FOKUS 1 | Maret 2007

-A A +A
Versi ramah cetakPDF version
FOKUS 7: Des 2010 - Des 2011
Di kota, semoga tak jemu, Odong-odong kian melaju
Rika Febriyani
24 Agustus 2011



“Andong, kereta kuda. Kalau yang ini, jadinya Odong-odong,” kata Kohar, seorang perakit Odong-odong di Prumpung Pedati, Jakarta Timur (Gambar 1.a – 1.e). [1] Diusung gerobak beroda dan digerakkan tenaga sepeda, Odong-odong dikenal sebagai wahana permainan keliling. Warga kota sudah tak asing dengan berbagai macam bentuk Odong-odong ini, yang menyediakan tempat duduk bergerak naik-turun seiring irama musik bagi anak-anak, dari yang berbentuk kuda-kudaan ala komidi putar sampai kincir seperti bianglala di Ancol, yang dikayuh ‘abang-abang’ keluar-masuk kampung.

Ternyata pada sebutan “Odong-odong”, ada jejak kata “andong”. Andong, kereta kuda masa lampau yang kini “eksotis”, agaknya tinggal sebagai bagian dari kenangan warga tentang situasi kota besar saat masih banyak dilalui kereta kuda itu, bebas dari riuh kendaraan bermotor dan padatnya bangunan. Kota juga semakin hari makin kehilangan ruang bermain, sampai setidaknya hadirlah odong-odong. “Dulu, di kampung namanya kuda-kudaan. Masyarakat Jakarta ‘aja yang ngasih nama Odong-odong,” kata Suhendra, juragan Odong-odong di Tegal Parang, Jakarta Selatan (Gambar 2).[2]



Melacak jejak
Empat sekawan di Gang Kabel, Johar Baru, Jakarta Pusat, memulai usaha Odong-odong sejak 2002. Mereka adalah Fahrudin, Nano, Ajit, dan Andi. “Odong-odong dibawa Fahrudin dari Sukabumi,” kata Andi (49), saat saya temui dia di kediamannya di Gang Kabel itu (Gambar 3.a & 3.b).[3]

Namun meskipun katanya dibawa dari Sukabumi, ada yang berkata bahwa asal Odong-odong bukan dari sana. “Odong-odong itu asalnya dari Madura. Ide seorang bapak yang ingin menghibur anaknya. Melihat si anak senang dengan mainan buatannya, kenapa nggak dijadikan usaha?” papar Rintis (25), seorang kawan ketika saya tanya tentang asal-usul Odong-odong. Ia sendiri adalah seorang sekretaris yang berkantor di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, dan seperti kebanyakan orang yang saya tanyai, Rintis membuktikan bahwa Odong-odong memang populer: wahana permainan itu bisa dibicarakan dengan siapa saja dan di mana saja di Jakarta ini. Jadi meski perempuan asal Situbondo ini tak ingat siapa bapak pencetus ide Odong-odong itu, dan sumber keterangannya, ia bersikeras bahwa Madura adalah tempat asal Odong-odong. “Tapi,” lanjutnya, “di Madura, namanya bukan Odong-odong."[4]

“Odong-odong memang asalnya dari kampung, bukan Jakarta,” tegas Suhendra, juragan Odong-odong di Tegal Parang yang asli Sukabumi itu. Sebelum ada di Jakarta, Odong-odong sudah ada di Sukabumi. “Orang Sukabumi bawa Odong-odong merantau ke Jakarta buat cari nafkah,” lanjutnya. Pernyataan Suhendra mempertegas keterangan Andi tentang asal-usul Odong-odong sampai ke Jakarta. “Odong-odong dibawa untuk dikembangkan di sini,” kisahnya. Maksudnya “Odong-odong dikembangkan” adalah selain diperbanyak, juga diperbaiki bentuknya dari versi Sukabumi tersebut. “Pertama dibawa ke sini, nggak ada alasnya. Ngeri, lihat ke bawah kuda-kudaan: langsung rantai sepeda. Nah, di sini, kita beri triplek buat alas di bawah kuda-kudaan, biar lebih cakep.” (Gambar 4).

Sukabumi memang kerap disebut sebagai asal para pegiat Odong-odong di Jakarta. Andi dan Fahrudin sendiri, juga dua rekan mereka Nano dan Ajit, berasal dari Sukabumi. Begitu pula Suhendra, serta Kohar—perakit Odong-odong yang bengkel miliknya di Prumpung Pedati itu berada tepat di depan halte Transjakarta. Berdasarkan kecenderungan ini, mungkin Odong-odong di Jakarta memang dipopulerkan orang-orang dari Sukabumi.

“Dulu, ada teman sekampung, namanya Tofa, kerjanya di Jakarta, setiap pulang kampung bawa duit banyak. Setelah ditanya-tanya, ternyata dia narik Odong-odong di Jakarta,” papar Suhendra tentang salah satu kawan di Sukabumi yang datang ke Jakarta menjadi tukang Odong-odong sejak 2005.

Walau demikian, masih belum pasti bahwa Odong-odong memang lahir di Sukabumi. Menuruti pernyataan Suhendra, “Odong-odong lebih dulu ada di Sukabumi daripada di Jakarta, tapi saya nggak tahu dari mana asalnya.” Bisa jadi, Odong-odong memang dari Madura atau daerah lainnya, namun belum tentu berarti ia menjadi populer di tangan mereka yang mencetuskan pertama kali.



Perihal kata
Saya mendengar istilah “Odong-odong” pertama kali pada sekitar 1996 sebagai sebutan untuk angkutan dari Bogor menuju Puncak. Tanpa nomor dan jurusan, maka untuk dikenali calon penumpangnya, angkutan ini hanya mengandalkan keterangan dari mulut supir dan kenek. Jenis kendaraan ini adalah mobil Colt, tak ada ruang berdiri, jadi posisi duduk mesti diakali: memangku satu kaki di paha dan menciutkan bokong. Angkutan ini baru berangkat hanya jika penumpang sudah mencapai kapasitas tempat duduk.

Suasana berjubelnya penumpang di angkutan, bukan cuma terjadi di kendaraan roda empat, namun juga kereta. Salah satunya adalah kereta api jurusan Karawang – Tanjung Priok, yang dalam catatan seorang penulis blog Desti, turut mendapat julukan Odong-odong. Namun apa alasan orang memberi julukan tersebut, masih belum jelas.[5]

Sekian tahun setelah istilah Odong-odong saya dengar pertama kali, di awal 2000-an kata “Odong-odong” yang saya dengar dalam keseharian saya di daerah Muncul punya arti lain. Muncul adalah wilayah pinggiran antara Parung (Bogor), Serpong (Tangerang), dan Jakarta. Istilah “Odong-odong” di situ adalah sebutan pengganti dari istilah “Dongdot” bagi pekerja seks komersial (PSK).

Kata “Odong-odong” juga melekati salah satu kesenian tradisional Jawa Barat di Subang. Ocid (24), seorang pramusaji kelahiran Bogor yang bekerja di Café Bar, Jakarta Pusat, menerangkan hal ini kepada saya. “Odong-odong” atau artinya “singa-singa’an”, semacam patung yang dibuat menyerupai singa, didesain bertopangkan pundak empat orang untuk diarak keliling. Seorang anak yang baru selesai disunat, didaulat menungganginya.[6]

Memang, saya tidak paham, kenapa kata “Odong-odong” bisa diperuntukkan bagi berbagai macam hal. Mulai dari Kereta api Tanjung Priok – Karawang, angkutan Bogor – Puncak, PSK di Muncul, kesenian tradisional di Subang, hingga gerobak permainan anak-anak yang kini beredar di keseharian masyarakat kota. Satu yang pasti adalah bahwa kata ini memang berasal dari Jawa Barat—karena Tanjung Priok, Karawang, Bogor, Puncak, dan Muncul, termasuk dalam wilayah itu—seperti juga asal kebanyakan pelaku usaha Odong-odong yang saya temui, yaitu dari Sukabumi.

