FOKUS 1 | Maret 2007

-A A +A
Versi ramah cetakPDF version
FOKUS 7: Des 2010 - Des 2011
Arsitektur komunitas, arsitektur multi-penulis
Anonim
26 September 2011



“[W]acana “tertulis” hanya diakui bila terdapat nama si penulis; setiap naskah puisi atau fiksi diwajibkan untuk menyatakan siapa penulisnya, kapan, di mana, dan dalam kondisi apa naskah tersebut ditulis. Makna dan nilai yang dikaitkan dengan sebuah naskah tergantung pada informasi tersebut. Jika, secara tidak sengaja atau secara sengaja, sebuah naskah dihadirkan secara anonim, berbagai usaha akan dilakukan untuk mendapatkan siapa penulisnya. Keanoniman yang tertulis hanyalah sebuah teka-teki untuk dipecahkan, karena, di zaman kita ini, karya tertulis betul-betul didominasi oleh kedaulatan sang penulis.”

—Michel Foucault, Qu’est-ce qu’un auteur? (1970)




Harus diakui bahwa ada kebimbangan untuk menulis artikel ini. Saya menulis artikel ini (perhatikan bahwa pada kalimat ini, kata “saya” sebagai subyek, berada di awal kalimat). Dengan demikian, maka artikel ini menjadi tulisan saya, yang maknanya saya tentukan. Sekalipun gagasan awal dari artikel ini bukan berasal dari saya, tetap saja saya yang membawa artikel ini ke arah makna tertentu. Dengan kata lain, subyektivitas saya sebagai penulis menutup kemungkinan bagi artikel ini untuk memiliki beragam makna dan nilai. Hal tersebut membuat artikel ini menjadi sebuah artikel yang ironis, karena artikel ini ingin bercerita tentang sebuah kemungkinan untuk membentuk kisah sebuah ruang, mungkin juga sebuah kota, melalui tulisan-tulisan oleh banyak penulis.

Artikel ini ingin mengawali ceritanya dengan, secara amat singkat, bagaimana arsitek menggagas dan membentuk ruang. Biasanya, karya arsitektur dianggap sebagai hasil gagasan seorang arsitek. Selain itu, si arsitek dianggap sebagai semacam satu-satunya dalang terjadinya keberadaan sebuah karya asitektur. Si arsitek yang menggagas karya di kepalanya. Lalu ia membuat sketsa-sketsa, gambar-gambar, mungkin diagram-diagram, dan maket-maket. Kemudian, dengan bantuan kontraktor, ia wujudkan gagasannya itu. Lalu, seberapa besar skala ruang yang digagas oleh si arsitek? Bisa saja dari skala kecil (dapur rumah Anda, misalnya), dan bisa juga skala besar (wilayah di kota kita, misalnya).

Sudah sejak lama kota menjadi ajang perwujudan eksistensi ego para arsitek. Kota menjadi ajang pergumulan para demiurgos yang ingin keberadaannya nampak. Tetapi, siapa sajakah yang tinggal di sebuah kota? Kota—paling tidak Jakarta dan sekitarnya—sudah menjadi ajang pergumulan antara banyak pihak. Pengembang dan pemerintah. Bermacam-macam organisasi massa. Berbagai partai politik dengan bendera serta umbul-umbulnya. Pedagang besar dan pedagang kecil. Para preman dan satpol PP. Dan sebagainya. Dan sebagainya. Masing-masing ingin menjadi penulis dominan yang menentukan arah sejarah kota kita. Dalam kondisi demikian, para arsitek mewujudkan eksistensinya di kota, mungkin mereka juga ingin ikut menulis arah sejarah kota kita. Lalu, bagaimana dengan anak-anak? Bagaimana dengan Anda dan saya? Bagaimana dengan tetangga kita?

Kembali pada arsitek yang cenderung dianggap sebagai semacam dalang. Biasanya, si arsitek dianggap sebagai penulis tunggal atas karya-karyanya. Tetapi, ada beberapa kasus dimana si arsitek mencoba untuk tidak menjadi satu-satunya pencerita. Sebuah contoh klasik di Indonesia adalah arsitek Mangunwijaya dan Kali Code. Ia menggalang partisipasi penduduk setempat dalam merancang permukiman mereka di Kali Code, Yogyakarta. Mangunwijaya, si arsitek, berusaha untuk menjadi agen perubahan yang menggerakkan masyarakat untuk menjadi penulis-penulis dalam perancangan permukiman mereka sendiri.

