-A A +A
Versi ramah cetakPDF version

Mengeja nasionalisme wayang, mengejar narsisme maya

Marto Art
26 Agustus 2010



"Beri aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru. Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia!"

—Pidato Ir. Soekarno dalam Kongres Pemuda Indonesia 1932 di Surabaya.



Apa yang termaktub di dalam pernyataan seorang Sukarno di atas cukup membuat saya percaya diri untuk mengeja nasionalisme dengan cara sederhana sebagai rasa cinta kepada Tanah Air. Ir. Sukarno, tentu bukan sosok main-main untuk disandari sebagai pedoman nasionalisme. Ia adalah pemuda yang rasa cintanya kepada Tanah Airnya tak diragukan lagi. Ia juga seorang perawi Nasionalisme Indonesia yang pasti tak berpikiran dangkal.

Nah, permasalahan klasiknya adalah pada pembacaan kita yang mungkin salah arah akan ajaran para peramu negeri ini atau pembacaan yang tak pernah tuntas karena zaman yang terus bergerak, termasuk terhadap ajaran Sukarno tentang Nasionalisme Indonesia tadi. Maka kalimat propaganda sastrawi Sang Putra Fajar itu hanya menjadi selembar potret sepia nan berjarak dengan pemuda saat ini. Saya termasuk generasi yang menangkap Nasionalisme Indonesia sebagai sebuah potret lawas. Potret yang tak mampu menampilkan kejernihan warna selembar Jas Merah sehingga saya bisa bangga memakainya. Ataukah sejatinya kita yang sengaja dibuat rabun? Seperti misalnya betapa tak banyak dari kita yang menyadari bahwa Indonesia pernah memiliki presiden bernama Sjafruddin Prawiranegara. Meski hanya berlangsung delapan bulan (Desember 1948 – Juli 1949), ahli sejarah memercayai bahwa Republik Indonesia (RI) tak akan pernah kembali terwujud apabila Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) tidak dibentuk. Sjafruddin Prawiranegara mendapat mandat langsung dari Soekarno-Hatta setelah RI jatuh ke tangan Belanda dalam Agresi Militer Belanda II. Artinya juga, pusat pemerintahan Indonesia pernah berada di Bukittinggi selain di Jakarta dan Yogyakarta. Itu satu contoh kecil samar sejarah dengan kasus besar setingkat presiden dan pusat pemerintahan. Bagaimana dengan remah-remeh sejarah? Dan Nasionalisme Indonesia?

Sesungguhnya tak ada yang menuntut kaum muda untuk tahu semua itu. Toh hampir tak ada hal ideologis ketanahairan, yang menggerakkan anak muda untuk kembali mengiblat sejarah lalu, kecuali mungkin lantaran kesungkanan naif akan jargon akronim "Jangan sekali-kali melupakan sejarah [Jas Merah]", atau dalam bentuk ideologis penerpaksaan seperti di era Orde Baru melalui kewajiban bela negara dan doktrin Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) berpola pendukung ratusan jam. Itupun—untungnya, tak mampu mengimbas secara massif kepada generasi pasca-Reformasi. Imbas itu baru terlihat di ranah keindonesiaan berupa semangat kebersamaan yang terburu-buru tatkala merasa terancam atau yang muncul tiban saat menjadi korban.

Meski begitu, semangat keindonesiaan sebagai buah dari perasaan terancam dan yang muncul secara instan karena menjadi korban itu, tak cukup mampu mengapikan bara nasionalisme. Alih-alih mengguncang dunia, yang terjadi justru meranggas atau meliar melabrak batas nasionalisme itu sendiri. Psikologi sosial memang berhasil menampakkan pelabrakan batas itu, memperlihatkan tiga pola semangat keindonesiaan mutakhir. Ketiga pola yang  sebenarnya bukan hal baru, setidaknya telah disiratkan dalam babakan sebuah perkeliran wayang. Kumbakarna dan Gunawan Wibisana dalam Ramayana, dan Adipati Karna dalam Mahabharata. Ketiganya adalah ikon nasionalisme yang berpola beda dalam kiprah sekaligus pengingkarannya.


