FOKUS 1 | Maret 2007

-A A +A
Versi ramah cetakPDF version
FOKUS 6 | Agustus 2009
Benci tapi rindu, mencaci atau melucu? Sebuah refleksi personal lewat situs web SERASA
Farid Rakun
06 Agustus 2009


SAYA ADALAH orang yang memerlukan jarak. Pertama; didorong banyak konflik pribadi dan rasa frustrasi terhadap kehidupan Jakarta, saya hengkang dari kota kelahiran saya itu sekitar empat tahun yang lalu, apa lagi kalau bukan untuk menjadi berjarak dengan masalah-masalah itu. Kedua, pengakuan sebuah fakta gombal; dengan kepergian tersebut, saya sebenarnya dengan sadar berperan aktif terhadap manipulasi perasaan saya sendiri. Siapa tahu rasa benci dapat berubah menjadi rasa rindu? Karena bagaimana pun, tak bisa disangkal, Jakarta adalah bagian dari identitas saya.

Berkat perkembangan teknologi komunikasi, taktik saya bisa dibilang berhasil. Pertama; jarak membuat saya melihat segala sesuatu lebih jernih, lebih rasional, dan yang paling penting, sering kali lebih lucu.[1] Kedua; saya mencari pil-pil obat rasa rindu dalam berbagai macam hal. Obrolan dengan orang-orang yang jarang terjadi ketika saya berada di Jakarta jadi lebih sering, tulus (hal yang sulit ditemui di manapun saya berada), dan lancar; saya jadi lebih menghargai kualitas unik informal ibukota seperti pedagang makanan gerobak dan tersedianya ojek (yang sejujurnya mempermudah kehidupan sehari-hari, asalkan kita bukan pengendara mobil pribadi atau orang nekat yang mencoba mengalami Jakarta dengan berjalan kaki); dan yang ingin saya bahas di sini: mengobati rasa rindu lewat tertawa.

Dalam pengembaraan saya mencari sesuap tawa segenggam ikatan inilah, saya tersandung SERASA.[2] Mengutip pengantarnya, “SERASA adalah blog yang menguak misteri dibalik (sic) hal-hal lucu, aneh, tidak masuk di brain, dan ganjil yang terjadi di kehidupan kita sehari-hari, apapun itu bentuknya…” Tampil dengan format foto-foto seadanya dan ber-watermark besar, serta warna latarbelakang merah jambu muda yang ditabrakkan dengan huruf-huruf berwarna primer, sepertinya SERASA sudah ganjil dari sononya. Mari kita tengok pilihan objek lelucon SERASA: segala sesuatu yang diplesetkan, mulai dari “tersangka” biasa seperti kaos-kaos Mangga Dua dan sepatu berlabel Bubbery (tanpa “r”) (Gambar 1), sampai yang luarbiasa seperti papan restoran bernama Burger Queen yang tanpa malu (dan pastinya tanpa izin) mengadopsi tampilan visual Burger King (Gambar 2); ataupun kategori bebas seperti satu foto minuman botol berlabel Jeniper (singkatan dari Jeruk Nipis Peras) (Gambar 3). Objek-objek ini berkata kepada saya, bahwa ada satu kata yang tidak ditulis oleh Regina Kencana, sang editor, di pengantar blog ini: selain lucu, aneh, irasional, dan ganjil, SERASA juga garing.

MENGAPA SERASA LUCU?
Mengapa tidak? SERASA membagi kategori lawakan visualnya menjadi empat: “Fake Merk”, yang menyeret “tersangka-tersangka” utama tukang palsu merk-merk beken ke meja lawakan; “Wrong tulisan”, yang mencoba tertawa di atas kesalahan jujur orang lain, seperti tulisan ‘SEPAGETI’, ‘HOT DOK’, untuk warung berjudul ‘KAVE YAYANG’ (Gambar 4); “Cool Kampanye”, yang menyorot pengumuman atau iklan dengan hubungan yang tak jelas di dalamnya, seperti supermarket yang memberikan hadiah lima bungkus Indomie untuk setiap pembelian Rp150,000 (sudah saya ingatkan: garing) (Gambar 5); serta “Others”—berarti ‘and lain-lain’, buat yang tidak mengerti—yang memuat hal-hal seperti papan petunjuk Kantor Pos yang terbalik (Gambar 6), dan sebagainya.