Di tiga Sekolah Dasar, di Cilandak, Jakarta Selatan (SD Cilandak barat 01); Pancoran, Jakarta Selatan (SD Pancoran 08); dan Beji, Depok (SD Kramat Beji Depok), sekelompok arsitek dan mahasiswa arsitektur mencoba untuk mewujudkan eksistensi sekelompok anak-anak melalui perancangan perpustakaan bagi ketiga sekolah tersebut. Lebih tepatnya, yang mereka lakukan adalah perancangan ulang ketiga perpustakaan itu, untuk mendapatkan perpustakaan yang lebih baik. Sebelum usaha ini dilakukan, kondisi perpustakaan ketiga Sekolah Dasar tersebut kurang menyenangkan, terlalu standar, mirip dengan perpustakaan Sekolah Dasar di masa 1980-an. Karena itu, sekelompok arsitek dan mahasiswa arsitektur tersebut datang ke tiga sekolah itu untuk menawarkan program membuat perpustakaan sekolah-sekolah itu menjadi lebih nyaman dan menyenangkan, serta membuat para murid dan guru mempunyai rasa memiliki perpustakaan tersebut. Ketiga perpustakaan tersebut merupakan karya kolaboratif yang melibatkan banyak individu. Para murid dan guru ketiga sekolah itu terlibat dalam menentukan keberadaan perpustakaan tersebut.

Pada kasus ketiga perpustakaan sekolah ini, sekelompok arsitek dan mahasiswa arsitektur, yang didukung oleh tenaga keperpustakaan, mengajak para siswa dan guru untuk bersama-sama terlibat secara aktif dalam proses perancangan. Semua yang terlibat kemudian duduk bersama. Masing-masing mengutarakan kebutuhannya, pendapatnya, idenya, imajinasinya, serta hasratnya terkait dengan perpustakaan tersebut. Para siswa, yang masih dalam rentang umur Sekolah Dasar, mengutarakan imajinasi mereka melalui maket dan gambar tentang perpustakaan seperti apa yang mereka inginkan. Setelah semua keinginan, ide, kebutuhan, dan imajinasi semua pihak terkumpulkan dan teridentifikasi, perpustakaan diperbaiki sesuai dengan semua itu. Melihat proses perancangan dalam perbaikan ketiga perpustakaan sekolah tersebut, kita dapat mengistilahkan metode yang dipakai sebagai metode perancangan partisipatif.

Menurut keterangan dari beberapa orang yang terlibat dalam proses perancangan ketiga perpustakaan sekolah tersebut, dapat dikatakan bahwa ketiga karya tersebut memang merupakan sebuah proses partisipatoris yang melibatkan pengguna untuk menjadi “anggota penulis” ketiga karya itu. Usaha mereka merupakan sebuah cara untuk memberikan alternatif terhadap cara merancang yang selama ini diajarkan di berbagai sekolah arsitektur, yang mana si arsitek adalah si penulis tunggal, si penentu makna dan nilai sebuah karya.

Percobaan ini merupakan sebuah usaha—lengkapdengan segala keterbatasannya—yang memiliki sebuah efek tidak langsung. Metode perancangan yang digunakan dalam ketiga usaha tersebut merupakan sebuah alternatif yang berbeda dari pendekatan-pendekatan yang selama ini sudah ada.

Siapa yang merancang ketiga perpustakaan tersebut? Seorang arsitek tertentu? Seorang individu tertentu? Mungkin ada satu atau dua nama yang dapat disebut di sini sebagai arsitek, penggagas, atau koordinator, atau apapunlah sebutannya. Akan tetapi, bila nama dari satu atau dua orang disebutkan di artikel ini sebagai arsitek, koordinator, atau apapun namanya, nampaknya artikel ini justru akan mempersempit kemungkinan-kemungkinan makna ketiga perpustakaan tersebut.

Tidak ada satu orang arsitek pada ketiga karya ini. Yang ada adalah sebuah tim yang terdiri dari banyak orang (termasuk para murid dan guru), yang lalu lebih bertindak sebagai fasilitator (jika pembaca betul-betul merasa perlu untuk melihat nama-nama sebagian pelaku, bukalah http://arsitektur.net/perpustakaan/. Dalam tautan ini pembaca juga dapat membaca deskripsi lengkap mengenai proses ketiga karya tersebut). Masing-masing dari ketiga perpustakaan Sekolah Dasar tersebut tidak punya penulis tunggal, sehingga sulit untuk didefinisikan secara absolut.

