FOKUS 1 | Maret 2007

-A A +A
Versi ramah cetakPDF version
FOKUS 5 | Februari 2009
Kota yang naif: sketsa Jakarta 1960-1970-an dalam komik roman
Hikmat Darmawan
03 Februari 2009


1

KOTA ADALAH ruang untuk bercinta. Mungkin karena kota adalah impian, sebagaimana cinta juga adalah dambaan. Tapi, impian kota sering terbanting oleh kenyataan kota, sebagaimana dambaan cinta sering terbanting oleh kenyataan hidup.

Itulah setidaknya kesan umum saya setelah membaca komik-komik roman Indonesia pada akhir 1960-an sampai awal 1970-an. Tentu, banyak yang harus dijelaskan dari kesan umum itu. Pertama, ‘kota’ yang dimaksud dalam komik-komik itu umumnya adalah ‘ibukota’ atau Jakarta. Pada masa awal rezim Orde Baru itu, impian-impian modernitas orang Indonesia bertumpu di Jakarta. Hal ini bukan sepenuhnya salah Orde Baru. Proses penumpuan harapan kepada ibukota itu sudah berlangsung sejak lama. Bukankah Sumpah Pemuda (1928) dan Proklamasi Kemerdekaan kita (1945), misalnya, dilakukan di Jakarta? Tapi, tak bisa ditampik pula bahwa rezim Orde Baru-lah yang mengukuhkan sentralisasi modernisasi di Jakarta. Tandanya jelas: Orde Baru mengukuhkan Jakarta sebagai pusat kegiatan pemerintahan sekaligus pusat kegiatan ekonomi Indonesia. Kemakmuran ekonomi dipusatkan di Jakarta, dan itu membawa pengaruh juga dalam pemusatan kegiatan budaya di ibukota.

Kedua, soal ‘cinta’. Namanya komik roman, tentu saja cinta jadi subjek utama. Tapi, cinta macam apa? Seno Gumira Ajidarma, ketika menelaah komik-komik roman karya Zaldy, telah mengudar dengan jitu dan lengkap ide-ide tentang cinta-romantis dalam komik-komik tersebut.[1] Seno memperhadapkan ide-ide cinta dalam komik itu dengan uraian filosofis tentang cinta dari Erich Fromm yang termasyhur.[2] Telaah Seno itu menyelamatkan saya dari kewajiban untuk membahas secara mendalam aspek cerita dan tema komik-komik roman Indonesia dalam tulisan ini. Saya ingin segera menelusuri jejak-jejak ide tentang kota yang diwujudkan secara visual dalam komik-komik roman itu, tanpa terlalu terbenam dalam pencarian pola tuturan atau tema dan pesan umum dari komik-komik roman Indonesia pada periode itu.

Betapapun—dan ini catatan ketiga—saya juga tak bisa menghindari persoalan minimnya ketersediaan korpus komik yang mesti saya telaah, seperti yang dihadapi juga oleh Seno untuk telaahnya atas komik Zaldy.[3] Seno memapar, betapa ia harus berpuas dengan 18 komik Zaldy koleksinya, yang ia dapat dengan susahpayah di beberapa pelosok Jawa. Padahal, menurut data yang ia dapat dari Marcel Bonneff, antropolog Prancis yang meneliti komik Indonesia 1969-1971 dan hasilnya jadi buku Komik Indonesia,[4] antara 1966-1971 saja, Zaldy telah menerbitkan kurang lebih 60 judul komik roman.

Sementara, bahan telusur saya saat ini terhadap komik roman Indonesia hanyalah empat komik Zaldy [5] dan lima komik Jan Mintaraga, plus sebuah komik Jan Mintaraga di majalah Hai pada 1979, Hancurnya Sebuah Tirani, dan beberapa komik cinta buatan mutakhir (1990-an sampai 2000-an) sebagai perbandingan. Plus, saya juga mengandalkan sumber-sumber sekunder tentang komik roman Indonesia, seperti berbagai artikel dan perbincangan dengan kolektor tentang komik-komik roman itu.[6]

Karena itulah, saya tak bisa lain kecuali memerikan gambaran bersifat sketsa tentang impian-impian kota dan cinta dalam komik-komik yang saya pegang. Tapi, saya merasa sketsa-sketsa yang saya dapati cukup sebagai impresi dan memadai, karena satu hal: komik roman adalah genre komik yang sangat tidak dinamis. Para pembuatnya, kebanyakan, sangat setia pada pakem genre komik roman. Ini terjadi baik di Indonesia pada 1960-an hingga 1970-an, maupun di Amerika, tempat muasal genre ini tumbuh.

2

Seperti di Amerika,[7] genre komik roman di Indonesia tumbuh dan berjaya dalam periode tertentu, dan kemudian—seperti tiba-tiba—hilang, kehilangan relevansi pasarnya. Genre komik roman, atau romance comics, bukan sekadar aliran komik yang menceritakan kisah cinta.

Komik roman, per definisi, mengeksploitasi ‘Cinta Romantis’ dalam pengertiannya yang paling berlebihan. Kurang lebih, gagasan ‘Cinta Romantis’ dalam komik roman adalah seperti gagasan ‘cinta’ yang kita jumpai dalam film-film seri opera sabun atau sinetron di stasiun-stasiun televisi kita saat ini. Atau, seperti yang terdapat dalam seri novel romantis Harlequin atau novel-novel Barbara Cartland yang sebetulnya cocok disebut ‘roman picisan’. Di Indonesia, pengarang roman picisan yang terkenal justru kebanyakan pria, seperti Motinggo Busye atau Eddy D. Iskandar. Hubungan cinta itu sering merupakan fantasi, yang melibatkan para lelaki tampan dan perempuan indah, dengan persoalan-persoalan dramatis-melankolis.