* * *


Mengutip Wikipedia—yang merupakan ensiklopedia bebas dengan keterbatasannya—mengenai pengertian Nasionalisme rasanya masih bisa dimaafkan. Karena meski Wikipedia dapat disunting sebebas-bebasnya oleh siapapun, tetaplah tak layak bagi mereka untuk mengorbankan pengertian Nasionalisme dengan menyuntingnya menjadi pengertian Chauvinisme misalnya. Selain itu toh, Wikipedia cukup mampu menyederhanakan pemaknaannya dari para pemikir seperti Jean Jacques Rousseau, Johan Gottfried von Herder, Anthony Smith, Sukarno, dan seterusnya. Meski tak harus menjadi kesepakatan definisi yang massif, inilah arti nasionalisme dari Wikipedia:

"Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (Nation) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia".

—Id.wikipedia.org

Maka berangkat dari teritori ini, ketiga pelakon dunia wayang di atas akan saya tempelkan pada geliat nasionalisme ruang kekinian Indonesia.


Kumbakarna
Dia adalah putra daerah Alengkadiraja, ibu kota sebuah negeri yang sempurna memanjakannya. Hari-hari Kumbakarna adalah tidur kelelapan dan makan kekenyangan. Memang ngehedon adalah laku tapa-bratanya. Sampai ketenangannya terganggu tatkala Rahwana sang kakak menagihnya untuk bela negara. Negeri jiran Kosala mengusik Alengka. Ramawijaya hendak mengambil balik Dewi Shinta istrinya yang diculik Rahwana.Kumbakarna sempat menimbang bimbang, sebab perebutan kelamin bukan urusan negara. Sengketa wilayah pernonokan beda dengan—misalnya—sengketa wilayah Nunukan.

Rahwana tentu tahu hal itu,sebagaimana dia tahu benar akan elan "Patria ou Morte" alias "Tanah Air atau Mati", yang mengalir laten di nadi membara adiknya. Maka dengan sedikit provokasi Rahwana betapa para majikan Kosala ras Arya itu suka sekali menyiksa budak Tamil saudara sekeling Alengka, dan dengan rasis menyebut mereka gerombolan kera, Kumbakarna terbakar. Segera dia membentuk Laskar Alengka dan memekik "Ganyang Kosala!", dan demi kepentingannya, tak lupa Rahwana mengingatkan bahwa tak ada orang yang benar-benar bisa bebas dari ketidakbutuhannya akan campur tangan negara jika memilih hidup di dalamnya. Artinya tugas ini juga tak sepenuhnya lepas dari urusan negara. "Right or Wrong it’s My Country" menggeliatkan Kumbakarna. Cancut taliwanda! Sadumuk bathuk sanyari bumi tan belani tumekaning pati! Bersegera! Meski cuma sejengkal, teritori Pertiwi ini harus dibela sampai mati.

Indonesia adalah negeri dengan jutaan pemuda yang tak sedikit berpola Kumbakarna—dengan dilematika serupa, yaitu pola pemahaman bela negara yang berkecenderungan fisik, karena daya nalar mereka acap amat mudah digedor daya juang. Membentuk milisi menjadi sejenis hobi, dan bergabung di dalamnya menjadi semacam keriangan. Penyeragaman identitas nasional rasa sipil yang terbata-bata dijahit Muhammad Yamin tak sediminati seragam loreng. Ya, Muhammad Yamin, adalah satu dari sekian pendiri bangsa yang lebih menitikberatkan persatuan tanah air dalam gerak perjuangan keindonesiaannya. Ia yang pertama menyodorkan tiga elemen penting pemersatu yang akhirnya mewujud sebagai Sumpah Pemuda 1928. Dan untuk merajut persatuan itu, menurutnya dibutuhkan lima faktor penguat yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan. Tak terbetik ide militeristik seperti komando teritori ataupun sekadar laskar rakyat pemersatu. Gagasan yang amat susah terwujud dan terbilang naif untuk menjaga sebuah negeri paling beragam di dunia.

Sementara, bagi pemuda berpola Kumbakarna penerjemahan nasionalisme paling mudah adalah massa dan seragam loreng. Di kekinian, derap patriotisme mereka nyaring terdengar bersama sepatu bot Pemuda Pancasila (PP), Pemuda Panca Marga (PPM), Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), dan seterusnya. Belakangan Anda akan berpapasan dengan Laskar Merah Putih dan bisa turut mendengarkan semangatnya di laskarmerahputih.com., atau patriot maya berikutnya di situs belanegara.net. Namun jangankan membela negara, pejuang yang terakhir ini gagal membela dirinya dari hacker yang menginvasi mereka dan terpaksa mengonstruksi lagi situsnya.

