarah, banyak elemen struktural dan dekoratif yang kemudian diganti asal-asalan.

Bawa semua masalah ini kepada Pradaningrum Mijarto, maka ia akan menganggap kasus ini sebagai masalah yang paling meresahkan dirinya. Ia memang bukan arsitek apalagi ahli pemugaran.Sebelum ia belajar manajemen bangunan bersejarah di Belanda, Pradaningrum sejatinya lulusan jurusan Hubungan Internasional.Sehari-harinya, ia adalah wartawan Warta Kota yang sangat cerewet bicara sejarah. Apalagi jika itu soal penyimpangan pelestarian bangunan bersejarah. Ironisnya, justru Jakartalah—kota tempatnya bekerja—yang paling suka melupakan sejarah.

Ketika perjalanan nasib gedung bekas Imigrasi Jakarta Pusat sedikit demi sedikit terkuak, Pradaningrum sedang tak berada di Indonesia. Ia sekolah di Belanda. Kembali ke Jakarta pada 2007, baru ia melacak kembali informasi seputar kasus itu.

Tentu saja, pada 2003 itu banyak pihak yang marah atas proses restorasi yang membuat peran sayembara tergeser. Protes demi protes lalu berhasil diredam pemerintah. Yang tersisa hanyalah harapan akan diadakannya sayembara desain sesuai peruntukan pemenang pertama, yaitu sebagai gedung publik. Namun koreng warga yang belum kering benar ini, kembali terkorek ketika pada 2008 bangunan ini justru dijadikan sebuah klab ekslusif waralaba internasional bernama Buddha Bar, yang jelas bukan ruang publik. Isu di media massa dan berbagai forum diskusi lalu berkembang liar. Mulai dari protes sebagian umat Buddha yang tersinggung  dengan nama bar, hingga desas-desus politik di balik kasus ini. Perdebatan yang—menurut Pradaningrum—justru melenceng dari masalah sesungguhnya: bahwa bangunan bersejarah, sekalipun bisa dikelola swasta, peruntukannya harus untuk publik luas. Namun banyak media massa yang lebih tertarik memberitakan sensasi protes dan lupa akan masalah sesungguhnya. Selama kekisruhan, Pradaningrum sering harus berjuang sendirian dalam memberitakan kasus itu.

Di siang hari pada 10 Februari 2010, kepada jurnal Karbon, Pradaningrum membedah kerumitan kasus tersebut sampai pada kesimpulannya yang terpenting, yaitu tentang ruang publik seperti apa yang bisa dikelola di gedung itu, yang jauh lebih bersahaja bagi publik luas daripada hanya untuk sekelompok orang yang menikmati musik dan bar seperti saat ini.


* * *


Mulai kapan Anda mengikuti kasus ini?

Mulai 1999, bertepatan dengan pendirian Warta Kota, koran tempat saya bekerja. Awalnya dari berita selentingan mengenai penjarahan 'rumah tua' di Menteng, yang setelah saya telusuri ternyata gedung bekas Kantor Imigrasi Jakarta Pusat. Bangunan itu masuk kategori Benda Cagar Budaya (BCB) yang berarti milik pemerintah (yang saat itu adalah Dinas Museum) namun pengurusannya bisa dilakukan oleh swasta. Semua BCB sebenarnya boleh dikelola oleh siapapun namun peruntukannya tetap untuk publik, begitu pula yang terjadi pada gedung ini. Gedung tersebut tidak memiliki data pasti dari kapan digunakan sebagai Kantor Imigrasi Jakarta Pusat, walaupun pasti berhenti beroperasi pada 1997. Penelusuran saya menghasilkan pengumpulan data foto ekstensif keadaan fisik gedung tersebut di sekitar proses tukar-guling kepada Tommy dan penjarahan.

Apa media massa lain termasuk gencar memberitakan hal ini?
Tidak, karena itu saya sangat capek sendirian. Seperti kasus-kasus serupa yang heboh lainnya, coba cari pemberitaan mereka. Jarang. Tengok saja kasus Candranaya, Kota Tua, atau Hermes. Kalau saya hilang, sepertinya tak ada yang meliput lagi tentang bangunan bersejarah.

Jika cagar budaya memang tidak boleh dijual, apakah itu berarti pemerintah sebenarnya tak perlu membelinya kembali?
Ya. Ada pihak lain juga yang bilang kalau seharusnya memang cukup hanya ditarik kembali, tapi pihak Tommy tak mau menerima itu, bahkan kabarnya, sebenarnya mereka minta lebih dari harga itu.

Bagaimana dengan sayembara peruntukan selanjutnya?
Pembicaraan agar gedung itu dikembalikan ke pemerintah pada 2003, dilanjutkan dengan sayembara peruntukan pada tahun itu juga. Setelah pemilihan pemenang, ketiga sayembara tersebut menghasilkan skema yang memiliki benang merah dan isi yang kurang lebih sama, yaitu peruntukan yang memang dikembalikan untuk penggunaan publik. Setelah itu restorasi fisik dilakukan, dan kebetulan juga di titik itu saya harus pergi sekolah ke luar negeri, walaupun saya masih mengikuti kasus ini dari jauh.

