FOKUS 1 | Maret 2007

-A A +A
Versi ramah cetakPDF version
FOKUS 5 | Februari 2009
Lagak Benny dan Mice di Jakarta
JJ Rizal
02 Februari 2009


BULANNYA SEPTEMBER, tahunnya 2007. Terperanjat, para pecinta kartun terlompat dari tempat duduknya. Kaget. Dua orang kartunis, Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad yang lebih dikenal sebagai Benny & Mice, menerbitkan buku Jakarta Luar Dalem.

Tahun itu memang istimewa bagi Benny dan Mice. Genap satu dekade sudah mereka berkarya bersama. Namun satu dekade adalah masa yang pendek untuk menilai sebuah komik berhasil atau tidak mencerminkan zaman. Komik yang berhasil dianggap demikian biasanya beredar selama beberapa dekade, seperti komik Charlie Brown yang terbit sejak 1952. Komik Put on yang pernah terkenal di Indonesia—terutama terkait dengan kehidupan masyarakat peranakan Cina di Indonesia atau Jakarta khususnya—memerlukan waktu lebih daripada 30 tahun untuk dinilai sebagai cermin zaman. Jangka waktu nan panjang itu akan memberi cukup bahan untuk mengikuti perubahan politik, sosial, dan budaya yang terjadi.

Tetapi berani sumpah, dalam hal sejoli Benny dan Mice, satu dekade bukan berarti hanya cukup untuk melihat keberhasilan mereka berevolusi dari segi teknis. Atau bagaimana mereka berhasil menghimpun banyak pembaca, karena berhasil membuat pembacanya merasakan “hidup sedikit bertambah cerah” di tengah kehidupan kota yang penuh rasa frustrasi dan stress. Satu dekade sangatlah berarti karena dalam menggarap karya, keduanya telah menggabungkan dua cara kerja, yaitu proyek buku terjadwal dan komik strip.

Mulai 1997, bersama Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), keduanya terlibat proyek penerbitan serial Lagak Jakarta. Sampai 2007, mereka telah menerbitkan tujuh judul: Trend dan Perilaku, Transportasi, Profesi, Krisis.... Oh.... Krisis, Reformasi, dan (Huru-Hara) Hura-Hura Pemilu ’99. Bahkan KPG, yang pertama menemukan dan membidani kelahiran sejoli Benny dan Mice, menerbitkan kembali Lagak Jakarta edisi koleksi, dengan menggabungkan enam seri dalam dua buku sebagai tanda sepuluh tahun Benny dan Mice berkarya. Tak berapa lama, KPG juga menerbitkan karya lain mereka, 100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta. Pada saat bersamaan pula, Penerbit Nalar menerbitkan kumpulan komik strip Benny dan Mice di harian Kompas sebagai buku Kartun Benny & Mice: Jakarta Luar Dalem. Kemudian menyusul seri keduanya, Kartun Benny & Mice: Jakarta Atas Bawah, setelah diseling oleh Kartun Benny & Mice: Talk About Hape. Sampai Oktober 2008, masing-masing kumpulan komik strip itu sudah terjual lebih daripada 25.000 eksemplar.

Inilah yang memungkinkan tersedianya cukup bahan untuk menimbang karya Benny dan Mice sebagai karya yang disebut Bre Redana sebagai “sangat relevan dengan zamannya”, terutama kehidupan masyarakat Jakarta pada masa akhir Orde Baru dan menggelindingnya zaman baru alias Orde Reformasi.

ADA KARENA KEKACAUAN JAKARTA
Dalam sebuah wawancara radio, Wimar Witoelar berhasil mengorek keterangan dari Benny dan Mice, bahwa karya mereka lahir dari kacaunya situasi Jakarta yang membuat ibukota ini menjadi hunian dengan penghuni yang “keadaannya lucu”.

