2011

2010

Ifan Adriansyah Ismail
Ifan Adriansyah Ismail
Ifan Adriansyah Ismail
Ifan Adriansyah Ismail
Ifan Adriansyah Ismail
Ifan Adriansyah Ismail
Ifan Adriansyah Ismail
Ifan Adriansyah Ismail
-A A +A
Versi ramah cetakPDF version

Karnaval melupa rasa takut

Ifan Adriansyah Ismail
10 Mei 2011



i.
Kawan-kawan jurnalis televisi, mohon jangan anggap racauan ini sebagai serangan yang bersifat pribadi, kecuali jika Anda termasuk golongan jurnalis fanatik.

Ada kalanya saya hanya berjarak selantai atau dua lantai dari tempat kalian bermarkas. Dari situ, saya bisa melihat betapa gagahnya Anda sekalian membawa perlengkapan liputan, ada kalanya berseragam, bergegas ke lokasi demi menyampaikan berita penting kepada khalayak. Tentu saja, Anda gagah karena programa berita dianggap sebagai layanan publik dalam tata masyarakat modern yang beradab. Termasuk jika visualisasi tangan buntung berdarah seorang polisi Anda anggap penting.

Sebagai pihak yang memiliki kuasa menyampaikan apa yang akan didengar dan disaksikan jutaan pemirsa televisi—asumsinya, untuk dipercaya—saya yakin betul, Anda pasti memiliki wawasan yang jauh lebih mumpuni daripada khalayak ramai yang menjadi pemirsa setia Anda—kecuali mungkin ketika ada kolega Anda yang salah mengira Sawung Jabo yang sedang melayat Rendra sebagai Iwan Fals (atau Jockie Surjoprajogo? Entahlah. Saya bukan jurnalis).

Atau ketika Anda, entah sengaja atau tidak, mengira yang sedang melanda adalah awan panas Merapi, sehingga seisi Jogja menjadi panik.

Atau ketika dalam sebuah wawancara, Anda terburu-buru menyimpulkan bahwa Toli-Toli sudah pasti berada dalam bahaya tsunami, sementara sang narasumber baru memberikan simulasi.

Atau ketika Anda menyebut Pangeran Charles sebagai Prince of “Walls”, dan di lain kesempatan, ada rekan kanal lain yang menyebut ‘designer’ dengan pengucapan de-sig-ner.

Atau ketika Osama bin Laden dikabarkan terbunuh, Anda menayangkan tulisan judul “AS Yakin Obama Tewas”, sementara tampak Barack Obama sedang mengumumkannya (sendiri?).

Baiklah. Semua orang bisa salah. Kesalahan adalah hal yang manusiawi, terutama ketika orang seperti Anda para jurnalis, membenamkan diri dalam data riset dan bahan yang menggunung demi mendapatkan landasan wawasan yang solid untuk mencerahkan kami para pemirsa—kecuali mungkin ketika Anda terpepet tenggat dan menayangkan video dari Youtube, lalu meyakinkan kami bahwa Anda mendapatkan “courtesy”.

Berkali-kali.


ii.
Pada titik ini, mungkin beberapa dari Anda sudah ingin menonjok hidung saya sampai (semakin) pesek. Memang, menjadi jurnalis televisi sangat tidak mudah. Di balik kegagahan dan gemerlap departemen berita stasiun televisi, tersembunyi banyak faktor yang menjadi tantangan Anda. Pertama, tentu mediumnya. Karena berbasis visual, ketersediaan berita sangat tergantung pada apa yang berhasil tersorot kamera. Ini sudah sering memicu dilema yang tidak mudah, kecuali jika Anda memilih jalan seperti TVRI era Orde Baru, yaitu menayangkan gambar foto Presiden Soeharto ketika tidak berhasil mendapatkan footage yang memadai tentang pengumuman pemerintah terbaru. Kedua, pemilihan sumber berita yang menentukan bentuk berita dan sudut pandang. Ketiga, entitas paling mengerikan dalam institusi tempat Anda bekerja: manajemen.

Makhluk tak kasat mata yang disebut terakhir ini sering menjadi momok paling menakutkan bagi jurnalis berdedikasi. Seidealis dan “semandiri” apa pun Anda, manajemen adalah entitas yang mengukur segalanya dengan angka—entah rating atau rupiah—dan menghamba padanya. Di sisi lain, Anda bergantung pada makhluk ini, sehingga lewat jalur ini, berbagai pihak luar yang berkepentingan bisa meminjam tangan manajemen untuk diam-diam menyetir Anda.

Dan dari situ kita bisa bicara panjang lebar tentang betapa sebenarnya kita belum hidup di alam kebebasan, kecuali merayakan ilusinya. Sejak Orde Baru berakhir, yang runtuh adalah simbol penindasan, sementara penindasannya sendiri masih bergentayangan secara laten, tak terlihat tapi terasa di tengah masyarakat. Dan justru itu sebuah keuntungan bagi sang penindas.