Sayembara itu dilakukan selagi menunggu keputusan dana pembelian kembali sekitar 28 miliar itu dan dana restorasi turun. Diharapkan ketika sayembara itu selesai, proses itu sudah tuntas, sehingga hasil sayembara bisa langsung diimplementasikan. Pada 2003, dijanjikan bahwa implementasi tersebut akan dijalankan berdasarkan pada ide tiga pemenang hasil sayembara tersebut, walaupun memang penyesuaian di sana-sini pasti tak terelakkan.

Proses restorasi fisik itu pun bermasalah, dari mulai kontraktor pertama yang dicopot karena dia tak mengerti bagaimana memugar sebuah bangunan tua, sampai arsitek baru ditunjuk, yaitu Arya Abieta. Perlu diketahui sebelumnya, saya menemukan bahwa barang-barang jarahan Gedung Imigrasi ini ada yang menyelamatkan dengan cara menadahnya dari kuasa penjarah. Ada juga beberapa keluhan dari pihak terkait ketika proses ini berlangsung. Keluhan-keluhan tersebut adalah, pertama, tidak dikembalikannya elemen-elemen bangunan asli seperti kusen dan kaca patri terjarah yang dimiliki ‘penadah penyelamat’ itu, walaupun jejak pemiliknya sudah dapat ditelusuri. Kedua, adanya bangunan tambahan di bagian belakang yang berfungsi sebagai dapur.[1] Namun sekalipun ada keluhan-keluhan itu, rencana restorasi sang arsitek lolos saja. Di titik ini, keluhan sudah masuk ke ranah langgam arsitektur dan melibatkan arsitek-arsitek, yang katanya ahli pemugaran. Kalau menurut saya, tindakan tidak mengindahkan elemen-elemen arsitektural yang asli ini jelas melanggar ketentuan restorasi dan klasifikasi bangunan bersejarah yang sangat mendasar.

Penelitian yang pernah dilakukan Universitas Tarumanagara terhadap restorasi tersebut, menyatakan bahwa banyak elemen yang sudah diganti dengan tiruan yang berkualitas kurang baik. Pada pegangan pintu dan bukaan jendela misalnya, bangunan awal abad ke-19 ini akhirnya menggunakan pegangan bergaya modern. Presentasi BPPI (Badan Pelestarian Pusaka Indonesia) Bagian Pemugaran Universitas Tarumanagara memaparkan hal tersebut. Pegangan pintu, memang terlihat sebagai hal kecil, tapi bagi orang yang mengerti pasti akan tahu masalahnya. Ini namanya penganiayaan bangunan bersejarah. Ketika sebuah gedung yang klasifikasi restorasinya A diperlakukan seperti ini, entah yang salah adalah yang menganiaya atau klasifikasinya. Memang sah saja kalau klasifikasi gedung ini diganti. Namun sampai sekarang, saya masih berpegang pada klasifikasi tersebut.


Mengapa dalam pelaksanaannya, restorasi fisik dilakukan bersamaan waktunya dengan sayembara peruntukan?
Sayembara peruntukan bangunan memang seharusnya dilakukan lebih dulu. Restorasi fisik baru dilakukan ketika peruntukan bangunan sudah matang.

Lalu apa artinya sayembara tersebut jika restorasi selanjutnya tak mengacu pada hasil sayembara?
Yah, apalagi? Sayembara itu dianggap sebagai sebuah langkah yang sudah mengikutsertakan publik dan aspirasinya.

Kapan Anda mendengar rencana Buddha Bar?
Pada 2007, ketika akhirnya ada rencana pembukaan Buddha Bar di gedung itu, saya baru saja pulang dari Belanda. Setelah gedungnya 'dibuka', saya uji keabsahan dan arti umum tentang ruang publik yang dijanjikan dari gedung itu, dengan coba memotretnya dan melihat keadaan sekitar gedung. Malah saya digiring keluar oleh satpam. Alasan saya memotret, bahwa saya wartawan, tak didengar. Lucunya, ketika saya konfrontasi hal itu kepada para bos besar Buddha Bar, mereka berkeras bahwa kegiatan memotret bangunan tersebut sama sekali tak dilarang.

Lalu ketika saya konfrontasikan fakta bahwa pemenang-pemenang itu tak ada yang mengusulkan ide penggunaan tempat tersebut untuk tempat hiburan macam Buddha Bar, jawabannya kembali ke masalah finansial. Namun masalah finansial bukan alasan untuk menjadikan pengertian ‘publik’ demikian terbatas. Hitungannya pun tidak masuk. Buddha Bar menyewa tempat tersebut untuk 5 tahun dengan harga 4 miliar. Jadi bisa kita bayangkan, betapa kecilnya biaya sewa bangunan tersebut per bulan [menjadikan nilainya 800 juta rupiah per tahun, atau kurang dari 67 juta rupiah per bulan—redaktur]. Jawaban tersebut sudah menunjukkan bahwa ada yang tidak beres pada proses pengelolaan bangunan ini.

