FOKUS 1 | Maret 2007

-A A +A
Versi ramah cetakPDF version
FOKUS 6 | Agustus 2009
Horor + rumor made in televisi Indonesia = Humor
Veven Sp. Wardhana
02 Agustus 2009


MICK MALTIN, Marsha Porter, dan Leonard Maltin perlu bertandang ke Indonesia, terutama untuk menengok jagad persinemaan, lebih khusus lagi: sinema televisi—baik yang serial, seri, maupun film lepas yang sekali tayang langsung tamat. Mick dan Marsha menyusun buku tahunan Video Movie Guide (Ballantine Book, New York), sementara Leonard menyusun buku (juga tahunan) Leonard Maltin’s Television Movie and Video Guide (New American Library, New York). Dalam buku-buku itu, dengan sedikit perbedaan, mereka membagi-bagi kategorisasi film atau sinema yang terdiri dari: action (alias laga) atau adventure film, lalu children’s viewing alias film untuk anak-anak, komedi, dokumenter, drama, horor, musikal, misteri atawa suspens, fantasi atau science-fiction, western yang model-model film koboi itu, dan film berbahasa asing.

Dalam buku duo Mick-Marsha, juga Leonard, tak ada kategorisasi sinema reliji—satu hal yang ada dalam hampir seluruh tayangan televisi Indonesia-Raya, setidaknya macam itulah terminologi yang diusung para pengelola siaran televisi Indonesia. Kesimpulannya? Sangat bisa jadi, buku-buku Mick-Marsha dan Leonard kurang komplet. Itu kesimpulan pertama. Kesimpulan kedua: pengkategorisasian ala Indonesia itu terlalu mengada-ada. Maknanya: salah satu kesimpulan tersebut pasti tidak pada tempatnya. Mana yang benar, juga berarti: mana yang salah? Atau masyarakat Indonesia memiliki nuansa relijius ketimbang Amerika Serikat—kawasan bersemayamnya sinema Hollywood, yang menjadi isi utama buku-buku Mick, Marsha, Leonard?

RELIJI(US) ITU KOMEDI(K)
Macam mana pula tayangan yang dimaksudkan sinema reliji? Contoh terawal terdapat lewat layar Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), yakni seri Rahasia Ilahi dan Takdir Ilahi. Saya katakan terawal, tengah Maret 2005, karena di kemudian hari, tayangan ala TPI ini menjadi trend-setter atau kiblat bagi televisi-televisi lain dalam memproduksi dan memprogram sinema reliji atau relijius.

Rahasia Ilahi maupun Takdir Ilahi mempunyai pola kisah yang sama, yakni perihal berbagai hal yang menurut umum berada di luar nalar, misalnya: sesosok jenazah gagal dikebumikan karena liang lahatnya mengerut-mengecil dan/atau jenazah tersebut kian memanjang bahkan sejak dalam keranda; atau seorang penjudi terkubur hidup-hidup karena tubuhnya terserap ke dalam tanah; atau seseorang yang sudah dikuburkan namun masih menguarkan bau busuk kendati tanah sudah dikatupkan dan beruntai-untai bunga ditebarkan di atas pusara; atau seseorang yang sudah meninggal, kembali bangkit lantaran masih belum sempat melunasi berderet janji.

Stasiun lain, Surya Citra Televisi (SCTV), saban pekan, sejak 28 Maret 2005, menayangkan seri Astaghfirullah, yang diniatkan sebagai sinema relijius pula. Dengan juruskenario H. Misbach Yusa Biran dan sutradara kampiun Chaerul Umam, pola kisah Astaghfirullah juga sama dan sebangun dengan Takdir Ilahi dan Rahasia Ilahi.

Lantas, TPI, pada 31 Maret 2005, menayangkan salah satu episode seri Tuhan Ada di Mana-mana, yang berkisah perihal seorang penduduk yang perutnya terluka dan menebar bau busuk ke segenap kampung. Mantri kesehatan—sebagai representasi dunia kedokteran—tak mampu menyembuhkan luka itu. Luka yang membusuk dan sangat mengganggu masyarakat itu baru bisa diobati dan dinetralkan oleh dedaunan yang diramu dan didoai oleh seorang ustad. Bau busuk itu tidak sekadar lenyap, luka yang menyudet perut dan merambahkan berpuluh-puluh ulat itu bahkan kemudian mengatup rapat. Sembuh pula penyakit laku-lajak nan tak terpuji dari seseorang tadi, yang kemudian menjadi taat beribadah—sebagai bentuk tobat dia pada pelbagai hal yang dilarang Allah.

