-A A +A
Versi ramah cetakPDF version

Penyeragaman yang selalu gagal

Haris Firdaus
03 Oktober 2009


/1/

ALKISAH, PADA satu hari ketika naik sebuah minibus di Jakarta, James Danandjaja mendengar pembicaraan dua orang siswi SMA yang kira-kira berlangsung seperti ini:

 

“Eh, kemarin waktu naik bus aku lihat cowok ganteng banget lho. Dia duduk di bagian depan. Kayaknya aku jatuh cinta deh.”
“Wah wah, asyik tuh. Terus, kamu kenalan nggak ‘ma cowok itu?”
“Nggak. Akhirnya bahkan aku nggak jadi suka ‘ma dia.”
“Lho kenapa?”

“Soalnya waktu aku berdiri dan lihat ke dia, ternyata dia pakai seragam SMP. Ah, sayang, dia cuma anak kecil.” [1]


Saya ngakak membaca kisah itu. Ternyata seragam sekolah tak pernah hanya memiliki aspek fungsional. Selalu ada makna kultural atau kadang politis di balik selembar pakaian itu. Dalam kisah Danandjaja, makna itu berkait dengan senioritas. Itulah kenapa, siswi SMA dalam kisah Danandjaja memilih memupus perasaan sukanya terhadap cowok ganteng yang ia temui di bus karena satu alasan: cowok itu memakai celana pendek warna biru—dan itu berarti dia masih SMP, “cuma anak kecil”. Seandainya siswi SMA tadi bertemu muka dengan sang cowok dalam keadaan tidak saling memakai seragam sekolah, sangat mungkin siswi itu tak akan langsung merasa antipati dan menghakimi cowok itu sebagai “anak kecil”.

Dalam skala yang jauh lebih politis sekaligus serius, masalah identitas yang berkaitan dengan seragam sekolah itulah yang juga menimpa murid-murid STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen)—sebuah sekolah pendidikan dokter khusus untuk pribumi pada masa kolonial. Oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, anak-anak pribumi di sekolah itu diharuskan memakai pakaian daerahnya masing-masing saat bersekolah, dengan satu tujuan: membedakan mereka secara visual dengan orang-orang Eropa.[2] Mereka dengan tegas dilarang berpakaian a la Eropa, meski pendidikan yang mereka dapatkan sebenarnya sama dengan orang Eropa. Orang pribumi dianggap pemerintah kolonial memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan orang Eropa sehingga mereka tak boleh “menyerupai” orang Eropa. Kata “menyerupai” di sini terutama berarti secara visual karena dalam hal pendidikan, murid-murid STOVIA mendapat pelajaran yang sama dengan calon dokter Eropa. Dari kasus ini, bisa disimpulkan bahwa bentuk visual sebuah pakaian bisa menjadi penentu penting identitas seseorang—dalam kasus murid-murid STOVIA, bentuk visual pakaian bahkan dianggap lebih penting dari soal intelektualitas dan sikap hidup.

Di Indonesia, seragam sekolah hampir selalu memiliki makna kultural dan kadang-kadang politis yang terkait dengan identitas. Identitas yang tecermin dari seragam sekolah nyatanya tidak harus sesuai dengan harapan pemerintah sebagai regulator peserta didik. Meski pemerintah berhasrat menyeragamkan bentuk visual peserta didik melalui seragam—sering kali hal ini dibingkai dengan tujuan mulia: menghilangkan kesenjangan antara murid kaya dan miskin—ternyata anak-anak sekolah di Indonesia tak pernah benar-benar tunduk patuh pada hasrat itu.


/2/

Setelah Indonesia lepas dari penjajahan, sebenarnya seragam sekolah tidak serta merta diberi perhatian pemerintah. Ada begitu banyak persoalan, terutama terkait dengan kondisi politik dan peperangan, yang membuat soal pendidikan harus dipikirkan nanti-nanti saja. Sampai beberapa tahun setelah kemerdekaan, masih banyak siswa-siswi yang bersekolah dengan memakai pakaian seadanya. Kondisi perang dan kemiskinan tidak memungkinkan pendidikan dilaksanakan dengan terlalu memperhatikan sesuatu yang ‘kurang mendasar’ seperti itu.

