2010

Ifan Adriansyah Ismail
Ifan Adriansyah Ismail
Ifan Adriansyah Ismail
Ifan Adriansyah Ismail
Ifan Adriansyah Ismail
Ifan Adriansyah Ismail
-A A +A
Printer-friendly versionPDF version

Kau dan aku kontra disinformasi

Ifan Adriansyah Ismail
09 November 2010


APA ARTI “orang biasa”? Wimar Witoelar menyukai istilah ini dengan menggunakannya untuk merujuk ke kelas menengah Indonesia yang diyakininya akan membawa perubahan. Saya kurang lebih setuju dengannya, hanya saja, saya terpaksa skeptis dengan kemauan kelas menengah. Bukan kemampuan, karena kalau mampu saya yakin mampu. Lantas kenapa tidak mau? Banyak tabir yang harus dibuka terlebih dulu.

Industri media kita tumbuh pesat sejak reformasi. Seharusnya kita bisa berharap banyak, karena adanya media berarti tersedianya jaringan informasi. Kualitas distribusi informasi tadi, pada gilirannya, menjamin kohesi sosial dan efektivitas keputusan bersama sebuah masyarakat. Di sinilah orang biasa bisa berperan. Namun masalahnya ada di kata kunci: “kualitas”.

Dalam dunia yang indah, orang biasa bisa berperan jika distribusi informasi di masyarakatnya tersebar adil dan alirannya sehat. Di masyarakat feodal dan tirani, orang biasa hanya bisa bungkam, karena distribusi informasi hanya berkutat di seputar kalangan elitnya, dan dijaga ketat pula. Itulah sebabnya demokrasi menemukan jalan keluar yang potensial di abad informasi.

Hambatannya? Bukan lagi sensor informasi, tetapi distorsi informasi. Nyaris tidak ada contoh lebih gamblang daripada gejala ini selain di media televisi. Sebelum terhempas karena nada yang terlalu melambung seperti di tiga paragraf atas, saya akan menyodorkan tahapan meranggasnya informasi ini melalui kasus-kasus kecil.


Orang biasa kontra selebritas
Suatu ketika, pernah ada seorang kawan yang pendiam dan tidak pernah menonjolkan diri. Tiba-tiba, dalam sebuah obrolan santai, sang pendiam ini melontarkan kalimat yang bernas lagi cerkas. Sebuah virus gagasan, katakanlah. Karena terkesan, seorang teman lain yang kebetulan “anak populer” lalu menyebarluaskan virus itu ke banyak orang, dan dia mendapat kredit darinya.

Apakah si anak populer tadi selebriti? Belum. Barangkali dia hanya seorang sanguinis. Untuk menjadikannya selebriti, dia harus bisa menjual virus itu kepada kita lagi, atau malah sosok dirinya yang dijual kepada kita.

Budaya selebriti muncul ketika kepemimpinan lenyap. Pemimpin tiada, idola meraja. Dipadu dengan budaya konsumerisme, selebriti menjadi kasta baru yang unik. Jika dulu orang terkenal karena prestasi, lalu orang terkenal karena terlihat. Yang terbaru, orang terkenal karena terkenal. Semuanya dipersembahkan kepada orang biasa sebagai sesuatu yang dijual. Inilah umpan penyesat pertama abad informasi bagi orang biasa.

Tapi tak apa. Anggaplah budaya selebritas sebagai arena asyik untuk kontestasi. Siapa tahu, dengan menjadi terkenal, kita bisa berbuat lebih banyak, bukan? Salah satu genre yang paling awal mengakomodasi hasrat orang biasa untuk tampil adalah acara kuis dan permainan. Di awal kemunculannya di Inggris, acara kuis seperti ini biasanya dikhususkan untuk ajang adu kecerdasan. Begitu media AS mengadaptasinya seiring ledakan TV pada 1950-an, dikenal konsep kuis berhadiah sebagai kesempatan bagi semua orang biasa untuk mendapat perhatian, dan juga rejeki nomplok. Sejak itu, penekanannya pada aspek hadiah.