Jika disederhanakan, jalinan kisahnya adalah: kekuatan jahat akan segera sirna jika dilawan oleh kekuatan baik, sementara kekuatan baik itu digambarkan lewat sosok kiai, atau ustad, atau ulama yang menyitir ayat-ayat suci al-Quran. Dengan pola dramaturgi dan jalinan kisah macam ini, sesungguhnya kisah-kisah drakula, vampire, atau yang sejenisnya punya kesejajaran dengan sinema reliji made in Indonesia itu. Hanya saja, kekuatan baik dalam sinema Hollywood itu digambarkan melalui sosok pendeta atau pastur, atau—dalam sinema Hong Kong atau Mandarin—melalui sosok sinshe atau pendekar yang mampu merapal mantra. Pastur dan pendeta mempergunakan air suci yang sudah diberkati atau silang-salib sebagai medium kekuatan baik, sementara medium sinshe adalah rajah yang dirapal dan ditorehkan (biasanya dalam warna merah) di atas lembar-lembar kertas berwarna kuning. Van Helsing (Stephen Sommers, 2004), Dracula (Francis Ford Coppola, 1992), Dracula 2000 (Patrick Lussier, 2000), seri televisi Buffy the Vampire Slayer (Fran Rubel Kuzui, 1997), juga sinema Mandarin macam Mr. Vampire (Ricky Lau, 1998), Dating a Vampire (Clarence Fok Yiu-leung, 2006), dan Vampire Family (Eric Tsang Chi-wai, 1993) adalah sedikit contoh di antara berjibun judul-judul lainnya.

Jika masih mau menderetkannya lagi, beberapa judul bisa disebutkan, antara lain: The Omen (Richard Downer, 1976), The Exorcist (Willian Friedkin, 1973), The Exorcist II: The Heretic (John Boorman, 1977), termasuk berbagai versi lama Dracula (Tod Browning, 1931; Dan Curtis, 1973; John Badham, 1979).

Jika pola kisah dan pola dramaturginya sama dan sebangun, sementara pembedanya hanyalah pada sosok yang menjadi perantara kekuatan baik—yang Islam atau ustad atau kiai atau guru mengaji dianggap bergenre reliji, sementara yang pendeta, pastur, atau sinshe masuk genre horor—sungguh sangat naifnya pembedaan atau pengkategorisasian itu. Atau lantaran penyitir ayat-ayat suci itu asli-tulen-sejati ustad macam Uje alias Ustad Jeffry, Ustad Yusuf Mansur, selain Ustad Ilham Arifin yang menjadi pemeran cameo—sementara para pemuka agama dalam film Hollywood dan sinema Mandarin itu hanyalah sekadar aktor yang berseniperan sehingga bukan asli, lho ya… apa yang menjadikan versi Indonesia itu dinamai tayangan relijius? Hmmm…, ini bukan naif, melainkan, sekali lagi: lucu sangat!

Lantas, pertanyaannya adalah: adakah para pengusung istilah sinema reliji itu semata mengada-ada? Mengada-ada sebagaimana penciptaan istilah FTV (dari: film televisi) untuk tayangan sinema-televisi yang sekali tayang langsung usai selain untuk membedakannya dengan seri dan serial yang bersambungan itu—yang tampaknya akhirnya dimaksudkan untuk membedakannya dengan sinetron? Jika benar itu sebagai langkah mengada-ada—yang sebetulnya untuk memudahkan perubrikan dan ‘penyamaan bahasa’ antara pemasang iklan dan pengelola penyiaran televisi—bagi saya, itu sungguh menggelikan. Benar: menggelikan dalam arti bikin tertawa laiknya mata acara komedi atau humor yang memang diniatkan untuk memancing syaraf tawa. Menggelikan dalam makna yang sesungguhnya, bukan dalam arti sinis, meledek, ngeyèk, atau mengetawai.

Patokan hal-hal yang memancing syaraf tawa, bagi saya, adalah yang pernah dirumuskan oleh Teguh S, komandan kelompok pabrik tawa Srimulat. Katanya, sesuatu itu menjadi lucu karena adanya penjungkirbalikan logika. Contoh konkretnya: ada jongos menjadi majikan, yang memperlakukan majikan bak jongos—sementara penonton tahu relasi antarmajikan-jongos tersebut, sehingga metakomunikasi terbuhul dalam diri penonton yang menganggap ‘wajar’ akan adanya pembantu yang naik pangkat menjadi majikan, dan seterusnya.

Dalam sisi tertentu, kelucuan itu bahkan sangat tipis batasnya dengan sadisme. Contoh gamblang yang sangat klise adalah kita ketawa melihat seseorang kejeblos riol selokan yang menganga. Dalam logika (pementasan) Srimulat: penonton paham benar ada sosok Drakula yang berada di belakang jongos yang sok berani melawan iblis-setan-iprit—entah demi berlagak di depan babu yang dia taksir, atau di hadapan majikannya agar gajinya dinaikkan—sementara sang jongos sama sekali tak menyadari kehadiran sosok Drakula yang ready for use untuk mencekik leher sang jongos dan mencucup tengkuknya—dan penonton terbahak karenanya.