Odong-odong di keseharian masyarakat saat ini, mungkin memang merujuk pada kesenian tradisional dari Subang. Dalam kesenian tradisional, Odong-odong berwujud singa-singaan untuk ditunggangi anak-anak. Sedangkan yang kini melaju keluar-masuk di ruang-ruang kota, berevolusi menjadi berbagai model—dengan tetap menyasar anak-anak sebagai penunggangnya. Odong-odong telah beranjak dari keberadaan yang khusus—ketika ada sunatan atau cuma untuk hajatan—menjadi rutinitas sehari-hari, walau bukan berarti tak istimewa.

Saya bisa saja menghubungkan konsep Odong-odong kini dengan berbagai hal yang terkait sebelumnya, tapi kemungkinan lain selalu ada. Bisa jadi ia memang pelesetan dari kata “andong”, dengan sekaligus merujuk konsep Odong-odong pada kesenian tradisional itu. Masyarakat Jakarta yang datang dari berbagai daerah, termasuk Jawa Barat—dan secara administratif Jakarta memang dikelilingi Jawa Barat—barangkali membuat kata “Odong-odong” tidak terlalu asing sehingga bisa saja kata itu melekat pada gerobak mainan ini.

Atau, mungkin saja ada kemungkinan lain lagi. “Saya sih dulu, nyebutnya ‘kuda-kudaan’.” tutur Suhendra tentang salah satu pengalamannya mengayuh Odong-odong. “Eh, tahu-tahu ada ibu-ibu bilang ke anaknya ‘itu ada Odong-odong’. Baru saya tahu, ini disebut Odong-odong.” Suhendra, yang saat itu mengayuh Odong-odong saja, tidak menyebutnya sebagai Odong-odong. Lantas darimana asal istilah “ibu-ibu misterius” itu?



Balada empat sekawan dari Gang Kabel
“Sebelum ada di mana-mana, Odong-odong memang dimulai dari Gang Kabel ini,” tegas Andi, perakit Odong-odong yang sebelumnya menjadi tukang gorden keliling. Usahanya merakit Odong-odong diawali bersama ketiga rekannya: Ajit, Nano, dan Fahrudin. Seperti yang sudah dituturkan Andi, adalah Fahrudin yang membawa Odong-odong model kuda-kudaan dari Sukabumi. Fahrudin lalu dibantu Ajit si tukang las, beserta Nano dan Andi sendiri. Merekalah empat sekawan di Gang Kabel, Johar Baru, Jakarta Pusat, yang melahirkan Odong-odong pertama di Jakarta pada 2002 (Gambar 5.a & 5.b).

Menyadari bahwa Odong-odong laris karena digemari anak-anak, Andi mengajak teman-temannya para tukang gorden keliling untuk menjadi pengayuh Odong-odong. Melalui Fahrudin—satu dari empat sekawan itu—yang sebelumnya menjual makanan keliling, Cilok, beberapa penjual Cilok pun beralih menjadi tukang kayuh Odong-odong. Adanya profesi tukang kayuh Odong-odong kemudian tersebar dari mulut ke mulut. Kabarnya lalu sampai ke bakal juragan Odong-odong Suhendra yang waktu itu mengikuti teman sekampungnya Tofa menjadi tukang kayuh Odong-odong di Jakarta.

Andi mengisahkan, pemesan pertama dari luar Jakarta atas Odong-odong rakitannya diperoleh dari kenalan Fahrudin di Lampung. Setelah itu, sambung-menyambung dari satu pembeli ke pembeli lain, Andi dan ketiga rekannya memiliki langganan di Medan, Palembang, Pekan Baru, juga Balikpapan. “Dari jualan Odong-odong, saya bisa naik pesawat terbang. Kalau tetap jadi tukang gorden, belum tentu sekarang tahu dalamnya pesawat,” katanya ketika menceritakan kesibukannya bolak-balik Sumatera – Jakarta mengurus penjualan Odong-odong beberapa tahun lalu. Sekali antar, setiap pesanan rata-rata bisa mencapai 10 unit Odong-odong.

Menyebarnya Odong-odong dari Jakarta ke berbagai daerah, juga diakui oleh Kohar, pemilik bengkel perakitan Odong-odong di depan halte Transjakarta Prumpung Pedati itu. Sesekali ia menerima pesanan dari Sumatera. Kirimannya yang terbanyak adalah 21 unit Odong-odong via kapal laut ke Bengkulu. Tentu, ada saja pesanan dari kota-kota di Jawa yang relatif dekat dari Jakarta seperti Bandung dan Semarang.

Karena banyaknya pesanan, Andi dan ketiga rekannya memutuskan mendirikan bengkel masing-masing. Sebab, “Pesanan nggak bisa dipenuhi kalau kita berempat masih ada di satu bengkel. Jadi setiap orang mesti bikin bengkel sendiri, masing-masing punya anak buah,” ujar Andi. Untuk menjaga persaingan sehat, dibuat perjanjian, “Ukuran gerobak Odong-odong dari setiap bengkel tidak boleh sama,” tegasnya. Tujuannya agar tidak saling menuduh siapa penjiplak dan siapa yang dijiplak. Itulah kenapa, lanjutnya, kalau kita memerhatikan Odong-odong dengan seksama, lebar dan panjang gerobak tidak selalu sama. Tapi Andi mengakui bahwa tak ada semacam ikatan bagi perakit Odong-odong yang ada sekarang untuk menyepakati perjanjian ini. “Dulu perjanjian itu hanya berlaku di antara kita berempat, nggak tahu sekarang."

Keadaan kini sudah berubah. “Tahun 2003 – 2005 itu banyak-banyaknya pesanan, satu hari minimal bikin satu Odong-odong. Tahun 2006 – 2007 masih lancar. Tahun 2008 sampai sekarang, nggak ada lagi pesanan dari Sumatera,” tutur Andi. Hal itu juga tak disangkal oleh Kohar, “Sekarang sudah banyak orang yang bisa bikin [Odong-odong].”

Tahun demi tahun, jumlah perakit Odong-odong berangsur meningkat. Menurut taksiran Andi, yang hampir satu dasawarsa menggeluti usaha ini sendiri, saat ini ada sekitar 20 bengkel perakitan Odong-odong di Jakarta. “Anak buah saya dulu, si Ali, sekarang buka bengkel Odong-odong sendiri di Kalideres.”

Untuk kota-kota di luar Jakarta, juga sudah ada bengkel setempat yang mampu merakit Odong-odong. Seperti langganan di Bandung yang berhenti memesan Odong-odong hasil rakitan Kohar. “Sudah ada yang bikin Odong-odong di Bandung, mungkin mereka sekarang beli di sana,” kata Kohar.

Di Jakarta sendiri, selain di Gang Kabel—yang dinobatkan Andi menjadi bengkel perakit Odong-odong pertama di Jakarta—calon pembeli kini bisa memilih Odong-odong dari bengkel di Prumpung Pedati milik Kohar, atau dari Kalideres, mungkin juga Rawa Sari, dan lainnya.



Ratu Odong-odong
Jalan Tanjung Selor, Jakarta Pusat, di arah yang menuju Tanah Abang, diapit oleh aliran air berwarna kehijauan di satu sisi dan deret pertokoan pada sisi lain. Jalan ini memang melintas di belakang pusat perbelanjaan ITC Roxy Mas yang tersohor itu. Menghadap sisi bertepi aliran air, ada jembatan-jembatan di setiap 300 meter yang menyeberangkan kita dari Jalan Tanjung Selor ke Kampung Bakti.

