FOKUS 1 | Maret 2007

-A A +A
Versi ramah cetakPDF version
FOKUS 6 | Agustus 2009
Keluh-kasih jalanan Jakarta
Evi Mariani Sofian
05 Agustus 2009


JALANAN JAKARTA adalah satu-satunya tempat warga dari berbagai kelas mengalami interaksi nyata satu sama lain. Yang menjadi pemisah di sini bukanlah kelas, melainkan moda transportasi. Pejalan kaki ada di tingkat terendah, sementara bus-bus ngebut bersaing langsung dengan motor yang menyelang-nyelip untuk meraih gelar Raja Jalanan.

Di Jl. Wijaya di Kebayoran Baru yang makmur, pengemudi bajaj yang miskin-papa punya kesempatan yang sama dengan supir Honda CRV yang menyetir keluar dari kantor polisi Jakarta Selatan untuk nyaris menabrak pejalan kaki yang lalai.

Menurut saya, persamaan kelas seperti itu langka di Jakarta yang kian terpisah-pisah ini. Sekolah negeri, yang dulu merupakan tempat seorang anak dari keluarga di tingkat ekonomi rendah dapat membentuk persahabatan yang hangat dan setara dengan anak keluarga kaya, kini terbagi dalam suatu sistem kasta. Sekolah negeri rombeng mengajari anak-anak tukang cuci dan supir ojek setempat, sementara sekolah negeri teladan mengajari anak-anak kelas menengah atas. Sekolah swasta terbagi-bagi berdasarkan uang sekolahnya. Masa ketika sekolah-sekolah Katolik menerapkan subsidi silang telah lewat.

Ruang publik pun sama saja ceritanya. Ibukota ini punya Senayan City, Grand Indonesia, dan Mal Kelapa Gading untuk kelas menengah atas. Mereka yang berpenghasilan lebih rendah, silakan datang ke Pusat Grosir Cililitan, Klender Plaza, atau Blok M Mal. Sementara Ragunan, TMII, dan Monas senantiasa ramai oleh keluarga-keluarga yang datang dengan truk pick-up sewaan atau dengan bus Transjakarta, beberapa anggota kelas sosial yang lebih tinggi mungkin lebih memilih Taman Suropati atau Taman Menteng.

Ketika seorang warga Jakarta kaya bercakap-cakap akrab dengan seorang ibu tunggal beranak tiga yang harus meninggalkan keluarganya ratusan kilometer untuk mencari uang, kemungkinan besar percakapan itu terjadi antara majikan dan pembantunya. Sementara sang majikan dapat berpesta sesering mungkin di rumah, sang pembantu, tentu saja, tak bisa bertindak sebebas itu.

Tapi, di jalanan Jakarta, orang dari berbagai kelompok bercampur-baur dan semua punya kesempatan besar untuk terjebak dalam kemacetan lalulintas yang mengular, atau dijatuhi pohon tumbang. (Bukan, ini bukan tentang para pejabat pemerintah yang membelah Laut Lalulintas dengan kawalan motor, bagai Musa membelah Laut Merah. Mereka ada dalam strata yang berbeda dengan kita, warga baik-baik.)

Tapi, tak ada kasih di jalanan Jakarta. Kesempatan berinteraksi ini tak diteruskan menjadi hubungan yang hangat di antara sesama pengguna jalan.

Pengemudi mobil muak pada pengendara motor, pengendara motor benci supir angkot, sementara supir angkot gondok pada pengendara motor.[1]

Setiap orang di jalanan hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Orang-orang lain yang berbagi ruang yang sama semata orang asing. “Kami” dan “mereka” terjadi tiap hari di jalanan.

Kita bepergian setiap hari tanpa memikirkan orang lain. Kita berjalan lekas di trotoar Jl. Thamrin tanpa menatap petugas satpam di pintu masuk gedung-gedung. Kita mengemudi tanpa memperhatikan para penjual yang melambai-lambaikan peta Jakarta atau majalah FHM di kaca depan kita.

Meskipun begitu, di tengah segala ketidakpedulian ini, ada kisah-kisah positif yang menghangatkan hati di jalanan Jakarta.

