KARTU POS kedua Karbonjournal.org kali ini berisi cuplikan cerita tentang Toib, seorang penjual ketoprak yang menamakan rombong jualannya Ketoprak.Cell. Foto penjual ketoprak di daerah Tebet, Jakarta Selatan itu menggunakan foto Ardi Yunanto yang ditampilkan pertama kali di halaman Foto pada Mei 2009. Melihat foto tersebut, seorang wartawan The Jakarta Post, Prodita Sabarini, tergerak untuk menelusuri penjual ketoprak itu lebih jauh. Tulisannya kemudian dimuat di The Jakarta Post, 16 Mei 2009. Berdasarkan foto dan artikel itu, kartu pos ini dibuat dan teksnya ditulis bersama-sama oleh Prodita Sabarini dan Ardi Yunanto.
Pada pembukaan dan selama acara OK. Video: Comedy – Jakarta International Video Festival 2009 yang diadakan ruangrupa di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, kartu pos ini dibagikan. Kartupos ini—yang bisa juga disebut sebagai flyer karena tak ada tempat menempel perangko di baliknya—lalu disebarkan di sejumlah tempat dari tangan ke tangan. Atas jasa baik Barbara Smeenk, seniman asal Belanda yang karyanya turut ditampilkan di OK. Video Comedy, kartu pos disebarkan di Belanda dan disimpan dalam perpustakaan Stroom Den Haag di The Hague, Belanda. Kami berencana menyebarkannya di sejumlah tempat di Jakarta dan sejumlah kota lain. Anda pun bisa turut serta membantu rencana ini. Anda bisa membaca isi kartu pos tersebut di sini. Anda juga bisa mendapatkannya secara gratis dengan menghubungi kami.
Ketoprak.Cell
Ketoprak.Cell
administrator
11 July 2009

Sekarang, siapapun bisa menjual voucher telepon genggam. Penjual ketoprak di Tebet, Jakarta Selatan, bahkan sampai mengubah nama rombongnya menjadi “Ketoprak.Cell.” Toib (41), atau Tommy bagi pelanggan tetapnya, adalah salah satu bukti betapa menjamurnya penggunaan telepon genggam di masyarakat. Bahkan pedagang kaki-lima seperti Toib dapat dengan mudah terjun bebas dalam ‘pasar terbuka’ itu.
Toib mulai menambah jualannya sejak 2007. Ide itu ia dapatkan setelah seorang pembeli menitip kepadanya untuk dibelikan voucher. Ia lalu menyadari kalau ia bisa menggunakan tabungannya untuk modal bisnisnya daripada menyimpannya di bank dengan bunga yang kecil. Dalam sehari, ia bisa menjual sekitar 30 voucher dan mendapat tambahan penghasilan Rp800,000 sampai Rp1,000,000 setiap bulan.
Berdasarkan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia, ada sekitar 150 juta pengguna telepon genggam di Indonesia. Pasar yang menjanjikan itu, tentu tak hanya dimanfaatkan oleh Toib. Penjual voucher bisa kita temukan di banyak warung rokok, bahkan ada yang menjualnya dengan sepeda; dengan kotak kaca penyimpan voucher di boncengannya. Namun, Toib mungkin satu-satunya pedagang makanan kaki-lima yang menasbihkan gabungan profesinya sebagai nama usaha: “Ketoprak.Cell.”

Foto oleh: Ardi Yunanto | Teks oleh: Prodita Sabarini & Ardi Yunanto
Terjemahan oleh: Rani Elsanti
July 2009
July 2009
March 2009
November 2007
November 2007
March 2007
March 2007