Lalu, apa efek kegiatan di tiga Sekolah Dasar tersebut terhadap kota kita? Bila saya harus berpendapat secara pribadi, saya akan mengatakan bahwa ketiga perpustakaan sekolah yang dirancang bersama-sama para pengguna itu tidak akan mengubah wajah Jakarta dan sekitarnya. Alasannya sederhana saja: ketiga perpustakaan itu terlalu kecil untuk mengubah kota, dan merupakan bagian dalammasing-masing Sekolah Dasar.

Ada keterbatasan yang dapat menjadi penghalang bagi metode yang digunakan pada ketiga perpustakaan sekolah itu untuk betul-betul dapat menjadi sebuah alternatif. Sebuah metode dapat menjadi metode alternatif jika ia dipublikasikan atau terpublikasikan dengan baik. Medium publikasi yang digunakan oleh kelompok arsitek dan mahasiswa yang terlibat dalam proses pada ketiga perpustakaan itu merupakan sebuah medium publikasi terbatas. Terutama terbatas pada sebagian kalangan arsitek, mahasiswa, dan akademisi. Padahal, proses bersifat partisipatoris bukan sebuah proses yang hanya dimiliki oleh arsitek, mahasiswa, dan akademisi saja. Proses tersebut juga melibatkan pengguna. Bukan saja tenaga pengguna, tetapi juga daya kreasi mereka, material yang dapat mereka sediakan, dan sebagainya.

Selain itu, perlu juga dipertanyakan dari mana sumber dana untuk merancang ketiga karya tersebut? Apakah dari sponsor tertentu? Apakah dari dana program pengabdian masyarakat sebuah universitas? Apapun sumbernya, tentunya sumber dana ini merupakan sebuah faktor penting yang memungkinkan dilakukannya perancangan ketiga perpustakaan sekolah itu. Tentu dibutuhkan material-material (seperti cat) yang dibutuhkan untuk merealisasikan rancangan partisipatoris itu. Bagaimana mendapatkan material-material tersebut? Apakah dari hasil swadaya para siswa dan guru? Atau dibeli dengan uang dari sumber dana sponsor (pihak swasta atau universitas)? Pada artikel ini, tidak ada maksud untukmengecilkan arti usaha-usaha baik yang terkait dengan corporate social responsibility (baik oleh swasta maupun universitas). Tetapi, jika material-material dibeli dengan uang dari sumber dana sponsor, seberapa partisipatoriskah proses yang berlangsung?

Nampaknya, proses perancangan partisipatoris yang diterapkan pada perancangan ketiga perpustakaan sekolah itu merupakan sebuah proses yang mencoba untuk mengakomodasi aspek keseharian (everyday life / le quotidien). Para pengguna (guru dan siswa) tidak diperlakukan sebagai makhluk-makhluk pasif yang akan menerima pendapat “ilmiah” si arsitek. Alih-alih demikian, dalam perancangan ketiga perpustakaan tersebut, para pengguna dilihat sebagai manusia-manusia yang berdaya kreasi. Itulahsebabnyamereka dilibatkan dalam proses perancangan. Hal ini, tentunya, mengingatkan kita pada pendapat Michel de Certeau. Jika kita melihat proses seperti ini dalam cakupan “kecil” (dalam skala ketiga sekolah tersebut), maka proses perancangan seperti ini menjadi sebuah proses yang memang mendayagunakan pengguna sebagai penulis-penulis kisah perpustakaan mereka sendiri. Tetapi, jika kita melihatnya dalam cakupan “besar” (skala kota, misalnya), kita juga perlu mempertimbangkan kritik-kritik yang ada terhadap teori de Certeau. Semakin besar cakupan skala, semakin banyak kepentingan yang ada. Dengan demikian, dapat saja aspek le quotidien tidak mampu mengatasi kepentingan-kepentingan tersebut. Bukankah kita juga perlu mempertimbangkan seberapa pengaruh kepentingan-kepentingan tersebut terhadap keseharian kita?

Lalu, ada masalah lain. Masalah ini terkait dengan sifat profesi arsitek, yang secara tradisional merupakan sesuatu yang memandang individu. Istilah “arsitektur” berasal dari dua kata Yunani, yaitu arkhe dan tekton. Arkhe berarti kepala, sedangkan tekton berarti tukang kayu, tukang batu, atau pembangun. Dari sini terlihat bahwa arsitek punya posisi sebagai si kepala. Ia yang memimpin, ia yang menentukan. Di satu sisi, individualisasi si arsitek memberikan tanggung jawab yang berat kepada si arsitek. Tanggung jawab di sini amat terkait dengan etika. Beberapa biro arsitek memilih untuk menggunakan nama si arsitek utama sebagai nama biro. Alasannya adalah untuk pertanggungjawaban kepada masyarakat, terkait dengan efek yang dihasilkan oleh karya biro tersebut. Tapi, di sisi lain, individualisasi si arsitek memberi peluang bagi si arsitek untuk menjadi si penulis utama dari karya-karyanya.