Kampung Bakti terdiri dari deretan rumah yang menampakkan wajah berbeda satu sama lain. Kayu, seng, asbes, juga batu bata, tersusun tak seragam menjadi bagian pelapis rumah. Pemandangan depan rumah-rumah ini adalah rel kereta api, sedangkan rumah-rumah lain yang menghadap aliran air kehijauan tadi jadi lanskap belakangnya. Antara rel kereta api dan rumah-rumah, terbentang jalan setapak kira-kira selebar dua langkah orang dewasa. Ada satu Odong-odong mangkal di jalan itu. Dan di siang hari, seperti biasanya, Odong-odong itu dikerumuni anak-anak dan para ibu (Gambar 6).

Odong-odong yang berbentuk kincir itu bisa jadi menyita lebar jalan. Tapi, siapa peduli pada ruang sempit di kampung ini? Ditemani para ibu yang duduk di sisi gang, anak-anak menikmati gerakan kincir si Odong-odong. Setiap terujar kata ”Permisi…” dari orang atau pengendara motor yang hendak lewat, ya, tinggal geser.

“Si bontot, kalaunggak ikut naik Odong-odong, bisa ngambek,” kata Elis (29), warga Kampung Bakti. Ibu dari tiga anak ini, menceritakan tingkah laku anak bungsunya yang belum genap satu tahun. Ia menunjuk salah satu tempat duduk pada Odong-odong kincir yang diisi dua anaknya, si bontot dan kakaknya yang juga masih balita.[7]

Sepanjang tiga putaran lagu selama dua-tiga menit dengan tarif Rp 1.000, tukang kayuh Odong-odong membuat anak-anak menikmati permainan. Pada Odong-odong berbentuk kincir ini, geraknya memutar ke atas-bawah layaknya kincir angin atau gerakan wahana permainan Bianglala di Dunia Fantasi. Lagu anak-anak yang mengiringi adalah yang berirama riang, seperti “Tukang Kayu”, “Menanam Jagung”, atau lagu daerah, misalnya “Anak Kambing Saya”.

Anak-anak itu memang senang sekali dengan Odong-odong, dan Kampung Bakti hanya satu dari banyak kawasan di Jakarta yang terlalu pelit bagi riangnya dunia anak-anak. Ibukota melulu diisi bangunan bertembok dengan pagar tinggi dan ruas-ruas jalan untuk kendaraan bermotor, sehingga anak-anak kehilangan ruang untuk berkejaran, meloncat-loncat, dan berbagai gerak khas mereka ketika bermain.

“Taman yang ada mainan anak, ya di komplek Lemigas,” kata Didik, Wakil Ketua RT 002/ RW 09, Kelurahan Tomang, Jakarta Barat. Tapi Yanto, Ketua RT, tidak menghitung taman itu—yang memang bukan bagian dari permukiman mereka di Jl. Tomang Tinggi, Gang 4C—sebagai ruang bermain anak-anak, “Di sini ‘dah nggak ada taman. Taman di [komplek] Lemigas juga nggak terawat. Lagian, taman itu kalau bisa ada di setiap RW,” tegas Yanto.[8]

Seperti Kampung Bakti, Kelurahan Tomang yang bisa ditempuh sekitar 15 menit berjalan kaki dari kawasan ITC Roxy Mas, juga mesti menghadapi kenyataan bahwa taman-taman sebagai ruang bermain tidak tersebar merata, begitupula banyak wilayah di Jakarta. Taman memang seharusnya ada di setiap RW atau minimal dalam setiap 2500 jiwa penduduk tersedia ruang terbuka hijau seluas 1.250 m2. Namun, Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan yang dirumuskan Badan Standar Nasional itu tiada terlaksana demi mencukupi kebutuhan warga.

“Taman sih ada di dekat sini. Tapi anak-anak ‘kan nggak mungkin main ke taman sendirian, ngelewatin jalan besar,” keluh Sarah (25), warga Kampung Bakti. Ibu yang memiliki balita ini lebih merasa aman jika anaknya bermain di sekitar rumah saja, walau kampung ini terletak berhadapan dengan jalur rel kereta api Grogol – Tanjung Priok.[9]

“Kalau nggak ada Odong-odong, biasanya anak-anak main di rumah, di gang ini, juga di tangga,” kata Elis, saat ditanya soal kebiasaan anak-anak Kampung Bakti bermain. Yang dimaksud tangga itu ada di seberang lintasan kereta api, di muka rumah-rumah Kampung Bakti. Tangga itu berundak menuju jalan di tepian Banjir Kanal Barat.

Dan, selain masalah terbatasnya lahan dan jauhnya jarak mencapai taman, ada soal tidak menariknya taman bagi anak-anak. Misalnya saja taman buatan pemerintah di sekitar Banjir Kanal Barat, yang berjarak sekitar 500 meter dari Kampung Bakti. Lahan seluas lapangan voli itu berisi beberapa permainan anak yang biasa ada di Taman Kanak-kanak: ayunan, panjat-panjatan, dan lainnya. Tapi rupanya, sepi saja di sore hari. Cat pada wahana permainan mengelupas, memperlihatkan warna besi keabuan yang kusam. Dan, walau jelas tertulis di papan nama, bahwa itu adalah taman, tak ada satu helai pun daun hijau yang meneduhkan suasana.

Terkait dengan kondisi ruang kota yang abai terhadap kebutuhan anak-anak, keberadaan Odong-odong yang tak menetap di suatu tempat, melainkan bergerak-berpindah dari satu tempat ke tempat lain, telah berkontribusi memecahkan persoalan antara minimnya ruang bermain dan padatnya permukiman di satu kawasan. Odong-odong tidak perlu lahan tetap untuk hadir di sekitar anak-anak yang memiliki hasrat bermain.

“Semua Odong-odong yang lewat pasti dinaikin sama Winda,” tutur Warni (30) tentang anaknya Winda (4). Kegemaran Winda memang sudah dikenal ibu-ibu lain di Kampung Bakti, “Lha, makanya dia dijulukin Ratu Odong-odong,” ujar seorang ibu.



Pembawa rejeki
Kegemaran anak-anak balita pada Odong-odong tidak membuat para orang tua merasa berat untuk merogoh kocek mereka. “Kadang-kadang sehari bisa habis Rp 5.000 buat bayar Odong-odong, kadang juga cuma Rp 1.000. Nggak tentu sih, tergantung anak-anak saja,” kata Elis yang ditemui saat menemani ketiga anaknya menanti giliran naik Odong-odong di Kampung Bakti.

Di lain kesempatan, Sutrisno (29), pengayuh Odong-odong yang biasa mangkal di Tanjung Duren Utara, Jakarta Barat, mengaku penghasilannya bisa naik dua kali lipat kalau anak-anak naik Odong-odong sambil disuapi. “Kalau nggak sambil nyuapin paling Rp 1.000 atau Rp 2.000, tapi kalau sambil disuapin bisa Rp 4.000.” Nilai Rp 4.000, berarti empat putaran, atau sekitar 12 menit. [10]

“Biasanya anak-anak suka susah makan. Jadi kalau ada Odong-odong, tinggal kita carter, deh, Rp 5.000. Anak naik Odong-odong sambil disuapin,” tegas Ami, ketika ditemui di Jl. Tomang Tinggi, Gang 15. Pada sore hari, perempuan berusia tigapuluhan ini memang kerap mengunjungi kerabatnya di penggal jalan ini. [11]

Ah, saya jadi ingat cerita ibu saya. Saat saya masih balita—kala belum ada Odong-odong—mau makan itu susahnya bukan main. Maka, sering saya diajak ke taman di Jl. Hang Lekir, Jakarta Selatan. Di sana, bukan cuma ada banyak mainan, tapi ragam kegiatan anak-anak usia SD. Ada latihan drum band, baris berbaris dan sandi ala Pramuka, permainan lompat tali, juga bulu tangkis. Aksi mereka, kata ibu, membuat saya asyik bermain dengan ikut-ikutan gerak-gerik kegiatan itu. Lalu, saya jadi tak hirau pada setiap suap yang dibawa sendok makan ke dalam mulut. Kalau tak begitu, saya lebih suka menghindari sendok makan, dan durasi menyuap seporsi makanan bisa melebihi tiga jam.