Ihwal kekacauan perkembangan Jakarta yang membuahkan kehidupan konyol itu sebenarnya bukan hal baru. Hal ini setidaknya telah diendus ketika pada 1995 sejumlah akademisi Indonesia-Belanda dari pelbagai latarbelakang ilmu berkumpul di Leiden, Belanda, untuk membahas perkembangan Kota Jakarta dan penghuninya, yang hasilnya kemudian dibukukan sebagai Jakarta-Batavia: Socio-cultural essays pada 2000. Lantas pada 2003—hampir bersamaan dengan mulainya Benny dan Mice menjadi pengisi tetap rubrik kartun di Kompas Minggu—pengamat kota Marco Kusumawijaya menerbitkan buku kumpulan esainya, Jakarta: Metropolis Tunggang Langgang.

Jakarta memang kota yang tergopoh-gopoh, bahkan tunggang-langgang. Sebagai ibukota Indonesia, ia mengalami banyak perubahan luarbiasa, terutama dalam beberapa dasawarsa setelah perang. Migrasi penduduk yang sudah menjadi fenomena sejak Jakarta masih bernama Batavia, berlanjut selama periode itu pada skala lebih besar, sehingga menjadikan komposisi kelompok sosial di Jakarta sangat beragam. Penduduk Jakarta bukanlah orang-orang yang dipilih secara khusus dan mereka telah terpengaruh oleh gaya hidup dan budaya metropolitan yang sibuk. Jakarta adalah sebuah kuali pelebur (melting pot), tempat orang Betawi, Batak, Sunda, Jawa, Makassar, Cina, Arab, sampai India lumer jadi satu. “Di Jakarta, Tuhan sedang membuat orang Indonesia,” ujar Lance Castles. Jakarta adalah satu-satunya kota yang paling Indonesia.

Laju perubahan terasa lebih hebat lagi pada akhir 1980-an dan awal 1990-an. Perubahan dalam periode ini sangat berbeda dengan sebelumnya karena skala pelebaran kota menjadi sangat besar, melibatkan banyak sekali pembangunan, dan memapankan penggabungan Jakarta dengan wilayah sekitarnya yang terkenal sebagai konsep Jabodetabek yang telah dimulai sejak 1970-an.

Metaformosis perkotaan yang cepat itu semakin menjadikan Jakarta paling unggul di antara kota lain di Indonesia, disertai perubahan fundamental gaya hidup penduduknya, terutama yang berasal dari kelas menengah dan atas. Pada satu sisi, mereka mempertahankan kebudayaan daerah masing-masing, di sisi lain mereka merupakan bagian dari kebudayaan metropolitan atau nasional yang belum terbentuk.

Di bawah kendali rezim tamak Orde Baru, Jakarta rupanya dipacu lari tunggang-langgang ke arah yang salah. Kota dan ruang hanya menjadi alat pertumbuhan. Akibatnya, masyarakat Jakarta kecolongan kesempatan untuk menikmati kota yang tujuan sejatinya adalah sebuah permukiman manusia. Jakarta tidak mengarah ke metropolis yang diimpikan, melainkan ke arah miseropolis, kota yang bergelimang kesengsaraan, semrawut tak terkendali, tanpa identitas dan keanggunan serta kemesraan, miskin akan fasilitas dan utilitas kota, yang mengakibatkan penderitaan bagi masyarakatnya. Arus reformasi politik yang pecah pada 1998, tidak saja melengserkan Soeharto tetapi juga merobohkan sistem lama yang melindungi Jakarta dari dorongan masyarakat agar memiliki pemerintah yang transparan. Segera tampak bahwa kekacauan Jakarta itu sungguh bukan suatu ceracau sejumlah pengamat belaka.