Ada sesuatu yang sama-sama diketahui (riol menganga, Drakula ready for use), namun tak diketahui sosok lain, sementara sosok lain itu dengan gaya petèntang-petèntèng menganggap sesuatu-yang-nyata-kita-tahu itu tidak ada. Bersejajar dengan para pengelola media siaran televisi: menganggap tak ada sinema horor, karena yang ada adalah sinema reliji, maka terus saja para pengelola itu melangkah pasti dengan terminologi sinema reliji; jadinya, ya menimbulkan ketawa. Lebih tegas dari sekadar menganggap tiada sinema horor yang patut disangga melainkan sinema reliji, adalah menganggap tiada otak dalam benak masyarakat atau konsumen atau pemirsa atau penonton, sehingga semau-maunya belaka para pengelola itu menyemburatkan berbagai istilah, seakan istilah itu hanya pantas ada setelah dilahirkan para pengelola siaran yang berkongsi dengan rumahproduksi yang berkolusi dengan pemasang iklan melalui biro iklan yang berkoalisi dengan penghitung pemeringkatan, semuanya tak hanya memancing syaraf bahak, melainkan juga berkesinambungan dengan subsyaraf airmata khusus untuk rasa geli hingga terpingkal-pingkal. (Catatan: ada subsyaraf airmata lainnya, yakni: untuk rasa sedih).

RUMOR ITU HUMOR
Selain murah senyum (yang tak berkait dengan kelucuan), bangsa Indonesia nyatanya juga murah—bahkan royal—menciptakan istilah. “Sinema relijius” adalah salah satu contoh konkretnya. Contoh lainnya: istilah “infotainmen”, yang dimaksudkan sebagai informasi perihal dunia entertainmen. Dunia hiburan. Padahal, dengan mengacu pada istilah edutainment, sebagai misal, yang berarti pendidikan dalam format nan menghibur, semestinyalah “infotainmen” itu dijabarkan sebagai: informasi dalam bentuk yang menghibur. Yang terjadi, dalam bukti di layar segenap televisi Indonesia adalah: tayangan infotainmen berisi informasi mengenai dunia penghibur, entertainer, dan lebih khusus lagi sas-sus (dari: desas-desus) perihal para penghibur itu. Misalnya: apakah komedian Tora Sudiro diam-diam sudah menikah lagi setelah resmi menduda; bukti-buktipun coba dikumpulkan, antara lain: makan siang bersama siapa, nonton konser menggandeng siapa, ke luar kota mana dan dalam saat yang sama perempuan mana yang pergi ke kota yang sama.

Atau: jangan-jangan Artika Sari Dewi sudah berpisah dengan Baim, suaminya; buktinya: Artika datang sendirian dalam acara pergelaran busana, tanpa disertai Baim, padahal Baim sedang tidak ada konser musik, juga tidak sedang sakit. Atau: Pasha Ungu, ternyata hendak menjalin asmara dengan Alyssa Subandono, yang datang saat kelompok Ungu pentas, dan Alyssa membawa serta seikat bunga persembahan untuk Pasha, yang baru menduda; sementara Rahma Azhari tak hanya tergetar oleh lagu kelompok musik Ungu, melainkan juga tergila-gila pada sosok Pasha. Dan seterusnya.

Artika berangkat ke pergelaran busana adalah fakta, juga dia datang tanpa dikawal Baim juga tak bisa dikabarkan sebaliknya, namun apakah maknanya sebatas: dia berpisah dengan suaminya? Tayangan infotainmen kurang membuka diri pada kemungkinan makna bahwa Artika dan Baim, masing-masing tenggelam dalam kesibukan, dan Baim memberi kepercayaan penuh pada istrinya untuk berkiprah tanpa harus dikawal dirinya sebagai suami. Sementara, Rahma memang berucap suka pada lagu dan sosok Pasha, dan itu dilontarkan sebagai pernyataan spontan, yang tak berarti kenyataannya dia menguber-uber Pasha. Namun, macam itulah pemaknaan ala infotainmen: banyak yang menggilai Pasha, termasuk Rahma!

Jabarannya, infotainmen tak hendak memilah dan memisah mana telor mana bebuahan (baca: mana rumor mana kenyataan) semata karena keduanya bisa sama-sama terkesan bulat!