Dengan atau tanpa sadar, pembagian kategori ini sudah memenuhi teori dasar tentang bagaimana menjadi lucu. Pertama, SERASA sebagai sebuah blog sudah menjadi sarana pelepas tekanan kejenuhan kaum yang mengerti bedanya Burger King dari Burger Queen dan dengan mudah dapat menjawab pertanyaan, ‘apa lucunya Buberry?’. Kedua, kategori “Cool Kampanye” berusaha untuk menggarisbawahi ketidakpantasan sebagai sesuatu yang lucu (sekali lagi: garing). Ketiga, dua kategori utama blog ini, “Fake Merk” dan “Wrong Tulisan”, mengizinkan pembacanya menertawakan kaum yang berseberangan dengannya: mereka yang dianggap tak dapat dengan mudah membedakan antara King dan Queen, atau mengetahui benda apapun yang bermerk Burberry, sang merk asal. Walaupun bila kita lihat lebih jauh informasi yang dikandung post ini, ternyata pemilik sepasang Buberry tersebut adalah ibu Regina sendiri![3]

Kita tentu dapat merasa lebih baik ketika melihat pihak lain dalam keadaan lebih buruk dari kita. ‘Jarak’ muncul kembali di sini, namun sebagai jurang pemisah, bukan sebagai pembantu proses pengertian terhadap sebuah hal. Adalah sesuatu yang lumrah untuk menertawakan orang lain karena kebodohan, kesialan, serta kesalahan orang lain. Sayangnya, humor semacam ini dapat disamakan dengan cacian, sehingga tak salah bila dimasukkan ke dalam kategori humor kelas rendahan. Sifat kekanak-kanakan jenis humor yang satu ini berpotensi menginjak-injak harga diri pihak korban.[4] Lucu: menertawakan kelas rendahan dengan humor rendahan; menghilangkan pretensi perbedaan kelas di antara yang tertawa dan yang ditertawakan. Paling tidak dalam ranah humor, ternyata si tertawa tidak memiliki selera yang lebih baik dari yang ditertawakan. Buat saya, inilah fakta yang membuat SERASA memang sudah lucu dari sononya.

ILUSI BARANG PALSU DAN SUBVERSI BARANG PLESETAN
Izinkan saya membelokkan perhatian Anda sejenak. Pada 2 Februari 2009 saya berbincang-bincang dengan Coki (bukan nama sebenarnya), seorang pemilik sebuah toko sandang di daerah Seminyak, Bali, lewat jendela Yahoo!Messenger. Dalam obrolan itu, ia mengutarakan maksudnya untuk mencari sumber penjual sepatu olahraga palsu untuk dijual kembali dalam toko miliknya. Ia berencana menempatkan sepatu-sepatu palsu ini sejajar dengan sepatu-sepatu asli dengan merk yang sama, dibedakan hanya oleh satu hal: harga.

