2011
2010
Mirip tulisan tentang Ariel
DARI LUBUK hati terdalam, penulis mengucapkan maaf kepada sidang pembaca budiman atas keterlambatan kronis kolom ini, jika memang ada yang menantinya. Seperti juga orang se-Indonesia, saya tersapu wabah Ariel dan para bidadarinya. Sebagai orang yang bertanggungjawab di balik kolom ini, ada dua kemungkinan cara saya tersapu wabah itu:
[1] Menunda tulisan demi memantau perkembangan kasus Ariel, lalu menganalisanya dan mempersembahkannya untuk Anda.
[2] Menunda tulisan demi menunggu sisa video yang konon masih ada dua puluhan lagi, untuk dinikmati.
Percayalah bahwa alasan penundaan ini adalah yang nomor satu di atas.
Tetapi, sebuah acara yang mengaku warta berita di TvOne pada hari Rabu malam, 23 Juni 2010 membuat saya tersentak. Di sana, seorang “pakar” (entah pakar tentang anatomi atau apa) membahas dengan muka serius tentang apakah bintang video mesum itu Ariel atau bukan. Caranya? Selain membawa-bawa bagan tulang kerangka, di studio virtual itu sang narasumber juga mempersembahkan model holografik 3-dimensi sosok mirip Ariel (percayalah, yang ini memang hanya ‘mirip’) yang jadi bahan rujukan pembahasan untuk menentukan, apakah bintang video itu Ariel atau bukan.
Luar biasa. Ini baru sirkus. Buat apa menonton sirkus Rusia atau sirkus Perancis yang tiketnya mahal? Terlepas dari bentuk modelnya yang entah kenapa mirip olahan perangkat lunak Poser—yang biasa digunakan membuat model 3-D untuk gaya-gayaan—teknologi yang dipersembahkannya melebihi teknologi ala CSI. Bahkan Anthony Zuiker sang penggagas CSI pun mengakui, beberapa teknologi dalam acaranya masih berupa konsep saja. Saya khawatir, melihat penggunaan teknologi gagah-gagahan dalam bidang forensik ini, Zuiker akan menggeliat dalam kuburnya.
Tunggu. Bukannya Anthony Zuiker belum meninggal? Jika melihat berita itu, sepertinya Zuiker akan terkena serangan jantung fatal, lalu menggeliat dalam kubur karena tidak tenang.
Apa boleh buat, di sini media hanyalah sirkus, bukan lagi memediasi. Namun rasanya sudah basi pula jika menimpakan kesalahan semata pada media. Bagaimanapun, media yang seperti ini adalah cerminan masyarakat. Anda boleh tidak setuju karena Anda terbiasa berpikir kritis, cerdas dan sebagainya. Nyatanya, media yang seperti ini pun ternyata dapat terus hidup dari masyarakatnya. Atau, jika Anda bersikeras dengan kuasa media yang begitu besar, maka jangan-jangan, masyarakat adalah cerminan media. Lebih gawat mana?
Media cerminan masyarakat?
Ilustrasi paling getir untuk menggambarkan masyarakat kita saat ini adalah peristiwa perburuan penyihir (witch-hunt) di Salem, Massachusetts, 318 tahun silam. Kala itu, mendadak orang-orang yang merasa dirinya saleh terbenam dalam kepanikan massal, lalu serta-merta menuduh kiri kanan beberapa orang sebagai penyihir. Dua puluh orang dihukum mati tanpa bukti. Sembilan belas orang digantung, satu orang diremukkan sampai mati.
Bagaimana persamaan Salem dengan Indonesia masa kini? Keduanya adalah tipikal bentuk masyarakat yang ketakutan dan penuh amarah. Akarnya adalah lingkungan yang penuh rasa tidak aman dan ketiadaan rasa percaya karena ketidakcocokan gambaran ideal setiap orang dengan kenyataan. Dari sana, orang lari ke iman dalam bentuknya yang paling terpelintir: waham kesalehan yang membentengi diri, sembari memandang penuh curiga ke luarnya.
Padahal, sebetulnya apa yang menjadi masalah dari perbedaan idealisasi dan kenyataan? Bukankah sudah menjadi fakta keras bahwa benak setiap orang tidak akan sama? Idealisasi seseorang dan realita pasti akan berbeda, dengan varian sebanyak jumlah orang yang punya benak. Lalu? Di masyarakat yang lebih beradab, perbedaan itu diredam secara paksa, meskipun memang diharapkan, dalam bentuk hukum bersama dan penegakannya yang adil. Repotnya, dalam skala ponten 0 sampai 10, hukum dan penegakan di Indonesia mendapat ponten..., minus 10.
Ketakutan itu juga yang—seperti di Salem—lantas memunculkan semangat cari selamat, lalu menuding orang di sebelah. Plus bumbu dendamnya: menikmati diri yang sedang menghukum dan menghakimi Ariel dan kawan-kawan. Karena sebab apa? Bisa karena merasa superior secara moral, atau karena dendam secara sosial ekonomi, atau bahkan hanya karena dendam status (siapa tidak kesal memandang kasta bernama “selebriti” itu?). Sekali lagi, seperti di Salem, tokoh John Proctor dalam lakon The Crucible yang mengabadikan tragedi itu berkata: “dendam kesumatlah yang bergentayangan di Salem.”
Di permukaan, masyarakat kita tampak terobsesi dengan moral kesusilaan. Namun sayangnya bukan terhadap diri sendiri, tetapi terhadap orang di sebelahnya. Dari pola pikir semacam ini, media hanya memanennya saja, mengompori dan menangguk untung dari sensasi yang diamplifikasinya.
Masyarakat cerminan media?