Potensi masalah muncul di sini. Bukan hanya aspek hadiah berpotensi membutakan, tetapi juga genre kuis kian menjadi cerminan masyarakat kompetitif yang tidak menyisakan apa-apa bagi pecundang. Tapi tak apa. Siapa tahu dengan uang banyak, kita orang biasa bisa berbuat lebih banyak, bukan? Maka demikianlah, baik di Amerika maupun di Indonesia, kuis menjadi sarana tampil yang terlazim bagi orang biasa.

Sampai tiba kita di pertengahan dekade pertama 2000-an, ketika—di Indonesia, setidaknya—acara kuis hanya diisi oleh kasta selebriti yang awalnya sudah terkenal tadi. Ada apa ini? Masa’ hak orang biasa yang sedikit itu dirampas pula oleh kasta hura-hura ini? Hanya beberapa tahun terakhir ini tampilan kuis mulai kembali sedikit bergeser. Orang biasa tampil lagi. Apa yang terjadi?


Orang biasa kontra ideologi hiburan
Suatu ketika, saya duduk santai menonton acara kuis di TV bersama seorang kawan yang bekerja di stasiun TV lain. Dan, ya Tuhan, betapa garing-nya acara itu. Pemandunya seperti tidak menguasai medan, dan pesertanya juga seperti tidak yakin harus bergaya bagaimana.

Kawanku berkomentar, “Director-nya payah nih.”
Nggak bisa ngatur flow-nya, ya?” kataku sepakat.
“Iya, pesertanya juga garing. Harusnya sekalian ‘aja artis. Sudah tahu caranya meng-entertain.”
“Mmm..., kalau yang main artis terus, buat apa dong hadiahnya?”
“Paling juga katanya disumbangin.”
“Bukan itu. ‘Kan kuis-kuis begini maksudnya biar orang bukan artis yang dapat rejeki?”
“Ah, sekarang udah jarang tau orang daftar langsung bisa ikut. Pasti diseleksi dulu.”
“Bukannya dari dulu pasti ada seleksi?”
“Iya. Pertimbangannya, mana calon peserta yang paling bisa membuat suasana meriah. Karena seleksi gitu suka ribet sama nggak njamin, sekarang malah banyak peserta jadi-jadian. Dipasang buat rame aja.”

Saya mengernyit. Jadi begitu, dan ya, betul juga. Bukankah ideologi hiburan telah bersabda? Terpaut hanya beberapa minggu setelah itu, saya malah ikut dalam sebuah kuis ramai-ramai di stasiun TV lainnya, dan melihat satu kelompok yang 80% saya yakini sebagai kelompok jadi-jadian yang dipasang demi kemeriahan suasana. Dan menang pula. Lalu, kenapa pula saat obrolan itu saya lupa, sekitar tiga tahun sebelumnya, justru saya yang terlibat memalsukan beberapa penelepon di sebuah kuis waktu sahur demi menciptakan ilusi “banyak peminat”?

Tentang kenapa terjadi pergeseran ke peserta selebriti dalam acara kuis, dan kembalinya orang biasa, penjelasannya sederhana. Di pertengahan 2000-an, tampaknya stasiun televisi banyak mengalami kesulitan seperti yang dikatakan kawan saya tadi: kekurangan orang biasa yang bisa memenuhi standar kemeriahan. Maka “terpaksa” dipasanglah selebriti, yang lebih pakar dalam berhura-hura, dan tentu saja, lebih menjual. Lalu kenapa orang biasa bisa kembali?

Jawabannya ada pada reality show. Inilah genre unik yang sempat dituduh sebagai pengejawantahan terburuk voyeurism dan sebagai kebangkrutan dunia kisah fiktif. Sungguh pun begitu, di AS dan Inggris, genre ini mematang melalui perpaduannya dengan permainan (seperti The Biggest Loser misalnya), atau menjadi acara yang punya compassion tanpa terjebak melodrama (seperti misalnya The Secret Billionaire-nya BBC). Di sini? Genre ini malah membusuk menjadi acara melodrama yang lebih banyak membodohinya, semacam Realigi yang semakin klenik dan ajaib akhir-akhir ini. Bahkan bentuk terbaiknya yang masih berusaha menunjukkan compassion seperti Jika Aku Menjadi... pun masih belum kuasa melepaskan diri dari jebakan melodrama.