Dalam penelusuran saya, secara historis, peraturan yang pertama kali mengatur seragam sekolah secara nasional adalah Surat Keputusan (SK) 052/C/Kep/D/82. SK yang dikeluarkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 17 Maret 1982 ini—khusus berlaku untuk sekolah negeri—mengharuskan siswa SD memakai pakaian putih-merah, siswa SMP memakai putih-biru, dan siswa SMA memakai putih-abu-abu. Peraturan ini tidak mengakomodasi pemakaian busana muslimah bagi para siswi, terutama dalam kaitannya dengan jilbab. Busana muslimah—yang umumnya terdiri atas jilbab, kemeja lengan panjang, dan rok panjang—tidak diperbolehkan dipakai sebagai seragam sekolah.[3]

Akibat persoalan itu, sempat muncul masalah terkait dengan pelarangan pemakaian jilbab di beberapa SMA di Indonesia. Masalah pelarangan pemakaian jilbab sudah muncul beberapa tahun sebelum SK 052/C/Kep/D/82 disahkan. Pada 1979, pengelola Sekolah Pendidikan Guru Negeri Bandung bermaksud memisahkan sejumlah siswi yang memakai jilbab dengan siswa-siswi lainnya. Tindakan diskriminatif ini jelas ditolak oleh para siswi sehingga sempat terjadi ketegangan antara pihak sekolah dengan mereka. Masalah ini baru selesai tatkala Ketua Majelis Ulama Jawa Barat, EZ Muttaqien, ikut campur dalam soal ini.

Setelah kasus di Bandung pada 1979, bermunculan sejumlah kejadian lain terkait pemakaian jilbab di sekolah. Pengesahan peraturan pada 1982 tentang seragam sekolah yang tidak mengakomodasi jilbab dan busana muslimah, membuat kasus-kasus pelarangan pemakaian jilbab meningkat. Dalam catatan Alwi Alatas, ada sekira 35 SMA di berbagai kota di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Cirebon, Jember, dan Solo yang terlibat kasus semacam itu. Selain karena peraturan pemerintah yang tidak akomodatif, pelarangan itu juga terjadi akibat adanya kecurigaan bahwa siswi-siswi yang memakai jilbab merupakan anggota gerakan Islam fundamentalis. Pada 1980-an, gerakan Islam memang sedang mendapat sorotan, sekaligus represi dari pemerintah, sehingga kecurigaan terhadap ekspresi-ekspresi keislaman di ruang publik menjadi begitu besar.

Selama bertahun-tahun, larangan memakai jilbab terus terjadi, sejumlah kasus besar dan kecil muncul, diselingi protes dan pelbagai kontroversi. Masalah pelarangan itu baru selesai pada 1991 tatkala pemerintah mengesahkan peraturan baru tentang seragam sekolah yang mengakomodasi pakaian muslimah, yakni SK 100/C/Kep/D/1991.

Heboh pemakaian jilbab di sekolah-sekolah Indonesia pada 1979 - 1991 menunjukkan, siswa ternyata tidak bisa diatur secara semena-mena oleh pemerintah sebagai pengelola pendidikan. Para siswi yang memakai jilbab ke sekolah memiliki tata nilai tersendiri yang tak bisa disamakan dengan murid-murid lainnya. Tata nilai tertentu inilah yang hendak disampaikan melalui pemakaian jilbab. Di sini, bentuk visual jilbab atau busana muslimah yang mereka pakai merupakan pernyataan yang jelas tentang identitas mereka.

