FOKUS 1 | Maret 2007

-A A +A
Versi ramah cetakPDF version
FOKUS 5 | Februari 2009
Doyok: potret kelas bawah Jakarta
Seno Gumira Ajidarma
05 Februari 2009


IA MENGENAKAN blangkon, dan celana tiga perempat yang tidak dimaksudkan sebagai modis, melainkan menuruti busana tradisional seperti kostum ketoprak humor. Benar juga ia suka melucu, tapi ia bukan sekadar pelawak. Ia muncul tiap hari di Lembergar. Apa itu? Lembaran Bergambar untuk Keluarga di harian Pos Kota, koran paling populer di Jakarta.

Kata populer dalam hal ini jangan dihubungkan dengan kata pop, meski yang belakangan ini berasal dari sana, karena yang dimaksud adalah “merakyat”, dan kerakyatan dalam hal ini terhubungkan dengan citra kampungan. Yang pop dan yang kampungan sama-sama disukai orang banyak, jadi sama-sama merakyat, tapi citra keduanya berseberangan: nge-pop itu tidak kampungan dan kampungan itu tidak nge-pop, dan meskipun dengan menjadi pop itu tidak berarti elitis, tapi tetap saja istilah kampungan terbawahkan oleh istilah pop. Rakyat selalu terandaikan kampungan dan tidak nge-pop, begitu juga Pos Kota, lengkap dengan Doyok, tokoh kita yang selalu mengenakan blangkon. Tapi, tentu saja Doyok sangat populer, yakni disukai rakyat, dan popularitasnya boleh diandaikan karena mengidentifikasikan suara rakyat.

Dalam khazanah cerita rakyat Jawa, bersama Bancak, Doyok adalah seorang punakawan yang berfungsi sama dengan Semar, Gareng, Petruk, Bagong dalam cerita wayang; Punta dan Jeruje dalam cerita panji; serta Sabdopalon dan Nayagenggong dalam cerita babad. Begitu populernya Doyok karya Keliek Siswoyo ini, sehingga namanya dicaplok Sudarmaji, pelawak yang lebih dikenal sebagai “Doyok”, meskipun tidak pernah memakai blangkon.

Nah, bukankah tiba-tiba Doyok menjadi sangat penting?

Terdapat beberapa strip komik (comic strip) dan komik satu panil (single panel) dalam Lembergar, namun apabila iklan mini Pos Kota yang merajalela itu menyerbu halaman Lembergar, hanyalah Doyok yang bisa dijamin muncul setiap hari. Sekadar bermain angka, dari buku Pos Kota: 30 Tahun Melayani Pembaca (2000), kita dapati angka 74,9 persen sebagai jumlah pembaca Pos Kota yang menjadi penggemar Doyok, dan itulah angka tertinggi. Mengingat bahwa tiras Pos Kota adalah 500.000-600.000 eksemplar, dan artinya merupakan koran dengan tiras terbesar di Jakarta, maka aspek popularitas Doyok ini bermakna penting sebagai indikator massa Jakarta yang beragam: Doyok itu mewakili rakyat.

Seperti apakah Doyok?

Meskipun muncul setiap hari, strip komik Doyok ini tidak bersambung. Komik strip Doyok merupakan fragmen yang selesai, meski topik pembicaraannya bisa dilanjutkan dari hari ke hari. Setiap hari, pada umumnya Doyok muncul untuk memberikan komentar tentang masalah sosial dan politik. Sebetulnya, nyaris sebagian besar masalah politik praktis, tapi yang sudah tersosialisasikan sebagai bahan perbincangan kelas bawah. Semacam perbincangan politik tanpa teori ilmu politik, melainkan dengan “ilmu-ilmu common sense” yang tidak terlalu logis juga, yang bisa dibayangkan akan bisa dikuping dari perbincangan di warung-warung kaki lima. Dengan kata lain, strip komik Doyok ini bukan fiksi, melainkan nonfiksi; bukan kartun tapi karikatur (dalam istilah bahasa Inggris, bukan funnies tapi cartoon); bukan cerita bergambar untuk perintang waktu, pelipur lara, atau sekadar hiburan. Doyok itu sungguh maunya serius, dan bagaimana keseriusan itu mendapat bentuk, ternyata sungguh-sungguh menarik.

