Juli 2009

Juli 2009

November 2007

November 2007

Maret 2007

Maret 2007
-A A +A
Versi ramah cetakPDF version
PENERBITAN KARTU POS
Patung Dirgantara
administrator
07 Maret 2007


KARTU POS Patung Dirgantara ini adalah kartu pos pertama yang dibuat jurnal-online Karbon. Didukung sepenuhnya oleh Percetakan Gajah Hidup dan dicetak sebanyak 3000 eksemplar pada Mei dan Desember 2007, kartu pos ini adalah seri pertama dari seri kartu pos yang akan membahas situs-situs kota yang memiliki sejarah, kenangan, dan ironi masa lalu dan masa kini.

Dengan menggunakan foto yang ditemukan dari internet, buah karya fotografer yang masih belum diketahui identitasnya sampai sekarang, kartu pos ini dibagikan secara gratis melalui acara-acara yang diadakan di ruangrupa sepanjang 2007. Juga sempat didistribusikan dalam program diskusi “Extra/Ordinary Cities – The Cultural Dynamics of Urban Intervention” yang diadakan oleh Centre for Contemporary Art & Politics, Casula Powerhouse, dan 2008 Biennale of Sidney, di Bach Dang Restaurant, Canley Vale, Sidney pada 23 Juni 2008.

Anda bisa membaca isi kartu pos tersebut di sini. Anda juga bisa mendapatkannya secara gratis dengan menghubungi kami.


 



Some people say that from time to time the man of the Pancoran monument goes down to have a rest at night. My father once suggested, “If you ever get confused about where Tebet is, just look at the sculpture and see the direction at which its hand is pointing.” Ten years on, I myself lived in
Ada yang mengatakan, sesekali di malam hari Patung Pancoran turun untuk istirahat. Ayah saya pernah mengatakan, “Kalau kamu bingung di mana letak Tebet, cukup ikuti telunjuk patung itu.” Sepuluh tahun kemudian, saya tinggal di Tebet sampai sekarang.

Patung Pancoran semula dikenal sebagai Patung Dirgantara. Dibangun oleh Presiden pertama Indonesia, Soekarno, demi kebanggaan rakyat menjadi manusia Indonesia. Gatot Kaca Mental Bentolo yang menjejak terbang dan tinggal landas—menuju Tebet. Soekarno juga yang memeragakan dirinya sebagai model, sebelum pematung asal Yogyakarta, Edhi Sunarso membuatnya. “Berulang-ulang sampai beliau suka, baru maketnya dikerjakan.” ujarnya.


Pengerjaan patung sebenarnya selesai pada 1964 di Yogyakarta, namun sempat terhenti ketika terjadi Gerakan 30 September 1965. Pemerintah baru membayar sekitar 5 juta dari total dana 12 juta yang sementara ditanggung oleh Edhi Sunarso. Inilah monumen terakhir yang tak pernah diresmikan oleh Soekarno karena beliau terlanjur sakit lalu wafat. Biayanya tak pernah dilunasi pemerintah, walau Soekarno sempat menjual mobilnya, namun hanya 1 juta, sama sekali tidak menutupi biaya.

Patung yang pernah dianggap monumen cukil mata Gerwani oleh para anti-Soekarno, kini terjepit dua jalan layang, dan untuk sementara menanti kebijakan “Pemugaran dan Relokasi Monumen Dirgantara”. Pilihan pemugaran antara lain: meninggikan pedestal hingga 10 meter, memindahkan patung ke sebelah selatan (lebih mudah mengubah situs daripada menghancurkan jalan layang), memindahkannya ke sudut bekas Markas Besar Angkatan Udara, atau dibiarkan saja (yang mungkin lebih baik, mencerminkan kesendiriannya yang lalu ditemani satu, dua jalan layang, sampai perubahan ajaib lainnya).

Apakah patung Pancoran tak cukup lepas landas mengejar gejolak kotanya? Atau perencanaan kota Jakarta yang tak pernah selaras? Cukup menghargai situs hanya dengan—seandainya—tidak menghilangkannya? Jika dulu Soekarno sampai menjual mobilnya demi menutupi biayanya, kini patung itu terjepit dua jalan layang karena orang Jakarta punya terlalu banyak mobil. Apapun yang terjadi, seperti segala yang mungkin di kota ini, semoga Gatot Kaca tetap mengarah Tebet. Setidaknya menyisakan sesuatu bagi saya, akan bagaimana seorang ayah pernah mengenang kotanya sendiri dan menanamkan ingatan itu pada saya sampai sekarang.


Teks oleh Ardi Yunanto, 2007.
Terjemahan Inggris oleh Rani Elsanti.

Foto dari Indonesian Community.
Fotografer belum diketahui.


Komentar

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.