Lalu, apa tata nilai yang memengaruhi mereka memakai jilbab dan juga membuat mereka menjadi pemudi-pemudi yang keras kepala? Tak lain tak bukan adalah tata nilai Islam yang mereka pelajari dari berbagai forum pengajian dan pelatihan keislaman yang kala itu mulai marak. Pada 1980-an, gerakan Islam memang bisa dikatakan mengalami kebangkitan, meski harus disebut sebagai “kebangkitan diam-diam” karena respons pemerintah terhadap gerakan itu cenderung negatif dan keras. Gerakan dakwah yang bergerak di kampus-kampus negeri, terutama Institut Teknologi Bandung (ITB), itu sering disebut sebagai Gerakan Tarbiyah—gerakan ini dipengaruhi oleh organisasi Ikhwanul Muslimin di Mesir sekaligus merupakan embrio dari Partai Keadilan Sejahtera yang kita kenal sekarang. Masjid Salman ITB merupakan tempat kajian-kajian keislaman yang dipengaruhi Tarbiyah dilakukan. Beberapa siswi yang memakai jilbab ke sekolah—tidak terbatas siswi dari Bandung saja—merupakan hasil didikan program Latihan Mujahid Dakwah (LMD) dan Studi Islam Intensif (SII) yang diselenggarakan para aktivis Masjid Salman. Di Jakarta, pemakaian jilbab oleh siswi-siswi SMA dipengaruhi oleh gerakan Pelajar Islam Indonesia (PII).

Gerakan dakwah keislaman inilah—yang kala itu muncul dipengaruhi antara lain oleh Revolusi Iran—yang kemudian memicu kehendak para siswi SMA untuk mempraktikkan ajaran Islam secara lebih kaffah dengan cara menutup auratnya. Dalam wilayah teologis, pemakaian busana muslimah memang bisa dimaknai sebagai keinginan menjalankan perintah Tuhan secara sungguh-sungguh. Namun, dalam wilayah sosial dan kebudayaan, pemakaian busana muslimah adalah ekspresi penegasan identitas yang dipengaruhi oleh tata nilai keagamaan. Dirumuskan secara pendek, gerakan ‘jilbabisasi’ itu bermakna: “Aku memakai jilbab, karena itu aku Islam.”

Sampai pada titik ini, penegasan identitas yang disampaikan melalui jilbab atau busana muslimah merupakan sebuah perlawanan atas kehendak penyeragaman yang dimiliki pemerintah. Nilai-nilai yang hendak ditanamkan pemerintah melalui seragam sekolah dilawan oleh para siswi muslimah itu dengan cara menyampaikan tata nilai baru yang kala itu terasa sangat revolusioner.


/3/

Setelah pemerintah mengakomodasi busana muslimah sebagai bagian dari seragam sekolah, maka status perlawanan yang dulunya disandang oleh jenis busana itu otomatis tanggal. Busana muslimah menjadi bagian yang integral dari kebijakan pemerintah mengenai seragam sekolah dan kehilangan ‘sifat revolusionernya’. Dalam periode-periode selanjutnya, kita mungkin tak akan menemukan perlawanan terhadap seragam sekolah dengan kadar yang sama kuat dengan fenomena jilbabisasi. Tapi, sadar atau tidak, di setiap masa, selalu muncul riak kecil perlawanan sehingga ‘penyeragaman total’ tak pernah benar-benar terwujud.

Riak kecil perlawanan itu terutama bisa kita kenali dari terus berubah-ubahnya detail visual seragam sekolah—terutama seragam sekolah anak-anak SMA—dari waktu ke waktu. Guna membuktikan perbedaan itu, saya melakukan semacam riset kecil-kecilan dengan mengamati sejumlah film yang saya anggap populer di masanya dan berkisah tentang anak SMA di beberapa periode. Secara khusus, ada tiga film yang saya amati, yakni (a) Gita Cinta dari SMA (Arizal, 1979), sebuah film dengan bintang utama Rano Karno dan Yessi Gusman; (b) Tangkaplah Daku Kau Kujitak (Achiel Nasrun, 1986), film yang diangkat dari serial Lupus karya Hilman Hariwijaya di Majalah Hai dengan bintang utama Ryan Hidayat, Firdha Kustler, dan Nurul Arifin; serta (c) Ada Apa dengan Cinta? (Rudi Sujarwo, 2002) dengan Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo sebagai pemeran utama.