Apa? Saya terlalu banyak berasumsi bahwa kita belum bebas? Lalu bagaimana menjelaskan fakta bahwa berita televisi kita gemar sekali berputar-putar di permukaan isu, tanpa pernah menyelami inti dan akarnya, apa lagi isu-isu cabang dari akar itu? Karena kedangkalan? Anda boleh mendebat. Karena kemalasan? Anda pasti tidak setuju. Karena…, takut?


iii.
Reportase investigatif adalah intisari dari jurnalisme: menyelidiki isu hingga ke akarnya, dan memberikan gambaran besar permasalahan kepada masyarakat (dengan asumsi masyarakat bersedia mengetahuinya). Tentu saja, seperti detektif dalam film-film, ini pekerjaan berisiko tinggi. Entah sudah berapa jurnalis yang menjadi korban. Tampaknya, dibanding rekan-rekan dari media cetak, Anda yang berkiprah di medium audio-visual televisi memang menghadapi tantangan ekstra: perangkat liputan yang jauh lebih merepotkan jika memang harus menyelidiki diam-diam.

Tetapi hal itu tidak menghalangi Anda melakukan investigasi, bukan? Buktinya, seperti tercatat dalam Mochtar Lubis Award, kategori liputan mendalam oleh televisi belum hilang. Meskipun begitu, dalam tiga tahun terakhir, mayoritas topiknya berkutat di seputar daging oplosan, obat palsu, pewarna makanan, dan sejenisnya. Itu pun dua kali (2008 dan 2009) dimenangkan oleh televisi manajemen asing yang sekarang sudah tidak beroperasi lagi. Dengan segala hormat kepada para pelaku liputan, saya masih mengharap adanya investigasi yang berani menyelam secara radikal ke akar-akar permasalahan negeri ini. Kapan, misalnya, kita bisa melihat acara semacam 60 Minutes¸atau jurnalis semacam Sir David Frost yang mengobok-obok Nixon hingga mengakui perbuatannya di televisi? Atau minimal—untuk mengambil contoh yang melibatkan kita—semacam acara Dateline-nya kanal SBS Australia yang kerap menginvestigasi isu-isu panas di Indonesia dan membuat para petinggi yang ditanyai langsung menunjukkan ketidaknyamanannya, dan jangan-jangan, menunjukkan keterlibatannya. Di televisi kita yang santun, petinggi hanya diwawancara dalam konteks pernyataan formal dan terukur, sehingga mudah ditebak, siapa yang sebetulnya mengendalikan siapa dalam interaksi demikian.

Masih begitu banyak yang harus dibongkar di negeri ini, entah itu premanisme dalam bernegara, struktur kuasa dalam masyarakat, dan sebagainya, karena justru yang merayap tak tampak inilah yang—saya yakin—menjadi akar bagi banyak keliru pikir dan tindakan masyarakat kita. Repotnya, biasanya justru kelindan struktur kuasa ini yang menjerat jurnalis seperti Anda hingga tak berdaya. Jadi, siapa bilang kita bebas? Terkait dengan betapa beraninya 60 Minutes atau Dateline, tentu karena mereka mendapatkan jaminan hukum, sementara di sini, hukum berfungsi sebaliknya.


iv.
Intinya: repot sekali, bukan, menjadi jurnalis televisi? Dari dalam dan dari luar, begitu banyak yang bisa mengancam integritas Anda. Makanya, saya tidak bermaksud menghakimi. Hanya saya meminta: apa perlu lantas Anda berkarnaval tanpa henti, merayakan ilusi kebebasan itu dengan mengejar sensasi dan mengeksploitasi? Begitu Briptu Norman selesai, beralih ke perayaan berlebih tentang pernikahan kerajaan bak dongeng pengantar tidur, yang barangkali para pelakunya tidak pernah mendengar keberadaan negeri Anda.

Semoga, kesadaran muram tentang posisi ini tidak membuat Anda menjadi murung dalam melaksanakan tugas. Kami, publik pemirsa ini, barangkali memang bodoh, tetapi kami tidak ingin lebih diperbodoh.***




 


Ilustrasi oleh Eko S. Bimantara.

Komentar

This is a great inspiring article.I am pretty much pleased with your good work.You put really very helpful information…

This is a great inspiring article.I am pretty much pleased with your good work.You put really very helpful information...

Atau ketika dalam sebuah wawancara, Anda terburu-buru menyimpulkan bahwa Toli-Toli sudah pasti berada dalam bahaya tsunami, sementara sang narasumber baru memberikan simulasi.

If you cannot drastically reduce the sodium in your diet, cut back gradually and your palate will adjust over time. The retail rate for ONE HUNDRED % Pure Body Products retail for $19. Garcinia Cambogia extract may be very well the most fascinating breakthrough in natural weight loss that I've have discovered.


Still these solutions are brilliant one, everyone must follow these procedures wisely to have a great termed knowledge           

Kawan-kawan jurnalis televisi, mohon jangan anggap racauan ini sebagai serangan yang bersifat pribadi, kecuali jika Anda termasuk golongan jurnalis fanatik.

this blog post is sensational one to get a depth of knowledge i admire the writers creative release here an awesome one here

If you cannot drastically reduce the sodium in your diet, cut back gradually and your palate will adjust over time. The retail rate for ONE HUNDRED % Pure Body Products retail for $19. The whole experience is designed to make them comfortable with the staff and the idea of coming to the dentist.

Atau ketika dalam sebuah wawancara, Anda terburu-buru menyimpulkan bahwa Toli-Toli sudah pasti berada dalam bahaya tsunami, sementara sang narasumber baru memberikan simulasi.

Great information shared with the users here, its noteworthy one to get a great information for future business purpose.

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.