Mengenai sisi yang kedua itu, kita dapat mengingat Yusuf B. Mangunwijaya dan karyanya di Kali Code, yang demikian dipuji oleh banyak orang. Karyanya di Kali Code merupakan sebuah contoh bagaimana pendekatan partisipatoris digunakan dalam berarsitektur. Si arsitek bertindak sebagai seorang agen perubahan, yang memancing penduduk setempat untuk bertindak dalam perbaikan tempat tinggal mereka. Imajinasi dan hasrat penduduk setempat ikut membentuk Kali Code yang kita lihat sekarang.

Seseorang boleh saja mengatakan bahwa pada dasarnya penulis kisah Kali Code adalah banyak orang. Tetapi, mengapa Kali Code selalu dikaitkan dengan si arsitek, Mangunwijaya? Mengapa kita sering melupakan para penduduk setempat? Sekalipun partisipasi penduduk setempat sudah beberapa kali dinyatakan dalam berbagai publikasi, tetap saja Mangunwijaya kerap disebut dan dipuji sebagai si penulis (seakan-akan satu-satunya penulis) kisah Kali Code. Tetap saja, adalah si arsitek yang dulu mendapatkan Penghargaan Aga Khan. Dalam sebuah puisinya, Bertold Brecht pernah menanyakan, bila kita selalu tahu nama kaisar yang memerintahkan pembangunan Tembok Besar Cina, mengapa kita tidak tahu nama-nama para buruh yang membangunnya? Pada kasus Kali Code, ada sebuah ironi. Mangunwijaya tidak ingin menjadi Kaisar Qin Shi Huang-di. Akan tetapi, semua orang hanya mengingatnya tanpa mengingat tangan-tangan penduduk Kali Code.

Apakah ironi yang sama dapat menimpa para penggagas dan penggiat perancangan ketiga perpustakaan sekolah di Beji, Pancoran, dan Cilandak itu? Ya, bisa saja itu terjadi. Para penggagas dan penggiat perancangan ketiga perpustakaan sekolah di Beji, Pancoran, dan Cilandak itu perlu menyiasati kemungkinan tersebut. Untuk penyiasatan ini, publikasi menjadi sebuah hal untuk diperhatikan. Walaupun tadi disebutkan bahwa metode mereka perlu lebih dipublikasikan, atau terpublikasikan, publikasi itu juga dapat beresiko menjadikan kelompok arsitek dan mahasiswa tersebut sebagai satu-satunya penulis. Mangunwijaya menjadi satu-satunya penulis di Kali Code karena publikasi mengenai Kali Code kerap menyatakan bahwa ialah si arsitek.

Walau demikian, cara merancang yang partisipatoris, yang melibatkan para pengguna—sekali lagi, lengkap dengan segala keterbatasannya—dapat menjadi sebuah alternatif bagi Jakarta dan sekitarnya.

Globalisasi, sebagai sebuah proses yang sedang dialami oleh Jakarta dan sekitarnya, bukan sesuatu yang netral sifatnya. Penyeragaman menyertai proses tersebut. Penyeragaman ini membuat Jakarta dan kota-kota lain menjadi sama. Penyeragaman ini bukan dalam artian yang sama seperti penyeragaman oleh International Style. Penyeragaman yang sedang dialami oleh Jakarta adalah sebuah proses yang berjalan untuk kepentingan penulis tertentu, yang ingin mendapatkan kenyamanan yang sama di manapun ia berada. Mirip seperti penyeragaman kota-kota di bawah kekuasaan Romawi dahulu. Baik di Roma, Londonium (sekarang London), Tripoli (sekarang Lebanon), maupun Lutetia (sekarang Paris), seorang Romawi mendapatkan hal yang sama: orang menggunakan pakaian yang sama, berbicara dengan bahasa Latin, ada tempat untuk menonton pertandingan gladiator, dan sebagainya.