Dalam adegan pembukaan Gita Cinta dari SMA, kita bisa melihat Galih (Rano Karno) yang tergopoh-gopoh menaiki sepeda onthel jenis jengki ke sekolah. Beberapa saat kemudian, kita juga bisa menyaksikan bagaimana Ratna (Yessi Gusman) terpesona dengan Galih saat Galih masuk kelas dalam keadaan terlambat. Selama adegan di dalam kelas yang ada pada bagian-bagian pembuka inilah, saya mengamati sejumlah ciri khusus dari pakaian Galih dan Ratna yang secara diametral berbeda dengan pakaian anak-anak SMA masa kini.

Galih memakai kemeja putih lengan pendek dengan ‘belahan dada’ sangat lebar, jarak antara kancing di kerah kemeja dengan kancing selanjutnya sangat lebar sehingga bagian atas dada Galih dapat terlihat cukup jelas. Model kemeja seperti ini saya lihat juga dipakai oleh kawan-kawan pria Galih lain meskipun ternyata ada kawan pria Galih yang memakai kemeja lengan panjang—tetap dengan ‘belahan dada’ lebar—dengan lengan kemeja yang digulung. Sementara itu, celana panjang yang dipakai Galih adalah celana panjang warna abu-abu dengan model agak ketat. Galih memasukkan kemejanya ke dalam celana tapi tidak memakai ikat pinggang. Sementara itu, Ratna memakai kemeja putih rapi dengan ukuran cukup longgar jika dibandingkan rata-rata baju perempuan masa kini. Rok abu-abu yang dipakainya cukup panjang, sampai ke bawah lutut. Ratna memasukkan kemejanya ke dalam rok secara rapi, tapi sama seperti Galih, ia tidak memakai ikat pinggang. Kaos kaki Ratna berwarna putih dan ukurannya panjang, hanya beberapa sentimeter di bawah lutut.

Dalam Tangkaplah Daku Kau Kujitak, kita bertemu Lupus (Ryan Hidayat) yang berjambul, dengan kemeja putih lengan pendek yang dimasukkan ke dalam celana panjang abu-abu plus ikat pinggang. ‘Belahan dada’ kemeja yang dipakai Lupus juga lebar, masih mirip dengan yang dikenakan Galih. Salah satu ciri khas yang paling membedakan busana SMA pada film ini dengan busana SMA di dalam Gita Cinta dari SMA dan Ada Apa dengan Cinta? adalah pemakaian kemeja berwarna putih berlengan pendek yang entah kenapa lengan kemejanya masih harus digulung. Ya, baik laki-laki maupun perempuan dalam film itu ternyata sama-sama pergi ke sekolah dengan memakai kemeja putih yang digulung lengan kemejanya. Detail visual semacam ini menarik jika kita bandingkan dengan film Catatan Si Boy yang juga populer zaman itu tapi berkisah tentang kehidupan mahasiswa. Dalam Catatan Si Boy, kita juga bisa menemukan lelaki-lelaki yang memakai kaos atau kemeja dengan lengan digulung. Aktivitas menggulung lengan kemeja bertujuan agar lengan kemeja tidak melebar ke samping jika dilihat dari depan, juga supaya baju terlihat lebih ketat, mengikuti bentuk lengan, dan mungkin membuat pemakainya tampak lebih jantan. Wujud busana semacam itu merupakan tren yang mewabah di kalangan anak muda 1980-an.

Sementara itu, dalam Ada Apa dengan Cinta?, kita bertemu Rangga (Nicholas Saputra) yang memakai kemeja putih dengan potongan agak ketat yang tidak dimasukkan ke dalam celana panjang warna abu-abu. Kita juga berjumpa Cinta (Dian Sastrowardoyo) yang memakai kemeja ketat dengan rok ketat di atas lutut, dan kaos kaki putih panjang yang hampir menyentuh lutut. Cinta memasukkan kemejanya secara rapi ke dalam rok, namun tatkala mengamati beberapa kawan dekat Cinta, saya juga menemukan bahwa ada pula siswi SMA dalam film itu yang tidak memasukkan kemejanya ke dalam rok. Melihat beberapa kawan Cinta yang tidak memasukkan kemejanya, kita tahu bahwa kemeja mereka benar-benar ketat, terutama jika dibandingkan dengan kemeja Ratna dalam Gita Cinta dari SMA.