Bila saya beroperasi dengan cara yang sama dengan SERASA, saya akan melakukan screen capture rekaman pembicaraan tersebut, dan mengolok-olok cara menulis Coki yang menyebut sneakers sebagai snickers (fakta bahwa Coki adalah seorang pengusaha produk-produk sandang untuk konsumsi kelas menengah atas membuat kejadian ini semakin jenaka di mata saya). Namun saya bukan Regina, jadi saya tak dapat menyulap hal tersebut menjadi sesuatu yang lucu bagi Anda. Hal yang menarik perhatian saya di kejadian ini adalah ilusi merk dalam rencana operasi si Coki. Apa yang ia rencanakan pada dasarnya bukanlah sebuah penipuan, karena ia mengomunikasikan dengan jujur sebuah komoditi dengan nilai sesungguhnya, sesuai dengan akal sehat dan kebijaksanaan umum: barang asli pasti lebih mahal dari barang palsu. Tak usah dijelaskan lebih lanjut, dalam buku catatan saya, ia tentu bersalah atas tuduhan pembodohan massal. Pertanyaan saya kali ini lebih ditujukan kepada para pembelinya (bila memang ada): kalau sudah tahu palsu mengapa dibeli lalu dipakai juga? Kalau memang identitas itu dibangun oleh diri kita sendiri dalam bingkai budaya di mana kita turut ambil bagian, kalau kita selalu memiliki cermin khayalan di mana kita melihat diri kita sendiri membeli dan memakai suatu barang karena konotasinya, bukankah kita seharusnya malu membeli barang palsu? Atau apakah rasa malu itu bisa hilang bila barang yang sama kita beli di jalan Seminyak, Bali, dalam toko yang jendelanya tertata rapi serta dikelilingi bule-bule; bukan lagi di tengah sesaknya pengunjung ITC ibukota, dalam sebuah lapak cilik yang memiliki sebuah jendela pun tidak? Mungkin cermin khayalan kita itu harus diubah menjadi cermin asli yang bisa merekam semua perbuatan irasional tersebut. Di titik itu, kita berhak—dan seharusnya bisa—tertawa keras tanpa perasaan bersalah sedikitpun.

Di sinilah barang-barang yang dipotret SERASA memainkan perannya. Barang-barang bermerk Buberry (tanpa “r”) ataupun Guci (dengan satu “c”), tidak menyediakan ilusi yang saya sebutkan sebelumnya. Saya menyebut barang-barang ini barang-barang plesetan, bukan barang palsu. Plesetan lebih menyentil bila dibandingkan pemalsuan biasa (bootleg) di mata saya.[6] Regina bukan sekadar berbesar hati ketika menyebut kelakuan ini sebagai “kekreatifan terpendam di balik ketidakkreatifan.”[7] Hanyalah kreativitas yang dapat mengelak pembahasan hak cipta dan kekayaan intelektual secara penuh seperti ini, seakan-akan berkata, “Orisinalitas? Apa pentingnya? Kekayaan intelektual? Apa haknya?”. Lengkapi bayangan Anda dengan lidah yang menjulur keluar dari sang pelontar pertanyaan-pertanyaan tersebut. Teruntuk para penghuni kota, bukankah SERASA, lewat dokumentasi plesetannya yang mengejutkan dan tak terduga, menawarkan semesta di mana kita bisa rehat sejenak dari kehidupan sehari-hari yang penuh dengan iklan produk-produk yang direncanakan dan penuh kontrol? Dengan menyadari secara penuh bahwa produk-produk ini dapat kita anggap metafora dari titik-titik hasrat nyata yang tak dapat diramalkan oleh perencana kota manapun, kita bisa menggunakan kekuatan produk-produk ini untuk mengambil alih kekuatan pasar.[8] Siapa bilang kegaringan SERASA hanyalah hasil dari olok-olok belaka? Siapa yang menganggap objek-objek pilihan Regina ini sebagai sesuatu yang negatif dan tak perlu dicermati?

KEASLIAN, MEDIA, DAN KENYATAAN
Kembali ke SERASA, izinkan saya kali ini berbagi sebagian hasil berbincang dengan diri sendiri. Tertawalah bila perlu.