Nasionalisme Kumbakarna harus ditinjau atau setidaknya dipelajari lagi, dan itu tak dilakukan oleh para milisi—atau barangkali memang hanya lantaran mereka tak cukup punya alasan matang untuk menentangnya. Hal ini bisa saja diibaratkan keterbatasan daya pikir seorang Kumbakarna yang tak cakap menentang argumentasi Rahwana sebagai representasi negara. Bahwa memang mulanya Kumbakarna berprinsip tak semua kehendak negara perlu dibela, mencintai negara tak berarti wajib menjalankan seluruh doktrin yang ada, namun Sang Mahapatih Alengka itu akhirnya lebih memilih menjadi robot. Demikian juga para milisi, mereka membela negara dan lantas menyempit parah menjadi membela pemerintah secara membabi-buta. Pada masa kekuasaan Orde Baru, para milisi ini menjadi kaki-tangan fasis yang sesungguhnya. Sebagai kaki yang menendang perut buruh penentang, sebagai tangan pembekap mulut mahasiswa yang bersuara. Sampai di sini, kita bisa menemukan bahwa nasionalisme Kumbakarna tampak lebih bisa dipahami, meski tetap dengan catatan terhadap ketaatannya pada doktrin kebenaran versi negara. Masih dalam kisah Ramayana yang sama, ketaatan ini dipertanyakan oleh adik kandung Kumbakarna, yaitu Gunawan Wibisana.


Gunawan Wibisana
Dalam kisah Ramayana adalah anak muda yang lahir dan dibesarkan di Alengkadiraja ibu kota Negeri Alengka. Negeri ini tidak pernah mengalami persoalan syarat fisik akan nasionalisme, karena hampir semua kebutuhan pendukungnya sudah tersedia dari awal. Alengka terbangun dari identitas kebersamaan yang massif, seperti kebangsaan, ras, anutan, bahkan kewilayahan (Lokasi Alengka dipercaya sebagai Sri Lanka sekarang, sebuah negara pulau). Johann Gottfried von Herder, filsuf Jerman itu, menyebut negeri demikian sebagai negeri dengan Nasionalisme Romantik. Keadaan yang berbalikan dengan negeri musuhnya, Negeri Kosala yang beribu kota di Ayodhya. Di Kosala, Sri Ramawijaya harus mampu menggalang dan menghimpun berbagai kelompok yang beragam, suku yang bermacam, ras yang berlainan, dan bahkan kasta yang berbeda. Rama harus meramu konsep identitas bersama untuk menghadapi Rahwana. Identitas bersama itu tidak akan pernah bisa terwujud, kecuali dengan mengandalkan dua hal, yaitu kharisma dirinya, dan menjadikan Rahwana sebagai musuh bersama.

Persoalannya adalah justru karena tak ada persoalan. Wibisana, yang barangkali jenis anak muda yang terlalu rajin menekuri ajaran kebijakan, akhirnya menggariskan bahwa konsep identitas bersama dalam nasionalisme tidak penting, melainkan kebenaran hakikilah yang harus ditegakkan. Wibisana merasa kebenaran hakiki itu berada di pihak Rama, lawan dari kakaknya sendiri, Rahwana. Tanpa sepenuhnya tahu atau memang tak mau tahu sejarah Kosala, dunia politik Ayodhya, biografi Rama, ajaran kitabnya, dan konflik filosofis yang ada, Wibisana menyeberang. Dia melangkah tanpa tengok kiri-kanan, hijrah dengan ketaqlidan kepada Rama.

Jalan Wibisana adalah jalan yang belakangan ini ditapaki beberapa kaum muda Indonesia  menuju Janah. Mereka yang melepaskan pakaian nasional lantas mengenakan jubah radikal. Kaum muda yang tak butuh  konsep identitas kebersamaan, melainkan meyakini anugerah kebenaran langit. Jalan itu semakin meyakinkan, terlebih karena konsep kebersamaan keindonesiaan dipandang sebagai sebuah ketertatihan, sedangkan kebenaran langit bersifat tunggal lagi berpahala.

