2011
2010
Dengan menyebut nama Hiburan...
“...jangan terlalu serius, pemirsa.
Acara ini hanya jas kédéng, jas for laff
(just kidding, just for laugh)...”
— catchphrase Tukul Arwana dalam acara talkshow-nya
Empat Mata dan Bukan Empat Mata.
AWAL FEBRUARI lalu, terjadi selentingan menggelitik dari Romy Rafael, sang penghipnotis ternama yang pernah memopulerkan hipnotis antara lain lewat acara Master Hipnotis di RCTI pertengahan 2009 silam. Sang hipnoterapis yang kini lebih aktif di kliniknya itu mengungkapkan kegelisahannya bahwa acara hipnotis di “televisi tetangga” yang dibawakan seorang “presenter kondang” menurutnya menyalahi etika hipnotis.
Dalam acara “televisi tetangga” itu, memang sang “presenter kondang” membongkar citra kemisteriusan hipnotis (yang dibangun Romy, dan saya suudzon ini gara-gara Deddy Corbuzier). Hipnotis presenter kondang itu dilakukan dalam suasana canda, tetapi menjadi bermasalah ketika sang presenter dengan enaknya bisa membongkar kesalahan dan aib orang secara acak di tempat diadakannya acara itu.
(Petunjuk: ganti frase “televisi tetangga” dengan “SCTV”, dan “presenter kondang” dengan “Uya Kuya”. Jangan tertukar. Kalau kurang jelas, saksikan Uya Emang Kuya, setiap Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu pukul 17.30. Di hari lain selama seminggu itu, putri tercintanya, Cinta, mengerjai orang dalam acara Cinta Juga Kuya.)
Dari sudut pandang ahli semacam Romy, hipnotis adalah sebuah metode sugesti, yang konon berguna untuk terapi. Tetapi acara di televisi tetangga itu, menurutnya “salah kaprah dan tidak etis”. Dia juga berkata, “Hipnoterapis tidak bisa melakukan hal itu (membuka rahasia orang). Untuk bisa masuk ke jiwa seseorang harus ada izin dulu tapi tetap kontrolnya 100% orang tersebut.” Dengan kata lain, batasan teknis dan etisnya jelas.
Secara teknis, orang yang terhipnotis tetap memiliki tembok psikologis, yang mencegahnya berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan nuraninya. Jika si A menganggap membunuh itu salah, hipnotis yang bagaimana pun tidak akan mampu membuat A lantas bisa membunuh. Jika si B menganggap korupsi itu salah, hipnotis tidak akan membuatnya bisa korupsi. Untuk membuat B bisa korupsi, mungkin lebih ampuh menjadikannya anggota dewan daripada menghipnotisnya.
Jika tembok nurani seperti itu pun sebetulnya tidak mampu ditembus hipnotis, bagaimana pula dengan tembok penyimpan aib yang biasanya lebih tebal? Maka Bung Romy pun tidak habis pikir, bagaimana mungkin hipnotis yang ditekuninya bertahun-tahun mendadak bisa digunakan untuk membuka aib seseorang tanpa seizinnya? Pertama, ini jelas melanggar batasan kedua tadi: yang etis. Kedua, jika memang bisa begitu, kenapa tidak menghipnotis koruptor dan anggota dewan untuk mengaku atau gantung diri saja?
Tentu bukan berarti Uya Kuya... maksud saya, presenter kondang tadi lebih jago daripada Romy. Jika harus sampai membela diri, presenter itu pasti akan mengakui bahwa acaranya hanya untuk hiburan belaka. “Jas kédéng”, kalau kata Tukul.
* * *
Romy Rafael terjebak dilema klasik. Untuk mempromosikan metode terapi via hipnotis, dia malang melintang di dunia televisi dan menyampaikannya dalam bentuk hiburan. Sampai pada batasan tertentu, dia terpaksa mengakui adanya unsur manipulasi dalam acaranya, yaitu bahwa hipnotis yang sungguhan tidak secepat yang diperlihatkan di televisi, meskipun keampuhannya mungkin benar. Unsur penyuntingan berperan besar, demi merampas perhatian dan... menghibur.