Doyok nyaris selalu muncul dengan susunan empat atau lima panil. Panil pertama sangat ajaib, karena mewakili kesok-seriusannya. Doyok selalu muncul full shot, seluruh tubuhnya kelihatan, dengan gambar latar belakang yang seperti menunjukkan posisi rakyat yang ternyata selalu marjinal dalam perbincangan politik Indonesia. Dalam panil pertama ia akan mengucapkan satu kata yang menjadi topik perbincangan, disusul panil kedua dan ketiga yang merupakan uraiannya, disambung panil keempat yang merupakan pertanyaan pengumpan untuk memancing reaksi, dan diakhiri dengan komentar final. Sekadar contoh kita tengok edisi 23 Februari 2001 (Gambar 1).

Pola empat panil itu muncul dengan suatu variasi pada panil ketiga dan keempat, kadang yang pengumpan adalah Doyok, dan yang berkomentar adalah lawan bicaranya; kadang yang mengumpan adalah orang lain dan Doyok memberi komentar final. Dengan kata lain, Doyok selalu membutuhkan orang lain, mulai dari Jum, Dum, Mul, No, sampai dua anak kecil, Burik dan Gepeng. Panil terakhir sangatlah khas, karena komentator selalu sudah out frame, meninggalkan pendengar yang nyaris pula selalu menoleh kepada pembaca. Ekspresi wajah dan bahasa tubuh pendengar komentar yang selalu menoleh kepada pembaca ini, menurut saya merupakan pencapaian luar biasa Keliek Siswoyo, yang akan kita tengok lagi nanti.

Sekarang, kita akan memperhatikan panil pertama, yang juga istimewa, karena gaya Doyok yang sok serius itu (Gambar 2 : Tiga contoh Panil 1).

Panil pertama setidaknya mempunyai tiga aspek, yakni Doyok, latar belakang kota, dan kata yang diucapkannya. Doyok selalu terlihat secara utuh, dengan blangkon, surjan, dan celana tiga perempat, sekali lagi “celana ketoprak” dan bukan mode mutakhir. Artinya, sosok Doyok secara fisik adalah manusia Jawa tradisional, lebih spesifik lagi, melihat mondolan (“sendok terbalik”) pada blangkonnya, sosok Jawa-Yogya, yang menjadi kontras dengan latar belakangnya.

Latar belakang itu sangat tidak tradisional, memperlihatkan pemandangan khas urban Jakarta: ada rumah berpagar, ada gedung-gedung tinggi, ada mobil macet berderet-deret, dan ada pula tenda warung kaki lima. Kadang hanya rumah berpagar yang menjadi latar belakangnya, seperti di dalam gang, tapi tetap rumah kelas menengah yang mulus dan terlindung. Sangat sering Doyok hanya muncul sendirian untuk mengucapkan kata pertamanya, tetapi kalaupun ada orang lain menemaninya, terasa betapa hubungan antara manusia dan kota yang melatarbelakanginya sangat dingin. Doyok seperti berada di sebuah kota yang bisu.

Kontradiksi ini menarik, karena Jakarta yang sebenarnya, toh, hiruk-pikuk dan berdebu: apakah ini berarti bahwa Doyok mewakili rakyat yang teralienasi? Jakarta, yang boleh dibaca sebagai pusat ajang politik Indonesia, memang ramai, tetapi sibuk dengan dirinya sendiri. Kata rakyat adalah kata yang sering diucapkan dalam silat lidah para politisi, namun setidaknya rakyat sendiri tidak merasa diperhatikan. Doyok hidup dalam suatu atmosfer yang tidak peduli kepada rakyat. Doyok selalu berdiri di kaki lima, di pinggiran, dalam sebuah latar tanpa manusia. Kaki lima jelas mewakili kerakyatan Doyok, tetapi rakyat Jakarta adalah rakyat yang tidak peduli rakyat.