Seperti halnya Wibisana yang meyakini jalannya benar, begitu pula radikalis surgawi saat ini. Wibisana, dan Wahabi di sini. Ya, Wahabi, sekte dalam Islam ini cukup layak sebagai contoh untuk dilekatkan dengan paham kebenaran anutan Wibisana. Keduanya berada di ranah sama yang bernama "Keyakinan". Di mana di sana tidak ada yang namanya ’Benar‘ atau ’Salah‘, yang ada hanya ’Yakin Benar‘ dan ’Yakin Salah‘. Wibisana yakin Sang Titisan Wisnu itu "Can do no wrong", setara Wahabi yang percaya Syariah Allah tak pernah salah. Keyakinan para ultra kanan di belahan dunia yang acap serupa, En Dios Confiamos; In God we Trust.

Kabar 'baiknya', paham semacam ini telah melampaui semangat ketaatan ala Kumbakarna yang terkungkung oleh batasan teritori negeri. Seperti misalnya para pejalan Wahab ini tak pernah terusik oleh perebutan tari pendet atau paten batik. Mereka tak tergerak oleh ajakan pengganyangan Malaysia atau Korea yang mencuri ikan Indonesia. Budaya dan kekayaan alam hanyalah sementara, dan bukan urusan mereka apabila dicuri oleh sesiapa. Konsep persaudaraan hanya berlaku dalam keyakinan langit, dalam iman yang sama. Solidaritas dan kepedulian mereka baru bangkit ketika Israel melahap Palestina misalnya. Bukan sebuah solidaritas kemanusiaan yang meranggas di sini, namun lebih kepada Palestina sebagai representasi Islam. Solidaritas persaudaraan sesama iman.

Persoalannya adalah, para pelaku solidaritas persaudaran sesama iman ini juga mengulangi keluputan Wibisana, yang berhenti kepada simbol Sri Rama. Sebagaimana Wibisana yang tak tuntas mengenal Rama dan tak memahami benar akan sejarah Ayodhya, demikian pula para muda Palestinais ini. Adalah ketidaktahuan atau sengaja tak mau tahu bahwa ketiadabatasan persaudaraan sesama iman anutan mereka, berbanding lurus dengan memburamnya batas anutan juga teritori. Misalnya Tanah Palestina tak cuma dihuni oleh mereka yang Islam saja. Kaum Nasrani juga mengalami penindasan serupa. Bahkan yang lebih pelik lagi, betapa di internal Islam Palestina sendiri terjadi pertikaian sesama iman yang runcing, ada Hammas dan tentunya juga Al Fatah. Maka, Palestina yang mana di mata mereka? 

Memang kenyataannya akan selalu terulang pertanyaan yang sama terhadap kelengahan konsep nasionalisme. Dan itu terjadi juga pada jalan Wibisana yang tak abai nation, namun butuh nation baru. Kelengahan konsep nasionalisme kedua tokoh Ramayana, baik jalan yang ditapaki Kumbakarna ataupun jalan Wibisana tak perlu lagi diurai. Itu yang saya baca kemudian dari gaya nasionalisme belakangan yang ditumbuhkan para muda di luar tipe Kumbakarna pun Wibisana, yaitu Basukarna.


Basukarna
Basukarna atau Karna, adalah sosok zaman Mahabharata yang hadir di lingkungan nan bertolak belakang dari kondisi kejiwaan dan situasi nasionalisme homogen negeri awal Wibisana. Karna lahir dari seorang ibu yang enggan mengakui kehadirannya, dibuang namun diasuh bahkan dimuliakan oleh ibu yang lain. Ibu yang tak kalah runyam itu adalah sebuah negeri bernama Hastina. Negeri yang kaya namun tak pernah selesai dengan kutukan. Konflik elit dan korupsi tak pernah henti. Tuntutan merdeka negeri taklukan tak pernah reda, seiring penindasan pusat terhadap rakyatnya. Negeri dengan persatuan rentan yang hanya bertahan dengan rantai kekerasan.

Basukarna adalah personifikasi kaum muda Indonesia sekarang, generasi yang menghadapi sengkarut aturan penguasa. Kaum muda yang lahir dari kandungan Orde Baru, yang ditelantarkan dengan kemanjaan. Bayi-bayi yang dibuang dengan melarung mereka dalam arus besar kapitalisme. Sampai saatnya gelombang tersebut menjadi terlalu besar, dan mereka masuk di dalam buaian induk baru, suatu orde reformasi yang setengah hati.