Tahun-tahun Benny dan Mice mencipta adalah saat puncak segala masalah yang digambarkan oleh para pengamat itu mulai tampil sebagai kenyataan. Saat itu, siapa pun dapat merasakan dan melihat betapa Jakarta mengalami kekacauan—kalau tidak disebut kegagalan—arah pembangunan. Tak terkecuali Benny dan Mice sebagai penghuninya. Namun bagi Benny dan Mice, kekacauan Jakarta adalah sumber inspirasi, mereka “bekerja sebagai pengamat yang berpandangan tajam… sebagai antropolog dan sosiolog par excellence”. Inilah fakta bahwa mereka hadir dengan kesadaran untuk ikut dan terus menempatkan diri bersama arus besar dari berbagai upaya pengungkapan dan pemahaman akan kehidupan dan berbagai persoalan kekacauan Jakarta yang hadir dan merebak sejak 1990-an.

BENNY DAN MICE: SEBAGAI MANUSIA DAN KARTUN
Benny Rachmadi alias Benny lahir di Samarinda, Kalimantan Timur, 23 Agustus 1969. Besar di Samarinda dan sejak kecil senang menggambar, ia bercita-cita belajar desain grafis di Jakarta. Maka pada 1986, ia pindah ke Jakarta untuk kuliah di Jurusan Desain Grafis di Fakultas Seni Rupa, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), tempat ia kemudian bertemu dengan anak Betawi (?) kelahiran 23 Juli 1970, Muhammad Misrad atau Mice, yang juga menempuh Diploma 3 di jurusan yang sama pada 1988. Sejak SMA, Mice aktif mengirim gambar-gambarnya ke berbagai majalah dan ingin menjadi kartunis karena terkesan pada papan iklan.

Selama di IKJ itulah Benny dan Mice menjadi ‘teman seperjuangan’. Mereka berduet mengerjakan koran dinding IKJ. Di tangan mereka, isi koran dinding yang semula berupa tulisan ilmiah, dirombak menjadi kartun dengan tampilan kejadian sehari-hari. Di sana, muncul benih-benih reportase yang menyentil lewat medium kartun.

Adalah pemimpin redaksi KPG, Parakitri Simbolon yang kemudian melihat potensi Benny dan Mice ketika pada 1997-1998 mereka mengerjakan ilustrasi untuk saduran buku The Death of Economics karya Paul Ormerod. Demi melihat gambar mereka, KPG menawarkan agar Benny dan Mice membuat buku sendiri. Nama buku Lagak Jakarta adalah ide Parakitri Simbolon, sementara Pax Benedanto dan Chandra Gautama adalah redaktur KPG yang kemudian membidani kelahiran karya Benny dan Mice secara serius. “Pengalaman di koran dinding cukup membantu karena kami terbiasa bekerja sebagai tim,” kenang Benny.

Kejadian itu mengingatkan kita pada pengalaman serupa Kwo Wan Gie ketika memulai serial Put On. Ada peranan penting orang lain dalam membentuk sudut pandang dan ide mengembangkan karakter komik. Ang Jan Goan dan Kwee Kek Beng, manajer dan pemimpin redaksi Sin Po, adalah dua orang yang sangat membantu Kho Wan Gie. Sedangkan pada Benny dan Mice, tak bisa dinafikan peranan jajaran redaksi KPG yang dekat dan kuat dengan kajian sosiologi, menempa dan memasok ide bahkan bahan, serta membentuk kesadaran dini Benny dan Mice untuk membuat karya yang tak hanya menghibur namun juga bermuatan, lewat sudut pandang berbeda, yaitu kartun.

Berlatarbelakang itu, Benny dan Mice menjadi satu-satunya kartunis dalam sejarah kartun Indonesia yang begitu hadir sudah bersudut pandang dalam komiknya. Sebelum keduanya, Kho Wan Gie pun terkenal sebagai komikus dengan materi karya bermuatan. Namun selama 30 tahun Kho Wan Gie membuat kartun Put On, tak pernah sekalipun ia mengungkapkan bahwa kartun buatannya itu sebagai materi bermuatan. Pendapat ini baru datang belakangan, dan dari luar dirinya—oleh para akademisi—bahwa Put On adalah suatu dokumen sosio-kultural yang dari 30 tahun perjalanannya sebagai terbitan rutin, memungkinkan setiap pembacanya mengikuti berbagai perubahan politik, sosial, dan budaya masyarakat peranakan Cina di Indonesia, khususnya Jakarta, dan bagaimana mengatasi masalah-masalah khas kelompok sosial mereka.