Berbagai kesulitan menghadapi anak-anak di keseharian, bahkan di luar susah makan, bisa jadi lebih mudah terselesaikan dengan kehadiran Odong-odong. Misalnya pada Winda si Ratu Odong-odong di Kampung Bakti. “Dia belum bisa tidur siang kalau belum naik Odong-odong,” kata Warni ibunya.

Tanpa taman, berikut kegiatan di dalamnya, yang tidak tersebar merata di Jakarta dan mungkin juga di kota-kota lain, agaknya orang tua selalu butuh fasilitas untuk mengasuh anak-anaknya yang masih balita. Dan, Odong-odong telah mengisi celah ini. Ketika taman tak terjangkau, ruang bermain tak tersedia, Odong-odong datang. Ia menghadirkan kemungkinan bagi anak-anak untuk menikmati aksi yang berbeda, dan tugas orang tua pun teringankan. Seperti kata Desi (25) yang bermukim di Tanjung Duren Utara 8, Gang 5, Jakarta Barat, “Ah, anak-anak sih senang ‘aja naik Odong-odong.” [12]

Alhasil, karena ruang bermain lain tak memadai, kegemaran anak-anak balita pada Odong-odong bermanfaat bagi orang tua dalam membujuk mereka untuk makan, tidur siang, dan lainnya. Hal itu juga berpengaruh bagi penghidupan usaha Odong-odong itu sendiri. 

Pada 2005, di Tegal Parang dan Duren Tiga, pada suatu kawasan permukiman yang terbilang padat penduduknya, penghasilan Suhendra semasa masih menjadi tukang kayuh Odong-odong bisa mencapai Rp 200 ribu per hari. Penghasilan ini bisa dikata tak beda dengan pegawai kantoran, sebab kalau dikalikan 25 hari kerja, pendapatannya menjadi Rp 5 juta per bulan. Besarnya pendapatan tukang kayuh Odong-odong, juga diakui Andi, perakit Odong-odong di Gang Kabel. “Awal 2000-an, tukang Odong-odong malah bisa dapat Rp 300 ribu setiap hari.”

Jam kerja tukang kayuh Odong-odong pun menyaingi jam kerja kantor, sekitar 8 - 9 jam, walau terbagi dua paruh waktu. Paruh pertama, pukul 07.00 hingga tengah hari, lalu dari pukul 15.00 sampai matahari terbenam. “Jam keliling tukang Odong-odong ngikutin waktu makan sama main anak-anak,” kata Suhendra. Hal yang sama juga dituturkan Nyai, penghuni Kampung Bakti sejak 1953, yang gemar menonton anak-anak naik Odong-odong, “Biasanya Odong-odong datang pagi sampai jam makan siang. Kalau nggak sore-sore, pas anak-anak main, ‘abis mandi sampai Maghrib.” [13]

Kini Suhendra telah menjadi juragan Odong-odong (Gambar 7). Kesehariannya ditopang dari setoran 14 Odong-odong sebesar Rp 20 ribu per unit atau Rp 280 ribu per hari. Sebagai juragan, Suhendra perlu menganggarkan biaya perawatan sekitar Rp 50 ribu untuk setiap Odong-odong per bulan, serta sewa rumah untuk tempat tinggal anak buahnya sebesar Rp 500 ribu per bulan. Dengan setoran per hari yang dikalikan 25 hari kerja, sejumlah Rp 7 juta per bulan, dipotong biaya-biaya lain sejumlah Rp 1,2 juta, penghasilan Suhendra masih melebihi Rp 5 juta per bulan. Dalam kurun 2005 – 2010, bersama 14 unit Odong-odong yang kini dimiliki Suhendra, telah terkumpul modal usaha sekitar Rp 70 juta—jika kita anggap bahwa satu Odong-odong dibeli seharga Rp 5 juta.

Semua itu bermula dari tukang kayuh Odong-odong, yang keliling keluar-masuk ruas-ruas jalan permukiman menggerakkan sebentuk wahana permainan untuk anak-anak. Bagaimana mungkin profesi ini tidak menarik minat banyak orang?

“Dulu, Odong-odong dirahasiakan cara bikinnya, biar nggak ada yang nyaingin, soalnya penghasilannya gede.” kata Suhendra. Tapi, ia tidak tahu kenapa Odong-odong yang dulu dirahasiakan kini merajalela. Kalau dulu hanya bisa dirakit beberapa orang saja, sekarang siapa pun bisa merakitnya.

Tapi kalau datangnya Odong-odong kerap mengundang kerumunan, seperti di Kampung Bakti, Kelurahan Tomang, juga di beberapa titik kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat, mestilah hal itu mengulik keingintahuan atas berapa jumlah rupiah yang dihasilkan. Laris manis.



Kreasi tak asal-asalan
Konsep awal Odong-odong bisa jadi tak beda dengan mainan kuda-kudaan yang kita kenal sejak dulu. Di atas kuda-kudaan, kita memijak pada kayu melengkung, yang jika ditunggangi akan bergoyang layaknya kursi goyang. Odong-odong di keseharian kita kini adalah mainan yang mengibaratkan anak menunggangi kuda. Hanya saja, jika dulu cukup dengan hentakan kaki kita sendiri di lantai, yang ini mengandalkan tenaga kayuh dari si tukang Odong-odong.

Ada sebanyak dua hingga empat kuda-kudaan dalam setiap unit Odong-odong. Ada model Odong-odong yang dioperasikan dalam keadaan berhenti lalu sang pengayuh menggerakkan kuda-kudaan yang telah ditunggangi anak-anak. Namun ada model Odong-odong yang bisa juga dioperasikan sembari melaju berkeliling area permukiman. Tapi kebanyakan Odong-odong dioperasikan dalam keadaan berhenti. “Takut anak-anak jatuh kalau sambil jalan-jalan,” kata Sutrisno (29), tukang kayuh Odong-odong model kuda-kudaan di Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Selain Odong-odong model kuda-kudaan, ada pula model lain seperti bebek, kucing, atau binatang lain, juga bentuk lain, seperti motor-motoran (Gambar 8.a – 8.d). Ragam model Odong-odong bisa jadi lahir dari kesadaran akan semakin banyaknya saingan. Bahan mainan model kuda-kudaan pun sudah beragam. “Kuda-kudaan adalah Odong-odong pertama,” jelas Andi. “Dulu bonekanya terbuat dari kayu, sekarang kebanyakan dibuat dari plastik dan yang paling baru dari bulu.” Yang dimaksud “dari bulu” adalah badan boneka berisi kapuk dan dilapisi bulu, mirip boneka-boneka anak di rumah-rumah. Apalagi maksudnya selain untuk semakin menarik hati anak-anak.

Para perakit Odong-odong terus membuat model lain. Model kuda-kudaan dengan gerak naik-turun dikembangkan menjadi model kincir yang geraknya memutar layaknya kincir angin (Gambar 9). Ada lagi yang mengambil bentuk kendaraan seperti bajaj (Gambar 10) dan helikopter. “Biar bervariasi, kita bikin model lain, kreatif ‘aja,” ucap Andi yang menamakan usaha Odong-odongnya “RIAS”, singkatan dari nama dua putranya: Rian dan Asep.

Akan tetapi, dari ragam model Odong-odong itu tersebutlah berbagai macam ukuran Odong-odong. Misalnya, model kuda-kudaan, selalu lebih lebar dibanding Odong-odong model kincir. Odong-odong Kuda-kudaan membariskan anak-anak pada posisi dua orang di depan dan dua orang di belakang. Sementara, Odong-odong Kincir membariskan anak pada posisi satu-satu, dengan letak di atas, di depan, di bawah, dan di belakang. Jadi, walau sama-sama berkapasitas untuk empat orang anak, lebar Odong-odong Kuda-kudaan diperuntukkan bagi dua orang anak, sedangkan Odong-odong Kincir hanya selebar satu orang anak.