‘Roman’ dalam komik kita, tentu saja, adalah berasal dari kata bahasa Inggris ‘romance’. Dalam pembicaraan umum, memang kita kenal perbincangan tentang ‘Cinta Romantis’, ‘Cinta Erotis’, dan ‘Cinta Platonis’. Semuanya mengacu pada hubungan cinta antara dua pribadi dewasa (berlawanan jenis ataupun bersamaan jenis kelamin).

Secara agak nakal, kita bisa perhatikan bahwa ketiga jenis cinta itu bertalian dengan persoalan seks. Dalam Cinta Romantis, seks adalah bonus antara dua pencinta yang telah melalui hambatan fantastis atau, paling tidak, sangat dramatis. Biasanya, hubungan seks itu berada dalam lembaga pernikahan, walau dalam pengisahan sering tak disebutkan, namun aspek pendambaan para kekasih dalam Cinta Romantis biasanya bersifat fisikal, atau sex appeal, seperti bibir yang indah, rambut yang indah, dan tubuh semampai.

Dalam novel-novel romantis, juga komik-komik roman, unsur seks ini lebih dominan. Maka, dalam novel romantis dan komik roman, Cinta Romantis sering berbaur dengan Cinta Erotis. Tapi, masalah utama Cinta Romantis, termasuk dalam novel dan komik roman, adalah apakah pada akhirnya sepasang kekasih akan hidup bersama dan berbahagia. Kebahagiaan yang didamba adalah kebersamaan abadi, sebuah hubungan cinta eksklusif dan absolut antara dua pribadi.

Dambaan ini begitu sukar didapat, rupanya, dalam kisah-kisah romantis. Atau, bisa juga, kesukaran luarbiasa memberi nilai tinggi pada dambaan itu. Karena itu pula, kisah romantis tak selalu berakhir bahagia. Misalnya, yang sering jadi model ideal kisah romantis sampai kini adalah Romeo dan Juliet (Shakespeare), Abelard dan Heloise (legenda sejarah), Tristan dan Isolde (cerita rakyat), Roro Mendut dan Pranacitra (cerita rakyat), serta Siti Nurbaya dan Syamsul Bahri (Marah Rusli).

Model-model tersebut bisa kita istilahkan sebagai model ‘kasih tak sampai’. Model ini disebut dalam telaah Seno atas komik-komik Zaldy. Dalam pengistilahan yang dituliskan Seno, ada dua model kisah romantis dalam komik-komik Zaldy yang ia teliti: ‘kasih tak sampai’, dan ‘cinta segi tiga’.[8]

Cinta Erotis, punya masalah yang beda. Hubungan seksual menjadi dominan dalam model Cinta Erotis, dan masalah utamanya adalah bagaimana mendapatkan hubungan seksual sempurna dengan kekasih yang didamba, kalau bisa sesering mungkin, dan bagaimana mengatasi konsekuensi moral dari keinginan itu. Cinta Erotis jadi bumbu juga dalam komik-komik roman kita, dengan porsi permasalahan moral sangat besar. Cinta Platonis agak lebih jarang, tapi satu dua muncul dalam komik-komik roman kita.

Cinta Platonis, dari sudut pandang hubungan seksual, justru berarti dan ada ketika aspek hubungan seksual dihindari. Hubungan seksual justru merupakan hambatan bagi Cinta Platonis, tapi penghindaran ini malah tidak berarti peniadaan. Seks hadir, sebagai sesuatu yang dinegasi.

3

Dari keseluruhan persoalan cinta seperti yang dibayangkan dalam komik-komik roman yang saya baca, segera terasa ada beberapa unsur cerita dan visual yang berulang.[9] Jelas bagi kita, pengulangan-pengulangan itu membentuk sebuah pola yang dapat kita baca sebagai penyampaian pesan, gagasan, atau bahkan konstruksi ideologi tertentu. Dalam tulisan ini, saya memusatkan perhatian pada gagasan tentang kota yang muncul dalam komik-komik roman yang saya baca.

Dalam sejarahnya, komik dan kota sendiri kadung punya hubungan organik. Jika kita mengambil titik sejarah lahirnya komik modern adalah dari Rudolphe Töpffer (1799-1846), yang membuat serangkai susunan gambar bercerita untuk kebutuhan pendidikan di sekolahnya (ia seorang kepala sekolah), maka bisa kita lihat ia adalah seorang Jenewa, Swiss. Artinya, ia seorang warga kota lengkap dengan kosmopolitanismenya. Persahabatannya dengan Goethe, yang mengagumi karya-karya komik Töpffer, memberi petunjuk akan kosmopolitanisme tersebut.

Cikal komik modern berikutnya, antara lain, seri gambar tentang polah Londoners (warga London) yang sedang mengalami transisi industrialisasi, karya William Hogarth (1697-1764). Dua seri gambar dan lukisannya, Harlot’s Progress dan Rake’s Progress, mengandung ciri comics (kelucuan, parodi) yang kuat. Di samping itu, intensi ketersusunan karya-karya itu menampakkan watak “comic” juga, dalam pengertiannya seperti yang diungkai Scott McCloud [10] atau Will Eisner [11].

Persis turun langsung dari karya-karya Hogarth, adalah majalah komik pertama di Inggris, Ally Slopper’s Half Holiday, terbit pertama kali pada 3 Mei 1884. Majalah komik ini sepenuhnya ditujukan kepada kaum buruh di Inggris, sebuah kelompok tipikal dalam novel-novel Charles Dickens, dengan menampilkan sosok dari kelas yang sama juga. Suasana Dickensian London yang sedang bergulat dengan industrialisasi mewujud dalam polah vulgar Ally Slopper yang selalu mabuk.