Karna, seperti halnya Wibisana dan Kumbakarna, adalah sosok yang lahir dengan bakat kesaktian masing-masing. Perbedaan mendasarnya hanya pada kegelisahan mereka. Wibisana menghadapi kegelisahan religius, Kumbakarna menandang kegelisahan pemikiran, dan Karna mengalami kegelisahan karena gelisah saja. Kisah Ramayana adalah sebuah pemaparan konflik yang ditegaskan dengan penajaman konflik tersebut sebagai penyelesaian, sedangkan pada kisah Mahabarata, konflik yang ada diredam dengan dialog pengalihan sempurna. Pengalihan tersebut akan terbaca di dalam dialog Karna-Kunti dan Karna-Kresna (juga Kresna-Arjuna dalam Bhagawadgita). Karna adalah anak muda yang pintar memburamkan masalah sesungguhnya dengan membiuskan argumen sahih layaknya aroma penenang kepada Kunti ibunya, dan Kresna kakak jauhnya itu. Pembelaan mati-matian Karna terhadap Hastina adalah justru dengan terus mengoborkan Bharatayudha sebagai cara cepat membasmi angkara para Korawa. Bahkan itu juga menjadi jalan ia agar selamat mencapai akhirat.

Rasanya kisah tersebut tak begitu jauh dengan kecenderungan gaya nasionalisme generasi baru di sini. Kaum muda yang pintar memperjuangi jalan cinta negeri zonder konflik, yang cerdas menghindar dari kemungkinan pertikaian, dan sekaligus memetik banyak teman. Maka nyaringlah seruan peduli 'rasa Teh Botol', rasa minuman yang hampir tak ditolak oleh banyak lidah di Indonesia macam apapun makanannya. Misalnya dengan menyeru bersatu, cinta produksi dalam negeri, ajakan menjaga kesehatan, membantu pendidikan anak miskin, menanam pohon, peduli bencana, dan semacamnya. Kalau toh mau tampak heroik, batas yang diijinkan cukup sampai antikorupsi. Kata kunci dari gerakan tersebut adalah ‘Populis’ alias pesan yang disukai banyak kalangan, tetapi tetap dengan syarat meminimalisasi hadirnya anasir konflik. Baik konflik berupa kelengahan internal seperti kenyataan bahwa Palestina tak cuma Al Fatah, ataupun meminimalisasi kemungkinan konflik dari luar dengan menolak sikap diskriminatif.

Etalase kepedulian nasionalisme beginian, Nasionalisme Virtual, bertumbuh pesat di dunia maya. Dunia yang cukup nyaman dan aman dari benturan, setidaknya secara fisik. Dunia awang-awang di mana terbilang gampang mendapat kawan, sekaligus menentukan lawan— yang juga awang-awang. Ajakan tidak takut oleh Indonesia Unite kepada teroris yang awang-awang amat tampak heroik, tapi ketika Front Pembela Islam (FPI) yang nyata-nyata merusak kafe tidak dianggap teror sebagaimana aksi Nurdin M Top, atau aksi menutup jalanan untuk khotbah Majlis Rasulullah (MR) tidak dianggap gangguan apalagi lawan, ya percuma saja. Saya hanya masih menunggu para periang situs kebangsaan seperti indonesiaunite.com menyikapi sikap makar penganut faham kekhalifahan semacam Hizbut Tahir. Paham kekalifahan yang jelas-tegas berseberangan dengan sikap persatuan kebangsaan umat Indonesia Unite.

Atau memang mungkin substansi menjadi tidak penting? Tak apa tulang pegal linu, asal kulit tampak pejal bersatu. Biarkan situs lain mengajak makar, asal ikon merah-putih gagah berkibar di setiap wallpaper ataupun avatar. Niat sederhana bebas konflik mendasar seperti itu, namun disampaikan dengan kerendahan hati, saya temukan di kepakgaruda.wordpress.com, blog yang memberikan wallpaper gratis berisi tokoh-tokoh inspiratif. Tertulis di blog mereka:

"Tak ada harapan khusus yang mendasari pilihan untuk melakukan proyek “Kepak Garuda” ini, sekadar menciptakan keinginan berbagi dan keinginan untuk memberikan sebuah jejak kecil yang tak dalam untuk Indonesia".

—Kepak Garuda!

