SUATU SIANG di pertengahan Maret 2009, Komunitas Mejabudaya menelpon kami: bagaimana kalau esai Hikmat Darmawan dalam Fokus 5: “Komik dan Kota” dijadikan bahan diskusi di Mejabudaya akhir bulan ini? Ini kerjasama menarik. Sebuah diskusi bisa diadakan atas minat pada salah satu esai terbitan kami. Tak perlu waktu lama, kemudian, untuk mengubah obrolan di telpon itu menjadi publikasi lewat internet dan diskusi konkrit yang diadakan pada Jumat, jam 3 sore agak ngaret, 27 Maret 2009, di Komunitas Mejabudaya, yang bertempat di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.
Diskusi berjalan santai. Pengunjung tak banyak, hanya sebelas orang. Jumat sore sepertinya memang bukan waktu yang tepat untuk mengadakan diskusi di Jakarta. Kemacetan akhir pekan cukup menghasut sejumlah orang untuk beralih tujuan. Namun dalam lingkaran kecil itu, diskusi berjalan lebih intens. Mula-mula kami menonton Hikmat Darmawan mempresentasikan gambar-gambar komik roman yang ada dalam esainya melalui proyeksi. Baru kemudian di meja panjang itu, sesi tanya jawab menjadi sebuah diskusi yang hangat.
Ada sejumlah pertanyaan yang cukup menggelitik. Mengapa tak ada pemandangan mental yang nyata tentang Jakarta dalam komik roman Zaldy dan Jan? Mungkin karena pada 1960-an, pembangunan di Jakarta belum semarak pada 1970-an. Ini jawaban yang cukup lemah juga, karena harus dicek kembali apa saja yang tergambar dalam komik roman, dan apa saja yang sebenarnya terjadi di Jakarta untuk bisa digambarkan dalam komik roman tersebut. Mengapa dalam komik roman Zaldy dan Jan, tidak ada Monas, gedung tinggi, dan banyak ikon Jakarta lain seperti yang ramai dicitrakan oleh film-film 1970-an hingga sinetron saat ini? Komik roman Zaldy dan Jan—setidaknya yang dipresentasikan Hikmat—memang lebih sering berkutat dengan interior rumah kalangan menengah ke atas; jika ada eksterior, maka lokasinya tak konkrit. Gaya hidup dalam komik roman itu pun sangat menarik untuk diselidiki, sejauh mana ketepatannya dengan zaman. Ada penggambaran yang seakan melampaui zamannya. Sebuah imajinasi yang harus dicek kembali satu persatu ketepatannya dengan kondisi sosial dan fisik kota. Serta sejauh mana pengaruh komik roman Amerika saat itu bagi komikus, meluaskan imajinasi mereka yang seakan belum ‘pada waktu dan tempatnya’.
Diskusi ini memang tak berhasil menjawab pertanyaan tersebut. Namun perihal imajinasi dan kenyataan itu adalah pertanyaan yang penting untuk dijawab oleh penelitian-penelitian selanjutnya tentang komik Indonesia, yang belum diteliti kembali secara mendalam sejak penelitian terakhir Marcel Bonneff pada 1971. Betapa banyak sejarah yang perlu diteliti, dan juga koleksi komik-komik roman yang sekarang sudah sangat sulit ditemukan untuk memulai penelitian tersebut.
Dari sebuah diskusi kecil di sudut Taman Ismail Marzuki, pertanyaan-pertanyaan itu kami bawa pulang untuk suatu saat kami ungkap kembali. Diskusi ini kemudian juga menjadi bahan sebuah artikel, “Romance comics of the 60s: A short lived love story” yang ditulis oleh Mariani Dewi, wartawan Jakarta Post yang turut hadir dalam diskusi. Kami harap kerjasama seperti ini, yang ternyata sangat mungkin berawal dari ajakan sederhana, bisa dilanjutkan oleh komunitas-komunitas lain. Terimakasih kepada Komunitas Mejabudaya yang telah mengundang kami untuk bersama-sama mengadakan diskusi kecil yang menarik ini.