Sebelas tahun kemudian, muncul Yellow Kid karya FW. Outcault. Dalam banyak literatur tentang komik yang ditulis oleh sejarawan Amerika, Yellow Kid disebut sebagai komik (modern) pertama. Sebuah kekeliruan akibat rabun-sejarah-dan-geografi yang lazim. Tapi, Yellow Kid memang penting, karena memberi fondasi kukuh bagi berbagai ciri komik strip modern Amerika yang pada akhirnya memengaruhi komik Eropa Barat (lewat Hergé yang terpengaruh oleh komik strip Amerika) dan Jepang (lewat Osamu Tezuka yang terpengaruh komik-komik dan animasi produksi Disney).

Satu lagi yang penting dari Yellow Kid: karakter urbannya yang kental. Seri ini menandai pula satu tonggak penting sejarah awal popularitas koran, yakni memaksa koran untuk mencetak komiknya dengan warna. Ini mengawali perwajahan koran berwarna di Amerika. Dari segi isi, Yellow Kid berisi komentar-komentar sosial-politik yang sangat tajam, biasanya digambarkan dalam sebuah dunia kota yang mirip, walau lebih urakan, dengan Ally Slopper.

Komik Indonesia modern pun tak luput dari kesatuan organiknya dengan kota.[12] Seperti diungkap Bonneff,[13] komik strip pertama kita adalah serial Put On karya Kho Wang Gie, yang terbit pertama kali di harian Sin Po, pada 1931. Serial strip ini menggambarkan keseharian manusia Jakarta yang serbasial dan sering dungu. Perhatikan gambar-gambar latar bangunan kota yang kadang tampak dan kesibukan atau kegiatan apa saja yang dilakukan oleh Put On: berdandan dandy memikat wanita yang tak tergapai, ingin menonton bioskop, pesta, membersihkan sampah, berselisih soal utang, dan sebagainya. Tak pelak inilah sosok urbanisasi di mata seorang kampung di Jakarta. Ia sebuah pandangan dari “bawah” terhadap urbanisasi yang menderu dan menyingkirkan banyak hal.

Dari Put On hingga Lagak Jakarta (Benny & Mice), melintasi Sri Asih (RA. Kosasih), serial Petruk Gareng (biasanya dibuat oleh Tatang S.), sketsa-sketsa kota Delsy Syamsumar pada 1970-an, serial Doyok (Keliek Siswoyo) dan Ali Oncom (Budi Priyono) yang terbit di Pos Kota, sampai sekian puluh komik indie yang terutama terbit di Bandung, Yogyakarta, dan Jakarta sejak pertengahan 1990-an—tampak sebuah bayangan, dambaan, tentang kota Metropolitan.

Dambaan ini menimbulkan kontras menarik ketika dibandingkan dengan genre-genre komik lain yang tumbuh subur sejak 1950-an, yakni genre fantasi-legenda, yang latar tempatnya selalu di sebuah dunia yang masih dipenuhi hutan berpepohon besar serta kampung-kampung tanpa lampu listrik. Perhatikan, misalnya, komik-komik silat yang merajai pasar komik kita pada 1970-an. Atau, lebih menarik lagi, betapa komik-komik superhero kita pun punya latar tempat campuran, dengan porsi latar hutan dan kampung yang cukup besar. Misalnya, Godam (Wid NS.) yang mengawali petualangannya dengan judul Doktor Setan, dan petualangan terakhirnya yang ditulis Wid NS. adalah Setan. Demikian juga Gundala karya Hasmi, yang sering berjumpa dengan penjahat-penjahat berkekuatan gaib.

Maka, komik roman nyaris jadi satu-satunya genre yang setia mendambakan kota metropolitan. Apakah romansa hanya milik orang kota?

4

Komik yang saya baca untuk tulisan ini adalah lima karya Jan Mintaraga: Kabut di Hari Tjerah, Patahnja Sebuah Melankoli, Tonil, Tertiup Bersama Angin, Tjintanja Bukan Tjinta Kanak2; serta empat karya Zaldy: Impian Kemarin, Mawar Putih, Setitik Airmata Buat Peter, dan Tetesan Airmata Cinta.

Seperti niat semula, memang unsur-unsur visual dalam cerita komik-komik ini yang jadi perhatian utama saya, dan wilayah penemuan pola yang saya cari. Hanya ada satu unsur generik cerita komik yang nonvisual saya catat di sini: nama para tokoh cerita. Hal ini saya masukkan karena nama-nama itu punya fungsi mirip dengan unsur visual dalam komik-komik ini, yakni sebuah tanda yang disematkan di permukaan impian yang terkandung dalam cerita.

Unsur-unsur yang tampak berulang dalam komik-komik roman yang saya baca, antara lain:

NAMA ADALAH GAYA
Erik dan Shinta (Mawar Putih). Natalia dan Peter, dan Wanda (Setitik Airmata buat Peter). Susan dan Frans (Impian Kemarin). Judith, Edmond, Harris (Tetesan Airmata). Nicko dan Helen (Tonil). Alec dan Inge (Tertiup Bersama Angin). Viera dan Judy (Tjintanja Bukan Tjinta Kanak2). Itu semua adalah nama-nama mentereng. Kalau nama adalah doa, doa apakah di balik nama-nama kebaratan itu? Kenapa yang kebaratan adalah mentereng? Satu hal jelas, nama-nama itu mentereng karena sangat “kota”. Ada impian menjadi Barat dalam imajinasi tentang kota di situ.

Ada yang menarik soal nama para perempuan dalam Patahnya Sebuah Melankoli dan Kabut di Hari Tjerah. Dalam Patahnya Sebuah Melankoli, tokoh Chandra—lelaki idola, bintang film yang selalu merokok dan risau oleh cinta—terbelah oleh dua perempuan, Wanda dan Christie. Sementara ‘Chandra’ sendiri berasal dari kata Sansekerta. Mengapa perempuan, yang mendamba dan didamba, bernama kebaratan?