Sudah salah bikin istilah, untuk memilah mana telor mana buah pun mereka ogah. Sudah begitu, mereka pun menyejajarkan info tentang dunia hiburan dan penghibur dengan info perihal figur publik, atau dikerenkan dalam bahasa Inggris: public figure. Padahal, figur publik adalah seseorang yang karena kewenangannya mampu merumuskan suatu kebijakan—tertulis atau tidak—yang bisa mengatur kehidupan masyarakat atau publik. Para pejabat, termasuk sebagai figur publik. Pemimpin informal, termasuk ulama, ustad, pastur, dan yang sederajatnya juga termasuk di dalamnya. Jika ada pengacara yang sekaligus punya peran ganda sebagai penghibur—atau sebaliknya: penghibur menjadi anggota dewan—maka yang melekat pada dirinya sebagai figur publik adalah posisi pengacara dan/atau anggota dewan itu. Posisi sebagai artis bukanlah sebagai figur publik atau sosok khalayak, melainkan sekadar pesohor atau orang kondang.

Sudah media salah menempatkan makna figur publik, eh… para pesohor inipun menyebut diri mereka sebagai public figure, seakan-akan para pesohor ini telah menciptakan sebuah kebijakan yang berakibat pada nasib publik. Adakah para pesohor atau artis atau selebritas ini narsistik? Tidak. Mereka sedang memainkan peran komedik. Sungguh bikin gemas sekaligus lucu.

Lantaran penyejajaran sekaligus pengidentikan pesohor dengan figur publik alias sosok khalayak inilah yang menjadikan para pekerja infotainmen merasa sah untuk membongkar apapun yang ada dalam diri para pesohor; tak sebatas membongkar isi dompet pesohor, tak sebatas mengudak-udak isi tas pesohor, bahkan apa yang dipersepsikan pengelola infotainmen pun ditempatkan sebagai fakta yang niscaya harus disosialisasikan atau diungkap ke hadapan publik, masyarakat, penduduk, khalayak. Itulah tampaknya inti ideologi kebebasan mengemukakan informasi; tak penting bahwa yang dibutuhkan publik adalah informasi faktual sosiologis yang bermanfaat bagi khalayak untuk merumuskan pendapatnya berkait dengan kehidupan sosial politik, bukan kehidupan personal psikologik, bukan informasi personal pesohor.

Informasi kehidupan personal pesohor sebatas memenuhi kebutuhan personal psikologik: kalau tak tahu informasi personal pesohor akan merasa ketinggalan bahan gunjingan atau rerumpian. Berbeda dibandingkan dengan informasi faktual para sosok khalayak, politikus, pengacara, pemimpin lembaga negara, fungsionaris partai politik, dan sebangsanya, publik butuh jejak-rekam mereka, termasuk di antaranya calon petinggi lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), misalnya, atau calon menteri, kandidat bupati, dan seterusnya agar kita percaya dan yakin bahwa akan benar-benar terwujud kepemerintahan yang bersih.

Hal itu sama dan sebangun dengan kebutuhan atas jejak-rekam para calon presiden dan calon wakil presiden—yang tak sebatas angka nominal kekayaannya (kalaupun dibutuhkan, ya: dari mana muasal kekayaan itu disusun dan ditumpuk)—agar kita tak salah pilih mencontrengnya lantaran mereka akan membawa bahtera kehidupan negeri ini sepanjang lima tahun ke depan, yang pasti akan diekori dampak pada tahun-tahun kemudiannya.

Namun, nasi sudah kadung jadi kerak, para pekerja infotainmen yakin benar bahwa pengungkapan skandal seks pesohor sama maknanya dengan pengungkapan skandal korupsi, kejahatan hak asasi manusia, dan sejenisnya, sehingga jika ada pesohor yang bungkam mulut ogah diwawancana perihal persoalan personal rumahtangganya, pesohor itu kontan disindir dengan julukan Miss No Comment—sebagaimana pernah disandangkan ke Dessy Ratnasari.

Dessy Ratnasari tak semata mendapat julukan—yang sama sekali tak diniatkan sebagai pelucuan—melainkan juga sikap antipati, resmi atau pun tak resmi: saat Dessy naik panggung atau podium, sorakan “huuu…” panjang sebagai ledekan didengungkan, yang dalam makna tertentu berarti sebagai sikap penjauhan Dessy dari pemberitaan. Macam itulah kelucuan media dan jurnalisnya: di satu sisi ingin bebas mendapatkan informasi demi pemenuhan hak publik atas informasi, di lain sisi mereka melakukan aksi sepihak menutup informasi tanpa bertanya lebih dulu perlu tidaknya publik atas penyetopan pemberitaan tersebut. Para jurnalis ingkar pada istilah yang mereka sandang sendiri jauh hari sebagai kuli-tinta. Kuli! Sebagai kuli, jurnalis—atau orang media umumnya—adalah jongos bagi publik yang mempunyai hak atas informasi. Jadinya, kebebasan media itu bukan sebagai sebatas keistimewaan yang begitu saja diberkahkan pada jurnalis dan orang media, melainkan sebagai keniscayaan bagi hak publik atas informasi yang benar itu. Bahwa sekarang tak lagi pakai fulpen atau bolpoin yang bertinta, melainkan pakai disket atau usb-flash—dan tak harus di-print out yang mempergunakan tinta—atau langsung pakai komputer via movie maker dan seperangkat teknologi informasi kiwari, tetap saja: jurnalis, presenter, dan pengelola media umumnya adalah kuli!