Pertanyaan pertama: di samping jarak yang saya miliki terhadap objek-objek lelucon SERASA, apa yang mendasari saya memberikan nilai lucu pada perbuatan SERASA (buat saya, kegaringan adalah sebuah bentuk lucu yang tersamar)? Suhu ruangan adalah jawaban yang bisa saya tawarkan di sini. Segenap pengalaman saya terhadap SERASA selalu berada dalam ruangan dengan suhu terkontrol. Saya tidak melihatnya sembari rebutan tempat dengan pejalan kaki, pengendara motor, dan pedagang kaki lima di atas trotoar; juga tidak sambil duduk di atas kursi plastik murahan pinggir jalan ataupun kursi keras nan sempit ala Metromini. Saya mengalaminya di depan layar komputer, di atas kursi kantor yang cukup nyaman (walaupun produk tiruan Cina atas rancangan seorang perancang legendaris Amerika berharga seperempat barang aslinya), atau sambil tidur leyeh-leyeh di kamar berpendingin udara yang tak kurang suatu apa. Jarak yang diberikan oleh kamera dan layar komputer, dalam menjalankan tugas mereka sebagai medium, mengubah arti sebuah rangsangan visual dari sesuatu yang mengesalkan dan dapat diukur dalam santuan metrik, menjadi sesuatu yang menghibur dan diukur dalam satuan piksel. Keaslian, yang Regina letakkan sebagai syarat pertama sebuah objek untuk lolos seleksi dan ditampilkan oleh SERASA, diartikan sebagai keaslian proses pengambilan foto sang fotografer, sebagai kontributor. Dengan kata lain, objek-objek yang ditampilkan SERASA bukan merupakan objek tak bersumber jelas yang ber-seliwer-an sebagai surat-surat elektronik terusan dalam kotak surat kita. Dalam pengertian ini, asli adalah sebuah konsep pengalaman, bukan konsep kebendaan.

Pertanyaan lanjutan dari keadaan ini adalah konteks. Mari kita ambil satu contoh di sini, post tertanggal 9 Mei 2009, berjudul “Ada Kontraksi Di Bawah” (Gambar 7). Peletakan keterangan, “Lokasi: Bandara Soekarno-Hatta Terminal 2F”, adalah posisi mereferensi pada keaslian pengalaman seperti telah dibahas sebelumnya. Keterangan kedua, “Tuduhan: Shhhhh… Jangan berisik ada yang mau melahirkan”, serta teks yang berbunyi, “Hadooohh…ini bikin malu aja deh. Di bandara gitu loh. Kan disana (sic) banyak bule-bule bertebaran”, memberikan objek olok-olok ini sebuah nilai dalam konteks tempat dan waktu bayangan. Lubang lain yang tidak dihadirkan secara langsung, namun berperan memberikan persepsi yang utuh terhadap objek tersebut, dapat diisi oleh subjektivitas Regina, sang editor, yang bertanggungjawab menghadirkan sesuatu yang lucu ke hadapan pembaca blognya. Apakah SERASA, selain bentuk kelakar sektoral kaum tertentu yang digelar di ruang yang lebih mudah diakses siapa saja kapan saja? Bila SERASA punya saya, kesempatan ini akan memungkinkan sebuah improvisasi yang tak terelakkan: “Lokasi: Gaya Galeri, Ubud, pameran eksperimen Stephan Sagmeister | Tuduhan: WOW, jenius sekali! | Caption: Untitled, Jakarta, 2009.” Saya memang lebih memilih memaksa pemirsa saya untuk berbesar hati dan menertawakan diri mereka sendiri, daripada bergabung bersama mereka untuk menertawakan golongan lain. Walaupun Regina bilang bahwa “menghakimi itu murahan’”, menurut saya penilaian itu selalu tergantung siapa hakim dan terdakwanya.

Media komunikasi adalah sorotan selanjutnya. Fakta bahwa sekarang saya lebih sering dan tulus berkomunikasi dengan orang-orang yang saya anggap penting—menggunakan SMS, surat elektronik, Messenger dan Skype—dibandingkan ketika saya masih dapat menghubungi mereka secara nyata ketika tinggal dalam satu kota, adalah sebuah pengakuan ketagihan yang menuntut media untuk berkomunikasi. Saya adalah jenis makhluk dengan kebutuhan yang sama dengan Regina. Kebutuhan komunikasi kami tidak lagi dipuaskan oleh jenis komunikasi analog. Dengan terus-menerus mengadaptasi teknologi media komunikasi, kami selalu berharap bahwa proses komunikasi yang lebih kaya, lebih dalam, dan merangsang pancaindra + simulating, akan terus terjadi. Tak ada jalan kembali, saya tak bisa lepas lagi. Menengok hubungan saya dengan SERASA, ternyata harus saya akui bahwa ketergantungan tersebut bahkan sudah menjangkiti saraf tawa saya. Saya butuh bantuan alat komunikasi bahkan untuk sekadar tertawa. Dalam taraf tertentu, saya invalid dalam segi humor.