Dalam Kabut di Hari Tjerah, nama tokoh utama sangat Indonesiawi: Ira. Tapi, ini komik yang mendaku diri setengah biografis. Di halaman akhir, Jan menulis: “...Pembatja budiman! Anda sekalian, jang menggemari lagu2 Indonesia populer—tentu segera dapat menerka dengan tepat siapa dia! Dan bersama ini pula, dia menjampaikan salamnja jg. Paling manis buat Anda—terutama buat Anda jang menggemari suaranja.” Lalu, di atas gambar seorang penyanyi muda, tercantum kata dan tandatangan: “Salam manis, (tandatangan) Ernie Irawaty Djohan.” (Gambar 1)

Dengan pencantuman salam dari Ernie Djohan (penyanyi remaja pada saat komik itu dibuat, yakni 1967) yang terkenal dengan lagu Teluk Bayur, Jan sedang menyodorkan sebuah dunia otentik kepada pembacanya. Otentisitas itu jadi penanda “realisme” kisah roman ini. Tapi, realisme demikian punya biaya: porsi impian harus dikorbankan. Termasuk nama para tokohnya. Termasuk pula derajat romance komik ini, yang hanya memiliki satu konflik biasa: bagaimana Ira bergulat secara emosional dengan larangan ibunya untuk berpacaran dan kebutuhannya untuk mencintai seorang lelaki.

Pilihan pengurangan porsi impian itu justru menandai sebuah penegasan akan batas antara dunia impian/dambaan/khayali dengan sebuah dunia realistik yang mengakar ke “kenyataan”. Ketika sebuah komik roman mengaitkan diri dengan sebuah “kenyataan”, maka ia menjadi kurang kebaratan dan kurang dramatis/melankolis.

ORANG MEMBACA KORAN ATAU MAJALAH
Orang membaca koran setiap pagi, sambil minum teh manis hangat atau kopi. Ini kebiasaan yang bisa kita temukan di desa-desa, kini. Tapi pada 1966-1975, periode sembilan komik roman yang saya baca ini, kegiatan membaca koran dan majalah tidak terlalu lazim bagi penduduk desa—kecuali, di kalangan para elitenya.

Ini berhubungan baik dengan tingkat melek huruf yang masih sangat rendah dan tak merata di Indonesia, dan dengan infrastruktur penerbitan surat kabar Indonesia saat itu yang belum mampu menjangkau kebanyakan penduduk di luar kota. Pada 1980-an, pemerintah Orde Baru mencanang Koran Masuk Desa (di openlibrary.org, misalnya, tercatat sebuah dokumen Rapat Kerja Departemen Penerangan pada 1985, setebal 325 halaman, tentang Koran Masuk Desa).

Disimpulkan secara sederhana, kalau dikaitkan dengan program tersebut, maka untuk waktu lama sebelumnya, kegiatan membaca koran adalah “kegiatan kota”. Dan kegiatan ini jadi gestur yang muncul berulang dalam komik-komik yang saya baca. Dalam Patahnja Sebuah Melankoli (1966), Chandra dirawat di sebuah “sanatorium untuk penderita penjakit paru2”, dan gambar menunjukkan Chandra, dijenguk Wanda, sedang membaca koran (halaman 50 panel 2) (Gambar 2).

Dalam Tetesan Airmata Cinta (1975), halaman 27, panel 1 menggambarkan seorang pemuda duduk membaca majalah atau buku (tak jelas) di teras dan seorang gadis melintas, dan caption berisi narasi: “Limabelas tahun kemudian, pada sebuah rumah yg. cukup mewah.” Pada panel dua, si gadis melewati ruang tamu. Di situ ada dua orang, lelaki dan perempuan, yang sedang membaca koran. Dari teks, terbaca bahwa kedua orang yang sedang membaca koran itu adalah Harris dan Judith, orangtua si gadis. Pada halaman 28, panel 1, si lelaki tak lagi memegang koran (satu tangan tersembunyi) tapi ia memegang pipa tembakau hisap. Si ibu menegur si gadis, “Vivin, kenapa kau tidak menyapa pada Papiemu..?!”

Rumah “cukup mewah”, panggilan ‘Papie’, ibu dan ayah membaca koran sambil si ayah memegang pipa tembakau. Dalam rangkaian panel ini, membaca koran adalah sebuah gestur kalangan kelas menengah ke atas.

Selain gestur kelas menengah, yang hidup di kota, membaca koran juga bisa jadi pelarian cinta. Dalam Tertiup Bersama Angin, halaman 61 panel 2 (Gambar 3), Inge duduk di sofa membaca koran. Dan teks di caption berkata: Tapi, walau bagaimana, Inge tak dapat menipu dirinja sendiri! Memang sedjak saat itu, gadis itu tak pernah lagi melihat Alec atau mendjumpainja kalau dia pulang sekolah seperti biasanja. Dia djadi terlalu memikirkan pemuda itu, walau dia berusaha melupakanja...

LAGI-LAGI LAGU POP
Banyak komik roman kita memetik judul dari judul lagu-lagu pop yang sedang populer semasa mereka terbit.[14] Di antara komik yang saya baca, ada komik yang mengambil judul dari terjemahan sebuah lagu terkenal Bob Dylan, Blowin’ in The Wind. Komik itu, Tertiup Bersama Angin (1967), karya Jan Mintaraga. Lagu yang mengandung protes sosial itu menjelma menjadi sebuah kisah cinta melankolis. Di halaman 1 (Gambar 4), bait pertama terjemahan lagu itu dituliskan mengiringi judul: Berapa pandjang djalan jg. harus kutempuh –hingga mereka menganggapku dewasa? Berapa banjak telinga jang harus kita punjai... Agar kita dapat mendengar tangisan begitu banjak insan2. Tiada kudengar djawab itu—segalanja (dalam huruf besar dan dengan rancang grafis buatan tangan khas judul komik) TERTIUP BERSAMA ANGIN...