Dalam esainya yang brilian, As Seen on TV, Zygmunt Bauman menyodorkan pengamatan bahwa yang terutama dilakukan oleh TV—terlepas dari tugasnya sebagai media yang memediasi—adalah mengaburkan batas privat dan publik. Yang-publik menjadi privat, dan yang-privat menjadi publik. Proses yang kedua berefek lebih berbahaya. Bukan, bukan sekadar Ariel yang ‘menunjukkan’ kelakuan privatnya ke publik, tetapi karena invasi yang-privat menjadi publik sama artinya dengan menjadikan keindividuan menjadi norma umum, dan dengan risiko terdengar seperti Orde Baru, keindividuan itu ternyata memang berpotensi memecah masyarakat.
Prosesnya cukup panjang, tetapi bisa disarikan dalam tiga tahap. Pertama, runtuhnya batas publik-privat dan ditambah dosis vanity, atau hasrat tampil—sebagai “dosa favorit saya,” kata tokoh iblis di film The Devil’s Advocate— menjadikan masyarakat bukan lagi komunitas yang bertujuan dan beridentitas, tetapi kepingan-kepingan kecil yang berlomba-lomba mencapai sukses diri. Pola pikir itu kini meninggalkan jejak yang jelas dalam norma arus-utama saat ini, yaitu seperti yang terselinap dalam nilai-nilai karya semacam Meraih Mimpi, Menebus Impian, Sang Pemimpi, dan lain-lain. Di dalam sana, terselip ajaran tidak langsung bahwa peningkatan status diri lewat pikiran-pikiran “inspiratif” jauh lebih utama daripada perhatian terhadap sesama, atau perlunya keadilan dalam level masyarakat.
Kedua, keterpecahan tadi menghilangkan sosok pemimpin, sehingga individu dalam masyarakat lantas berlomba-lomba menjadi contoh individu bagi yang lain hanya lewat jumlah angka pemerhati. Kata lain ini adalah: selebriti, yang dalam bentuknya yang lampau adalah semua jenis idola.
Ketika pemimpin tiada, idola meraja. Jika pemimpin menunjukkan jalan, idola menyajikan diri sebagai contoh. Jika pemimpin bekerja tanpa perlu disorot (seperti pemimpin ideal ala Lao-Tzu), idola menuntut diri berada dalam sorotan. Akibatnya, idola harus menjadi manusia sempurna. Di atas pondasi yang rapuh inilah masyarakat kita kini berjalan. Begitu cacat cela sedikit terintip, runtuhlah semua bangunan penunjuk arah tadi. Ariel dan para bidadarinya adalah contoh sempurna idola tahap akhir, yaitu yang telah menjadi panutan dan dicerca karena berdosa. Sementara itu, ahli anatomi yang berlagak 3-D tadi adalah contoh selebriti tahap awal: masih mengumpulkan dan mendamba pemerhati.
Ketiga, kekacauan antara yang-publik dan yang-privat juga menjelma dalam bentuk yang berbahaya. Karena ada ilusi bahwa hanya dari kesalehan pribadi—yang privat—bisa berujung pada kondisi ideal pada wilayah yang-publik, maka yang-publik tadi kemudian terobsesi menginvasi wilayah privat. Sederhananya, ini pola pikir yang terlalu percaya pada dogma The Secret dan menindaklanjutinya seperti ini: jika benar setiap individu begitu besar dampaknya pada alam semesta, artinya alam semesta harus digerakkan untuk mengatur-atur yang-privat.
Di tengah kekacauan, tidak ada satu pun yang bisa dikerjakan dengan optimal untuk menengahi jutaan persepsi yang berbeda tentang kondisi ideal. Karena itu, terbenamlah kita dalam ketakutan dan kemarahan.
Seperti juga di Salem.
Salem skala Nasional
Yang terjadi di Indonesia saat ini adalah perburuan penyihir ala Salem dengan kepanikan dan kemarahan yang serupa. Bedanya, pertama: kehebohan ini terjadi dalam skala nasional, alih-alih di sebuah desa kecil di pelosok Massachusetts. Kedua: masyarakat pemburu penyihir versi Indonesia ini hidup dalam modus keterhubungan yang rumit lewat medium TV dan internet. Di masyarakat yang TV-nya kadung gagal menjadi mediator yang sehat, yang menjalankan roda industrinya toh juga anggota dari masyarakat yang sama belaka, sehingga TV terjebak hanya berperan mengamplifikasi ketakutan dan kemarahan tadi.
Seorang kawan bersuara khawatir, “di dalam suasana witch-hunting, aku takutnya ketika ada orang yang berteriak ‘bakar!’, orang akan tergerak betul-betul melakukannya.” Memang hiruk pikuk sekarang ini layaknya Vuvuzela yang menulikan di tengah ajang Piala Dunia. Maka saya menduga-duga, jangan-jangan malah ada satu sisi positif dari sini. Saya merasa yakin kekhawatiran kawan saya tadi tidak akan terjadi, karena teriakan “bakar” itu pun rasanya akan tenggelam di antara suara-suara lain.
Saya tidak ingin menutup tulisan ini dengan catatan yang terlampau pesimis, seakan-akan siklus maut kepanikan dan kemarahan yang diiringi TV ini hanya membawa masyarakat ke spiral gelap yang tak berujung. Masih ada celah untuk mengurangi dosis kepanikan dan menaikkan kadar kepercayaan. Tegakkan hukum dengan mengusut pengedar videonya, dan polisi jangan hanya bersiasat meredakan kepanikan moral dengan menahan Ariel saja.
Jika celah ini pun ditutup, saya tidak tahu lagi harus bagaimana. Mungkin memproduseri video sendiri saja. Siapa tahu bisa sukses. ***

Illustrated by Eko. S Bimantara.





Komentar