Seperti yang pernah saya bahas
, reality show di Indonesia diam-diam menjadi ajang baru orang biasa menjadi bintang. Melalui kanal inilah para agen pencari bakat menemukan orang-orang berwajah ‘bukan artis’ untuk kembali mengisi layar tanpa takut kalau mereka tampil garing. Biasanya malah kadang over-acting.

Baiklah, saya mulai melantur. Intinya apa? Bahwa demi hiburan, segalanya dilakukan. Demi show, semua harus rela, termasuk membohongi penonton. Bahkan meskipun ini sudah menjadi rahasia umum, pada intinya kita semua kecele. Semua bisa dikonstruksikan, dikesankan seolah-olah terjadi apa adanya. Apakah kultur artifisial seperti ini tidak lantas menciptakan kultur kebohongan yang terus menebal? Bisa ya, bisa tidak. Kalau mau paranoid, ya semua yang buruk bisa terjadi.

Kalau mau sedikit saja optimis, saya ingatkan: setidaknya dari kalangan penonton, sedikit banyak orang sudah menduga bahwa itu semua bohongan. Tapi, demi melepas penat dan menonton hiburan, apa salahnya? Sambil menghela napas—entah lega, entah prihatin—masih ada secercah harap: sebagian penonton masih sadar bahwa mereka dibohongi. Jadi? Apakah aman? Aman!

Semua beres dan sentosa, sampai budaya menipu demi layak tayang itu mulai menyusup ke pemberitaan.


Orang biasa kontra jurnalis
Suatu ketika, gunung Merapi meletus. Keadaan genting. Awan panas mengalir bergulung-gulung. Sejauh mana? Hanya yang di lapangan yang bisa tahu dan harus memberitakannya. Entah apa yang merasuki pikiran reporter TVOne itu, ketika dia mengarang drama dan mengatakan bahwa awan panas telah mencapai titik tertentu yang padat penduduk. Hasilnya, warga Kaliurang panik dan jatuh korban.

Demi Tuhan, sekali lagi, apa yang merasukinya? Bahwa istilah “awan panas” lebih terdengar dramatis dibanding “hujan abu”? Bahwa yang dramatis akan lebih menghibur? Pada titik ini, distorsi dalam isi dan sebaran informasi masyarakat mencapai tahap berbahaya. Bagaimana mungkin ideologi hiburan tadi mengkorupsi mental dan integritas pers?

Pers, jangan lupa, adalah pilar demokrasi yang penting. Idealnya, badan pers adalah pengejawantahan kontrol masyarakat terhadap negara. Namun melalui sejarah aliran modal dan infiltrasi ideologi hiburan, pers dalam medium TV sekarang telah menjadi pilar gading sendiri. Bahkan posisi agung semacam “suara hati rakyat” bisa juga membuat para pelakunya melambung dan membusuk.

Memang sedari awal, pers dalam bentuk televisi memiliki dilemanya sendiri. Faktor teknologi dan teknis menyebabkan jurnalis televisi tidak selentur rekan-rekannya dalam bermanuver, meskipun mereka mengaku memiliki kelebihan dari bentuk medium itu. Selain itu masih ada faktor biaya, editorial, durasi dan lain-lain. Bahkan TV kadang harus bergantung bukan kepada apa yang paling penting, tetapi apa yang tersedia. Dengan asumsi bahwa obyektivitas itu semu dan sikap berimbang itu perlu, setidaknya keputusan-keputusan terkait faktor-faktor tadi menunjukkan apa sikap redaksinya. Itu idealnya.

