2011
2010
Sandiwara mahasiswa
“Di sini sudah hadir adek-adek mahasiswa dari Universitas X yang—aduuh—cantik-cantik, ngganteng-ngganteng...”
“Eaaa!”
“...dan tentunya pemuda harapan bangsa, yang nantinya akan...”
“Eaaa! Eaaa!”
— Bukan Empat Mata, episode nomor tinggal-sebut-berapa, tanggal tinggal-sebut-kapan
EXT. PELATARAN SEBUAH GEDUNG - SIANG
Dua orang mahasiswa, ACIL dan ICAL, duduk di pinggir taman seperti menunggu sesuatu di bawah terik matahari. Ical tampak acuh tak acuh, terus menyeruput teh dalam plastiknya, sementara Acil mengajak bicara.
ACIL
Wah, bulan Mei. Ini bulannya mahasiswa seperti kita, Cal, waktu tahun 1998 mahasiswa menancapkan tonggak perubahan. Bikin bangga nggak sih?
ICAL
Bangga apanya. Mei 1998 'kan lebih diperingati sebagai tonggak perubahan arah Indonesia, sekaligus tragedi yang belum jelas kebenarannya. Lebih ke sana, bukan mahasiswanya. Jangan ge-er, dong!
ACIL
Waduh, boss, jangan mengecilkan peran kita sendiri, dong. Bukankah dari dulu mahasiswa itu agen perubahan? Karena beruntung mendapatkan pendidikan tinggi, wajar ‘kan kalau kita memiliki tanggung jawab moral untuk membela rakyat banyak?
ICAL
Mulai deh pidatonya.
ACIL
Lihatlah dari Soekarno-Hatta. Mereka sudah jadi aktivis sejak mahasiswa, 'kan? Hasilnya? Indonesia lahir sebagai sebuah bangsa.
ICAL
(memotong) Coba, sebentar. Dari situ coba kamu sebut satu-satu perjuangan mahasiswa yang bisa kamu banggakan.
ACIL
Hmm..., sebentar. Tahun 1966, ketika...
ICAL
Ketika mahasiswa mempelopori berdirinya Orde Baru?
ACIL
Jangan begitu. Namanya juga masih idealis, belum tahu kalau gerakannya kelak ditelikung ke arah kekuasaan. Makanya di tahun 1974 mahasiswa bergerak lagi.
ICAL
Lalu dituduh makar. Lalu ditindas. Lalu sejak itu NKK/BKK mengebiri politik di kampus. Lalu sejak itu mahasiswa disuruh belajar saja dan menjadi calon pekerja yang rajin dan patuh...
ACIL
Set, dah. Kamu tuh asem banget ya? Makanya, Cal. Itu sebabnya aku menyebut 1998 sebagai tonggak. Pergerakan kita murni waktu itu. Benar-benar demi mengakhiri kelaliman, dan berhasil. Apa lagi, bisa dibilang itulah pertama kalinya kita mendapat liputan yang luas dan simpatik lewat televisi! Dampaknya menasional, Cal!
Ical menarik napas. Teh dalam kantong plastiknya sudah kosong, diseruput-seruput juga percuma.
ICAL
Gini, Cil. Pertama, kita harus bicara panjang lebar soal "pergerakan yang murni" tadi. Tapi itu lain soal. Sekarang aku lebih mau bicara soal TV-nya. Liputan TV tentang mahasiswa waktu itu lebih seperti pisau bermata dua. Mahasiswa juga terkena akibatnya.
ACIL
Lho, tetapi ‘kan justru sejak itu mahasiswa seperti kita citranya jadi harum.
ICAL
Betul. Lebih tepatnya, sejak itu mahasiswa jadi selebritis! Karena harumnya citra, ada kesan kuat bahwa setiap kali tampil di TV, pasti demi memperjuangkan rakyat.
ACIL
Iya, lalu?
ICAL
Bener sih, mahasiswa terangkat pamornya oleh TV. Bayangkan, betapa romantisnya citra itu: golongan intelektual yang bersemangat muda, peduli, dan pemberontak. Tetapi aku takutnya, jangan-jangan TV itu ibarat promotor yang menipu.
ACIL
Lho, maksudnya?
ICAL
Iya, sejak mahasiswa jadi selebritis, ada yang salah. Entah mahasiswanya lantas jadi besar kepala atau politik TV-nya yang memilih liputan, pelan-pelan citra mahasiswa bergeser.
Ical menyeruput teh lagi dan baru ingat kalau itu sudah habis. Dibuangnya plastik bekas teh itu.
ICAL
Dari pembela rakyat kecil jadi tukang bikin susah rakyat kecil. Demo setiap hari, merusak, membakar ban. Seolah-olah dengan teriak-teriak dan berorasi, artinya mereka peduli rakyat kecil. Yang lebih jelas, mereka menunjukkan itu di depan kamera. TV sih senang saja mendapat sensasi gratis seperti itu. Lama kelamaan, waktu demo menyurut, tawuran mahasiswa lebih menarik buat diliput. Sekali lagi, TV senang sekali, sambil melempar komentar miring terhadap kelakuan yang memang miring itu juga.
Acil terdiam. Dia seperti gelisah hendak membantah tapi tidak tahu harus berkata apa. Ical melihat kesempatan untuk terus.