Kemudian, bagaimana kode-kode budaya Jawa pada busana Doyok harus dikomentari? Andaikanlah citra “Jawa” dianggap dominan dalam struktur kekuasaan, mengapa Doyok dalam kejawaannya tetap terpinggirkan? Tentu saja karena dalam struktur kekuasaan, ternyata—dan ini tesis Doyok yang penting—ikatan primordial tidak menentukan. Kekuasaan tetap tidak peduli penderitaan rakyat. Di sisi lain, kejawaannya juga menunjukkan posisi pembaca rakyat kelas bawah Jakarta, yang tidak bisa lagi dikatakan sebagai orang Betawi—kelas bawah Jakarta dipenuhsesaki pendatang dari Jawa. Jakarta adalah sebuah kota dengan budaya urban; para pendatang menyadari identitasnya di tempat asing, justru ketika mereka merasa kehilangan identitas itu. Dalam konteks pembaca Pos Kota, mereka adalah kaum pekerja kasar. Dengan segera kenyataan ini tecermin dalam cara berbahasa Doyok, berbusana Jawa tapi gaya bahasanya ala Jakarta. Maka terbacalah perbendaharaan kata seperti ogah (tidak mau), cing (sebutan untuk orang yang diajak bicara) sebagai idiom bahasa Jakarta, tapi tidak lupa terbaca pula toblasss! (minta ampun!) yang spesifik Jawa.

Adapun cara kata (kadang-kadang kalimat) pertama diucapkan juga istimewa: ekspresi wajahnya seperti sudah siap untuk tertawa. Kata pertama itu pun tidak sembarangan dipilih.

Pertama, ia harus mewakili masalah, yang bisa saja sebetulnya rumit; kedua, ia juga sudah bermakna ganda—bisa jadi berkonotasi sinis. Kata pertama itu memang tidak pernah terartikan hanya sebagai rangkuman, melainkan selalu sejak awal telah disasarkan kepada sesuatu yang lain. Perhatikan susunan berikut pada edisi 5 Mei 2001:


DOYOK
“Dingin.”
“Kapan suhu politik dingin?”
“Suhu politik yang terus panas terbukti tidak ada manfaatnya. Malahan justru jelas merugikan ya Mus?”

MUS
“Elit politik yang terus bikin suasana panas, sebaiknya dimasukkan ‘kulkas’ saja.”

Kata dingin di sana jelas sudah dipersiapkan untuk kemunculan kata kulkas. Barangkali sindiran, tapi pasti sindiran yang terlalu jelas, lebih sering teks merupakan serangan langsung, meski dengan nada tetap ironis. Seperti contoh berikut, dari edisi 11 Juni 2001:

DOYOK
“Ke luar negeri.”
“Lagi-lagi rame soal anggota DPRD DKI jalan-jalan ke luar negeri!”
“Meski banyak diprotes, tapi pada tetap ‘jalan-jalan’ ke luar negeri ya Jum?”

JUM
“Yang protes cuma rakyat... emangnya dipikirin?”

Satu contoh lagi akan menunjukkan, bagaimana rakyat bisa sarkastis. Dari edisi 3 Maret 2001:

DOYOK
“Dibelokkan!”
“Ditemukan bukti bahwa sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949 telah dengan sengaja dibelokkan oleh Soeharto...!!”
“Sejarah oleh Soeharto mau dibikin seenak jidatnya sendiri ‘ngkali?!”
“Puluhan tahun menindas, KKN dan membelokkan sejarah pula ...!!”

MUS
“Oalah ... To... Soeharto...Rusak amat luh jadi orang!!”