Namun logika hiburan, melodrama dan rating pada akhirnya menentukan kelayakan berita berdasarkan yang layak tayang, bukan yang layak secara isu. Bahkan tanpa insiden TVOne tadi, jurnalisme TV kita sudah kadung condong ke arah melodrama. Tengoklah bagaimana mereka mengkorupsi format soft news/fitur. Kelebihan format fitur adalah kemampuannya untuk lebih menciptakan suasana karib, menguras emosi, karena ada unsur dramanya, ada unsur kisahnya, dan ada unsur human interest. Tapi jangan lupa tantangannya: harus punya bahan keras yang layak dulu. Biasanya ini yang tidak dimiliki jurnalis TV, entah karena tidak sempat atau tidak niat. Di sisi lain, untuk hard news saja biasanya TV kekurangan bahan. Ironisnya, untuk menutupinya, TV malah menciptakan sendiri dramanya, menciptakan fitur-fitur semu. Apa tidak gawat?

Maka jadilah kita melihat bencana diberitakan dengan lagu menyayat-nyayat, judul yang sok nyastra, tapi kosong makna. Tidak ada liputan mendalam tentang bagaimana penyelamatan dilakukan, tidak ada liputan yang bisa membuat mengerti, bagaimana cara seharusnya menangani bencana, dan lain-lain. Sudah tipis informasi, malah membuat drama. Memperburuk keadaan? Tanyakan kepada keluarga korban yang jatuh karena kepanikan massal di Kaliurang tadi. Di mana negara?


Orang biasa kontra negara
Suatu ketika, ada seorang menteri yang alpa mengurus infrastruktur bidang yang jadi kewenangannya, dan malah sibuk mengurusi moral orang la..., baiklah. Cukup. Itu kasus yang terlalu bodoh bahkan untuk diceritakan.

Intinya, ujung dari semua ocehan ini adalah sebentuk harapan yang tersisa: “orang biasa” harus mengenali potensinya untuk melakukan perubahan dari fakta bahwa mereka bisa mengambil alih sebaran informasi masyarakat. Institusi-institusi resmi yang menangani informasi kita anggap saja sebagai distraksi yang sangat besar. Boikot informasi? Jangan lupa, masyarakat punya standar kebutuhan minimum untuk menyerap informasi. Mengubah diri menjadi pertapa yang terasing juga tidak membantu.

Sejarah mengajarkan bahwa masyarakat Indonesia sesungguhnya sangat lentur dan juga tangguh. Bertahun-tahun kita bisa menenggang dan bermanuver di sela-sela ketiadaan negara, bahkan dari represi negara ketika Orde Baru dulu. Bahkan dalam hal arus informasi, masyarakat Indonesia punya potensi. Perkembangan internetnya termasuk yang paling pesat di Asia, dan literasinya juga termasuk paling tinggi. Lalu apa? Menyia-nyiakan ketangguhan dan kelenturan kita ini atas nama sikap nrimo? ***




 


ilustrasi oleh Eko S Bimantara

Comments

You should take part in a contest for one of the highest quality blogs online. I most certainly will highly recommend this site!

It's great to be here i really like the content of this site it's very useful and informative, i would love to visit here again.keep posting.

 

Tentang kenapa terjadi pergeseran ke peserta selebriti dalam acara kuis, dan kembalinya orang biasa, penjelasannya sederhana. Di pertengahan 2000-an, tampaknya stasiun

Good post this is.  Watch latest movies online for free streaming.Download all latest movies for free in hd quality.Watch Movies online free without Download from this movie. 

 

 it au courant the list of search ends up in search engines like Google, Bing and Yahoo. At SEO Werkz we tend to concentrate on up web site

Those of the interesting information you always bring out the best that I know, thanks.

Nice information, valuable and excellent design, as share good stuff with good ideas and concepts, lots of great information and inspiration.

A very good and informative article indeed . It helps me a lot to enhance my knowledge, I really like the way the writer presented his views. I hope to see more informative and useful articles in future.

I was scanning for something like this for truly quite a while and finally I've discovered it on your online journal. It was without a doubt intriguing for me to I read about web provisions and their business circumstance these days.

Blue reishi has the added capacity to improve liver execution. Purple reishi, then again, can relax the appearance and ease joint hurts. In conclusion, white reishi can go about as preventive medication to kidney issues while yellow reishi can mitigate spleen issues.

Add comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Allowed HTML tags: <p><br>

More information about formatting options

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.