Pihak berkuasa masih mengelak dengan mengatakan bahwa apa yang terjadi sekarang itu sudah berupa ruang publik. Saya tanyakan kembali, ‘apa pengertian publik bagi Anda kalau begitu? Apa segolongan orang saja sudah bisa disebut publik?’ Tentu saja mereka tak bisa menjawabnya. Termasuk tak mampu menjawab pertanyaan penting, tentang ke mana hasil ketiga pemenang sayembara tersebut.

Jurus mengelak pemerintah yang dikeluarkan adalah pengabsahan akan adanya galeri di bangunan tersebut. Namun galeri itu sangat kecil, terletak di bagian depan bangunan, hanya untuk meredam sorotan orang dan memenuhi persyaratan saja.

Keributan lainnya pun bermunculan. Yang pertama adalah tentang lahan peruntukan hijau di bawah rel kereta yang dikorbankan menjadi lahan parkir pendukung bagi Buddha Bar.[2] Yang kedua, yang lebih menyita perhatian masyarakat, adalah dipermasalahkannya keberatan masyarakat Buddha atas penggunaan nama Buddha tersebut. Waktu itu, saya tidak membahas kasus ini lebih lanjut karena berada di luar keahlian saya. Yang saya inginkan adalah pembahasan mengenai fakta bahwa untuk masuk ke Buddha Bar, orang butuh modal besar, tempat itu bukan tempat murah, yang diperburuk dengan diberlakukannya dress-code. Orang dengan dandanan seperti saya, misalnya, sudah jelas tidak boleh masuk. Haha.


Apa dampak Buddha Bar bagi gedung tersebut?
Poinnya adalah, dengan disetujuinya Buddha Bar ini, kegiatan yang dilakukan di gedung bekas Kantor Imigrasi sekarang sudah tidak masuk kategori restorasi lagi, tapi lebih pada penggunaan ulang adaptif (adaptive re-use) dan perluasan bangunan. Hal ini bertentangan dengan kesepakatan restorasi pertama yang dengan tegas bermaksud mengembalikan bangunan tersebut seperti sediakala.

Saya tekankan kembali bahwa ada dua kasus yang menjadi perhatian saya di sini. Pertama, adalah bangunan tambahan tersebut. Mengapa untuk peruntukannya dipilih sebuah kegiatan yang memerlukan bangunan tambahan? Yang kedua, dana yang keluar untuk sayembara (sekitar 3oo jutaan) menjadi sia-sia karena hasil sayembara itu sama sekali tak terpakai. Masih mengenai dana, pembelian kembali gedung tersebut (senilai kurang lebih 28 miliar) dan restorasi pertama itu memakai uang rakyat.


Untuk apa saja uang sewa 4 miliar Buddha Bar tersebut?
Perjanjian yang berlaku adalah uang sewa tersebut hanya untuk hak sewa, sementara perawatan dan biayanya jatuh ke tanggung-jawab pengelola Buddha Bar. Seluruh gedung harus tetap dirawat, walaupun tak seluruh bagian dipakai, dan menjadi tanggung jawab penyewa. Empat miliar tersebut seharusnya berupa pendapatan bersih.

Tapi kita lihat saja, andai nanti Dinas Pemda DKI Jakarta melakukan pemeriksaan. Apakah keadaan di lapangan memang begitu ideal? Patung Buddha besar yang terletak di tengah ruangan saja, misalnya, terbayang tidak kerusakan yang dilakukan demi pemenuhan syarat waralaba tersebut?


Apakah benar Reni Sutiyoso, anak Sutiyoso yang menjabat sebagai gubernur saat itu, adalah penggagas didirikannya Buddha Bar? Dan kalau jelas penggunaannya akan menimbulkan polemik, mengapa mereka tetap tertarik dengan gedung ini?
Sebenarnya mereka, Reni Sutiyoso dan Puan Maharani [anak mantan Presiden Megawati Soekarnoputriredaktur], hanya perwakilan. Kalau pemilihan gedung tersebut, mungkin karena gengsi lokasi serta sewa murah. Secara politis, hal ini juga menjelaskan ketidakmampuan Fauzi Bowo, yang awalnya justru mendukung penuh proses sayembara peruntukan. Saat itu, ketika masih menjadi wakil gubernur, bukan seperti sekarang yang sudah memble, hanya dia yang bisa diajak bicara tentang hal-hal seperti ini. Dia mengerti mengapa pusaka kita tak bisa diganggu. Dulu sewaktu diamasih menjadi wakil, saya percaya misalnya dia terpilih menjadi gubernur, keadaan Jakarta akan benar. Karena itu saya kaget ketika keadaan gedung bekas Imigrasi ini terungkap.

Dipermasalahkannya Buddha Bar secara agama sebenarnya sudah memperlihatkan betapa politisnya masalah ini dikembangkan. Politisasi seperti ini juga terlihat ketika kritik terhadap Gedung Imigrasi dibalas dengan menyalahkan Hartati Murdaya, warga Menteng, yang memasang awning di halaman rumahnya.[3] Saya meragukan kemampuan Reni Sutiyoso dan Puan Maharani untuk berstrategi seperti itu. Saya juga menerima beberapa telepon yang meminta saya mengkritik di koran mengenai kasus sekecil pemasangan awning, yang tak ada artinya dibandingkan gedung bekas Kantor Imigrasi berubah jadi Buddha Bar. Telepon itu bahkan berasal dari arsitek-arsitek ternama.