Tak berarti saya ingin menggariskan bahwa para insan media telah lupa asal muasal, alpa kacang akan kulitnya, lalai atas ideologi awal keberadaan media, namun saya justru ingin menandaskan bahwa mereka sedang melawak—mereka sadari atau tidak.

Memang, dunia hiburan gegap dengan kekocakan demi kekocakan. Sudah salah kaprah istilah, salah sikap mencampuradukkan informasi psikologis dengan sosiologis, sehingga bersambungan ke pencampuradukan figur publik yang memang bertanggungjawab pada publik dan figur yang sekadar sohor dan kondang di mata khalayak, masih pula membuhulkan kelucuan lewat penggunaan istilah investigasi, yang makna sejatinya adalah: pelacakan dan pengungkapan perihal sesuatu yang punya hubungan dan dampak dengan banyak khalayak, sementara sesuatu itu kerap disembunyikan.

Seorang artis yang memilih menghindar tak memberi keterangan perihal putusnya hubungan perkasihannya tentu tak terkategorikan sebagai langkah penyembunyian fakta, apalagi putus cinta itu lebih bersifat personal, yang tak bikin negeri bangkrut karena masyarakat tak tahu musabab putusnya tali cinta itu. Dalam tayangan infotainmen yang kerap dinyatakan investigatif adalah: pembahasan mengenai beberapa artis yang masing-masing mempunyai benang merah yang sama, misalnya sama-sama belum menikah, atau sama-sama putus nyambung percintaannya, atau sama-sama punya pasangan dari negeri non-Indonesia, atau cinta lokasi yang sama-sama dibawa ke luar lokasi hingga kini.

Naga-naganya, penggunaan istilah investigasi itu membuat gagah pengelolanya dibandingkan pemakaian istilah yang mungkin lebih tepat: indepth atau deep reporting, reportase mendalam yang tak sebatas infomasi selintasan alias high-light. Persis dengan lagak jongos dalam pentas Srimulat yang berlagu gagah bakal menumpas sosok Drakula, padahal Drakula-nya sendiri sudah ada di balik punggung mereka dan sangat siap untuk mengerkah jongos itu—dan kita ketawa cekikikan karena adegan itu.

Jika keberadaan sosok Drakula itu diibaratkan sebagai sebuah kebenaran, pengelola tayangan infotainmen yang mengklaim sebagai tayangan investigasi bisa diibaratkan sebagai jongos dan bedinde yang tak tahu adanya kebenaran yang bahkan sangat tidak jauh dari mereka—hanya lantaran mereka tak menggunakan mata dan hati dan kepekaan mereka, melainkan tengkuk dan pantat mereka. Tetap: kita terbahak ngakak karenanya.

Jangan-jangan, mereka pun tak gapak membedakan istilah dan jabaran investigative reporting dengan interpretative reporting. Ibarat jongos yang tak bisa membedakan bahwa di hadapannya adalah majikan asli yang dianggap sebagai sesama bedinde, atau ibarat bedinde yang gagal membedakan sosok Drakula yang sudah menghunus taringnya dengan sosok pemain wayang orang yang memerankan Buta Cakil, yang taringnya merupakan bagian dari topeng.

Dan perut pun terasa sakit saking kencangnya ditarik oleh syaraf tawa yang memingkal-mingkalkan itu.

Keterpingkal-pingkalan menyaksikan televisi Indonesia bukan sebatas dilantarankan penggunaan terminologi atau istilah yang salah kaprah atau disalahkaprahkan, melainkan juga saat menyaksikan isi tayangannya. Salah satunya: sinetron Cewek Badung (SCTV, Kamis, 9 April 2009, 10.00 wib). Dalam salahsatu adegan digambarkan ada seorang pemuda yang menunggu entah siapa di samping mobilnya yang tanpa kap penutup di pinggir jalan. Demi melihat ada seorang pemudi (ya: si cewek yang dikarakterisasikan badung) dikejar massa, si pemuda berniat menolong pemudi tersebut meloloskan diri dari kejaran massa. Ternyata, cewek itu diuber massa gara-gara kedapatan mencopet. Benar saja, begitu cewek itu turun dan meninggalkan pemuda yang menolongnya, si pemuda—ah, ya: si cowok—baru menyadari kalau dompetnya juga amblas disabet si cewek. Tahu di mana si cowok menaruh dompetnya? Jawabnya: di atas dashboard mobil. Mobil terbuka pula! Tak ada keterangan yang menjelaskan kenapa si cowok menggeletakkan dompetnya di dashboard. Tak ada penjelasan bahwa celananya tak berkantong.