Suatu hari, dalam perjalanan dengan taksi menuju suatu pusat perbelanjaan, seorang pengemis kecil mengetuk-ngetuk jendela taksi yang membawa saya dan teman saya. Teman saya memberinya Rp500, dan lelaki kecil itu pergi. Melihat kemurahhatian ini, tiga anak lagi datang, mengetuk-ngetuk kedua sisi mobil. Saya memberi Rp1.000 kepada dua peminta-minta kecil. Tinggallah satu anak, sementara kami tak lagi punya uang kecil. Ia terus mengetuk dan meminta, sambil memasang muka sedih. Mungkin karena frustrasi, teman saya membuat gerakan mengombak dengan tangan dan lengannya, seperti gerak breakdance. Sang pengemis kecil itu tak bisa menahan diri; ia tertawa riang, memamerkan gigi-giginya. Tiba-tiba, saya melihatnya. Ia seorang anak lelaki kecil, seorang manusia. Ia bukan lagi “mereka”, tapi “kami”. Kami bersama.

Ia berlari ke belakang mobil, menjauh dari panggungnya, jendela kami, semata-mata untuk kembali, lagi-lagi dengan memasang wajah sedih. Ia jadi pengemis lagi. Tapi, dalam saat yang sekejap itu, ia terlihat seperti seseorang yang ingin saya ajak bicara, dan saya bantu bila mampu.

Seorang teman lain punya kisah ini: Tangki bensin motornya kosong di tengah jalan suatu malam. Ia mendorong motornya sampai seorang pengendara motor lain berhenti menghampiri, menilai situasi, dan memutuskan berbagi bensin dengan teman saya itu. Lelaki baik hati ini mengail bensin dari tangkinya, menuangkannya ke dalam botol, dan kemudian memindahkannya ke tangki motor teman saya sampai ia punya cukup bensin untuk sampai ke pompa bensin terdekat. Teman saya berterimakasih dan berusaha membayar bensin yang ia peroleh dan segala usaha lelaki itu, karena ia pikir tak ada lagi yang gratis di Jakarta ini. Tapi, lelaki tersebut menolaknya. Alih-alih, ia berterimakasih kepada teman saya. Ini pendapatnya: Saya bersyukur karena Anda memberi saya kesempatan berbuat baik.

Itu sungguh meremukkan hati.

Pagi ini, saya melihat empat remaja kikuk membantu seorang buta menyeberang Slipi, salah satu perempatan tersibuk di kota ini, penuh dengan pengguna jalan tanpa ampun dan bus-bus umum yang abai. Begitu mereka sampai di sisi seberang, salah satu remaja itu berlari lagi ke sisi yang lain. Rupanya, ia menyeberang jalan hanya demi membantu sang tunanetra.

Rekan saya, Mariani Dewi, menulis kolom tentang kebaikan hati di jalanan Jakarta. Di antara kemurahhatian yang ia alami, ia menyebut betapa ia tak pernah ditolak ataupun diberi petunjuk ngawur bila ia bertanya soal arah. “Beberapa orang bahkan rela bersusah-payah untuk menunjukkan kepada saya arah yang tepat,” tulisnya.[2]

Ada pilihan untuk melihat segala sesuatu. Saya kian tertarik pada pilihan yang positif. Inilah cerita pendek tentang bagaimana memanfaatkan hidup kita sebaik-baiknya.

Suatu kali, saya menaiki mikrolet yang menunggu penumpang atau ngetem beberapa kali sepanjang perjalanan. Ia berhenti di perempatan dan mendapat satu penumpang baru. Saya jadi tak sabar, meskipun saya tahu apa yang bakal saya hadapi kalau naik angkot. Ia berhenti lagi di Pasar Palmerah. Detik demi detik berlalu, tapi tak ada yang naik. Tiba-tiba, salah satu penumpang berkata kepada sang supir: Tunggu sebentar. Si pengemudi agak terkejut, tapi tak bilang apa-apa. Penumpang itu, seorang ibu, turun dari angkot, menghampiri penjual ayam goreng di depan pasar, bertransaksi, memasukkan sebungkus ayam ke dalam tasnya, dan kembali menaiki mikrolet—semua berlangsung dalam semenit. Toh, si supir merengut dan langsung menekan gas begitu si ibu naik.

Tepuk tangan untuknya. Saya tak pernah memandang kebiasaan ngetem seperti itu; saya selalu diam-diam mengutuk sang supir. Tapi, kenapa tak memanfaatkan kebiasaan itu? Saat hidup memberimu jeruk, bikinlah jus jeruk; begitu kata pepatah. Kalau kau punya sistem transportasi umum yang berantakan, mengapa bersikeras menunggu bus di pemberhentian bus? Nyaman sekali punya supir yang bisa diminta berhenti tepat di depan toko buku.