Di sini, saya merasa bahwa sebenarnya kasus ini merupakan permainan orang-orang bisnis kawakan berduit banyak dalam memperebutkan kekuasaan. Juga membuat saya percaya kalau bukan cuma Reni Sutiyoso dan Puan Maharani yang bermain di sini. Kalau mereka yang tertimpa kasus nama Buddha sebagai nama bar, saya yakin tanpa pikir panjang mereka akan mengganti nama tersebut.

Kesimpulan saya, ruang publik kita, BCB kita yang dibeli dan dipugar menggunakan uang rakyat ini, hanya berfungsi sebagai banca’an. Mereka mungkin tidak mementingkan perlunya kembali modal atau apa. Mungkin sebenarnya semua ini hanya untuk cuci uang. Siapa yang tahu?

Kasus pemasangan awning yang dilakukan Murdaya yang kemudian dibesar-besarkan itu juga membuat saya yakin betapa politisnya semua ini. Bahkan isunya diperluas sampai membahas betapa rusaknya Kota Taman Menteng saat ini.

Saya memilih untuk mengupas kasus ini secara mendasar. Saya sampai pada kesimpulan bahwa kasus ini adalah tentang pengkhianatan kepercayaan publik. Harapan pribadi saya adalah terwujudnya kembali gedung ini berdasarkan hasil sayembara. Pendapat bahwa hasil sayembara tersebut masih mentah dan butuh penggodokan yang akan menyebabkan penyesuaian di sana-sini adalah benar, namun apa yang terjadi sama sekali jauh dari hasil-hasil tersebut. Ini namanya bukan penyesuaian, tapi main potong.


Bagaimana bayangan ideal Anda sendiri tentang ruang publik tersebut?
Tidak jauh dari hasil sayembara. Kita bisa makan makanan tempo dulu, misalnya. Di mana semua orang bisa mendapatkan buku-buku sejarah arsitektur Indonesia, sejarah Batavia, dibandingkan kita harus pergi ke Perpustakaan Nasional atau bahkan ke Belanda untuk membaca buku-buku tersebut. Di sana bisa diputar film-film tentang Batavia lama. Bagaimana keadaan Kunstkring dulu, misalnya. Diskusi bisa diadakan di sana, bisa tentang apa saja, tentang Menteng, cagar budaya. Semua bisa diadakan di sana.

Ada bayangan untuk keperluan warga juga?
Iya dong. Di sana bisa diadakan pertemuan warga, misalnya, karena Menteng ‘kan harusnya masih kawasan konservasi. Walaupun kita sudah mulai bertanya-tanya, ‘masihkah perlu Menteng dikatakan sebagai kawasan konservasi, karena ‘kan semua sudah hancur juga?’.

Itu bayangan saya. Peluncuran buku bisa diadakan di sana, misalnya yang terkait dengan Menteng, atau tentang diskusi-diskusi budaya Betawi.


Dalam bayangan ideal tersebut, siapa yang kira-kira akan mengelola program acara di gedung tersebut?
Fasilitator terbaik seharusnya pemerintah, yang bisa menunjuk pengelola tertentu. Ini alasan saya tidak setuju waktu sempat ada rencana diadakan pameran-pameran Dewan Kesenian Jakarta di sana. Karena lebih baik galeri di gedung bekas Kantor Imigrasi ini memamerkan arsip dan karya-karya bersejarah. Foto-foto tentang Kota Tua selama 10 tahun terakhir, sejarah kereta api, atau foto-foto zaman Hindia Belanda, misalnya. Itu lebih bermakna dan sesuai.

Untuk hal itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bisa membentuk dewan tersendiri. Namun itu menjadi sulit ketika pemerintah pun tak punya bayangan tentang apakah ruang publik itu. Ruang publik adalah tempat di mana orang bisa berkumpul dan melakukan apa saja.


Bersifat edukatif?
Ya, harus ada sisi edukasinya. Peruntukan awalnya adalah Kunstkring, perserikatan seni, kalau memang diniatkan kembali ke fungsi awal, ya, jangan terlalu jauh, lha. Misalnya menaungi kegiatan-kegiatan sederhana namun mengajak orang untuk melihat kembali kota dan sejarahnya, lewat novel, cerpen, atau lukisan, misalnya. Kalau seni kontemporer, ya nggak ketemu dong. Bikin saja galeri kontemporer sendiri di tempat lain.

Saya mengikuti kasus ini dari 1999 sampai proses restorasi pertama. Saya mempertanyakan akhirnya, kenapa proses sayembara itu harus ada? Terkesan sayembara hanya sebagai dasar supaya pemerintah punya legitimasi publik. Kalau sekarang jadinya Buddha Bar, bukankah semua itu uang rakyat, dari pembelian kembali, dana sayembara, sampai restorasi pertama? Kenapa semua itu dijadikan landasan bisnis komersial?