/4/

Tiga film yang saya amati semuanya berlokasi di Jakarta, salah satu kota yang paling maju dalam hal mode pakaian. Karena itulah detail visual seragam dalam film-film itu, menurut saya, sangat mungkin dipengaruhi oleh mode yang sedang digemari. Kota-kota besar memang bisa dianggap sebagai ladang subur bagi tumbuhnya riak-riak perlawanan atas aturan seragam yang baku, terutama perlawanan yang diilhami mode pakaian gaul.

Seorang kawan yang menjalani sekolah di Jakarta mengisahkan, pada sekitar 1998 sempat muncul tren memakai handuk yang dililitkan ke leher di kalangan pelajar SMA kota itu. Handuk kecil yang secara fungsional merupakan lap keringat dan untuk beberapa waktu identik dengan tukang becak, ternyata pernah dijadikan sebagai simbol ‘ke-gaul-an’ para pelajar ibukota. Pernah pula ada masa ketika para pelajar perempuan menyenangi pakaian dalam berwarna ngejreng saat pergi ke sekolah. Kemeja putih mereka yang tipis tentu tak kuasa menutupi bra mereka yang berwarna merah muda atau oranje. Saat pada hari tertentu saat pelajar putri diharuskan memakai rok warna putih, celana dalam warna-warni mereka akhirnya juga tampak samar-samar. “Ini salah satu hiburan bagi para pelajar laki-laki pada masa itu,” kata kawan saya.

Saat kawan saya itu SMA, anak-anak kelas 3 punya keleluasaan lebih besar dalam membangkang dari aturan seragam. Mereka, misalnya saja, tak pernah ditegur walaupun tak memasukkan kemeja ke dalam celana atau rok. Sementara anak-anak kelas 1 pasti diingatkan jika penampilannya tak rapi, para siswa paling senior itu bisa leluasa memodifikasi seragam sekolah mereka. Hal ini mungkin terjadi karena dua hal: (a) para siswa senior itu punya kedekatan yang lebih dengan guru mereka; dan (b) para guru sudah lelah mengingatkan siswa-siswi senior yang toh sebentar lagi juga akan lulus. Dalam kasus ini, detail visual seragam menunjukkan senioritas: seragam rapi berarti yunior, seragam acak-acakan bermakna sudah senior.

Tapi pembangkangan bukan monopoli Jakarta atau kota besar saja. Saya menjalani pendidikan di Solo, sebuah kota yang secara berlebihan sering dijuluki sebagai “kota budaya” hanya karena di sana ada keraton yang terus disimbolkan sebagai penjaga tradisi Jawa yang adiluhung. Nyatanya, para pelajar di Solo tak berbeda terlampau jauh dengan kawan-kawan mereka di Jakarta dalam memperlakukan seragam sekolah. Perlawanan atas pembakuan seragam muncul secara terus-menerus, dalam tiap lapis generasi.

Dalam pengalaman pribadi saya yang menjalani masa SMA setelah ‘ledakan’ Ada Apa dengan Cinta?, bentuk visual busana yang dipakai Cinta ternyata banyak ditiru oleh kawan-kawan perempuan saya. Hampir bisa dipastikan, kawan-kawan perempuan saya yang masuk kategori ‘anak gaul’ akan menggunakan kemeja ketat, rok abu-abu ketat dan pendek, kaos kaki panjang hampir mencapai lutut, kadang-kadang dipadu dengan sepatu bermerek mahal. Tapi seingat saya, tren semacam itu berangsur berubah. Rok pendek nan ketat itu lama-lama tergusur oleh rok panjang tapi potongannya cukup ketat sehingga bentuk pinggul dan pantat pemakainya tetap terlihat jelas.

Sementara itu, tren busana kawan-kawan lelaki saya adalah kemeja agak ketat yang dipadu dengan celana gombor yang pipa pahanya sangat lebar. Uniknya, tren celana gombor ini sekarang justru berbalik menjadi tren celana pipa sempit a la anak-anak Punk. Dan, kadang-kadang, saya melihat pula celana sempit itu dipaksakan jadi potongan celana SMA sekarang.