Sekarang, proses globalisasi yang dialami oleh berbagai kota seperti Jakarta adalah penyeragaman yang dapat membuat kapital bergerak secara nyaman, dengan standar kenyamanan yang mirip, dari pihak ke pihak yang tertentu saja. Entah pergerakan tersebut melewati Jakarta, Surabaya, Bangkok, Mumbai, Singapura, atau manapun. Infrastruktur, penataan ruang, dan sebagainya diciptakan untuk keperluan tersebut. Ketika kita memutuskan bahwa Medan dan Jakarta membutuhkan Central Business District, untuk kepentingan siapakah sebenarnya keputusan itu diambil? (“Ah! Tahu apa kau! Kau bukan ahlinya!” Mereka sering bereaksi terhadap pertanyaan semacam itu dengan kata-kata seperti ini, bukan?). Pendek kata, kota-kota kita sedang ditulis alur kisahnya oleh segelintir pihak dengan kepentingan mutual. Sayangnya, penduduk kota-kota itu kerap tidak termasuk dalam pihak-pihak itu. Sayangnya, banyak arsitek kita yang tidak (semoga hanya belum) cukup bereaksi terhadap fenomena ini.

Alternatif yang ditawarkan oleh metode yang dilakukan dalam proses penciptaan ketiga perpustakaan Sekolah Dasar tersebut, bila diterapkan dalam skala yang lebih luas, dapat menjadi  sebuah alat penyeimbang (atau penawar?) terhadap proses penyeragaman yang disebut di atas. Hanya saja, perlu ditekankan bahwa metode yang ditawarkan melalui perbaikan ketiga perpustakaan Sekolah Dasar tersebut merupakan salah satu, bukan satu-satunya, alternatif yang dapat menjadi penyeimbang. Bagaimanapun, sebuah kota terlalu luas dan terlalu beragam untuk dibentuk oleh satu metode saja.

Metode alternatif ini dapat memberikan peluang bagi penghuni kota untuk ikut menuliskan alur cerita kotanya, paling tidak untuk memberikan peluang adanya negosiasi antara penghuni kota dengan “pihak-pihak dengan kepentingan mutual” tersebut. Bagaimanapun juga, sebuah kota bukan milik segelintir orang. Ada banyak orang lain yang berhak untuk ikut menjadi penulis kisah kota tersebut.***




Tentang anonim, ia mengajar pada sebuah lembaga pendidikan arsitektur di Indonesia. Juga pernah belajar pada sebuah lembaga pendidikan arsitektur yang lain mengenai bidang sejarah, teori, dan kritik arsitektur. Ia memilih untuk menjadi anonim demi mengurangi kemungkinan tak terelakkan untuk menjadi penulis tunggal artikel ini. Kami, sebagai para redaktur jurnal Karbon, tentu mengetahui identitas penulis, yang jika diperlukan dapat Anda hubungi melalui kami.




 



Gambar 1. Siswa-siswa menuangkan gagasan mereka untuk perpustakaan mereka. Perhatikan bahwa mereka dipandu oleh salah seorang anggota tim arsitek.




Gambar 2. Para siswa dan maket mereka yang menampilkan perpustakaan yang mereka inginkan.



Gambar 3. Gambar para siswa yang kemudian dituangkan sebagai mural pada perpustakaan mereka.







Gambar 4. Rancangan dan hasil mural anak-anak untuk perpustakaan.


Gambar 5. Jejak tangan para siswa di perpustakaan SD Kramat Beji, Depok.

Sumber foto-foto: Arsitektur.net

 

Komentar

You might write about the services on the blog. You should disclose it's refreshing. Your blog conclusion could accelerate your shoppers.  

You may post on the testimonials for the blog. You could put cross it's ground breaking. Your blog perspective may expand your investments. 

You may post on the testimonials for the blog. You could put cross it's ground breaking. Your blog perspective may expand your investments.  <a title="Keyword: buy instagram likes" href="http://dripfollowers.com/buy-instagram-likes/">Keyword: buy instagram likes</a>

Excellent blog you've got here .. It's difficult to find excellent writing like yours nowadays. I honestly appreciate Individuals like you!

 

You might write about the color on the blog. You should market it's ingenious. Your blog intelligence would swell up your royalties. 

Hal tersebut membuat artikel ini menjadi sebuah artikel yang ironis, karena artikel ini ingin bercerita tentang sebuah kemungkinan untuk membentuk kisah sebuah ruang, mungkin juga sebuah kota, melalui tulisan-tulisan oleh banyak penulis.

You could post on the looks of the blog. You may pencil in it's important . Your blog knowledge shall raise your payments. 

You might comment on the length of the blog. You should pitch its ideal. Your blog letter may grow your wealth. 
I was recommended this website by means of my cousin. I am no longer sure whether or not this publish is written by him as no one else recognise such certain about my difficulty. You're incredible! Thank you!

You should comment on the training on the blog. You can unveil it's authentic. Your blog view can broaden your proceeds.

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.