Bagaimana kaitan antara bangunan cagar budaya ini dengan Kota Tua?
Seharusnya bekas gedung Imigrasi ini bisa menjadi pilot project untuk melakukan heritage management, yaitu bagaimana bangunan tua difungsikan kembali (adaptive re-use), dipugar, dan untuk publik, seperti yang dijanjikan. Selanjutnya, bangunan ini bisa dijadikan acuan sebuah proses manajemen yang benar. Bisa dipelajari untuk manajemen yang lebih besar.

Dengan keadaan saat ini, beserta lima tahun masa kontrak Buddha Bar, apa yang bisa dilakukan selama menunggu kontrak tersebut habis?
Apakah Buddha Bar akan diizinkan melanjutkan kontrak? Saya tidak tahu. Tapi kita bisa beri tekanan ke pemerintah. Ini ide yang sangat mungkin dilakukan dan adalah diskusi yang lebih penting dalam pembahasan ini. Karena kalau kita terus menengok ke belakang, kita sudah pusing. Tapi ke depan, sebelum ada niatan perpanjangan kontrak Buddha Bar, seharusnya ada tekanan publik untuk mengembalikan fungsi gedung tersebut untuk kepentingan publik.

Semua itu harus diserahkan kepada mereka yang ahli. Jangan kepada mereka yang hanya mengaku dirinya ahli. Padahal arsitek-arsitek muda sekarang banyak yang lebih canggih dan lebih idealis. Di Universitas Tarumanagara, misalnya, ada bagian khusus pemugaran yang dikelola oleh Ibu Naniek [Dr. Ir. Naniek Widayati Proyomarsono—redaktur], seorang lulusan arsitektur, arkeologi, dan konservasi bangunan bersejarah. Selama ini saya selalu menjadikannya narasumber.


Lalu bagaimana cara publik memberikan tekanan?
Seharusnya mulai dari sekarang kita perlu maju ke pemerintah. Dengan proposal peruntukan dan skema yang jelas, yang harus dikerjakan bersama-sama oleh publik yang peduli. Pasti banyak yang mau terlibat dalam rencana ini. Kita harus membahas masa depan. Dan tahun yang kita bicarakan ini berarti 2013. Karena sekali lagi, semuanya harus dikembalikan, karena itu uang rakyat.


* * *


Lupakan sejenak preferensi pribadi Anda atas pertanyaan, ‘lebih baik mana penggunaan yang sebelumnya atau sekarang?’. Lepaskan pula beban klasifikasi sosial-ekonomi yang tecermin melalui selera dan pilihan tempat bercengkrama Anda. Dari wawancara ini, kita tak hanya bisa melihat bahwa secara mendasar ada penyimpangan yang dilakukan terhadap proses penggunaan kembali gedung bekas Kantor Imigrasi Jakarta Pusat ini. Namun lebih daripada itu, kita semua sebagai warga memiliki andil membiarkan kasus ini terjadi. Dasar yang sama, yaitu sikap tidak peduli ditambah dengan ketidakmampuan berorganisasilah, yang menjadikan kasus serupa tapi tak sama menimpa gedung bekas bioskop Banteng, yang lalu disusul oleh gedung bekas Bioskop Surya dan Garuda, baru-baru ini di kota Pangkalpinang.[4] Berangkat dari pengetahuan kita tentang kasus-kasus ini, terlihat bahwa strategi yang kita pakai sebagai warga selama ini tidak efektif untuk meminta hak dan kewajiban kita terhadap warisan budaya.

Pertanyaan-pertanyaan lanjutan pun bermunculan, seperti poin penting dari Pradaningrum sebelumnya: apa yang bisa kita lakukan di masa depan? Bagaimana kita menyikapi bangunan bersejarah sebagai sebuah catatan dan rekaman zaman? Kegunaan apa yang dibawa oleh catatan serta rekaman zaman berbentuk fisik seperti ini bagi kita, warga masyarakat? Selanjutnya, bila kita ingin meminta peruntukan seluas-luasnya dengan menjadikan sebuah ruang bersifat publik, apakah kita mengerti sejatinya pengertian ‘publik’ tersebut serta konsekuensinya terhadap sebuah ruang kota? Apakah yang sebenarnya kita minta? Tanpa dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, jangan-jangan bukan hanya salah pemerintah kita yang memang tak mengerti, apalagi peduli, atas pengertian kata warga ataupun publik. Jangan-jangan mereka ternyata memang bekerja untuk melayani masyarakat yang tak tahu dan tak punya bayangan tentang hak dan kewajiban kita sendiri di ranah bahasan ini, atau bahkan lebih parah lagi, mempunyai pengertian akan publik yang salah kaprah.




PRADANINGRUM MIJARTO menumpang lahir di Yogyakarta untuk kemudian diboyong ke Jakarta. Ia menjadi wartawan di harian Warta Kota karena tertarik masalah perkotaan, khususnya sejarah perkembangan dan perencanaan kota. Jebolan jurusan Hubungan Internasional di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung ini lalu melanjutkan studi tentang Arts and Heritage: Policy, Management and Education di Universiteit Maastricht, Belanda. Penggemar astronomi ini kini mengasuh kolom wisata kota toea di Harian Warta Kota sekaligus situs Wisata Kota Toea di Kompas.com.