Juga sama tak ada keterangan—apalagi keterangan yang meyakinkan—kenapa ketika di lain waktu si cowok hendak mencegat si cewek, dengan mobil yang sama, kunci mobil dibiarkan tercantel di tempat untuk menyetarter mesin mobil; padahal tak ada niatan si cowok untuk menjebak dan membiarkan si cewek mengembat mobilnya sebagaimana sebelumnya si cewek mengembat dompetnya. Gambaran bahwa perangai si cowok serba sembrono dan ceroboh pun tak digambarkan hingga seluruh jalinan kisah. Yang penting: setelah si cewek mencuri dompet dan mobil si cowok, si cowok pun kemudian tercuri hatinya. Sangat kocak.

Sangat kocak karena para pengelola siaran televisi dan para sineas alias para kreator mata tayangan itu menganggap bahwa benak masyarakat Indonesia masih bloon (kendati pengelola atau kreator itu lulusan sekolah di London) atau maunya serba gampangan dan remeh-temeh (sekalipun alumni sekolah tinggi di Utrecht) atau cara pikirnya masih mandeg, seret, dan mudah mampet (tak peduli menimba ilmu pengetahuan di perguruan tinggi di Massachussetts). Anggapan yang sangat simplistis itulah yang benar-benar menggelikan dalam makna yang sebenar-benarnya tanpa harus bersikap sinis.

IKLAN SUNGGUH SIALAN, TAPI KPI ADALAH KOMISI PEMBIARAN IKLAN
Pembloonan, penjungkirbalikan, pencampuradukan istilah, dan sebangsanya tadi, muaranya hanya satu: mendapat atau masuk dalam hitungan peringkat. Rating! Karena itu, alangkah menggelikan jika kita berharap, bahkan menuntut, agar televisi Indonesia itu mempercerdas bangsa; wong niyat ingsun awal didirikannya perusahaan media penyiaran itu adalah menampung dan menangguk ongkos pemasangan iklan yang angka nominalnya berpangkat miliaran itu. Biaya pemasangan iklan itulah yang menjadi ‘ibadah’ pemproduksian mata tayangan dan perancangan program itu—setelah tayangan iklan yang mewanti-wanti “teliti sebelum membeli” bagi “mana suka siaran niaga” diharamkan dari layar Televisi Republik Indonesia (TVRI), 1 April 1981.

Maknanya, perihal iklan itulah yang menjadi segenap musabab berbagai penyiaran televisi—termasuk yang ada dalam lingkarannya: rumahproduksi, para bintang, penghitung pemeringkatan, perusahaan periklanan, dan seterusnya—menjadi komedik seperti ini. Keberadaan masyarakat tak termasuk dalam kalkulasi, kecuali sekadar sebagai angka untuk diatasnamakan alias diklaim! Dengan demikian, logikanya, pengawasan terhadap langkah dan tingkah lembaga penyiaran itu harus juga senantiasa dikaitkan dengan laku bagaimana mereka menangguk pemasukan pemasangan iklan.

Selama ini, secara konvensional, penayangan iklan disediakan ruangnya sebagai penyelang-nyeling masing-masing acara dan di dalam acara itu sendiri. Undang-undang Penyiaran (persisnya: Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran) menjelaskan persentase iklan berapa, noniklan berapa. Yang tidak dijelaskan adalah bahwa iklan itu bisa nyelonong dengan berbagai cara di luar yang konvensional, di antaranya melalui backdrop, running text, sponshorship, dan lain-lain, termasuk “iklan siluman”.

Boro-boro membahas macam mana yang dianggap “iklan siluman”, bagaimana mengalkulasi backdrop, running text, dan sejenisnya itupun belum pernah saya dengar. Setidaknya, itulah yang saya tahu dari yang (tidak) dikerjakan pengawas resmi tingkah dan langkah lembaga penyiaran, yakni—sebagaimana diamanatkan undang-undang—Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Dalam sepanjang usianya, KPI yang berdiri pada 2004 itu sudah menerbitkan antara lain Peraturan KPI Nomor 02 Tahun 2007 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran dan Peraturan KPI Nomor 03 Tahun 2007 tentang Standar Program Siaran—diringkas menjadi Pedoman Perilaku Penyiaran/Standar Program Siaran (P3/SPS)—yang setahu saya juga tidak menyentuh persoalan pengomposisian iklan itu.