Jelas, ada beberapa cara memandang segalanya, dan menurut saya cukuplah sudah dengan yang negatif.

Kesopanan dan kesantunan sederhana dapat dilihat sebagai sekadar basa-basi, tapi bisa juga lebih daripada itu. Suatu penelitian oleh Jennifer Lee, “Civility in the City” (Kesantunan di Kota), mengenai hubungan antara klien dan pedagang di Los Angeles dan Harlem setelah kerusuhan etnis awal 1990-an, menyebutkan bahwa kesantunan dapat mencegah pertikaian antara kelompok-kelompok yang bersaing. Seorang pedagang Korea, misalnya, mempekerjakan tetangganya yang berkulit hitam di tokonya, dan memperlakukannya dengan adil. Itu hal yang sehari-hari, sederhana, dan tidak besar. Tapi itu bisa jadi cukup.

Tahun lalu, warga Kampung Pulo di Jakarta Timur menendang para mahasiswa Sekolah Teologi Arastamar keluar kampung mereka. Mereka bilang, para mahasiswa itu mencuri dari mereka. Bahkan bila tuduhan itu benar, mengapa para warga begitu ribut soal sepasang sandal? Dari kejadian-kejadian berikutnya, serta dari komentar-komentar kedua pihak, tampaknya para mahasiswa dan warga tak pernah beramah-tamah bersama. Pertama-tama, ada kesenjangan budaya. Para mahasiswa kebanyakan dari Indonesia timur dan Kristen, sementara para warga itu Betawi dan Islam. Kesenjangan ini tak pernah terjembatani, sementara sesungguhnya kesantunan sederhana seperti membagi kue ke tetangga bisa mengatasi hal itu.

Bukannya saya bilang bahwa mudah saja tersenyum kepada seorang asing, terlebih lagi kepada pengemudi ojek liar yang menyalip Anda dari kiri. Tapi, kita perlu berusaha. Mengapa?

Para pedagang dan klien di Harlem dan Los Angeles melakukan hal itu karena kesantunan dan sikap positif dapat merawat bisnis dan kehidupan di lingkungan mereka. Konflik berkelanjutan merusak masyarakat, dan dengan demikian menyakiti setiap anggota masyarakat. Di sisi lain, kedamaian dan lingkungan yang bersahabat merupakan kondisi yang memungkinkan tercapainya kehidupan yang lebih baik.

Jadi, dari apa yang diamati oleh Jennifer Lee, para pedagang dan klien mereka di Harlem dan Los Angeles berupaya membuat kesantunan menjadi bagian dari keseharian mereka, alih-alih semata kemurahhatian acak.

Dalam kasus Jakarta, saya percaya bahwa sikap positif terhadap sesama di ruang publik seperti jalanan dapat membantu mendorong terciptanya kota yang lebih baik.

Kisah-kisah kecil saya merupakan bukti dari kemurahhatian dan kesantunan seperti itu. Tapi, apa yang terjadi di Jakarta lebih merupakan tindak kemurahhatian acak yang dilakukan oleh sembarang orang dermawan. Jadi, menurut saya, kebaikan hati di Jakarta belumlah suatu hal rutin seperti yang terjadi di Harlem dan Los Angeles. Para pedagang dan kliennya di LA dan Harlem memiliki alasan nyata untuk menjamin kesantunan; mereka perlu melakukannya untuk menjaga kelangsungan bisnis.

Apa yang bisa jadi alasan bagus bagi para pengguna jalan di Jakarta untuk bersikap baik dan santun terhadap satu sama lain? Tak ada jawaban mudah atas pertanyaan ini, karena, jujur saja, apa yang akan terjadi bila teman saya tak mendapatkan petunjuk jalan? Akankah Jakarta hancur? Mungkin tidak.

Tapi, menurut saya, Jakarta mungkin jadi tempat yang jauh lebih baik bila para pengguna jalan saling bersikap sopan dan bahkan baik hati terhadap sesama.

Tak pernahkah Anda mendengar teman Anda bercerita tentang kisah menyentuh yang terjadi di jalan, yang meriangkan harinya? Saya percaya kita semua setidaknya pernah mengalami kejadian menyentuh hati, sekurangnya sekali dalam hidup kita di Jakarta. Tidakkah hal itu membuat hidup kita jadi sedikit lebih baik?

Jadi, kenapa tidak kita bawa kasih ke jalanan? Mengapa kita tidak membentuk sikap positif di ruang publik? Mari kita jadikan kisah-kisah menyentuh hati itu sebagai keseharian kita, ketimbang semata kebetulan atau kejadian luarbiasa.