Saya juga menemukan situs pejalan Karna yang lain, indonesiabertindak.multiply.com dan hiduplahindonesiaraya.wordpress.com. Keduanya adalah blog yang berisi kampanye kreatif melalui karya grafis. Gagasan utamanya adalah mengembalikan citra positif Indonesia di mata dunia. Sampai sekarang, saya masih kesulitan menemukan citra positif Indonesia itu, tapi sepertinya mereka sudah. Indonesia Bertindak membalas pencitraburukan Indonesia sebagai negeri yang tak layak dikunjungi lantaran terorisme, dengan salah satu karya tenarnya "Travel Warning: Indonesia Dangerously Beautiful". Pesan yang secara visual biasa saja ini justru menguatkan sisi teksnya. Pesan nan tajam sekaligus ramah kepada pemberi stempel buruk Indonesia, tapi pada saat yang sama seperti melenakan akan siapa lawan sesungguhnya. Teroris lokal doktrinan jiran.

Di sisi lain, Hiduplah Indonesia Raya memarodikan karya tenar Milton Glaser  "I Love NY" menjadi "I Love RI" sebagai kampanye visual yang juga turut tenar. Pesan yang diharapkan mampu menyugesti pemakai kaos ataupun pembacanya untuk berpikir positif akan Indonesia, kemudian mencintainya. Tentu tak strategis apabila menambah tulisan "I Hate Bakrie", karena berpotensi konflik meski korporasi itu mengemplang pajak.

Tak apa, memilih lawan dan memilah persoalan sepertinya telah menjadi semacam garis politik para pejalan Karna. Untuk itu, sebagaimana Kepak Garuda, Indonesia Bertindak dan Hiduplah Indonesia Raya menyatakan hal yang senada:


"Usaha kecil untuk tercapainya sebuah Indonesia yang besar".

—Indonesia Bertindak


"[…] melakukan tindakan positif dari hal terkecil untuk jayanya Indonesia".

—Hiduplah Indonesia Raya


Filosofi Basukarna memang satu filosofi yang teraman dari kedua konsep nasionalisme dalam tokoh wayang sebelumnya. Filosofi yang memaknai cinta tanah air sebagai sebuah balas budi, yang bukanlah keterpaksaan berhutang Sang Kumbakarna ataupun pengingkaran ketaatan ala Wibisana. Para Karnais ini dipastikan sudah pasca minta-minta perhatian negara dan tampak lebih suka segera bergerak apa adanya. Dalam hal ini, pernyataan John Fitzgerald Kennedy (JFK), "Jangan tanya apa yang negara berikan kepadamu, tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu...", cukup mereka lampaui.

Alih-alih minta diperhatikan, di dalam situsnya mereka jelas-tegas menuliskan sikap independensi dari campurtangan kekuasaan. Mereka seperti menyadari bahwa penguasa justru acap merepoti kreativitas generasi daripada mendukungnya.


Narsisme maya
Menghindar dari konflik seolah memang sebuah niat baik, namun boleh juga dibaca dengan kacamata sarkastik sebagai sikap cari selamat. Tabiat yang sesungguhnya tak begitu saja akan membuahkan damai. Ibarat hanya memperlama jarak waktu menuju pertikaian sembari menimbun bara dengan sekam, yang tentu saja justru membuatnya semakin berdaya bakar. Di saat yang sama ada generasi di seberangnya yang kini begitu bergairah tikai lantaran tak mendapat arena di era sebelumnya. Generasi yang bara fundamentalisme religiusitasnya ditekuk oleh Orde Baru. Mereka yang bersujud takluk ditekan sepatu tentara, namun sekarang berteriak garang dan tampak dibeking aparat yang sama. Sementara sisa-sisa generasi fasis lama yang terbata-bata memaknai nasionalisme nan perwira, tetap mengibarkan semangat keindonesiaan sambil berhati-hati berbagi teritori dengan kekuatan nasionalis surgawi tadi.