Ragam model ini bukan tak mungkin terkait dengan ketersediaan ruang di berbagai corak permukiman Jakarta. Lebar Odong-odong Kuda-kudaan hampir mencapai 100 cm, sedangkan Odong-odong Kincir hanya sekitar 60 cm. Walau hanya beda 40 cm, tetapi sangat berpengaruh pada daya tampung di ruas-ruas jalan setapak. Odong-odong Kuda-kudaan bisa menyita ruas jalan setapak yang lebarnya hanya dua atau tiga langkah orang dewasa dan membuat lalu-lalang orang dan motor terganggu. Sedangkan Odong-odong Kincir dengan ukuran lebar lebih kecil, masih menyisakan ruang untuk hilir-mudik pengguna jalan setapak.

“Di sini nggak pernah ada Odong-odong yang model kuda-kudaan,” kata Warni. Walaupun Winda, anaknya, selalu menaiki setiap Odong-odong yang melintasi di Kampung Bakti, Odong-odong Kuda-kudaan yang paling lawas itu malah tak menampakkan diri, yang selalu lewat adalah Odong-odong Kincir seperti yang biasa dinaiki Winda setiap harinya.

Selain Odong-odong model kincir, Odong-odong model kapal-kapalan juga mendatangi Kampung Bakti. Sebenarnya lebar Odong-odong Kapal-kapalan ini juga seukuran dua orang anak, hanya saja lebih ringkas dari Odong-odong Kuda-kudaan. Tak ada lekuk-lekuk yang ada pada segala bentuk mainan seperti kuda-kudaan, bebek-bebekan, atau motor-motoran. Odong-odong Kapal-kapalan lebih hemat tempat dengan mempersempit lebar, tapi memperbanyak muatan dengan memperpanjang gerobak (Gambar 11). Jika kapasitas Odong-odong Kuda-kudaan adalah empat anak, maka Odong-odong Kapal-kapalan diperuntukkan bagi enam anak. Selain itu Odong-odong Kapal-kapalan juga tak perlu tangkai untuk pegangan anak-anak, seperti saat menunggangi Odong-odong Kuda-kudaan, sebab pegangan telah tersertakan pada tubuh kapal-kapalan. Tanpa bagian yang melekat pada Odong-odong Kuda-kudaan, Odong-odong Kapal-kapalan lebih menghemat kebutuhan ruang bagi keberadaannya seperti halnya Odong-odong Kincir. 

Dalam amatan saya, selain penghematan atas ruang itu, salah satu fungsi model kincir, kapal-kapalan, juga bajaj-bajajan, adalah untuk melindungi tubuh anak-anak. Di dalam model-model ini, dudukan anak disekat kayu atau besi yang meminimalisasi kemungkinan tubuh anak-anak bersinggungan dengan motor, gerobak, atau orang lain yang kebetulan berpapasan. Ide ini mungkin muncul saat berpapasan dengan pengguna jalan di gang-gang sempit, ketika tubuh anak-anak tidak terlindungi—seperti saat naik Odong-odong Kuda-kudaan—mereka bisa tergores motor, tersenggol gerobak, atau karena ketidaksengajaan lainnya.

Pada ruas jalan yang lebar, tak ada masalah bagi laju semua model Odong-odong. Tapi untuk melaju di gang-gang permukiman padat dan sempit, para perakit Odong-odong tak bisa sekadar ikut-ikutan. Dari model kuda-kudaan, terlahir model kincir, kapal-kapalan, bajaj-bajajan, dan lainnya, yang bukan tak mungkin punya alasan soal kapasitas ruang. Saya tak hendak membandingkan apakah Odong-odong Kuda-kudaan kalah kreatif dari yang model lain, tetapi soal bagaimana Odong-odong sebagai suatu kreasi melakukan adaptasi dengan kondisi ruang kota.

Apakah suatu permukiman cuma memiliki ruas jalan setapak, atau bisa dilalui mobil dari dua arah sekaligus, yang jelas Odong-odong harus meningkatkan daya saing di antara mereka. Menjadi perlu untuk bisa melaju di jalan setapak alias gang, sebab itu bagian dari ruang-ruang kota di Jakarta. Semakin luas daya jangkau Odong-odong, semakin besar kemungkinan penghasilan yang bisa diraih. Kreasi dan hidup-mati usaha Odong-odong, berhubungan dengan kesadaran akan kondisi ruang kota.

Selain itu, maraknya perkembangan Odong-odong mungkin tidak akan terjadi jika ada keinginan merahasiakan—seperti diceritakan Suhendra—dari si juragan Odong-odong. Malah karena tidak dirahasiakan, Odong-odong yang dipopulerkan orang-orang dari Sukabumi ini bisa berkembang, sebab ia lahir dari kondisi ruang kota yang dialami masing-masing pihak yang punya kebutuhan pada Odong-odong. Kreasi yang dilakukan, yang bukan dari satu pihak saja, membuat ragam kemunculan Odong-odong tak hanya bersaing dengan sesama mereka, tapi sekaligus memperkaya ragam permainan keliling, dan meluaskan manfaatnya bagi warga kota.

“Sebelum ada Odong-odong, mana ada mainan anak-anak keliling kampung?” tantang Andi. “Sekarang dari Odong-odong (model) kuda-kudaan, keluar semua tuh macam-macam mainan. Mulai dari kincir, kapal-kapalan, kereta-keretaan. Sekarang ada yang ditarik pakai motor, Odong-odong juga jadi angkutan anak-anak buat jalan-jalan.”



Uang pun mengalir
Untuk merakit Odong-odong perlu modal antara Rp 4 – 6 juta. “Modal tergantung dari modelnya. Model bajaj-bajajan, modalnya lebih banyak, sebab butuh lebih banyak besi dan triplek, dibandingkan model kuda-kudaan,” jelas Kohar saat ditemui di antara model Odong-odong bajaj, kincir, kuda-kudaan, dan helikopter yang tengah dirakitnya (Gambar 12). Khusus untuk model helikopter, ia mengaku sebagai yang mendesainnya pertama kali.

Namun menurut Andi, model bajaj-bajajan memang lebih mahal, tapi tak berpaut jauh. Hanya saja modal untuk model bajaj-bajajan dan kincir lebih banyak dihabiskan untuk beli besi, sedangkan kuda-kudaan untuk beli mainannya. Untuk model bajaj-bajajan, misalnya, diperlukan beberapa meter besi seharga Rp 2,1 juta. Jumlah ini akan berkurang pada Odong-odong model kuda-kudaan, sebab besi-besi itu diganti dengan mainan sebanyak 4 unit seharga total Rp 1 juta.

Untuk memperoleh mainan, Andi biasa memesan langsung dari pabrik rumahan di kawasan Kranji-Bekasi. Baik untuk boneka plastik maupun yang dilapisi bulu, juga untuk segala bentuk, seperti kuda-kudaan, bebek-bebekan, atau motor-motoran. Jika mengacu pada pernyataan Kohar—yang memilih membeli mainan dari Pasar Gembrong, Jakarta Timur—bahwa bengkelnya bisa merakit 7 unit Odong-odong dalam sebulan, maka sejumlah Rp 7 juta telah dialirkan ke produsen dan penjual mainan per bulan.

Perhitungan ini menjadi perlu, sebab Odong-odong mengalirkan uang dengan jumlah besar untuk bahan material. Selain besi, setiap unit Odong-odong memerlukan 2 lembar triplek seharga Rp 100 ribu, sekaleng cat seharga Rp 60 ribu dan Rp 16.500 untuk 11 baut. Jika ditambah pembelian besi, maka setiap Odong-odong bisa menganggarkan Rp 2.276.500 ke toko material. Kalau per bulan ada 7 unit Odong-odong yang  dirakit—mengacu pada jumlah produksi bengkel Kohar—maka sejumlah Rp 15.935.500 telah dialirkan ke toko material. Di antaranya, ke toko material Cahaya di Galur tempat Andi berbelanja, juga toko Sinar Baja di Prumpung langganan Kohar, dan lainnya.