Sampai di sini kita tahu, dengan caranya sendiri, rakyat kelas bawah bisa berpikir dan pikiran itu sendiri, meski memang sederhana, sebetulnya masuk akal. Rakyat mempunyai harapan bahwa perubahan politik yang luar biasa akan mengubah nasib mereka dengan luar biasa pula. Namun, menyimak dunia Doyok selama tahun 2001 saja, akan terbukti bahwa nasib rakyat tidak berubah. Rakyat itu peduli dengan politik, merasa berkepentingan untuk mengetahui dan mengikuti perkembangan. Naif, sarkastis, tapi jujur. Kalau diperhatikan, tidak seorang pun dari rakyat yang diajak bicara Doyok itu berdasi, berbaju safari, atau apa pun yang bisa diandaikan mewakili kelas menengah misalnya. Artinya, dunia Doyok adalah suatu lingkaran-dalam (inner-circle) antara para pendukung kelas bawah.

Sepintas lalu, kalau hanya menilik kata-kata yang terkutip, maka seolah-olah terdapat komentar final terhadap suatu masalah. Seolah-olah ada komentar rakyat kelas bawah yang jelas dan tegas terhadap masalah-masalah aktual. Namun apabila panil terakhir itu dipandang secara utuh, maka terlihat bahwa pengucap komentar itu sudah out frame, meninggalkan pendengar komentar itu, yang selalu memandang pembaca dengan ekspresi yang tidak mudah dipastikan. Ekspresi pendengar komentar itulah yang menjadi masalah, karena ekspresi itu menampilkan begitu banyak penafsiran. Apakah ia setuju? Apakah ia tidak mengerti? Apakah ia bertanya kepada pembaca setuju atau tidak? Atau ia sekadar ingin pembaca juga mendengar apa yang didengarnya? Karena tidak ada yang pasti, itu berarti sebetulnya tidak ada opini yang utuh—komentar yang final dipertanyakan kembali kepada pembaca. Pun tidak bisa dipastikan, apakah ekspresi wajah yang begitu ajaib pada setiap panil terakhir itu adalah pertanyaan kepada pembaca.

Semakin diperhatikan, reaksi pendengar komentar pada panil terakhir ini semakin ajaib. Jelas, bahwa ia menoleh kepada pembaca berarti ia tidak bisa menelan komentar-komentar serba tegas itu sendirian. Jadi, ada sesuatu yang tidak bisa diterima, tidak bisa dimengerti, dan dipertanyakan. Pendengar itu, bisa Doyok bisa bukan, ingin melibatkan pembaca, siapa pun ia ke dalam dunianya. Dengan begitu, panil terakhir itu membuka lingkaran dalam kepada orang luar, tentunya dari kalangan mana pun. Pandangan pendengar kepada pembaca itu adalah suatu sapaan, untuk mencoba memahami dunia mereka. Apakah dunia itu tidak bisa mereka pahami sendiri? Rupa-rupanya, segala sesuatu yang serba tegas pada komentar, dipahami sebagai sesuatu yang absurd.

Perhatikanlah ekspresi para pendengar di panil-panil terakhir itu: mata terbuka lebar, bentuk mulut ditarik ke belakang, kadang dengan menjulurkan lidah pula. Bentuk mulut dan lidah yang seperti itu, kalau mau dicari padanannya dalam kehidupan sehari-hari, mungkin bisa dikalimatkan sebagai “Aduh! Celaka dong kalau begitu!” tapi dalam hal ekspresi kartun ini, saya tidak yakin maknanya berhenti di sana. Selain kalimat itu, masih bisa diujikan sejumlah variasi lain, seperti “Tuh kan?” atau “Nah!” atau juga “Lihatlah kenyataan itu!” Tapi tentu bukan hanya salah satu dari kalimat-kalimat itu, terutama karena nuansa yang ditimbulkan oleh ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan tanda-tanda gambar dari gerakan kepalanya, membuat maknanya jauh lebih kompleks.