Ideologi undang-undang perihal pembagian persentase siaran iklan dan siaran noniklan, jelas, dimaksudkan agar lembaga penyiaran televisi tidak semata menjadi corong atau humas pemasang iklan. Yang lebih penting adalah: lantaran siaran televisi mempergunakan frekuensi di udara sementara frekuensi itu dijatah atau dikapling hanya untuk sejumlah lembaga penyiaran—tak semelimpah penerbitan media cetak yang distribusinya tanpa pembatasan—pengaturan persentase dan pengomposisian siaran iklan dimaksudkan untuk melindungi publik atas haknya agar informasi yang lebih banyak diterima tidak didominasi siaran iklan yang sudah dipastikan isinya adalah kecap nomor wahid.

Sekadar contoh, dalam siaran Dahsyat (RCTI, Kamis, 9 April 2009: 09.00), usai Olga Syahputra menyanyi, artis Luna Maya yang menjadi pembawa acara kemudian mengomentari bahwa suara Olga memang ekspresif, namun “tidak seekspresif XL Expressive untuk SMS”. XL adalah nama operator telepon seluler. Jelas, celetukan Luna Maya adalah iklan.

Sama dan sebangun dengan siaran Insert (Trans TV, Jumat, 10 April 2009: 11.00), yang membahas pemilihan calon anggota legislatif, pasangan artis, dan lainnya yang semuanya terhitung aktual; lantas menjelang akhir tayangan ada ‘berita’ yang terasa timeless, tak terikat waktu, mengenai bintang Teuku Wisnu yang begitu sibuk ke sana kemari, yang termungkinkan kejang otot; untuk itu, Teuku Wisnu mengatasinya dengan senantiasa membawa Cream Analgesic Stop X. Jelas, pola pemberitaan yang biasa disebut advertorial ini adalah iklan. Iklan yang dikesankan sebagai berita.

Kamis, 20 Mei 2009: 10.00, Trans TV menggelar tayangan Ceriwis. Menjelang akhir acara, mendadak presenter Vanda mengeluhkan perutnya yang melilit. Plotnya adalah: Vanda butuh obat sakit perut. Rubens, sesama presenter, mengeluarkan produk obat dimaksud: Polysilane. Entah, berapa menit dibutuhkan untuk adegan ini. Ditambah dengan iklan resmi konvensional, ditambah dengan running text atau teks berjalan, benar-benar tak menerabas batas persentase iklankah tayangan ‘propaganda’ itu?

Kata seorang pengelola pemasok tayangan infotainmen, pada hari-hari ini (dalam obrolan Mei 2009), hampir semua tayangan infotainmen menyiarkan ‘berita tapi iklan’ itu. Lucu, jika penonton tak menganggap itu sebagai iklan. Lebih lucu lagi jika pengelola siaran begitu yakin bahwa penonton akan menganggap tayangan itu bukan sebagai iklan. Dengan meminjam emoticon (yang tak bisa saya pindahkan dalam teks ini), visualisasinya tak sebatas gambar mulut senyum, atau gambar mulut tertawa hingga seluruh gigi kelihatan, melainkan gambar kepala yang kerowak bagian mulut saking terbahaknya itu ketawa ditambah seluruh badan bergulung-guling di lantai lantaran gagal menahan gelitikan syaraf geli.

Sama persis dengan tayangan Wisata Kuliner, yang menghadirkan Bondan Winarno: dia keluarkan dari saku bajunya selembar kemasan tablet untuk perut bermasalah. Bandingkan dengan iklan keju yang berkisah tentang anak-anak yang bosan pada makanan dengan salah satu bahannya keju, yang kemudian menghadirkan Bara Pattiradjawane seolah sebagai penyelamat kebuntuan rasa bosan anak-anak itu. Bara kemudian menawarkan resep makanan tertentu yang melibatkan keju dengan merk tertentu.

Jadi, apa bedanya Bara dengan Bondan? Bara jelas-jelas muncul dalam konstelasi iklan, sementara Bondan terkesan malu-malu beriklan—yang dalam kancah TVRI dulu disebut sebagai “iklan siluman”: ditengarai iklan tapi tak dianggap sebagai iklan lantaran TVRI haram beriklan; dianggap bukan iklan, padahal iklan; dianggap bukan iklan, karena tak ada pemasukan ke kas resmi TVRI, namun ada ongkos yang harus dibayarkan pada kreator yang butuh tambahan uang saku, sehingga tak dibutuhkan akuntabilitas.

Sekadar perbandingan dalam siaran media elektronika lainnya, yakni radio, dalam siaran Radio Gen FM, Jakarta (6 April 2009: 06.00), karena masih terasa suasana duka sehabis waduk Situgintung, Tangerang Selatan, ambrol dan menelan banyak jiwa, penyiar Ade bicara perihal tragedi itu, kira-kira: “Ada airmata untuk bencana Situgintung. Aimata…. Bicara airmata, sangat dekat dengan tisyu merk Tessa.”