PEMBUKA PINTU-PINTU KEMUNGKINAN

Tidak disadari secara penuh oleh Regina—karena kenaifannya dalam membuat blog ini yang hanya didasari keinginan untuk berbagi bahan canda—bahwa apa yang dilakukan SERASA dapat dipakai secara lebih kritis untuk menggugat keadaan konsumtif masyarakat, juga pandangan budaya kita tentang apa yang dianggap nyata. Dengan bakat humor yang sudah ditunjukkan, bukan tidak mungkin bila sudut pandang dunia yang diadopsi oleh SERASA dapat menjalankan fungsi kritik sosial, yang menurut Bob Mankoff, editor karikatur majalah The New Yorker, adalah “membalik struktur kekuatan dan menggarisbawahi kekuasaan masyarakat”, menjaga kita semua dalam batas kewarasan.[9]

Walaupun Regina sendiri menyatakan kalau ia tak pernah berharap SERASA menjadi sesuatu yang besar, banyak pintu kemungkinan yang dibuka oleh SERASA untuk para pemirsanya. Mungkin lewat pintu-pintu ini, janji akan sebuah zaman tanpa acuan, yang seharusnya menghilangkan segregasi kelas dan kasta, akhirnya dapat terpenuhi.[10] Kali ini, yang diperlukan hanyalah imajinasi.

Kalau diserahkan pada imajinasi saya, inilah runutan perkembangan SERASA:

[1] Jadikan SERASA dalam bentuk buku. Tunggu dulu, ternyata Regina sudah melakukannya.[11]
[2] Buat versi internasionalnya. Tunggu dulu, ternyata orang lain sudah melakukannya.
[12]
[3] Buat perayaan produk-produk plesetan. Luncurkan perusahaan buyer atau butik khusus plesetan, bahkan mungkin bikin iklan dengan Dian Sastro sebagai modelnya? Tunggu dulu, minus Dian Sastro dan beberapa hal rinci lainnya, ternyata hanya dengan mengetik frase “chanel fake clutch bag” ke jendela pencarian Google, terbukti hal ini pun sudah ada juga pelakunya!
[13]

Terakhir: akibat keputusasaan atas imajinasi yang terbatas, bagaimana kalau kita ekori saja ketiga usaha yang saya sebut di atas dan meraup keuntungan finansial dan popularitas darinya? Lucu: meniru kesuksesan usaha-usaha yang operasinya didasarkan pada proses peniruan, dengan kata lain multi-level simulation. Lebih lucu lagi: gabungkan dengan operasi dagang yang menjangkiti orang-orang sekitar kita beberapa tahun terakhir ini: multi-level marketing. Hasil akhir yang kita dapatkan: multi-level marketing of multi-level simulation.

Melihat kualitas lelucon saya barusan, ternyata sudah jelas bahwa, tidak seperti Regina, saya memang tak punya bakat melucu.

Phnom Penh, Juli 2009

FARID RAKUN. Lahir di Jakarta pada 1982, ia belajar arsitektur di Fakultas Teknik Universitas Indonesia pada 2000 - 2005. Setelah terjun ke industri konstruksi selama empat tahun dan menjadi tukang gambar di Bali, New Orleans, dan Phnom Penh, ia memutuskan untuk rehat. Selain menjadi redaktur Jurnal Karbon sejak Januari 2010, saat ini ia menjadi asisten dosen di almamaternya.