Tentu ia melempar persoalan itu kepada pembaca, tetapi penting untuk menyidik: terhadap kesimpulan-kesimpulan yang beredar di kelas bawah, apa sebenarnya reaksi pendengar itu sendiri? Pengetahuan akan hal ini penting, karena berkemungkinan menampakkan suatu jalan pikiran—sebagai sesuatu yang vital dalam proses pengenalan. Dan barangkali mengejutkan untuk menyadari, bahwa reaksi pendengar itu begitu rupa kompleksnya, sehingga tidak terkalimatkan. Pertanyaannya sekarang, persoalan apakah kiranya yang begitu tak terjelaskan, sehingga suatu pengkalimatan tidak dianggap mungkin? (Gambar 3 : Tiga contoh Panil Akhir)

Dengan kata lain, di satu pihak terdapat komentar yang final, di pihak lain pernyataannya mengakibatkan reaksi yang tidak terkalimatkan: ada yang tidak beres dengan pernyataan-pernyataan itu. Tapi, kalau kita periksa, kalimat-kalimat yang dinyatakan pada panil terakhir itu beres-beres saja. Jadi, ada kemungkinan bahwa yang tampaknya begitu beres dan gampang sebagai kalimat, dalam kenyataannya adalah sesuatu yang mustahil. Kemustahilan inilah yang mengakibatkan reaksi dengan ekspresi wajah dan bahasa tubuh serba ajaib dari rakyat. Terbentur kepada kemustahilan, artinya rakyat tertempatkan dalam situasi absurd, yang juga berarti bahwa cara berpikir dalam dunia politik Indonesia bagi rakyat kecil adalah irasional.

Kita masih bisa terus bertanya: mengapa pemberi komentar pada panil terakhir itu selalu menghilang, dan meninggalkan pendengarnya dalam reaksi tak terkalimatkan? Pertama, barangkali ia merasa pernyataannya sudah final; tapi saya cenderung menafsirkan kemungkinan kedua, bahwa toh persoalan yang dia beri komentar itu tidak akan pernah terselesaikan.

Pertanyaan lain bisa diajukan kepada bahasa tubuh: kenapa mereka bereaksi seperti itu, dan apa arti bahasa tubuh seperti itu? Perhatikan lagi, kenapa mereka harus bereaksi seperti itu? Seperti ada zat cair melejit dari kepalanya, wajahnya terkejut-kejut, kadang sampai terlompat pula. Perhatikan pula tangannya: sering tertekuk-tekuk dengan aneh, kadang seperti menari, tapi lebih tepat membentuk gerakan mengejek. Kiranya mengejek siapa? Tak jelas, yang terkomentar atau yang berkomentar. Semua tanda itu tidak seperti menuju ke sebuah penjelasan final, dan barangkali tidak mungkin, karena memang berurusan dengan irasionalitas. Dengan menjadi irasional, tidak ada yang bisa dijelaskan lewat bahasa, karena bahasa menuntut logika yang runtut. Apa boleh buat, dunia ini memang ternyata tidak logis.

Ini berarti cara berpikir dalam dunia Doyok adalah cara berpikir yang kritis, karena hampir setiap utopianya dia gugurkan sendiri. Sarkastis tapi realistis. Bukan hanya membuktikan bahwa strip komik mampu mewadahi perbincangan politik dengan efektif, melainkan juga bahwa karikatur masyarakat berbentuk strip komik di Pos Kota itu adalah sesuatu yang berharga. Jauh lebih berharga dari setiap ejekan dan pelecehan yang ditujukan kepada Pos Kota, hanya karena merupakan “korannya tukang becak dan tukang sayur”. Justru sebaliknya, Pos Kota menjadi koran yang berharga karena lahir sebagai kebutuhan komunitasnya. Mereka tidak hanya peduli kepada pemerkosaan, pembunuhan, dan kisah cinta para pramuria, tapi memperbincangkan politik secara kritis, seperti terlihat dari popularitas tokoh strip komik Doyok.