Dalam hal iklan inkonvensional ini, terusterang, saya tak paham di mana posisi KPI: masih terus sibuk berebut kewenangan melawan Departemen Komunikasi dan Informatika dalam pemberian izin siaran, atau semata berkutat memelototi pelawak Tessy Kabul berkain bak perempuan yang menggandul-gandulkan balon tiup sebagai representasi sepasang payudaranya yang melesat dan meleset ke sana kemari, ditambah memasang tajam pendengaran bagi celetukan Tukul Arwana mengarah pada kekonyolan atau yang serempat-serempet pada sensualitas para tamunya yang ayu, jelita, dan seksi? Tak ada yang salah dengan pengawasan KPI atas isi mata tayangan, yang bisa terpastikan memunculkan debat, diskusi, dan kontroversi; namun abai pada berbagai bentuk iklan yang sesungguhnya jauh lebih mudah dirumuskan, saya kerap terpeleset memanjangkan KPI sebagai Komisi Pembiaran Iklan.

Mendengar jawaban bahwa KPI sangat kekurangan tenaga—sebagaimana selama ini mereka nyatakan untuk menjawab orang-orang yang mempertanyakan: kenapa yang ini diperingatkan, kenapa yang itu tidak padahal lebih dari yang diperingatkan—sunggguh-sungguh asli bikin syaraf geli terkili-kili.


HUMOR SEJATI ITU TUMOR

Jadi, jangan mencari tayangan khusus humor di televisi jika berniat terbahak. Dari mulai siaran hingga akhir siaran, semuanya merupakan ladang tak pernah kerontang tumbuhan yang memicu kita tertawa bahkan hingga tergugu-gugu.

Bagaimana dengan mata acara yang by design di-niyat ingsun-kan sebagai humor? Hmmm…, tahu tumor kan? Menahan diri untuk tidak ketawa padahal syaraf ketawa sudah tergelitik jauh lebih bagus ketimbang harus ketawa saat melihat sesuatu yang sama sekali sangat tidak lucu, atau gagal menjadi lucu. Syahdan, itu bisa menimbulkan penyakit tumor. Bagaimana bisa? Itu ada dalam tulisan lain. Maaf.


Jakarta, Juli 2009

VEVEN SP. WARDHANA kelahiran desa Turen, Malang (Selatan), kuliah di Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, wisuda pada 1984, dengan skripsi mengenai tradisi subkultur dalam sastra Indonesia modern; dengan konsultan Prof. Dr. Umar Kayam. Pada November 2004, ia mengundurkan diri sebagai pekerja di Kelompok Kompas-Gramedia (KKG), dan pada Desember 2005 bergabung sebagai senior advisor di lembaga pelaksana kementerian pemerintah Jerman, Deutsche Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit (GTZ) GmbH, program Good Governance in Population Administration (GG PAS). Beberapa bukunya yang sudah terbit, antara lain: Dari Barbar sampai Timor Timur: Mengeja Budaya Massa (2002), Televisi dan Prasangka Budaya Massa (2001), Kemelut PDI di Layar Televisi: Survei Jurnalisme Televisi Indonesia (1997), Kapitalisme Televisi dan Strategi Budaya Massa (1997), dan Budaya Massa dan Pergeseran Masyarakat (1995).















Cewek Badung (SCTV, Kamis, 9 April 2009, 10.00 wib). Foto © SCTV

Komentar

 Mana yang benar, juga berarti: mana yang salah? Atau masyarakat Indonesia memiliki nuansa relijius ketimbang Amerika Serikat—kawasan bersemayamnya sinema Hollywood

Great post full of useful tips! My site is fairly new and I am also having a hard time getting my readers to leave comments.

This blog is so nice to me. I will keep on coming here again and again. Visit my link as well..

You may comment on the download-ability of the blog. You could issue it's magnificent. Your blog grades might expand your supporters.

Mana yang benar, juga berarti: mana yang salah? Atau masyarakat Indonesia memiliki nuansa relijius ketimbang Amerika Serikat

Hmm is anyone else encountering problems with the pictures on this blog loading? I'm trying to figure out if its a problem on my end or if it's the blog. Any feedback would be greatly appreciated.
Interesting post. I Have Been wondering about this issue, so thanks for posting. Pretty cool post.It 's really very nice and Useful post.Thanks
hello!! Very interesting discussion glad that I came across such informative post. Keep up the good work friend. Glad to be part of your net community.
It's not my first time to pay a visit this web page, i am visiting this website dailly and obtain fastidious information from here everyday.

I think you will have any other post on this topic? I am also sending it to my friend to enjoy your working style. Cheers

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.