Memang ada berapa bengkel Odong-odong di Jakarta? Menurut taksiran Andi, hingga saat ini hanya ada 20-an bengkel saja. Taruhlah 20 bengkel pas, dan itu berarti dengan belanja Rp 15.935.500 dari satu bengkel ke toko material, jumlah menjadi berlipat seharga Rp 318.710.000 dengan asumsi bahwa setiap bengkel memproduksi 7 unit Odong-odong per bulan.

Presentase terbesar dari rumus belanja keperluan material ini adalah: belanja untuk pegiat industri besi sejumlah Rp 294 juta, triplek sebanyak Rp 14 juta, cat sebesar Rp 8,4 juta, serta sekitar Rp 2 juta dialirkan kepada pelaku industri baut. Jumlah ini relatif rutin dialirkan setiap bulan, yang bisa jadi tak selalu bergantung pada turun-naik pesanan Odong-odong di setiap bengkel, melainkan pada keseluruhan hasil produksi bengkel perakitan Odong-odong di Jakarta.

Di luar usaha mainan dan material, Odong-odong menghidupi pengusaha onderdil sepeda, sebab setiap Odong-odong perlu 2 sadel, 2 rantai, dan 3 ban sepeda (Gambar 13 - 15). Semua perangkat itu diperoleh dengan harga sekitar Rp 1 juta. Walau tak bekerjasama merakit Odong-odong, tapi Andi mengaku kerap bertemu Kohar di toko yang penjualnya dipanggil “Si Encik”, di daerah Mencos, Paseban. Jadi, dengan 7 unit Odong-odong setiap bulan dari masing-masing bengkel milik Andi dan Kohar, toko itu mendapat pemasukan sebesar Rp 14 juta. Belum lagi kalau dikalikan dengan produksi dari 20 bengkel perakitan Odong-odong tadi, yang tentu jadi pemasukan besar bagi para pengusaha onderdil sepeda.

Pasar Poncol di Senen, sebagai pasar onderdil yang tersohor, turut andil dengan keberadaan Odong-odong. Setiap Odong-odong mesti menghabiskan sekitar Rp 700 ribu untuk membeli bearing (Gambar 16).[14] Ada pula kebutuhan atas aki untuk menghidupkan musik (Gambar 17 - 19). Biasanya yang dipilih adalah aki bekas seharga Rp 200 ribu, sedangkan harga pemutar musik dan pengeras suara berkisar Rp 450 ribu. Tak ketinggalan, busa dan karpet dengan harga Rp 100 ribu untuk alas dan bantalan duduk anak-anak serta pengayuh Odong-odong. Semua ini menunjukkan bahwa banyak usaha yang terhidupi karena adanya Odong-odong.

Sebagai catatan, harga bahan-bahan material mudah naik. Maka harga jual Odong-odong sebesar Rp 8 juta adalah harga tertinggi untuk saat ini dan bukan tak mungkin akan berubah enam bulan lagi. Jika Suhendra, juragan Odong-odong di Tegal Parang itu bisa membeli Odong-odong rata-rata seharga Rp 5 juta, itu bukan cuma karena ia membelinya sejak beberapa tahun lalu, tapi karena ia beli seken, seperti halnya Odong-0dong lain yang dibelinya. Odong-odong yang dijual di pasaran memang tak selalu baru, banyak juga yang bekas. “Kami terima jual Odong-odong bekas, nanti kita perbaiki, lalu dijual lagi,” ucap Kohar. Odong-odong bekas dihargai sekitar Rp 3 – 4 juta.



Menikmati kota
Bertenaga kayuh ala sepeda, Odong-odong memiliki keterbatasan menyangkut kondisi geografis. “Odong-odong nggak berkembang di Sukabumi karena permukaan jalan di sana naik-turun. Tukang Odong-odong susah kalau [menghadapi] tanjakan,” tutur Andi sambil menggerakkan tangannya seperti permukaan ombak laut, naik-turun meliuk-liuk. Itu juga, lanjutnya, kenapa Odong-odong kurang berkembang di Jagakarsa, Depok, atau Bogor, tapi sebaliknya bertebaran di Jakarta Barat dan Jakarta Utara, dan kawasan lain yang permukaannya cenderung datar.

Kondisi geografi juga yang tampaknya melahirkan Odong-odong bertenaga motor di Aceh dan Medan, selain karena ruang-ruang kotanya juga belum dilibat kemacetan seperti Jakarta. Di sana, Odong-odong digubah dari mobil bak terbuka produksi pertengahan 1990-an. Bagian belakang mobil diisi bangku-bangku berjajar, layaknya kereta di taman-taman ria, diberi atap berumbai-rumbai untuk meredakan terik. Tak ketinggalan, dipasang pemutar lagu agar hati penumpang semakin terhibur. Badan mobil dipoles bermotif dengan warna-warna menarik mata, seperti hijau, kuning, merah, dan lainnya.

Sejak setahun lalu, di Medan, Aceh, dan kota-kota lain, Odong-odong tak cuma membawa anak jungkat-jungkit naik-turun di tempat. Yang disebut Odong-odong kini bertambah luas daya jelajah dan daya tampungnya. Selain membawa anak-anak, ia juga memuat remaja dan para orang tua, berkeliling kota dengan durasi 30 menit. Tak ketinggalan, kini, di Jakarta juga ada Eman (35), pengemudi Odong-odong bertenaga motor. Diakuinya, Odong-odong motor yang dikemudikannya baru berusia enam bulan.

Odong-odong yang dikemudikan Eman dijalankan oleh sepeda motor merek Tiger. Bagian belakang motor mengait kuat bak besi, hampir seukuran bak dari mobil-mobil bak terbuka yang diberi dua roda. Di dalam bak dijejer tiga bangku beralas busa memanjang dari kiri ke kanan. Seluruh bagian Odong-odong ini dinaungi selembar fiber sebagai atap. Pada kemudi motor, fiber melengkung turun ke bawah, menjadi bagian depan Odong-odong, dengan tulisan “Odong-odong 2” (Gambar 20.a - e).

“Kalau yang pertama ‘kan pakai sepeda. Nah, yang pakai motor ini yang kedua,” kata Amel (39) menebak alasan pemberian seri Odong-odong itu. Amel adalah warga yang bermukim di Jalan Tomang Tinggi, Gang 15.[15] Hampir setiap sore, ia bersama Anisa, keponakannya yang masih balita, naik “Odong-odong 2”.

Eman, pengemudi “Odong-odong 2” itu, telah memilih rute yang seminimal mungkin tidak terlalu dipenuhi lalu-lalang kendaraan bermotor di Jakarta yang macet ini. Berbekal enam liter bensin per hari, Odong-odong ini berkeliling di kawasan Tanah Abang pada pagi hari dan ke kawasan Tomang Tinggi pada sore hari. Sekali berkeliling, “Odong-odong 2” bisa memuat empat orang dewasa dan sepuluh anak-anak. Tarif untuk satu kali keliling Rp 1.000 untuk anak, dan Rp 2.000 untuk dewasa.

“Odong-odong 2” milik Eman berputar dari kawasan permukiman Tomang Tinggi ke Jl. Tomang Raya, membelok ke ruas-ruas jalan permukiman di kelurahan Kota Bambu Utara, melintasi Jl. Rawa Kepa dan Jl. Kyai Tapa, lalu kembali melalui Jl. Tanjung Gedong. Dalam perjalanan selama 30 menit, jika orang tua sibuk menyuapi anak balita, anak-anak yang berusia 8 – 13 tahun asyik menyanyi dan berbincang, sambil menatap segala yang dilalui di jalan. Lagunya pun bukan lagu anak-anak seperti pada Odong-odong bertenaga sepeda, melainkan yang ngetop saat ini, seperti “C.I.N.T.A” (The Bagindas) atau “Cinta Satu Malam” (Melinda).