Dialektika dalam cara berpikir Doyok, pada hemat saya, jauh lebih memikat ketimbang “analisis” para pengamat sosial politik karbitan, yang memanfaatkan media massa hanya sebagai anak tangga pendakian karier, dengan orientasi yang sama dengan seorang pesohor. Memiliki media adalah memiliki kekuasaan, karena kemampuannya melakukan dominasi pernyataan. Media yang canggih dan elit barangkali merasa memiliki kekuasaan karena telah mengemas berbagai pernyataan, tetapi fungsi sebuah media sebetulnya adalah lepasnya kekuasaan itu, untuk diserahkan kepada suara-suara komunitas yang melahirkannya. Hanya dengan begitu media menjadi media. Dalam strip komik Doyok, komentator selalu berganti-ganti. Kadang Doyok, yang kemudian ditinggal pergi; kadang pula entah siapa dari kaki lima, yang gantian ditinggalkan Doyok. Tidak terdapat dominasi pernyataan.

Bahwa Pos Kota didirikan oleh Harmoko, bagian tak terpisahkan dari Orde Baru, ternyata tidak mempengaruhi suara Doyok yang bermukim di Lembergar. Tentunya ada suatu cara untuk memisahkan fakta itu, dengan kerasnya suara Doyok di masa Reformasi, karena toh Doyok mendapatkan popularitasnya justru di masa Orde Baru, karena memang kritis. Ia tidak usah menunggu reformasi untuk menjadi kritis, karena kecenderungan kritisismenya yang memang moralis dan naif. Meskipun begitu, hal ini lebih baik ketimbang intelektualisme munafik para kritisi sosial politik karbitan, yang begitu pengecut di masa Orde Baru masih berkuasa, dan menjadi pahlawan kesiangan setelah Orde Baru jatuh. Ini juga suatu latar belakang yang membuat Doyok lebih bisa dihargai.

Menarik diperhatikan, bahwa Doyok kadang tampil seolah hanya untuk melucu, seperti pada edisi 12 Desember 2001, sebuah edisi di bulan puasa menjelang Lebaran, sehingga ia mengganti blangkonnya dengan peci, dan celana ketopraknya dengan sarung, meski tetap mengenakan surjan.

DOYOK
“Makanan!”
“Kata orang tua, membuang makanan itu tidak baik.”
“Pulang tarawih ke rumahku, kita makan gule...!!”

BURIK / GEPENG
“Asyiiik, makan gule... Kambing atau ayam, Mas?!”

DOYOK
“Gule pisang! Tadinya maksudku mau bikin kolak pisang, tapi keliru pakai bumbu gule...!!”

Tentulah masih bisa dipertanyakan dengan kritis, ini soal keliru bumbu atau ketidakmampuan beli daging? Di satu pihak, isu kelangkaan daging sering muncul menjelang Lebaran, di pihak lain masa krisis memungkinkan rakyat tidak mampu beli daging, termasuk pada hari Lebaran.

Perbincangan tentang Doyok ini memang bertaraf obrolan warung kopi saja, namun setidaknya saya tidak ragu menyimpulkan satu hal: mengenal strip komik Doyok karya Keliek Siswoyo di Lembaran BergambarPos Kota, adalah sahih sebagai bagian dari usaha mengenal rakyat Indonesia.