Bagaimanapun, jalanan adalah tempat—mungkin satu-satunya tempat—di mana Anda dapat berinteraksi dengan berbagai macam orang. Kenapa kita tidak berbagi kasih sayang ketimbang permusuhan?

Sementara jalanan bisa jadi satu-satunya tempat seorang anak kaya menabrak pejalan kaki papa, ia juga bisa jadi tempat seorang pebisnis mapan tersenyum pada petugas parkir miskin dan memberinya upah karena mencarikannya tempat parkir yang nyaman.

Jalanan adalah tempat di mana seorang supir taksi yang terlihat garang mencurahkan isi hatinya kepada seorang pekerja kantoran, tentang anak lelakinya yang tak bisa ikut ujian akhir karena terlambat membayar uang sekolah. Si pekerja kantoran kemudian dengan tulus memberinya banyak tip untuk membantunya. (Ini sungguh-sungguh terjadi antara teman saya dan supir taksi.)

Perempatan Jakarta adalah panggung pertunjukan kemanusiaan dan perjuangan untuk mencapai hidup yang baik; seorang pengemis lelaki kecil di dekat kantor saya kadang beristirahat dari mengemis dan menjaga adik lelakinya dengan membawanya dalam gendongan. Mereka bercanda dan tertawa. Anda bisa lihat dari jendela Jaguar Anda bahwa mereka berbagi kasih sayang di antara auman motor dan mobil yang tak sabar. Ini bukan sesuatu yang bisa Anda temukan di layar televisi.

Cobalah melihat dengan hati, menembus fasad kota yang keras. Nyaris di setiap sudut kota, ada tukang ojek murah hati yang bersedia memberi Anda petunjuk arah yang terperinci; di sini, Anda tak butuh GPS.

Kita di sini bersama-sama, mari keluar bersama-sama.

Jakarta, Mei 2009.
Diterjemahkan oleh Rani Elsanti

EVI MARIANI SOFIAN, lahir di Bandung, 1976. Ia lulus dari Universitas Gadjah Mada pada 2001 setelah berjuang tujuh tahun agar bisa lulus dari Jurusan Ilmu Komunikasi. Pada 2002 mulai bekerja di harian The Jakarta Post dan tugas pertamanya adalah mewawancarai supir-supir Metromini. Satu kenek sepertinya tertarik dan memberi permen sambil membantunya turun Metromini. Sejak itu ia tertarik pada isu perkotaan, lalu mengambil Urban Studies di Universiteit van Amsterdam. Saat ini di koran tempatnya bekerja ia menjadi editor di City Desk, dekat dengan isu yang disukainya, namun jauh dari semua hal-hal keren yang terjadi di kota karena kerjanya hanya di kantor terus, menjelajah Internet dan main
game.



Foto: © The Jakarta Post / Arief Suhardiman.

Catatan kaki
[1] The Jakarta Post, 17 September 2008.
[2] Mariani Dewi, “The carnival road – full of the simplest help to make life easier”,
The Jakarta Post, 15 Maret 2009.

Komentar

Actually , Great. post. A piece of information from you every now and then is really great. Everything was so well coordinated and looked so aesthetically pleasing to the eye.Thanks for sharing.

It is really a nice and helpful piece of info. I'm glad that you shared this helpful information with us. Please keep us informed like this

 

This posting is marvelous and what a fantastic research that you have done. It has helped me a lot. thank you very much. Feel free to visit my buy portfolio lighting site.

Thanks for sharing such a wonderful post.Very much informative post.Hope to see such kind of post more and more read more at

Great thanks for sharing this article post. I was looking for something like this. Your articles have inspires me a lot.Thanks.

 

A reliable blog always comes-up with new and exciting information and while reading I have feel that this blog is really have all those quality that characterize a blog to be a best one

 

Meer informatie over het model van uw Acer Laptop vindt u op de onderkant van uw Laptop. In de meeste gevallen vindt u hier een sticker waarop één van bovenstaande modellen staat. Is dit niet het geval, of twijfelt u? Neemt u dan gerust contact met ons op, wij helpen u graag verder.

 

          some boring old post, but it really compensated for my time. I will post a link to this page on my blog.

LUFFT products and equipment are to be found wherever atmospheric pressure, temperature, relative humidity and other environmental factors require to be measured or recorded

This is amazing post.A very good and informative article indeed . It helps me a lot to enhance my knowledge, I really like the way the writer presented his views.

 

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.