Gambar 1. Sepatu berlabel Bubbery (tanpa “r”)


Gambar 2. Burger Queen.


Gambar 3. Minuman botol berlabel Jeniper (Jeruk Nipis Peras)


Gambar 4. Kave Yayang.


Gambar 5. Supermarket yang memberikan hadiah lima bungkus Indomie untuk setiap pembelian Rp150,000.


Gambar 6. Papan petunjuk Kantor Pos yang terbalik.


Gambar 7. "Ada Kontraksi Di Bawah”.


Catatan kaki

[1] Lebih jauh, Steven M. Sultanoff, seorang peneliti humor, membagi jarak yang diperlukan untuk mengerti lelucon menjadi tiga: jarak nyata, jarak emosional, dan jarak waktu. Lihat: Steven M. Sultanoff, Levity Defies Gravity: Using Humor in Crisis Situations, 1995, http://www.aath.org/articles/art_sultanoff02.html (diakses 8 Mei 2009).
[2] Sebuah weblog yang menganggap keganjilan visual hidup sehari-hari itu lucu, http://serasasekali.blogspot.com.
[3] Tentang bagaimana menjadi lucu: “melepas ketegangan, mengedepankan ketidakpantasan pada sebuah situasi yang spesifik, dan menertawakan orang lain”, lihat: Marshall Brain, How Laughter Works, http://health.howstuffworks.com/laughter.htm (diakses 8 Mei 2009).
[4] Untuk pembagian jenis humor berdasarkan kedewasaannya tengok: Steven M. Sultanoff, What Is Humor, http://www.aath.org/articles/art_sultanoff01.html, di akses 2 Mei 2009.
[5] ‘[.. .] personal identity is an interpretation of culturally constructed notions of subjectivity.’
Heckman, Davin. Unraveling Identity: Watching the Posthuman Bildungsroman. http://www.ctheory.net/articles.aspx?id=594, di akses 8 Mei 2009.
[6] Berbicara tentang bootleg, ada sebuah usaha iklan PRADA menggunakan foto seorang bootlegger berkulit hitam sedang berjongkok dan menjajakan tumpukan barang dagangannya di sebuah pasar: tas-tas tiruan PRADA sendiri. Lihat: Rem Koolhaas, Content (London: Taschen, 2004).
[7] Semua kutipan pendapat Regina Kencana saya dapatkan dari obrolan lewat surat elektronik, tertanggal 6 Mei 2009.
[8] Penjelasan lebih lanjut tentang garis-garis hasrat tengok: Matthew Tiessen, Urban Meandhertals and the City of ‘Desire Lines’, http://www.ctheory.net/articles.aspx?id=583 (diakses 8 Mei 2009).
[9] Dikutip dalam Liz Alderman, "I’m Penniless, but the Laugh’s on Them", 28 Desember 2008, New York Times. Lihat: http://www.nytimes.com/2008/12/28/fashion/28lolfed.html?scp=24&sq=humor&... (diakses 8 Mei 2009).
[10] Sebagai konsekuensi dari keadaan di mana “dunia terlahir kembali sebagai perpanjangan fungsi diri dan lokasinya, bukan lagi suatu kenyataan yang objektif dan empiris.”. Aron Hsiao. Produce/Deduce/Simulate: The Electronic Display and the Age of the Hyperreal. Lihat: http://www.ctheory.net/articles.aspx?id=595 (diakses 8 Mei 2009).
[11] Regina Kencana, Kpleset! Gerundelan tentang Gaya Hidup. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009)
[12] Khusus untuk perbandingan lelucon-lelucon salah tulis dalam bahasa Inggris dalam kebudayaan Asia timur, tengok: http://www.engrish.com.
[13] Sebuah usaha brilian berbasis seni yang bermula dari tas rajutan, diberi nama The Counterfeit Crochet Project, yang menggabungkan kritik terhadap industri manufaktur, pembentukan imaji, dan kritik terhadap budaya konsumtif serta hak cipta. Lihat: http://www.counterfeitcrochet.org/ (diakses 23 Mei 2009).