Dalam Kabut di Hari Tjerah, dunia lagu pop adalah latar utama cerita tentang penyanyi remaja Ira yang rupanya sosok difiksikan dari Ernie Djohan. Pada halaman 6, panel 2 (Gambar 5), ada adegan dua orang menonton televisi yang menampilkan seorang penyanyi, dengan bait lagu: K’napa glatik mentjlok di djendela?

Pada halaman 7, panel 2, tergambar sebuah relasi lagu pop dengan keadaan terbuai cinta. Si penyanyi di situ digambarkan sedang membaca buku di meja, dengan kaos wol turtle neck (yang biasa dipakai di negeri-negeri beriklim dingin). Caption berbunyi: “Sebagai seorang dara remadja, tentu sadja dia mulai tertarik pada djenis lain! Dia mulai banjak melamun—mulai sangat menjukai lagu2 sentimentil—mulai radjin mengisi tjatatan hariannja...”

Lagu pop cinta, yang mellow, mendayu, penuh nestapa, tentu adalah konsekuensi logis sebuah komik roman. Misalnya, dalam bagian awal Impian Kemarin, Zaldy menekankan semacam pemujaan terhadap lagu The Last Waltz yang dinyanyikan Engelbert Humperdinck. Zaldy sepenuhnya sadar akan sentimentalisme lagu itu, dan justru karena sangat sentimentil itulah tokoh Susan dan Frans menyukai lagu itu. Pada halaman 3 panel 2, Susan menyimak lirik lagu itu dinyanyikan biduan di sebuah pesta dansa. Caption berkata: Ia suka sekali dengan lagu itu, karena nada dan isi kata2nja sangat sentimentil. Perasaannja selalu turut terbawa bila mendengar itu... Dengan khas, Zaldy juga menggambarkan Frans menyukai lagu itu, pada halaman 7 panel 2: Laki2 itu tak mendjawab pertanjaan Susan tadi.... Rupanja iapun turut terharu mendengar achir kisah dari lagu itu.... Lebih2 perkataan “The Last”nja jang tak diinginkan sama sekali...

Lagu pop bukan hanya hadir dalam penulisan lirik dan komentar caption tentang dampak lagu-lagu pop terhadap perasaan para tokoh komik roman kita. Mereka juga hadir secara visual di komik-komik roman misalnya lewat poster penyanyi atau grup band idola di dinding kamar si tokoh.

Dalam Tjintanja Bukan Tjinta Kanak2, halaman 10 panel 1 (Gambar 6), ada poster grup We 5 dan Yardbirds. Kehadiran poster grup rock menandakan bahwa lagu pop tidak dibedakan dari aliran musik rock. Agaknya, pokoknya yang disukai kaum muda kota saat itu (Jakarta, Yogyakarta, atau Bandung, yang jadi pusat budaya pop dan latar para komikus Indonesia masa itu), itulah yang terpampang di gambar.

Pada Impian Kemarin, halaman 13 panel 2 (Gambar 7), di rak ada sampul vinyl Tom Jones, Isadora. Di halaman 15 panel 2, di dinding, ada poster Bee Gees. Di halaman 27, panel 1, tampak di rak sampul vinyl Tom Jones lagi. Di halaman 30, sampul vinyl sebuah single The Beatles, Don’t Let Me Down. Dalam Tonil, halaman 90 panel 2, terlihat poster grup Head di dinding.

Grup dan penyanyi populer asal Amerika dan Inggris seolah jadi antitesa larangan Soekarno pada masa Orde Lama untuk mendengar musik Ngak Ngik Ngok dari Barat yang dianggap dekaden atau kontrarevolusi. Larangan itu, kita tahu, sempat menyebabkan grup Koes Plus ditahan.

SASAK, ROK MINI, “AMERIKANISME”
Soal kebaratan itu, memang pernah jadi isu besar. Menurut keterangan Iwan Gunawan, kolektor komik Indonesia sejak lama, pada 1971 terjadi protes dan pembakaran komik, terutama dipicu oleh komik-komik roman yang dianggap terlalu kebaratan atau ke-Amerika-an.

Memang, kata Iwan, komik itu tampak sangat kebaratan jika kita perhatikan bagaimana tokoh-tokohnya digambarkan: rambut yang disasak, dengan model baju sesuai tren di Barat, seperti rok mini, sweater, you-can-see, atau gaun malam. Model-model rambut yang harus disasak mengandaikan para tokoh perempuan komik roman kita selalu ke salon, walau saya tak pernah menemui adegan di salon kecantikan. Kecantikan dalam komik-komik ini mengarah pada model tertentu, dan kecantikan itu sudah “jadi”, tak digambarkan prosesnya. Mungkin sebabnya sederhana: para penggambar komik roman adalah kaum lelaki, yang tak pernah pergi ke salon perempuan. Tapi, apakah ini sekadar ketaktahuan, atau ketakmautahuan?

Para tokoh lelaki tak kurang trendy, dengan model baju seperti yang bisa dijumpai dalam iklan-iklan produk Barat atau film-film remaja 1960-an sampai 1970-an. Gesturnya, terutama pada komik-komik Jan, sangat tak lazim bagi lelaki Indonesia, tapi sangat sering kita jumpai pada produk visual dari Amerika atau Eropa ketika itu.

DINDING BATA, RUMAH MEWAH
Kota adalah para manusianya, gagasan-gagasan mereka tentang habitat dan habitus di sebuah tempat. Gagasan-gagasan itu sering mewujud dalam desain ruang dan penataannya. Kota tempat kisah dalam komik-komik roman ini berlangsung juga diisi oleh ruang-ruang dengan arsitektur yang menggambarkan apa gagasan, atau imajinasi, kota di benak para komikus kita saat itu.