Lalu apa yang membuatnya bisa mencegah orang lain menarik batas yang lebih jauh dalam permainannya tadi, dengan mengatasnamakan hiburan? Apa yang bisa dilakukannya tatkala mengekor kepopulerannya, Uya Kuy..., presenter kondang televisi tetangga membuat acara serupa yang lebih kocak, meskipun lebih jelas bohongnya? Romy tidak berdaya di sini, ketika metode yang ditekuninya bertahun-tahun itu terancam kredibilitasnya. Saat acara televisi tetangga ketahuan memang demi hiburan semata (dan karenanya bohong), kredibilitas metode hipnotis akan terganggu, seakan-akan Romy juga berbohong. Di sisi lain, saat khalayak justru meyakini kebenaran perbuatan sang presenter, hasilnya sama saja: kredibilitas hipnotisme terganggu, karena kesannya kok bisa digunakan untuk membuka aib orang, dan bukan tidak mungkin malah menjahati orang.
Tak ayal, kasus ini membuat kita menukik ke perdebatan lawas nan abadi tentang pesan versus hiburan. Tengoklah betapa ironis dilema Romy: metode hipnoterapinya populer karena televisi, tetapi juga mendangkal karena televisi. Sebetulnya apa yang salah dengan menghibur? Bukankah Romy pun, seperti orang lain juga, ‘terpaksa’ menerima bahwa hiburan adalah sarana yang mangkus dan sangkil untuk menyampaikan pesan? Bukankah ini masa ketika kita tidak dapat lagi menampik, bahwa hiburan dan pesan bertaut sangat erat, dan nyaris tidak terpisahkan?
Neil Postman, dalam bukunya Amusing Ourselves to Death (edisi Indonesianya berjudul Menghibur Diri Sampai Mati) membagi pandangan yang untuk ukuran sekarang sangat konservatif, tetapi sialnya benar. Postman menyiratkan adanya kutukan medium, bahwa televisi yang bersifat audio-visual seperti dituntut untuk selalu menyajikan yang menghibur. Barangkali karena hakikat audio-visual adalah memanjakan indra perasa yang paling mudah ditipu, dia punya kecenderungan menyesatkan, bagaikan bayang-bayang dalam gua Plato. Lalu prosesnya berlanjut: dalam bungkusan hiburan itu, penonton pun terjerumus dalam bahaya salah konteks dalam memaknai sesuatu yang mungkin saja mengandung pesan serius.
Apakah ini berarti menganggap penonton bodoh?
Mungkin untuk saat ini ada alasannya Romy khawatir. Kasus yang menimpa alumni The Master (acara audisi sulap di RCTI, pertengahan 2009) Limbad contohnya. Gaya sulap Limbad yang bernuansa debus dituduh klenik dan diharamkan, hanya karena orang terlalu malas untuk mencerna sesuatu dengan lebih berakal sehat. Saya membayangkan, Limbad yang kadung melakukan pencitraan diri ‘tidak pernah berbicara’ itu pasti kesulitan dan gregetan ingin menjelaskan, berbau debus bukan berarti debus mistis! Apa boleh buat. Salah sendiri, membangun citra-diri kok tidak bisa bicara. Tidak mengejutkan jika kelak tudingan sesat terhadap metode hipnotis Romy hanya bergantung soal waktu dan soal ekspose.