Nur Aini (8), salah seorang penumpang, senang naik “Odong-odong 2” itu. Katanya, “Enak naik “Odong-odong [2]” daripada Andong, muter-muter-nya jauh sampai ke Roxy, Bambu Utara, Tanah Abang.”[16] Memang belakangan Andong kian banyak mengisi ruas jalan permukiman seperti di Tomang Tinggi. Bukan untuk mengantar penumpang dari satu tujuan ke tujuan lain seperti ojek atau taksi atau layaknya sarana transportasi lain, melainkan mengantar anak-anak keliling area permukiman—hanya saja jarak tempuhnya tidak sejauh Odong-odong motor.

Kesenangan Nur Aini, warga Jl. Tomang Tinggi, Gang 4C ini, juga disepakati Piet, siswa kelas satu SMP 111, dan Maulisa (12) yang duduk di kelas 6 SD. Ah, ya, jangan lupa, anak-anak usia SD dan SMP sudah terlalu besar untuk naik Odong-odong sepeda. Sembari bermain, sudah tumbuh rasa penasaran untuk mulai menjajaki ruang di luar keseharian mereka.

Akan tetapi “Odong-odong 2” juga sekaligus menjadi sarana hiburan, seperti dikatakan Amel, “Kan asyik nyuapin anak sambil naik Odong-odong.” Amel selalu menyuapi keponakannya, Anisa, saat menumpang “Odong-odong 2”. “Sambil lihat-lihat jalanan, anak jadi gampang makan, kita juga senang. Coba kalau di rumah, anak susah makan, kita gampang teriak-teriak.”

Kebutuhan warga yang tidak dipenuhi oleh kondisi ruang kota telah mengembangkan Odong-odong dari tenaga sepeda kayuh ke mesin bermotor. Tapi bukan berarti Odong-odong sepeda jadi ketinggalan zaman, sebab ada soal apakah kondisi ruang kota lebih mengizinkan keberadaan Odong-odong motor daripada Odong-odong sepeda. Kalau di Tomang dan sekitarnya memungkinkan, bukan berarti demikian di kawasan lain yang lebih tinggi tingkat kepadatan lalu lintasnya—juga, apakah ruas jalan cukup memadai untuk ukuran Odong-odong motor seperti milik Eman?

Hal yang terang terjelaskan adalah bahwa apa yang disebut Odong-odong di keseharian masyarakat kini punya beragam fungsi. Dari memberi ruang bermain yang terjangkau dan memadai di sekitar permukiman warga kota, memberi fasilitas pada orang tua saat mengasuh anak-anak balita, sampai menawarkan alternatif ruang bermain sekaligus hiburan bagi orang tua dan anak-anak yang beranjak remaja.

Odong-odong pun menuai antusiasme warga kota. Di Medan, Odong-odong pernah didaulat menjadi kendaraan peresmian klub sepak bola, dan secara berkala juga di-carter rombongan TK sebagai kendaraan wisata (Gambar 21).[17] Odong-odong pernah dijadikan kendaraan operasional peserta Muktamar Muhammadiyah di Yogyakarta.[18] Antusiasme ini juga berlaku bagi Odong-odong motor yang dikemudikan Eman. Katanya, “Wah setiap hari mesti sudah ditunggu sama anak-anak dan orang tuanya.”[19] Pun, setiap hari minggu, warga bergantian men-carter Odong-odong motornya untuk berwisata ke Monumen Nasional dan Ancol.



Ke masa depan
Odong-odong ada dan bisa berkembang sebab ia mampu menjawab kebutuhan warga kota. Dengan tarif terjangkau dan perkembangan ragam modelnya, Odong-odong berjasa mengisi keseharian anak yang relatif jauh dari ruang bermain yang memadai, serta warga kota segala usia yang membutuhkan sarana rekreasi dan hiburan. Tak ayal, Odong-odong pun tumbuh jadi bagian keseharian masyarakat, juga dinamika kota. Walau demikian, bukan berarti Odong-odong sendiri telah lepas dari masalah.

“Sekarang banyak saingan, anak-anak [tukang kayuh Odong-odong] cuma dapat Rp 70 – 80 ribu sehari,” kata Suhendra tentang pendapatan tukang kayuh Odong-odong yang tak lagi mencapai Rp 200 ribu per hari seperti yang dialaminya dulu. Berkurangnya penghasilan ini juga diakui Sutrisno, walau ibu-ibu dan anak-anak di Tanjung Duren Utara selalu mengerumuni Odong-odongnya, “Paling banyak Rp 100 ribu, itu pun cuma hari Minggu ‘aja.” Sementara Edi seorang penjual ketoprak di Tanjung Duren Utara menceritakan bahwa tetangganya, “Parihin berhenti usaha Odong-odong. Katanya, narik Odong-odong susah dapat untung sekarang.”[20]

Tapi, setiap pegiat usaha Odong-odong yang bertahan, punya siasat sendiri. Misalnya, Kohar, ia memberi garansi beberapa bulan untuk setiap pembeli Odong-odong rakitannya. “Odong-odong bikinan saya dijamin lebih kuat, makanya [saya] berani kasih garansi.”  Sedangkan, siasat Suhendra tampak dari seluruh Odong-odong miliknya yang hanya berbentuk kuda-kudaan. Ia menyasar anak-anak yang susah makan. “Kalau kuda-kudaan, ibu atau pengasuh bisa berdiri langsung di samping anak.” Dan, kalau sudah kusam, bentuk mainan bisa diganti, dari kuda-kudaan jadi singa, atau lainnya, dari bahan plastik, bisa jadi bulu, dan nanti entah apalagi.

Terhadap Odong-odong dengan mesin kendaraan bermotor, ada pula persoalan dengankeselamatan penumpang. Laju Odong-odong Motor jadi lebih cepat daripada Odong-odong Sepeda, dan seperti kendaraan bermotor lainnya, ia jadi lebih berbahaya bagi pejalan kaki. Misalnya, musibah yang menimpa Haryanti, siswi SMP, yang tewas tergilas Odong-odong di Medan pada Februari 2011.[21] Di Aceh, dengan alasan mesin Odong-odong yang tidak sesuai standar keamanan, Odong-odong dilarang beroperasi oleh pemerintah daerah.[22] Ada lagi kekhawatiran menyerobot penumpang angkutan umum, seperti di Cirebon, hingga Odong-odong diprotes supir angkutan kota.[23] Tapi, selama Odong-odong mampu memenuhi kebutuhan warga, perkembangan selanjutnya bukan tak mungkin masih akan terjadi.

Melalui  ragam model yang dimiliki, Odong-odong telah menunjukkan kemampuan untuk bersaing demi bertahan hidup. Kemampuan ini, yang berpadu dengan kesadaran kondisi ruang-ruang kota, agaknya bisa menjadi bekal pelajaran untuk mengatasi masalah-masalahnya sendiri. Sehingga daripada kian menuai masalah, atau alih-alih menjadi jemu, warga tetap menanti kedatangannya.

Seperti suatu sore di Tegal Parang, Jakarta Selatan, membelakangi gedung Trans TV, sekelompok anak berlari kecil dan menyeru “Odong-odong… Odong-odong. Ada Odong-odong!” ***




Jakarta, Desember 2010 – Agustus 2011




Rika Febriyani lahir dan tinggal di Jakarta. Memelajari kota mulai dari jurusan Planologi pada salah satu perguruan tinggi, beberapa instansi pemerintah dan swasta, dan terutama dalam keseharian masyarakat. Sejak beberapa tahun ia mencoba fokus untuk menelaah makna elemen-elemen kota, seperti trotoar, toilet, toko buku, taman, halte bus, cemilan, dan sejenisnya. Catatan seputar ketertarikan ini, di antaranya termuat di www.rujak.org dan www.beritabandoeng.com. Sejak Agustus 2011, ia menjadi penulis tetap Karbonjournal.org.