Komik-komik roman itu selalu menampilkan rumah dengan desain interior bergaya modern. Dinding yang populer dalam komik-komik itu adalah dinding bata tanpa lapis semen dan cat polos. Ini tanda penting, karena dinding bata sebagai gaya hidup adalah sesuatu yang relatif baru pada masa itu. Lebih penting lagi, sebagai atribut visual “rumah mewah” di dalam komik, dinding bata adalah antitesa dinding bilik yang masih banyak dihuni penduduk kota ketika itu.

Kontras ini misalnya terlihat dalam Mawar Putih, halaman 47 panel 1 (Gambar 8). Penyanyi bar yang cantik, Shinta, pulang ke rumahnya. Caption berkata: Ia berdjalan terus seorang diri masuk keluar gang meski malam sudah larut sekali.... Tempat tinggalnja terletak ditengah kampung jang betjek dan kotor. Pada panel 2, Shinta di pintu kayu, masuk. Caption berkata: ...Setelah didorong pintu gubuknja didapatkan ibunja masih terduduk diatas pembaringan bambu...

Jelas dari contoh ini, visualisasi ruang juga menandakan sebuah dikotomi kelas ekonomi. Tapi panggung cinta tetaplah rumah-rumah mewah dengan ruang tamu dan kamar-kamar pribadi, atau restoran dan bar tempat kehidupan malam berlangsung, dengan para pemain adalah para Mas Ganteng dan Nona Cantik.

DI DINDING ADA LUKISAN
Menarik juga, kok dinding-dinding di komik roman sering sekali digambarkan ada lukisan berbingkai. Dari pembacaan sekilas terhadap komik-komik roman yang saya jumpai, nyaris tak ada lukisan dinding yang menggambarkan pemandangan alam yang lazim dijumpai pada dinding-dinding rumah di kota kita sampai 1980-an (sekarang pun masih banyak dijual lukisan model itu di pinggir jalan).

Lukisan-lukisan yang terpajang di dinding dalam komik-komik itu sering tak jelas lukisan apa, tapi agaknya beraliran abstrak. Mungkin bukan karena aliran itu yang paling dikuasai atau didamba para seniman komik tersebut (seniman komik kita masa itu biasanya belajar menggambar dan melukis di sanggar-sanggar lukisan, dibimbing para pelukis “sungguhan”), tapi karena menggambar imajinya gampang saja: corat-coret sekenanya, cukup.

Lukisan-lukisan itu adalah atribut kelas sosial juga, sebuah tanda kebudayaan yang telah bergeser jadi tanda adanya komodifikasi kebudayaan. Lukisan di dinding bukanlah sebuah pemujaan terhadap pergumulan ide estetis, tapi sebuah unsur dekorasi, hiasan, pelengkap desain interior di rumah-rumah kalangan kelas menengah ke atas.

5

Manusia yang terwujud dalam nama-nama, model rambut, model pakaian, juga kebiasaan hidup; dan ruang yang terwujud dalam arsitektur, desain interior, dengan segala dekorasi mereka. Keduanya memberi kita gambaran sebuah metropolitan yang dibayangkan para komikus itu.

Jelas, kota yang dibayangkan dalam komik-komik roman itu adalah bagian dari masyarakat atau publik pembaca komik-komik roman tersebut. Tapi kota yang dibayangkan komik-komik itu boleh dibilang sebuah metropolitan yang naif. Sebuah kota tanpa kompleksitas.

Masalah-masalah struktural, masalah-masalah sosial, tak hadir kecuali kadang-kadang jadi bumbu kisah-kisah cinta antarindividu yang dramatis. Dalam Mawar Putih, kemiskinan yang divisualkan dengan ibu dan Shinta tinggal di rumah bilik, rupanya jadi semacam hukuman atas perbuatan si ibu di masa lalu. Di akhir kisah, ayah Erik terungkap sebagai korban ibu Shinta, Lasty. Di masa lalu, Lasty adalah seorang gadis bar yang memacari ayah Erik karena kekayaannya. Pada halaman 122 panel 2, ayah Erik berkata, “...Jah, Lasty jang telah menghantjurkan hati ajah... Lasty jang telah kabur dgn. laki2 lain dari tangan ajah ...setelah mengetahui perusahaan kakekmu telah djatuh rudin...” Kemiskinan tidak dipahami, tapi dianggap sebuah keburukan, kutukan. Sementara kemakmuran dikaitkan dengan kebahagiaan dan cinta.

Shinta dan Erik menikah. Pada halaman terakhir, panel 1, pengantin baru itu menerima kartu ucapan selamat dari Siska, “orang ketiga” di antara mereka, yang mengabarkan “telah djadi isteri seorang pedagan Melaju. Dan hidupku tjukup bahagia...” Dan di panel terakhir (Gambar 9), digambarkan Erik dan Shinta tersenyum bahagia (Erik memakai jas two pieces, Shinta disasak dan disanggul tinggi) di pesawat terbang. Caption berkata: Kasih telah terdjalin dengan mesranja di sanubari mereka menudju hari depan jang penuh kebahagiaan.

Contoh ini adalah sebuah contoh tipikal pandangan naif tentang cinta, kebahagiaan, dan persoalan manusia. Kenaifan yang berjabat erat dengan gambaran kota yang naif dalam komik-komik roman tersebut. Tak pelak, pola naratif serbanaif ini menandakan bahwa memang komik-komik roman tersebut dimaksudkan sebagai bacaan-bacaan eskapisme.

6

Anehnya, kesan umum saya, komik-komik eskapis itu justru mengakar pada (imajinasi) yang nyata hadir di masyarakat mereka. Kesan ini terutama saya dapati ketika membandingkan dengan komik-komik cinta remaja di zaman sekarang, yang dibuat sejak pertengahan 1990-an hingga sekarang.