Baik. Sedikit racauan lagi dan saya akan tergelincir ke sikap konservatif: berceramah soal tontonan-tuntunan, membatasi, melarang dan lain-lain. Sebetulnya etikanya sederhana saja: sejauh mana ‘hiburan’ itu melanggar hak-hak orang lain? Seberapa jauh hiburan itu dengan jelas membuat persepsi orang melenceng ke arah yang tidak diinginkan? Dalam kasus seperti ini saya sepenuhnya setuju bahwa bagaimanapun, peran regulator masih penting, asalkan berbasis publik. Dari mereka, hiburan dan pesan bisa ditakar dan ditimbang, industri opini bisa berkompetisi sehat, dan hiburan tidak meniadakan pesan.
Ya, ya, tentu Anda lalu menuduh saya konservatif dan tidak posmodernis. Untuk apa ribut dengan ‘pesan’? Bukankah ‘pesan’ datang dari sikap menghegemoni, berlagak patron, dan lain sebagainya dan sefwaghainya? (Maaf, mulut mulai berbusa) Agak dilematis saya menanggapi ini. Apakah bersikap posmodernis lalu artinya menolak ‘pesan’? Tidak. Bagi saya, posmodernisme berguna untuk menyadari bahwa ‘pesan’ memang bisa ditelikung ke kepentingan pihak kuat, tetapi bukan untuk sepenuhnya menolak ‘pesan’. Malah, ketiadaan pesan bagi saya berperan kuat dalam karut-marut yang membelit Romy Rafael.
Mari tengok ulang perkara hipnotis tadi. Orang dunia entertain (ya, begitulah mereka menyebut diri, mau apa lagi?) bisa membela diri. Bukankah justru karena murni rekayasa, orang yang dihipnotis sang presenter itu berarti tidak benar-benar dibuka aibnya? Dia rela-rela saja, dan itu berarti dia hanya berakting. Bukankah itu hiburan belaka? Nah, ini ruwetnya. Fakta baru itu justru malah mengganggu. Pertama, meskipun atas nama hiburan, dengan penyajian sok realis, mau berapa pun tingkatan pendidikan dan intelektualitas pemirsanya, telah terjadi pelanggaran etika.
Kedua, ini menunjukkan bahwa dengan merajanya dosis hiburan menelan pesan, etika mendadak buyar dan jadi tidak relevan. Ini zamannya hiburan sebagai ideologi dan sebagai tujuan itu sendiri. Tiliklah kembali hubungan hiburan dengan pesan. Dalam sebuah era yang membuat Neil Postman mengomel, toh pesan masih sering bisa disusupkan di bawah bungkusan hiburan, yang sekali lagi, sah belaka. Tinggal masalahnya pesannya apa, perdamaian dan kesadaran berpolitik seperti iklan-iklan pemilu karya Garin Nugroho dan Kelompok Kerja Visi Anak Bangsa-nya pada 1999 silam, atau kegilaan rasa superior dan fasis a la Hitler dan Riefenstahl dulu?
Sekarang? Hiburan tampil demi hiburan seraya melupakan satu fenomena komunikasi yang seharusnya tidak lagi ganjil: yaitu bahwa ‘pesan’ secara niscaya akan menyusup, tidak peduli pesannya sendiri ada atau tidak. Maka di balik jungkir-balik presenter yang tertawa tanpa makna dan hiburan demi hiburan, bukannya tidak mungkin pemirsa justru menerima pesan yang sebetulnya tidak pernah dirancang. Misalnya, menoyor seseorang itu tidak apa-apa; sopan santun itu menggelikan lagi membosankan; dan lain-lain. Ternyata tidak perlu konspirasi untuk membuat kita berubah bodoh.
Siapa bilang dunia masyarakat pecandu obat surga soma ala Brave New World-nya Aldous Huxley belum kejadian? Hiburan itu candu, atau candu itu hiburan? Sama saja.
Dengan ideologi hiburan, bukan saja ada salah konteks pembacaan, yang hadir adalah sirkus abadi, bahkan di ranah yang harusnya ditangani serius, seperti masalah kenegaraan. Tidak heran jika lantas dengan ideologi hiburan ini (seharusnya ‘kan ideologi Pancasila!), anggota DPR dan para pemimpin kita malah berubah jadi orang-orang banci tampil. Tidak malu-malu mereka saling gontok-gontokan dan pringas-pringis hanya demi bisa masuk TV.