Tren memakai pakaian dalam berwarna cerah juga bukan monopoli Jakarta. Saya sudah menemukan kecenderungan macam itu sejak SMP di Solo. Pada masa SMP itu pula, saya sering menemukan pelajar-pelajar yang dengan sengaja melawan aturan baku seragam sekolah mereka. Misalnya, pada hari Sabtu, siswa-siswi SMP saya diwajibkan memakai seragam Pramuka yang atasan dan bawahannya sama-sama berwarna cokelat. Meski jelas-jelas paham soal ini, hampir tiap Sabtu ada siswa yang membangkang dengan cara memodifikasi seenak hati seragam mereka.

Contohnya, ada siswa yang memakai kemeja cokelat ala Pramuka dan celana pendek berwarna biru. Secara visual, seragam mereka jadi sangat norak. Tidak ada unsur estetika atau mode apapun yang termaktub dalam perlawanan jenis ini. Menurut saya—sebagai orang yang pernah melakukan pembangkangan macam itu juga—tidak ada satu alasan tetap bagi jenis perlawanan tersebut. Saya, misalnya, kadang-kadang memakai kemeja Pramuka dan celana biru pada hari Sabtu dengan alasan yang sangat sepele: potongan celana Pramuka saya tak terlalu nyaman dipakai. Beberapa kawan lain melakukan hal itu sekadar untuk membuktikan bahwa mereka merupakan anak yang berani melawan aturan.


/5/

Sampai di sini, terlihat bahwa perlawanan atas pembakuan seragam sekolah punya rupa yang begitu banyak: dari yang sifatnya murni politis, sampai yang sekadar estetis. Latar belakang dan tujuan dari masing-masing perlawanan itu bisa berbeda amat jauh. Saya mencoba merumuskan lima jenis perlawanan atas seragam sekolah.

Pertama, seperti tampak dalam kontroversi larangan jilbab ke sekolah, perlawanan atas seragam sekolah yang baku bisa punya arti politis yang besar: sebuah tindak penegasan identitas. Ini terjadi karena seragam sekolah baku tak sesuai dengan identitas diri yang hendak ditonjolkan oleh para siswa. Kedua, ada siswa yang membangkang karena terilhami oleh mode. Mereka yang melawan karena alasan ini mungkin merasa potongan dan bahan seragam yang ditetapkan sekolah mereka sangat kolot, tak bisa mengikuti selera muda mereka yang selalu ingin tampil keren sesuai mode. Ketiga, ada pula yang membangkang karena tuntutan keadaan, seperti saya yang terpaksa memakai baju Pramuka dengan celana pendek warna biru saat SMP karena potongan celana cokelat saya tak nyaman. Perlawanan jenis ini dilakukan dalam kondisi kepepet, tatkala membangkang menjadi satu-satunya pilihan yang mungkin. Keempat, membangkang sebagai sekadar gagah-gagahan. Pembangkangan jenis ini terkait erat dengan darah muda para pelajar yang merasa harga diri mereka menjadi lebih tinggi tatkala mereka bisa melanggar aturan. Kelima, pelanggaran yang dilakukan karena keadaan memungkinkan. Pelanggaran macam ini lebih dipengaruhi faktor eksternal, seperti aturan sekolah, atau penerapan atas aturan itu, yang longgar.

Pada akhirnya, kita memang berjumpa dengan pluralitas perlawanan yang tidak bisa dicari penyebab tunggalnya. Yang bisa diusahakan hanyalah penggambaran sketsa atas pelbagai bentuk perlawanan tersebut yang bermuara pada satu kesimpulan: penyeragaman siswa melalui seragam sekolah merupakan penyeragaman yang selalu gagal.




Jakarta dan Solo, Juni & Agustus 2009




HARIS FIRDAUS lahir di Solo, 1986. Lulus dari Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sebelas Maret, Solo, pada 2009. Menulis banyak jenis tulisan: puisi, cerpen, artikel umum, dan esai kebudayaan. Sejumlah tulisannya pernah dimuat di beberapa media massa, antara lain Kompas, Media Indonesia, Suara Merdeka, dan Solopos. Ia bergiat di Kabut Institut, Buletin Sastra Pawon, dan Kelompok Diskusi Perkotaan Balai Soedjatmoko.