Komentar

fd http://paydayloansdelawarenow.com/#zggx payday program
ke paydayloansnorthdakotanow.com legit payday advance

This will definitely be very useful for me when I get a chance to start my blog.

I actually knowledgeable learning it, you will be an outstanding author.

6n trustfromcanada.com Formerly operating any besides, it is necessary to explain what ED really is- http://trustfromcanada.com/catalog/Blood_Pressure/Avapro-free-shipping.htm#m7xg of all men. The virile ego does not add men to confess infirmity to anyone, [url=http://trustfromcanada.com/catalog/Blood_Pressure/Avapro-free-shipping.htm#kofa]Avapro from Canada[/url] i7ba1men
7y special offer buy Diovan online the reasons which take caused stiff relationships. It is defined as human beings's inability to earn satisfactorily erection to demand victorious erotic intercourse. If this complication is encountered http://trustfromcanada.com/catalog/Blood_Pressure/Diovan-free-shipping.htm#mkq1 Clomid Availability: Clomid is a indulgent of remedy which should be charmed without prescription and if it is prescribed beside the doctor you can buy Clomid from a handy store. There is one more choice at one's fingertips to go for Clomid that you can systematize Clomid [url=http://trustfromcanada.com/catalog/Blood_Pressure/Diovan-free-shipping.htm#l8qx]Diovan from Canada[/url] xy1oc2in
2y where to buy Benicar in canada Side effects Just like any other drugs, Clomid too has got side effects on users. On the other hand, most of the side effects of this antidepressant are totally temperate in particular people. This might be confusing but it has to be noted that disparate drugs have got assorted http://trustfromcanada.com/catalog/Blood_Pressure/Benicar-free-shipping.htm#h6j5 Viagra is a drug drug and the franchise of Viagra is owned by Pfizer who has developed the medicine after sustained explore and spending of millions of dollars over the year. [url=http://trustfromcanada.com/catalog/Blood_Pressure/Benicar-free-shipping.htm#5tie]is it safe to buy Benicar online[/url] 35ksrely
v8 Clonidine Trust From Canada abnormalities, fibrocystic breasts and persistent breast milk production. Without exception consult your doctor or posologist in the course of more information. http://trustfromcanada.com/catalog/Blood_Pressure/Clonidine-free-shipping.htm#uh92 being felt nigh those people who lift generic Viagra. This is not to be sure an indication of the effectiveness of the medication, but more of the restrictions on buying generic [url=http://trustfromcanada.com/catalog/Blood_Pressure/Clonidine-free-shipping.htm#dz3a]where to buy Clonidine in canada[/url] idrp7o2x
59 trustfromcanada.com are fully protected against any form of onslaught that impotency is ready to unleash on you. It would definitely make you dauntless and years your confidence open is boosted up stick out http://trustfromcanada.com/catalog/Blood_Pressure/Hydrochlorothiazide-free-shipping.htm#dlx8 reproduce of '18 till I die' has evolve into a goal in requital for practically all men in excess of forty distress from erectile dysfunction or ED. And why not so! This is the maturity when the hormones are on [url=http://trustfromcanada.com/catalog/Blood_Pressure/Hydrochlorothiazide-free-shipping.htm#3qfd]Hydrochlorothiazide Trust From Canada[/url] uapuslh4
f7 can you buy Furosemide without prescripition Eerectile dysfunction is a given such disorder which puts a human beings in a unshielded state and embarrasses him in bed. Propagative distillation makes compulsion worse for the benefit of a throw as well as his partner. http://trustfromcanada.com/catalog/Blood_Pressure/Furosemide-free-shipping.htm#7w7g patients compelling or considering irresistible these products should inform their health care professionals if they pull someone's leg in all cases had pitiless dying of dream, which energy display a quondam occurrence [url=http://trustfromcanada.com/catalog/Blood_Pressure/Furosemide-free-shipping.htm#4ubu]Furosemide free shipping[/url] fbtxscci

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.