Sejauh mana ideologi seperti ini mengkhawatirkan? Ya, tentu saja negara ini lalu mandeg, seperti zaman perang candu. Jika dulu orang masuk ke kedai candu dan berubah jadi seonggok makhluk tak berguna, sekarang orang ingin terhibur/menghibur, lalu berubah jadi... seonggok makhluk tak berguna.
Hal lain yang agak menyeramkan adalah jika mengingat bahwa hasrat seperti ini punya tendensi untuk selalu menagih jika dipenuhi. Dosisnya harus naik. Konon, dulu sirkus Romawi tidak berbeda dengan sirkus modern yang warna-warni menceriakan. Namun karena sirkus itulah satu-satunya hiburan dan kala itu belum ada PlayStation atau TV kabel, khalayak menuntut sirkus menjadi lebih intens, dan lama-kelamaan lahirlah gladiator. Darah harus tumpah dan kepala harus menggelinding untuk membuat orang bersorak. Siapa tahu, esok kelak di saat gontok-gontokan di gedung DPR tidak lagi memuaskan, mereka harus saling bunuh untuk bisa kita soraki (ide yang menggoda?).
Terus terang, berbicara soal hiburan kebablasan dan ideologi nihilis ini membuat saya tertekan. Mungkin saya hanya butuh hiburan. Atau dihipnotis.

Illustrated by Eko. S Bimantara.





secara itu kan cuma hiburan, dan yg namanya hiburan jelas saja harus mengundang banyak penontn, dan tak jrang memang sengaja dibuat kontroversi
Sumpah dah ane gak ikut-ikutan, cuma nonton doank bang!
ane jangan ditangkap, hihihi
namanya juga acara TIVI, ya memang begitulah, yang penting rating harus tinggi, gak peduli apa yg orang bilang
Hadeeeeehhh klo om kuya di percaya itu namanya sama saja dengan memperkeruh air yg sudah keruh
secara itu kan cuma hiburan, dan yg namanya hiburan jelas saja harus mengundang banyak penontn, dan tak jrang memang sengaja dibuat kontroversi
saya menonton acara uya kuya di tv jarang banget sampai selesai, bukannya muak, tapi karena telinga ini cape. karna itu akan menimbulkan sesuatu amggapan atau diskriminasi terhadap orang yang d bobkara aibnya atau keburukannya
haha si uya kuya emang tukang tipu, temenku dibayar buat ikutan acara si kuya. Yang aku percaya ga percaya sih Om Romy.
kalau bisa acara yang membongkar aib dan keburukan seseorang jangan ditayangkan, karna itu akan menimbulkan sesuatu amggapan atau diskriminasi terhadap orang yang d bobkara aibnya atau keburukannya
wah, baca ini http://id.omg.yahoo.com/news/tayangan-diwacanakan-haram-uya-kuya-santai-... barusan, jadi inget tulisan bung ifan yang ini. jangan-jangan tulisan ini turut andil memprovokasi wacana yg diberitakan? hehehe..
saya menonton acara uya kuya di tv jarang banget sampai selesai, bukannya muak, tapi karena telinga ini capek mendengar komentar sinis bapak saya "ah bohongan nih, jangan ditonton. mana ada blablabla"
membicarakan soal etika tayangan tv, siapa sih yang berhak untuk menentukan suatu tayangan layak atau tidak untuk dilanjutkan jika tayangan tsb melanggar etika? membohongi penonton, misalnya, seperti banyak reality show yang sangat terlihat bersandiwara. atau memang judul 'reality' itu tidak harus real karena semata-mata sebuah show?
dan sejauh mana peran komisi penyiaran bisa melindungi penonton atas pelanggaran etika tayangan tv ya?
keren!