Esai ini pertama kali dibuat oleh penulis dalam masa Lokakarya Penulisan Seni Visual pada Juni 2009 di ruangrupa, organisasi seni rupa kontemporer di Jakarta yang menerbitkan Karbonjournal.org. Esai ini kemudian disempurnakan kembali oleh penulis menjadi apa yang baru saja Anda baca sekarang.

Redaktur berterimakasih kepada Nuraini Juliastuti atas informasi referensinya mengenai buku Henk Schulte Nordholt (ed), Outward Appearances. Dressing State and Society in Indonesia (Leiden: KILTV Press, 1997). Terimakasih juga kami sampaikan kepada Lalu Roisamri dan Varadila dari JIFFEST (Jakarta International Film Festival) atas akses visual film Gita Cinta dari SMA (Arizal, 1979) dan kepada Prima Rusdi atas pinjaman DVD Ada Apa Dengan Cinta? (Rudi Soedjarwo, 2002).


 



Suasana kelas dalam film Gita Cinta dari SMA (Arizal, 1979). Tampak remaja pria di
barisan belakang mengenakan kemeja dengan ‘belahan dada’ terbuka lebar.


Galih (Rano Karno) dan Ratna (Yessi Gusman) sepulang sekolah dalam film Gita
Cinta dari SMA
(Arizal, 1979). Kancing atas kemeja seragam Galih tampak terbuka
lebar.


Cinta dan para sahabatnya dalam pengumuman lomba pusi pada film Ada Apa
Dengan Cinta?
(Rudi Soedjarwo, 2002). Berbeda dengan Cinta (Dian Sastrowardoyo)
dan Milly (Sissy Priscillia), teman-teman lainnya tak memasukkan kemeja mereka ke
dalam rok. Kemeja mereka benar-benar ketat, terutama jika dibandingkan dengan
Ratna dalam Gita Cinta dari SMA.


Cinta (Dian Sastrowardoyo) bersama para sahabatnya menjelang pengakuannya atas
perasaannya terhadap Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta?
(Rudi Soedjarwo, 2002). Kaos kaki panjang yang hampir mencapai lutut, berikut
kemeja ketat, rok abu-abu ketat dan pendek, yang dikenakan Cinta dan kawan-
kawannya, sempat menjadi tren setelah ‘ledakan’ film ini.


Ada Apa Dengan Cinta? (Rudi Soedjarwo, 2002).


Catatan redaktur
Penilaian penulis Haris Firdaus atas seragam lebih fokus pada ‘perlawanan’ siswa
terhadap penyeragaman, dan tidak termasuk penilaian atas tidak dipasangnya badge
SMA di kantong kemeja para siswa dalam film Ada Apa Dengan Cinta?
(Rudi Soedjarwo, 2002)—yang bukan sebuah bentuk ‘perlawanan’, namun memang
tidak ditampilkan dalam film, sebagaimana layaknya kenyataan di luar film.


Catatan kaki
[1] Dalam esainya yang berjudul “From hansop to safari: Notes from eyewitness”,
James Danandjaja sebenarnya tidak mengisahkan kejadian ini menggunakan
dialog-dialog langsung. Demi menghadirkan suasana pembicaraan anak muda,
saya menggubah kisah Danandjaja menjadi percakapan langsung. Esai Danandjaja
bisa dibaca dalam Henk Schulte Nordholt (ed), Outward Appearances. Dressing
State and Society in Indonesia
(Leiden: KILTV Press, 1997), hlm. 249-258.
[2] Masalah ini pernah dibahas oleh Goenawan Mohamad dalam salah satu catatan
pinggirnya. Lihat Goenawan Mohamad, “Blangkon”, Catatan Pinggir di Majalah Tempo,
Edisi 25-31 Mei 2009. Lihat pula penjelasan Wikipedia Indonesia tentang STOVIA,
sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/School_tot_Opleiding_van_Indische_Artsen
[3] Sebelum keluarnya SK 052 ini, masing-masing sekolah negeri diberi kebebasan
menentukan bentuk seragam mereka sendiri. Mengenai masalah ini, lihat Alwi Alatas,
“Kasus Jilbab di Sekolah-sekolah Negeri di Indonesia Tahun 1982-1991”, sumber:
http://images.alwialatas.multiply.com/attachment/0/RdLvRAoKCrAAAGPNUGs1/
Penelitian%20Kasus%20Jilbab.doc?nmid=19989367
. Data-data soal kontroversi
pemakaian jilbab di sejumlah SMA di Indonesia saya ambil dari tulisan ini. Tulisan
lain soal fenomena sama tapi perspektifnya lebih luas, lihat Nuraini Juliastuti,
“The Politics of Moslem Clothing in Indonesia”, sumber: http://kunci.or.id/esai/en/
juliastuti_jilbab.htm