FARID RAKUN dan ARDI YUNANTO adalah redaktur jurnal Karbon.


 

Gambar 1. Tampak depan Gedung Bekas Kantor Imigrasi sebelum tukar guling 1999. Gambar dari Adolf Heuken & Grace Pamungkas, Menteng: 'Kota taman' pertama di Indonesia. (Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 2001).


Gambar 2. Interior lantai 2 gedung ketika masih digunakan sebagai ruang pamer. Gambar dari Adolf Heuken & Grace Pamungkas, Menteng: 'Kota taman' pertama di Indonesia. (Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 2001).


Gambar 3. Publikasi Sayembara Gagasan Fungsi dan Pengelolaan eks Gedung Imigrasi, Jakarta Pusat. Ukuran asli A4. 2003.

Gambar 4. Gedung bekas Kantor Imigrasi yang terlantar, 2004. Foto oleh Ardi Yunanto.

Gambar 5. Buddha Bar, 2010. Foto oleh Ardi Yunanto

 Gambar 6.  Interior gedung setelah dijadikan Buddha Bar, 2009. Foto oleh Christina Phan.

Gambar 7. Pradaningrum Mijarto pada saat wawancara, 10 Februari 2010. Foto oleh Ardi Yunanto.



Catatan kaki
[1] Untuk bangunan bersejarah klasifikasi A, kewajiban penggunanya adalah mempertahankan keadaan bangunan seasli mungkin. Tidak boleh ditambah, dikurangi, ataupun diganti elemen-elemennya dengan sesuatu yang tidak merujuk kepada elemen aslinya.
[2] Pembahasan lebih jauh tentang pencaplokan lahan hijau—yang secara swadaya digunakan warga untuk mengolah sampah mereka menjadi kompos, sekaligus berfungsi sebagai elemen estetika kota—menjadi lahan parkir Buddha Bar dibahas di The Jakarta Post, Take paradise, put up a parking lot”, oleh Prodita Sabarini edisi Jumat, 29 Mei 2009. Tautan: http://www.thejakartapost.com/news/2009/05/29/take-paradise-put-a-parking-lot.html
[3] Kasus Siti Hartati Murdaya yang merenovasi rumah Menteng-nya di Jalan Teuku Umar No. 42-44 dengan menambahkan kanopi serta pos jaga, ramai dibicarakan media seiring dengan meredupnya pemberitaan lanjutan tentang Buddha Bar. Beberapa tautan berita:
(1) http://www.beritajakarta.com/2008/id/berita_detail.asp?idwil=0&nNewsId=34381
(2) http://www.detiknews.com/read/2009/06/24/144505/1153300/10/rumah-murdaya-poo-masuk-cagar-budaya-tipe-a-tak-boleh-diubah
(3) http://www.republika.co.id/berita/32991/pembangunan-di-jalan-tu-42-terus-berlanjut
(4) http://megapolitan.kompas.com/read/2009/02/24/04194699/Rumah.Cagar.Budaya.Menteng.Penuhi.Aturan
[4] Pemerintah kota Pangkalpinang baru-baru ini meratakan bangunan bekas bioskop Surya dan Garuda untuk peruntukan yang masih belum jelas. Keterangan lebih lanjut tentang kasus ini lihat Bangka Pos, Garuda Surya Rata Tanah, 1 Maret 2010. Tautan: http://diditbapos.blogspot.com/2010/03/garuda-surya-rata-tanah.html (situs Bangka Pos tidak dapat diakses pada waktu tulisan ini dibuat)




 