Saya merasa hal itu sebagai pandangan tak berlebihan akan perang dingin’ three partied Basukarna-Wibisana-Kumbakarna, dengan ranah maya sebagai Kurusetra mereka. Memang tak jarang terjadi saling ancam dan caci-maki di sana, namun ketiga jagoan itu berpola sama, berupa laga eksistensi dan menyemi citra diri. Narsisme adu visual dan pamer kemenangan lebih menguasai. Selain itu, yang baru saya sadari adalah potret nasionalisme buram tadi telah coba kembali diolah dalam kamar gelap semangat kekinian dengan cairan pengembang yang berlebihan. Tentu kebrangas, semacam kondisi kulit yang terlalu matang cerah namun isinya masih terasa mentah. Saya tak ingin masuk dalam irisan itu, meski mau-tak mau turut menikmati alur dan arus reriungan mereka. Sebab, sejujurnya saya lebih suka kalimat lanjutan dari kutipan terkenal JFK saat inagurasi pada 20 Januari 1961 itu:

"[...] Jangan tanya apa yang akan Amerika lakukan kepadamu, tapi apa yang bisa kita lakukan bersama untuk kebebasan manusia".

Barangkali baik adanya mengganti kata "Amerika" itu menjadi "Indonesia". Tetapi tentunya kata itupun tidak harus menjelma negara. Pada dasarnya "apa yang bisa kita lakukan bersama untuk kebebasan manusia" itulah yang menjadi ketertarikan saya. Saya berharap ‘Kebebasan Manusia’ tersebut mewujud menjadi negeri tanpa batas teritori. Kalau toh ini sebuah utopia, mencari tanpa berharap menemu, tetaplah mengasyikkan adanya. Dengan atau tanpa lawan.

Dirgahayu Kebebasan Manusia! ***




Jakarta, Agustus 2010





MARTO ART adalah seorang penulis dan ilustrator, tinggal dan bekerja di Jakarta. Tulisan dan karya visualnya dapat disimak di martoart.multiply.com.



 


Ilustrasi oleh Marto Art


Logo Pemuda Pancasila                             Logo Front Pembela Islam


Logo Kepak Garuda

Travel Warning oleh Indonesia Bertindak


"I love RI" oleh Hiduplah Indonesia Raya

Komentar

You might post on the style for the blog. You should key in that it's killer. Your blog outcome will enlarge your viewers.
Vitamin C Skin Serum is great for supporting skin healthy by boosting collagen production. This homemade serum helps skin repair itself and brightens skin. nohay 2013

i will be back to check it more in the future so please keep up your work. michael kors outleti love your content & the way that you write. beauty salons in kandy

I really believe that you have been a gem to all of us.

Thanks for another wonderful post. Where else could anybody get that type of info in such an ideal way of writing buy mobile

This post is one of the most important post that I've ever got to read in my life. The significance of this post on my life is huge. This post has put a light towards the destination I was head in my life and I'd like to thank the writer of this article very much.

This post is one of the most important post that I've ever got to read in my life. The significance of this post on my life is huge. This post has put a light towards the destination I was head in my life and I'd like to thank the writer of this article very much.

I really believe that you have been a gem to all of us. Your magic has been seen through the beauty of your articles. I wish that you don't end this magic.

If you have checked already our Internet site, then you have found the best cleaning service in London!
We, ProLux cleaners in London are standing by to help you keep your carpets at their best. We perform a complete range of commercial and residential services for offices, retail stores, industrial facilities, houses, or flats providing quick and effective cleaning solutions for your needs.
Our expert crews are remarkably well trained. They use high grade extraction equipment for complete dirt and dust elimination from your rugs. We recognize the value of living in sanitary quarters. We have made our job to fully disinfect the homes and offices of customers working with gentle yet effective agents and efficient equipment. Our environmentally friendly cleaning solutions protect you, your families and your pets. Our janitorial crews do extraordinary job using the best cleaning products and equipment money can buy.
Our London teams are ready to clean all deep nested dirt in your favorite rug. Whether you live in a house or in an apartment, your carpets need refreshment and deep cleaning done in a professional way frequently.
Our professionals at ProLux never cut corners - they will examine your rug before commencing work to determine which professional method is appropriate to use. Dry cleaning works best for delicate carpets with unsound colors. Deep cleaning and steam cleaning are hot water extraction techniques, used for washing the majority carpets. We can eradicate stains of any kind. We can fully get rid of bacteria and bad odor.
All tools and cleaning solutions we work with are manufactured by leading names in the cleaning industry. Everything we do are mild and safe for your children, pets and the environment.
Just give us a call to book an appointment. For your convenience we have provided a rate calculator.

Merci pour l'excellent article que je n'ai aimé lire, je vais être sûr de bookmark votre blog et sera certainement revenir de nouveau. mesh lawsuit

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.