Jakarta, 2002

SENO GUMIRA AJIDARMA lahir di Boston, 19 Juni 1958. Ia adalah seorang sastrawan, fotografer dan kritikus film Indonesia. Cerita pendeknya Pelajaran Mengarang terpilih sebagai Cerita Pendek Terbaik Kompas 1993. Buku kumpulan cerita pendeknya antara lain: Manusia Kamar (1988), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (l994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (1996), Iblis Tidak Pernah Mati (1999), juga beberapa novel seperti Matinya Seorang Penari Telanjang (2000). Pada tahun 1987, ia mendapat Sea Write Award. Berkat cerita pendeknya Saksi Mata, ia memperoleh Dinny O’Hearn Prize for Literary, 1997. Pada 2005, ia mendapatkan Khatulistiwa Literary Award 2005. Kini ia tinggal di Jakarta dan mengajar matakuliah Kajian Media di FFTV-IKJ dan Kajian Sinema di Program Pascasarjana FIB UI.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di lembar Bentara harian Kompas pada 1 November 2002 dan diterbitkan kembali sebagai salah satu esai dalam Bentara: Esei-esei 2003 (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2003). Penerbitan kembali tulisan ini dilakukan atas izin penulis dan Penerbit Buku Kompas. Gambar koleksi dari Seno Gumira Ajidarma.


1. Fragmen utuh Doyok.


2. Tiga contoh panil pertama.


3. Tiga contoh panil akhir.

Komentar

Great delivery. Sound arguments. Keep up the amazing effort. ebook barato y bueno

this guide is a critical case, as well as the kind which could have badly affected my entire career if I had not..

Get The Girls Like You now! Why not start now to get all that you want from the opposite sex. Get the girl you like, or meet a new one! Why wait for someone you can't stand get her before you? For more info, visit my website

In case you are or will probably be breast-feeding whilst you use Pimples Treatment cream, test along with your physician. Keep Zits Therapy cream out of the reach of youngsters and away from pets.
Diabetes Miracle Cure: Dr. Robert Evans And Paul Carlyle Reveal A Weirdly Effective, Science-Backed "BAT Activation Technique" For Curing Diabetes Naturally In As Little As 3 Weeks... Written for consumers by a consumer, this fan site includes a fun and informative Diabetes Miracle review, ebook FAQ, and PDF download guide that provides an insider's look at the program and answers frequently asked questions about Dr. Robert Evans and Paul Carlyle's unique and highly popular diabetes treatment guide. Please click here site https://www.rebelmouse.com/diabetesmiraclecurereviews/ ... 

Installations, mods, seo. All major forum software covered, inc vbulletin xenforo phpbb mybb SMF wordpress Start your community forum today.

Discover the Secrets of Self Storage Investment Properties. Everything from How to Find Storage Options in your Area, to Tips for Picking the Right Storage Space, and our Guide to Choose the Perfect Storage.

Doyok selalu terlihat secara utuh, dengan blangkon, surjan, dan celana tiga perempat, sekali lagi “celana ketoprak” dan bukan mode mutakhir. 

I will post a link to this page on my blog. I am sure my visitors will find that very useful.I will post a link to this page on my blog. I am sure my visitors will find that very useful.

Meskipun muncul setiap hari, strip komik Doyok ini tidak bersambung. Komik strip Doyok merupakan fragmen yang selesai, meski topik pembicaraannya bisa dilanjutkan dari hari ke hari. Setiap hari, pada umumnya Doyok muncul untuk memberikan komentar tentang masalah sosial dan politik. Sebetulnya, nyaris sebagian besar masalah politik praktis, tapi yang sudah tersosialisasikan sebagai bahan perbincangan kelas bawah. Semacam perbincangan politik tanpa teori ilmu politik, melainkan dengan “ilmu-ilmu common sense” yang tidak terlalu logis juga, yang bisa dibayangkan akan bisa dikuping dari perbincangan di warung-warung kaki lima. Dengan kata lain, strip komik Doyok ini bukan fiksi, melainkan nonfiksi; bukan kartun tapi karikatur (dalam istilah bahasa Inggris, bukan funnies tapi cartoon); bukan cerita bergambar untuk perintang waktu, pelipur lara, atau sekadar hiburan. Doyok itu sungguh maunya serius, dan bagaimana keseriusan itu mendapat bentuk, ternyata sungguh-sungguh menarik.    

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.