Komentar

online gambling casino 8vk play casino 5dk casino blackjack yqk casino deposit rxj garcinia cambogia vuf garcinia cambogia side effects erf pure garcinia cambogia mv8 dr oz garcinia cambogia vtr garcinia cambogia reviews rdh garcinia cambogia extract r8e vapor cigarettes ho2 e-cigarettes 0q8 weight loss hoodia t1h Penis Enlargement f86 male enhancement 5jk penis pills rrn male enhancement pills lam Resveratrol die acai berry afr acai berry benefits jkb herbal viagra jvf viagra alternatives iht breast enlargement lrj breast augmentation c58 teeth whitening db1 personal injury lawyer utx personal injury attorney ldt injury lawyer 9n0 personal injury law firm clf internet gambling lu2 free slots eoh casino slots hc1 slot machine games 7ma slot casino d5c best casino ub7 online casino wagering 830 gambling casino nmn new casino q3d internet casino im6 poker casino gjy casinos blackjack payouts zey internet blackjack aob http://s3.amazonaws.com/money-lenders/money-lenders.html money lenders http://s3.amazonaws.com/instantonlineloan/instantonlineloan.html instant online loan http://s3.amazonaws.com/quick-loans/quick-loans.html quick loans http://s3.amazonaws.com/instant-loans/instant-loans.html instant loans http://s3.amazonaws.com/paydayloansnocreditcheck/paydayloansnocreditcheck.html payday loans no credit check http://s3.amazonaws.com/bad-credit-loans/bad-credit-loans.html bad credit loans http://s3.amazonaws.com/cash--loans/cash--loans.html cash loans http://s3.amazonaws.com/cash-advance/cash-advance.html cash advance http://s3.amazonaws.com/installment-loans/installment-loans.html installment loans http://s3.amazonaws.com/loans-for-bad-credit/loans-for-bad-credit.html loans for bad credit http://s3.amazonaws.com/quick--cash/quick--cash.html quick cash http://s3.amazonaws.com/small-loans/small-loans.html small loans http://s3.amazonaws.com/personal-loans/personal-loans.html personal loans http://s3.amazonaws.com/borrow-money/borrow-money.html borrow money http://s3.amazonaws.com/loans-for-people-with-bad-credit/loans-for-people-with-bad-credit.html loans for people with bad credit http://s3.amazonaws.com/badcreditloansguaranteedapproval/badcreditloansguaranteedapproval.html bad credit loans guaranteed approval http://s3.amazonaws.com/personalloansforbadcredit/personalloansforbadcredit.html personal loans for bad credit http://s3.amazonaws.com/nocreditcheckloans/nocreditcheckloans.html no credit check loans http://s3.amazonaws.com/online-paydayloans/online-paydayloans.html online payday loans http://s3.amazonaws.com/same-day-loans/same-day-loans.html same day loans http://s3.amazonaws.com/paydayloansdirectlendersonly/paydayloansdirectlendersonly.html payday loans direct lenders only http://s3.amazonaws.com/badcreditpersonalloans/badcreditpersonalloans.html bad credit personal loans http://s3.amazonaws.com/personalloansforpeoplewithbadcredit/personalloansforpeoplewithbadcredit.html personal loans for people with bad credit http://s3.amazonaws.com/loanswithnocreditcheck/loanswithnocreditcheck.html loans with no credit check http://s3.amazonaws.com/short-term-loans/short-term-loans.html short term loans http://s3.amazonaws.com/installmentloansforbadcredit/installmentloansforbadcredit.html installment loans for bad credit http://s3.amazonaws.com/unsecuredpersonalloans/unsecuredpersonalloans.html unsecured personal loans http://s3.amazonaws.com/ineedmoney/ineedmoney.html i need money http://s3.amazonaws.com/unsecured-loans/unsecured-loans.html unsecured loans http://s3.amazonaws.com/fast--cash/fast--cash.html fast cash http://s3.amazonaws.com/onlineloansnocreditcheck/onlineloansnocreditcheck.html online loans no credit check http://s3.amazonaws.com/cash-advance-loans/cash-advance-loans.html cash advance loans http://s3.amazonaws.com/fast-money/fast-money.html fast money http://s3.amazonaws.com/mobile-loans/mobile-loans.html mobile loans http://s3.amazonaws.com/nocreditcheckpersonalloans/nocreditcheckpersonalloans.html no credit check personal loans http://s3.amazonaws.com/nocreditcheckpaydayloans/nocreditcheckpaydayloans.html no credit check payday loans http://s3.amazonaws.com/cheap--loans/cheap--loans.html cheap loans http://s3.amazonaws.com/directlenderpaydayloans/directlenderpaydayloans.html direct lender payday loans http://s3.amazonaws.com/online-gambling/online-gambling.html online gambling http://s3.amazonaws.com/online--casino/online--casino.html online casino http://s3.amazonaws.com/slot-machines/slot-machines.html slot machines http://s3.amazonaws.com/roulette-online/roulette-online.html roulette online http://s3.amazonaws.com/casino-games/casino-games.html casino games http://s3.amazonaws.com/casino-bonus/casino-bonus.html casino bonus
money lenders bdu instant online loan 0c1 quick loans n1n instant loans qsm payday loans no credit check v9o bad credit loans u1t cash loans c4g cash advance scl installment loans pcv loans for bad credit xfr quick cash 4dd small loans 4zp personal loans 64z borrow money u2h loans for people with bad credit wr9 bad credit loans guaranteed approval vyy personal loans for bad credit nzq no credit check loans 7h1 online payday loans y82 same day loans b0f payday loans direct lenders only u0v bad credit personal loans 1yu personal loans for people with bad credit k4l loans with no credit check wp9 short term loans k0d installment loans for bad credit ysf unsecured personal loans n5l i need money jh9 unsecured loans gy9 fast cash 1p7 online loans no credit check 9km cash advance loans ksi fast money 8za mobile loans lae no credit check personal loans c88 no credit check payday loans wcz cheap loans sh2 direct lender payday loans b9j online gambling yg0 online casino hrr slot machines tky roulette online z9g