Komentar

Il estt facile de maigrir vite développer des problèmes cardio-vasculaires. Un mot de prudence, bien qu'ils ne mentionnent pas les aliments diététiques en boite. Tout en faisant parfois des régimes restrictifs hypocaloriques ou interdisant certains groupes alimentaires et l'activité physique où les émotions et less pains maigir vite complets qui sont trés efficaces pour brûler viscérale ventre de bière.
Hi, i think that i saw you visited my web site thus i came to “return the favor”.I'm trying to find things to enhance my site!I suppose its ok to use a few of your ideas!!
However, Farrah may be the one who made a decision to take her clothes down and video herself having sex using a porn star, so it's difficult to believe that she was unaware of the events that will follow. Later, at a stand inside what appears to be always a Cracker Barrel restaurant, Alt is given a level by Jay Servidio -by- article on porn site marketing and style. Below is really a URL to get the test version of 30 days of the application at no cost. For like two years i cryed and begged him to avoid showing him how much it hurt me and just how terrible it made me feel he generally said he would transform but he never did and so I presented him porn. Porn was chosen by him so i quit him i started seeing someone else. But by that point he wished me Is needed by me Once we visited the store. If he had five mins alone he do it. Now he has cut back a great deal he only does it every once each month im two often longer and also the last period he did I'm like he's made progress for me personally thus it makes me feel so conflicted like being within this for 4 decades has totally consumed its cost on me and our reltionship but is he eventually needs to change or is he just possessing of cause i am enjoying him and he understands it. i honestly feel just like the second he gets an opportunity and considers he'll break free with-it he will like my boy got a ds3 and that I was paraonid cause it had a and effectively i had reason to become he tryed to appear up porn on my daughters ds fer fuckssake and on xbox youtube its like my very existence I'll alawys be worring i don't also allow him get a cell phone. He don't get get support he can do that by himself and he suggests he embarrassed but obviosly that There is plenty of awesome nudity to the collection itself - everyone I know is deeply in love with Anna Paquin, all a - but for the hardcore-sex you've been hoping for you'll must switch to New Sounds' True Blood: A XXX Parody.
For most recent news you have to pay a visit world wide web and on internet I found this web site as a finest web site for hottest updates.
Great web site you have here.. It's difficult to find excellent writing like yours these days. I truly appreciate people like you! Take care!!
cash advance 6pn cash advance 53e http://s3.amazonaws.com/cash-advance/cash-advance.html cash advance otm http://cash--advance.net cash advance 5xn
From sexy Night Elf costumes, to dwarfs, these outfits are generally for conventions and other occasions celebrating the game. They are one of the best online game sites because you are going to be able to really enjoy yourself, whether you have hours available to play or just have five minutes during the day that you want to spend gaming and having a bit of fun. Participants are supposed to answer the questions that are asked to them.
In case you only want to say I love you for no reason, that's a reason itself. The dog names that relates to brown are Almond, Apple, Bronze, Cherry, Chestnut Chocolate, Cinnamon, Copper, Mango, Peanut, Penny, Peach, Persimmon, Hazel, Rusty, and Woody. Tell him he is the most handsome man you have ever met. Customization is very easy, as one can choose between a 12 and 24-hour clock setting, and Celsius and Fahrenheit temperatures. That will help the text complement the image nicely.
What's up everyone, it's my first visit at this website, and article is in fact fruitful in favor of me, keep up posting these articles.
I was able to find good info from your blog posts.

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.