Salah satu yang membuat saya mendapat kesan kontras itu adalah pada obsesi penggambaran ruang dalam komik-komik roman karya Jan dan Zaldy (dan rekan-rekan sezaman mereka). Jan dan Zaldy—bahkan ketika kemampuan menggambar mereka masih pas-pasan—terobsesi menggambar setiap panel “berisi”, tidak “kosong”. Hal itu tak ditemukan lagi saat ini, seperti dituliskan oleh artikel Arief Ash-Shiddiq dalam edisi Jurnal Karbon kali ini,[15] yang menggambarkan dengan baik betapa miskinnya ruang dalam komik-komik karya generasi muda kita.

Untuk itu, Jan dan Zaldy, dan rekan-rekan sezaman mereka, membutuhkan acuan visual yang mereka cari dari film-film, komik-komik luar negeri (ada persamaan unsur ruang di tiap panel antara karya-karya mereka dengan komik-komik roman di Amerika pada periode 1950-1960-an), dan benda-benda yang (bisa kita duga) mereka jumpai di sekeliling mereka sehari-hari.

Acuan terhadap ruang nyata di sekitar komikus (dan pembaca mereka) misalnya dapat kita lihat dalam karya Jan Mintaraga di Majalah Hai pada 1979, yakni komik bersambung Hancurnya Sebuah Tirani. Inilah salah satu karya Jan dalam periode matang keterampilan menggambarnya, ketika ciri pribadinya sangat kuat tampil dalam goresan garis-garis di komiknya. Dalam komik yang menjadikan cinta sebagai bumbu, tapi memusatkan diri pada perseteruan dengan para preman ini, Jan tampak paham betul bagaimana menggambarkan rumah-rumah orang kebanyakan di kota Jakarta.

Tapi, bandingkanlah karya-karya Jan dan Zaldy di masa silam dengan komik-komik tentang cinta yang terbit pada 1990-an ke masa sekarang. Misalnya, Dealova, Komik Cinta (Injun dan Greg), dan Understanding Love (Wahyu HD) yang bergaya manga. Dalam komik-komik itu, pembicaraan tentang cinta jadi jauh lebih penting daripada penggambaran ruang. Cinta menjadi sesuatu yang, katakanlah, “teoretis”—atau, tepatnya, terperangkap di ruang ide, dan bisa terjebak dalam sekadar idealisasi belaka.

“Teori” cinta dalam komik-komik mutakhir itu sih lebih canggih dari zaman Jan dan Zaldy. Tapi “teori” cinta itu kehilangan pertaruhan dramatis mereka. Dan tetap, belum beranjak dewasa, dalam arti mampu menggambarkan kompleksitas kejiwaan para tokoh komik mereka. Understanding Love malah lebih berupa komik panduan remaja tentang cinta.

Saya merasa kehilangan satu hal penting di tengah berbagai percakapan tentang “hakikat” cinta dalam komik-komik mutakhir itu: saya kehilangan sebuah ruang bernama kota Indonesia.[16] Paling tidak, ruang itu masih saya jumpai, walau dalam bentuk khayali yang naif, dalam komik-komik roman yang saya baca.

Jakarta, 6 Januari 2009


HIKMAT DARMAWAN adalah pengamat budaya populer, dengan kekhususan minat pada komik dan film. Menulis sejak 1994 di Tempo, Kompas, Gatra, Republika, dan lain-lain. Bukunya, kumpulan esai tentang komik berjudul Dari Gatot Kaca Hingga Batman: Potensi-potensi Naratif Komik (Yogyakarta: Penerbit Orakel, 2005), sedang dikemas ulang bersama kumpulan tulisannya yang lain. Ia ikut mendirikan beberapa komunitas, seperti Musyawarah Burung, Akademi Samali, dan kini bergiat di Laboratorium Kota Paramadina. Ia pernah menjadi redaktur majalah Madina. Saat ini ia menjadi redaktur Rumahfilm.org. Ia menjadi redaktur tamu untuk Fokus "Komik dan Kota" pada Februari 2009. Lihat tulisan-tulisan lainnya di On Everything Pop dan blog Multiply-nya.




Sampul depan Kabut di Hari Tjerah (
Jan Mintaraga).


Sampul depan Mawar Putih (
Zaldy).


Sampul depan Setitik Airmata Buat Peter (Zaldy).


1. Halaman akhir Kabut di Hari Tjerah (
Jan Mintaraga).


Sampul depan Patahnja Sebuah Melankoli (
Jan Mintaraga, 1966).


2. Halaman 50 panel 2,
Patahnja Sebuah Melankoli (Jan Mintaraga, 1966).


Sampul depan Tetesan Airmata Cinta (
Zaldy, 1975).


3. Halaman 61, panel 2, Tertiup Bersama Angin (Jan Mintaraga, 1967).


4. Halaman 1, Tertiup Bersama Angin (Jan Mintaraga, 1967).


5. Halaman 6, panel 2, Kabut di Hari Tjerah (Jan Mintaraga).


6. Halaman 10 panel 1, Tjintanja Bukan Tjinta Kanak2 (Jan Mintaraga).


7. Halaman 13, panel 2, Impian Kemarin (Zaldy).


8. Halaman 47, panel 1, Mawar Putih (Zaldy).


9. Halaman terakhir, Mawar Putih (Zaldy).

Sumber: koleksi Andi Wijaya, 2009.