casino games hcf casino bonus vkv online casino bonus nwy best online casino 29d http://s3.amazonaws.com/onlinecasinobonus/onlinecasinobonus.html online casino bonus http://s3.amazonaws.com/bestonlinecasino/bestonlinecasino.html best online casino http://s3.amazonaws.com/onlinegamblingcasino/onlinegamblingcasino.html online gambling casino http://s3.amazonaws.com/play-casino/play-casino.html play casino http://s3.amazonaws.com/casino-blackjack/casino-blackjack.html casino blackjack http://s3.amazonaws.com/casino-deposit/casino-deposit.html casino deposit http://s3.amazonaws.com/garcinia--cambogia/garcinia--cambogia.html garcinia cambogia http://s3.amazonaws.com/garciniacambogiasideeffects/garciniacambogiasideeffects.html garcinia cambogia side effects http://s3.amazonaws.com/puregarciniacambogia/puregarciniacambogia.html pure garcinia cambogia http://s3.amazonaws.com/drozgarciniacambogia/drozgarciniacambogia.html dr oz garcinia cambogia http://s3.amazonaws.com/garciniacambogiareviews/garciniacambogiareviews.html garcinia cambogia reviews http://s3.amazonaws.com/garcinia-cambogia-extract/garcinia-cambogia-extract.html garcinia cambogia extract http://s3.amazonaws.com/vapor-cigarettes/vapor-cigarettes.html vapor cigarettes http://s3.amazonaws.com/e-cigarettes/e-cigarettes.html e-cigarettes http://s3.amazonaws.com/weight-loss-hoodia/weight-loss-hoodia.html weight loss hoodia http://s3.amazonaws.com/penis-enlargement/penis-enlargement.html Penis Enlargement http://s3.amazonaws.com/male-enhancement/male-enhancement.html male enhancement http://s3.amazonaws.com/penis-pills/penis-pills.html penis pills http://s3.amazonaws.com/maleenhancementpills/maleenhancementpills.html male enhancement pills http://s3.amazonaws.com/resveratrolbenefits/resveratrolbenefits.html Resveratrol http://s3.amazonaws.com/acai-berry/acai-berry.html acai berry http://s3.amazonaws.com/acai-berry-benefits/acai-berry-benefits.html acai berry benefits http://s3.amazonaws.com/herbal-viagra/herbal-viagra.html herbal viagra http://s3.amazonaws.com/viagra-alternatives/viagra-alternatives.html viagra alternatives http://s3.amazonaws.com/breast-enlargement/breast-enlargement.html breast enlargement http://s3.amazonaws.com/breast-augmentation/breast-augmentation.html breast augmentation http://s3.amazonaws.com/teeth-whitening/teeth-whitening.html teeth whitening http://s3.amazonaws.com/personalinjurylawyer/personalinjurylawyer.html personal injury lawyer http://s3.amazonaws.com/personalinjuryattorney/personalinjuryattorney.html personal injury attorney http://s3.amazonaws.com/injury-lawyer/injury-lawyer.html injury lawyer http://s3.amazonaws.com/personalinjurylawfirm/personalinjurylawfirm.html personal injury law firm http://s3.amazonaws.com/internet-gambling/internet-gambling.html internet gambling http://s3.amazonaws.com/free--slots/free--slots.html free slots http://s3.amazonaws.com/casino-slots/casino-slots.html casino slots http://s3.amazonaws.com/slot-machine-games/slot-machine-games.html slot machine games http://s3.amazonaws.com/slot-casino/slot-casino.html slot casino http://s3.amazonaws.com/best-casino/best-casino.html best casino http://s3.amazonaws.com/onlinecasinowagering/onlinecasinowagering.html online casino wagering http://s3.amazonaws.com/gambling-casino/gambling-casino.html gambling casino http://s3.amazonaws.com/new-casino/new-casino.html new casino http://s3.amazonaws.com/internet-casino/internet-casino.html internet casino http://s3.amazonaws.com/poker-casino/poker-casino.html poker casino http://s3.amazonaws.com/casinosblackjackpayouts/casinosblackjackpayouts.html casinos blackjack payouts http://s3.amazonaws.com/internet-blackjack/internet-blackjack.html internet blackjack
- Meеt the contractor in flesh. Theee are extensively usd in various establishments for roofing purposеs, try to gain tɦe knowlеdgе and training! Whyү are гoof еstimates for repairs important іn Denver? The standard roof waԁranty is being included in the quߋte/contract? You reɑlly should constantly get bids from at least 2-3 roofing contractoгs tto choose from. The roofing felt goess underneath other layers like shingles oor maxon preoperty mаnagement a rolleԁ rubner merchandіse tɦat can come in and get the best bang for youг buϲk.
Do you mind if I qute a couple of your posts as long as I provide credit and sources back to your webpage? My blog site is in the very same artea of interest as yours and my visitors would truly benefit from a lot of thee information you present here. Please let me know if this ok with you. Appreciate it!
You're so cool! I don't think I've research anything like this before. Thanks for your personal outstanding posting! I actually knowledgeable learning it, you will be an outstanding author. I will always preserve your web page and will often come coming back later on.
Incredible points. Great arguments. Keep up the good spirit.
Taking medicaltions or birth control pills will not effect pregnancy tests, unless of course your medication contains h - CG. This is the opposite of other programs, in which ads must specify "results not typical. s better not to test instead of wasting your health insurance and money on these fake, choose nothing diets.
Wonderful post! We will be linking to this particularly great article on our website. Keep up the good writing.
I visited many sites however the audio feature for audio songs present at this site is really wonderful.
These forms require you to have an employer identification number. Offer in Compromise: An Offer in Compromise is not an easy option to qualify for when you have Back IRS Taxes. These "backlinks" are very important to your CPA website's search engine rankings.

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.