 


 






Gambar 1.a-e. Kohar, perakit dan pemilik bengkel Odong-odong Rifky di bengkelnya di Prumpung Pedati, Jakarta Timur, 2011.


Gambar 2. Suhendra, seorang juragan Odong-odong di Jalan Tegal Parang, Gang BB, Jakarta Selatan, 2011.



Gambar 3.a-b. Pak Andi dan kediamannya di Gang Kabel, Johar Baru, Jakarta Pusat, saat diwawancarai oleh Rika Febriyani, 2011.


Gambar 4. Triplek sebagai alas di bawah kuda-kudaan, seperti yang dijelaskan oleh Suhendra sebagai salah satu "pengembangan" Odong-odong di Jakarta dari versi Sukabumi.



Gambar 5.a-b. Suasana Gang Kabel, Johar Baru, Jakarta Pusat, 2011.


Gambar 6. Odong-odong Kincir saat dikerumuni anak-anak dan orang tua di Banjir Kanal Barat, 2011.

Gambar 7. Odong-odong milik juragan Odong-odong Hendra di Jalan Tegal Parang, Gang BB, Jakarta Selatan, 2011.


Gambar 8.a. Odong-odong model kuda-kudaan dengan mobil-mobilan plastik.

Gambar 8.b. Odong-odong model kuda-kudaan dengan mainan campur: motor dan boneka plastik.

Gambar 8.c. Odong-odong model kuda-kudaan dengan dudukan boneka bulu.

Gambar 8.d. Odong-odong model kuda-kudaan dengan motor-motoran plastik.

Gambar 9. Odong-odong Kincir.

Gambar 10. Odong-odong Bajaj.

Gambar 11. Odong-odong Kapal-kapalan.


Gambar 12. Odong-odong Kohar dalam proses pembuatan di bengkel Rifky  di Prumpung Pedati, Jakarta Timur, 2011.

Gambar 13. Sadel dan kursi Odong-odong.

Gambar 14. Rantai Odong-odong.

Gambar 15. Ban Odong-odong.

Gambar 16. Bearing pada Odong-odong.

Gambar 17. Aki untuk menghidupkan alat musik pada Odong-odong.

Gambar 18. Detail sistem suara pada Odong-odong. 

Gambar 19. Perlengkapan musik Odong-odong beserta kasetnya.






Gambar 20.a-e. "Odong-Odong 2" dengan para penumpangnya di Tomang Tinggi, Jakarta Barat.

Gambar 21. Odong-odong wisata di Jakarta, serupa dengan model Odong-odong wisata di Medan.


Foto nomor 1, 3, 5, 8.d, 10, 12 - 18 oleh Farid Rakun
Foto nomor 2, 4, 6, 7, 8.a-8.c, 9, 11, 20, 21 oleh Rika Febriyani.



Catatan akhir
[1] Wawancara dengan Kohar di bengkelnya, Prumpung Pedati, Jakarta Timur, pada Februari dan Maret 2011.

[2] Wawancara dengan Suhendra, di kediamannya, Jalan Tegal Parang, gang BB, Jakarta Selatan, pada Maret dan Mei 2011.
[3] Wawancara dengan Andi, di kediamannya yang sekaligus menjadi pangkalan Odong-odong, di Gang Kabel, yang kini berganti nama menjadi menjadi Jalan Kebanggaan, Percetakan Negara, Jakarta Pusat, pada Maret, Mei, dan Juni 2011.
[4] Wawancara dengan Rintis di Kemang, Jakarta Selatan, pada Juni 2011.
[5] Desti Ratih Mayanti, “Odong-odong,” destiratihmayanti.blogspot.com, Jumat, 16 Oktober 2009. Tautan: http://destiratihmayanti.blogspot.com/2009/10/odong-odong.html
[6] Wawancara dengan Ocid, pramusaji Café Bar, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, pada Desember 2010. Keterangan serupa juga bisa ditemui pada situs Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, yang dikutip sebagai “Wisata Budaya Kesenian Sisingan” pada IANnews.com.
[7] Wawancara dengan Elis, warga Kampung Bakti, Cideng, Jakarta Barat, dilakukan pada Juni 2011.
[8] Wawancara dengan Yanto dan Didik, warga di Jalan Tomang Tinggi, Gang 4C, Tomang, Jakarta Barat, dilakukan pada Juni 2011.
[9] Wawancara dengan Sarah, warga Kampung Bakti, Cideng, Jakarta Barat, pada Juni 2011.
[10] Wawancara dengan Sutrisno, pengayuh Odong-odong, di Jalan Tanjung Duren Utara, Jakarta Barat, dilakukan pada Juni 2011.
[11] Wawancara dengan Ami, warga di Jalan Tomang Tinggi, Gang 15, Tomang, Jakarta Barat, pada Juni 2011.
[12] Wawancara dengan Desi, warga Tanjung Duren Utara, Jakarta Barat, pada Juni 2011.
[13] Wawancara dengan Nyai, warga Kampung Bakti, Cideng, Jakarta Barat, pada Juni 2011.
[14] Bearing adalah perangkat yang menghubungkan dua bagian, atau lebih, untuk melangsungkan gerak memutar dan berurutan.
 
[15] Wawancara dengan Amel, warga di Jalan Tomang Tinggi, Gang 15, Tomang, Jakarta Barat, pada Juni 2011.
[16] Wawancara dengan Nur Aini, Maulisa, dan Piet, saat menunggu “Odong-odong 2” di persimpangan Tomang Tinggi dan Tanjung Gedong, Jakarta Barat, pada Juni 2011.
[17] Adela Eka Putra Marza, "Launching Bintang Medan, Pemain Naik Odong-odong," Okezone.com, Kamis, 20 Januari 2011; dan Fuzi, "Toet... Minggir, Odong-odong Mau Lewat", Medantalk.com, 24 Mei 2010.
[18] “Odong-odong Manjakan Peserta Muktamar Muhammadiyah,” Tribunnews.com, 4 Juli 2010.
[19] Wawancara dengan Eman, pengemudi Odong-odong motor, dalam perjalanan di atas “Odong-odong 2” di  Jakarta Barat pada Juni 2011.
[20] Wawancara dengan Edi, penjual ketoprak, di Tanjung Duren Utara, Jakarta Barat, pada Mei 2011.
[21] “Siswa SMP tewas terlindas Odong-odong,” Tribunnews.com, 24 Februari 2011. 
[22] Gerakan Dukung Terus Odong-odong untuk Beroperasi.
[23] “Di Cirebon Angkot Protes Odong-odong,” KomisiKepolisianIndonesia.com, 31 Januari 2010, dengan sumber berita dari Ditlantas Polda Jabar. 
 

Komentar

Very informative post thanks for share this with us i highly appreciate you for this information thanks once again for sharing information like this!

describing everything on the topic of that....

It provide me new confidence & happy life which I never believe.

I thought this was a pretty interesting read when it comes to this topic

Really thankful of this amazing product. tips on male enhancement..for more about Igor..Our Contact Information

It provide me new confidence & happy life which I never believe.

It provide me new confidence & happy life which I never believe.

I never believe. Really thankful of this amazing product.dog fence wire stranded or solid

Melihat si anak senang dengan mainan buatannya, kenapa nggak dijadikan usaha?” papar Rintis (25), seorang kawan ketika saya tanya tentang asal-usul Odong-odong.

First of all I would like to say wonderful blog! I had a quick question which I'd like to ask if you don't mind. I was interested to find out how you center yourself and clear your thoughts before writing. I have had trouble clearing my mind in getting my thoughts out. I truly do take pleasure in writing but it just seems like the first 10 to 15 minutes are wasted simply just trying to figure out how to begin. Any recommendations or tips? Kudos!

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.