ICAL
Nah, di tengah pergeseran itu sebetulnya ada fenomena yang mungkin lebih beradab. Memanfaatkan status selebritis mahasiswa, mereka lalu mengajak mahasiswa dalam acara debat dan talkshow yang cerdas, kritis, dan biasanya berbau politik. Contohnya Republik BBM di awal kejayaannya.
(ambil napas)
Tapi lama-lama arusnya berbelok. Justru demi memberikan kesan bahwa acaranya cerdas, mahasiswa dipasang di acara seperti itu. Misalnya, kalau tidak salah tahun 2005, Lepas Malam tuh, di Trans TV, yang mencoba resep late night show ala Amerika. Tinggal pasang mahasiswa-mahasiswi dari perguruan anu, muncullah kesan bahwa acaranya berkelas, meskipun guyonannya juga masih saru.
ACIL
Tapi bukan berarti mahasiswa kehilangan peran, kan?
ICAL
Memang nggak. Mahasiswa masih bisa berperan, misalnya buat memenuhi studio untuk acara politik TvOne, atau yang lebih enteng: Bukan Empat Mata.
ACIL
Yeee, itu sih sama saja jadi melempem. Masa' menonton Bukan Empat Mata jadi ukuran?
ICAL
Ya, maaf deh. Aku mungkin terlalu sinis. Tapi jujur saja, akhir-akhir ini praktis suara mahasiswa nggak terdengar lagi. Yang ada malah mahasiswa tampil sebagai golongan yang naif, waktu misalnya di kasus Century sekarang. Kamu lihat 'kan, betapa mudahnya mahasiswa digiring ke opini salah satu kubu dan lalu demo lagi sambil bakar-bakar ban?
Acil tampak gusar dan berpikir lama.
ACIL
Waduh. Tapi apa ini artinya mahasiswa sudah kehilangan gagasan juga?
ICAL
Nah, soal gagasan itu yang lebih penting, tapi semoga nggaklah. Barangkali ini hanya karena belum ketemu jalur yang pas saja. Demo sudah nggak zaman. Di dunia media yang semakin riuh dan penuh citra, aku khawatir, gagasan yang paling cemerlang dari golongan mana pun akan tenggelam di balik suara teriakan.
ACIL
Jadi bagaimana? Masa di tengah kepedulian begitu mudah disetir, kita lantas harus jadi mahasiswa kutu buku, begitu? Yang rajin belajar semata demi mengentaskan kemiskinan diri sendiri saja?
ICAL
Nggak juga. Di balik keributan, aku yakin banyak sekali mahasiswa yang bekerja demi kepentingan orang banyak dengan cara lain. Lihat saja misalnya mahasiswa yang merancang metode belajar baru, atau yang menemukan solusi tepat guna di dunia teknologi, atau yang tampil cemerlang di forum-forum internasional. Aku yakin, orang-orang seperti mereka lebih bernilai hidupnya, memberi kepedulian, tetapi juga bukan berarti kelak akan miskin dan diperalat politik. Perkara kenapa TV tidak pernah meliput mereka, ya, tanya kenapa? Atau lebih tepatnya: kenapa tanya?
ACIL
Hmm. (jeda) Tapi bukan berarti kamu berkesimpulan kalau TV itu penyebab mahasiswa jadi dangkal, kan?
ICAL
Oh, nggak sepenuhnya. Kedangkalan itu ‘kan buah dari hilangnya tujuan dan makna dalam proses berbangsa kita. Rumit dan berat sekali ‘kan kalau diurai? TV mungkin berperan, tapi bagiku mereka hanya sekadar penumpang yang menyebalkan saja dalam arus ini.
ACIL
Yah, baiklah. Seperti kata orang Jepang yang di-dubbing di TV itu: "tetap semangat!"
(jeda)
Nah, Cal, kalau kamu sendiri tergolong mahasiswa yang mana? Yang suka akrobat politik dan banci TV atau yang rajin belajar demi kepentingan diri?
ICAL
Aku masuk golongan..., ketiga. Yang masih butuh uang makan. Tapi tetap, aku menolak menjual diri dengan menonton acara-acara yang memanfaatkan keselebritian mahasiswa.
ACIL
Benerrr. Makanya kita menolak tampil di acara yang menunjukkan mahasiswa berjas almamater, entah apa maunya...
Dari dalam gedung muncul ELI, seorang wanita berusia 30-an awal yang berpenampilan necis, dengan beberapa aksesori mewah yang agak tidak klop. Dia menepuk-nepukkan tangannya.
ELI
Oooy, acara Dahsyat Live sudah mau mulai! Cepetan masuk! Nggak gue bayar nanti!
ACIL
Ayo masuk.
ICAL
Ya, lumayan buat makan siang.
Mereka berdua lalu berdiri dan memasuki gedung.
TIRAI TURUN.

Illustrated by Eko S Bimantara





Sayang ya...waktu saya masih jadi mahasiswa, belom ada acara TV yang membutuhkan rombongan mahasiswa berjaket almamater. Sekarang, setelah bukan mahasiswa lagi, saya nggak punya TV. Tapi, bung Ifan ok banget. Salut atas pandanga2nya...