Catatan kaki
[1] Seno Gumira Ajidarma, “Dunia Komik Zaldy”, Jurnal Kalam No. 16. (Jakarta: Teater Utan Kayu, 2000).
[2] Erich Fromm, Seni Mencinta (Jakarta: Sinar Harapan, 1990).
[3] Seno Gumira Ajidarma, ibid.
[4] Marcel Bonneff, Komik Indonesia (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 1998). Sampai sekarang, penelitian Bonneff tentang komik Indonesia itu masih selalu dikutip jika orang bicara tentang sejarah komik Indonesia. Ini menandakan belum ada lagi penelitian komprehensif tentang sejarah komik Indonesia. Sebetulnya, cukup banyak penelitian komik Indonesia sesudah Bonneff, tapi umumnya sangat spesifik dan teknis dari sudut akademis, serta jarang bisa diakses pembaca umum.
[5] Pada awalnya, saya punya lima komik Zaldy. Tapi, pada waktu menulis ini, saya kehilangan salah satunya.
[6] Sebetulnya, di luar sembilan komik roman yang saya pegang itu, saya juga “mengintip” beberapa komik roman karya Zaldy dan Jan Mintaraga yang ada di kios Komik Indonesia milik Andi Wijaya dan kawan-kawan di Mal Ambasador, Jakarta Selatan, dan menyimpulkan bahwa secara umum mereka memiliki keserupaan ciri.
[7] Komik roman atau Romance Comics memang berasal dari Amerika. Tercatat komik pertama genre ini adalah Young Romance, terbit pada 1947, karya Joe Simon dan Jack Kirby. Popularitas romance comics di Amerika mencapai puncaknya pada periode 1950-an, saat komik superhero dan komik horor yang sebelumnya merajai industri komik Amerika sedang terpuruk. Komik roman masih cukup banyak diproduksi sampai 1970-an. Popularitas genre ini mengilhami Roy Lichtenstein dalam membuat lukisan-lukisan aliran Pop Art-nya.
[8] Seno Gumira Ajidarma, ibid, hal. 105.
[9] Perlu saya catat, karena komik sederhananya adalah ‘gambar bercerita’, maka jelas unsur visual dalam komik sebetulnya adalah juga unsur cerita.
[10] Scott McCloud, Understanding Comics, The Invisible Art (Kitchen Sink/Harper Perennial, 1994). Definisi komik menurut McCloud dalam buku ini adalah “imaji-imaji piktorial dan lainnya, yang didampingkan dalam urutan yang diperhitungkan, dengan tujuan menyampaikan informasi dan/atau memproduksi respons estetik dari pemirsa” (juxtaposed pictorial and other images in deliberate sequences intended to convey information and/or to produce an aesthetic response in the viewer). Dengan definisi ini, cakupan medium yang bisa disebut komik luas sekali, dan McCloud memang tampak enggan membatasinya. Definisi ini secara ketat memandang bentuk (form) komik. Dan jika kita taat pada definisi bentuk ini, petunjuk keselamatan di kursi pesawat pun bisa disebut komik.
[11] Will Eisner, Comics & Sequential Art (DC Comics). Eisner menekankan pengertian komik sebagai relasi dinamis antara gambar dan teks. Tapi, Eisner juga mengenalkan konsep ‘sequential art’, yang mengilhami Scott McCloud mengembangkan definisi komik dalam Understanding Comics.
[12] Saya sebut ‘modern’ untuk membedakannya dengan cikal-cikal komik modern di Nusantara, seperti relief candi, wayang beber, dan naskah-naskah lontar bergambar di Bali.
[13] Marcel Bonneff, ibid. Lihat juga Hikmat Darmawan, Dari Gatot Kaca Hingga Batman: Potensi-potensi Naratif Komik (Yogyakarta: Penerbit Orakel, 2005).
[14] Keterangan ini saya dapatkan dari Iwan Gunawan, desainer grafis dan dosen IKJ yang adalah seorang kolektor komik Indonesia terkemuka.
[15] Arief Ash Shiddiq, “Mencari Jakarta dalam Senggol Jakarta”, Jurnal Karbon: www.karbonjournal.org, edisi "Komik & Kota".
[16] Paling-paling, saya masih bisa menjumpai ruang itu dalam seri Lagak Jakarta karya Benny & Mice.


Komentar

In other words, this new technology has made sharing easier and faster. Available free of cost for a year, the telecharger whatsapp gratuitement allows users to share images, videos, and audio messages, apart from text.

In other words, this new technology has made sharing easier and faster. Available free of cost for a year, the <a href="http://telecharger-whatsapp.com/">telecharger whatsapp gratuitement</a> allows users to share images, videos, and audio messages, apart from text.

This is nice post which I was awaiting for such an artice and I have gained some useful information from this site. Thanks for sharing this information
je suis desole (c’est moi. sildenafil: sildenafil prix - sildenafil prix ni une seule reaction face aux morts. atarax: atarax prix - vente atarax Et mes parents ne pouvaient pas m’aider. generisk viagra soft tabs: kjope viagra sverige - trenger man resept pa viagra et si l’horreur touristique menace.

I would like to thank you for the efforts you have made in writing this article.

Pour situer le coup de force de ce dispositif. achat viagra petite quantite: acheter viagra en ligne - viagra achat net Voila ce que j’en dis. accutane pas cher: roaccutane pas cher - commander roaccutane on est en Thailande. generique dapoxetine: dapoxetine pas cher - dapoxetine pas cher puis avec Diderot qu’il va etre theorise.

You wrote something that people could understand and made the subject intriguing for everyone.

I had fun annual this post. Absolute advising as well. I didn’t apperceive the action can be easy. your blog is absolute nice.Thanks for advertisement this important blog on your website. I accede your efforts to accompany such a huge annual for us. Nice action by annual this types of things…thanks.

c’est un peu brouillon. levitra 20mg billig kaufen: kobe levitra - original levitra billig nous n’etions plus vigilants. comprare viagra online senza ricetta: sito per acquistare viagra - comprar viagra espana farmacia online En prenant le telepherique. viagra uten resept i sverige: viagra kop - var koper man viagra i sverige il suffit de casser les noix.
je t’en posterai un exemplaire. kamagra billigt flashback: kann man kamagra apotheken kaufen - kamagra in apotheek soit de ses droits et obligations. viagra tilskud danmark: online-apotheke viagra-bestellen - viagra billig erfahrungen a-t-il explique au micro de France Televisions. billig viagra online: viagra billig online - bedste sted at kobe viagra « Je souffre beaucoup.

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.