Namun perlu diingat, dalam tiga serial pertama Lagak Jakarta, Benny dan Mice masih bekerja sendiri-sendiri. Seri pertama, Trend dan Perilaku (1997) dikerjakan oleh Mice. Meski kentara betul Mice menjadi “mesin fotocopy” kartunis Lat asal Malaysia, namun serial ini berhasil menggambarkan budaya konsumerisme dan snobisme masyarakat kelas menengah dan atas Jakarta sebelum krisis moneter 1998 (Gambar 1).

Sementara Benny hadir dengan seri Transportasi (1997) dan Profesi (1997), yang menggambarkan betapa tanpa angkutan umum yang andal, Jakarta adalah mimpi buruk (Gambar 2). Dalam penampilan perdananya ini, Benny memang terlihat kurang mendalam memasuki masalah, sebab hanya berfokus pada angkutan umum, tapi masih abai terhadap transportasi keretaapi Jabotabek yang menjadi ciri khas hubungan Jakarta dengan kota-kota satelitnya, dan sampai melupakan moda tranportasi pribadi di Jakarta, seperti pemakaian motor dan mobil mewah, beserta situasi dan kondisi jalan-jalan Jakarta yang buruk, yang tentu akan menambahkan aspek faktual dan kritikal tentang penggambaran Jakarta. Pada seri Profesi, tampak Benny berniat menguak Jakarta sebagai kota yang menawarkan harapan kehidupan alternatif dan kesempatan yang tersembunyi, terutama terkait dengan orang miskin yang datang dan menetap di Jakarta seraya bekerja apa saja sekenanya untuk bertahan, serta permukiman kumuh yang menjadi pilihan rasional untuk tinggal. Sayang, seri ini pun masih tampak canggung dan makin ke belakang menjadi kedodoran dalam mengemukakan ide “kota sejuta harapan”, hingga akhirnya seri ini lebih bisa disimpulkan sebagai semacam prototipe seri Lagak Jakarta: 100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta (2008), selang sepuluh tahun setelah Profesi terbit. Yang terakhir ini, sayangnya, walaupun sudah dikerjakan berdua masih juga memperlihatkan kecanggungan dan kedodoran untuk menjadi karya tentang sudut pandang “orang biasa yang penting”. Tetapi yang menarik adalah, dari segi teknik, sejak mula Benny memperlihatkan kalau ia sudah mempunyai karakter sendiri.

Serial keempat Lagak Jakarta: Krisis… Oh… Krisis (1998), meski belum menggunakan nama Benny dan Mice, adalah detik kelahiran mereka sebagai sosok kartun (Gambar 3). Sekaligus momen pertama mereka berkarya bersama. Seri ini dibuka dengan gambar mereka berdua sedang asyik berjemur di pinggir kolam renang sembari santai ditemani minuman, seolah “orang sukses”. Di latarbelakang mereka, tampak siluet kota Jakarta dengan gedung-gedung jangkungnya dan tentu saja, Monas. Dan di balik segala kemewahan itu bersembunyi bahaya besar yang segera menyergap Jakarta: krisis moneter yang kemudian akrab disebut ‘krismon’.

Meskipun dari aspek grafis seri ini kurang memperlihatkan pemaduan gaya dan teknik gambar, namun dialog maupun komentarnya makin canggih. Isinya lebih menarik karena mencerminkan kehidupan sehari-hari dan masalah yang ada pada masa krisis moneter itu di Jakarta, saat gerak dan dampak krisis paling terasa. Masalah fundamental ekonomi Indonesia yang lemah, utang menumpuk, korupsi, kolusi, nepotisme yang mengakibatkan rupiah melemah dan krisis yang menyebabkan harga melonjak, aksi borong barang oleh masyarakat, pemutusan kerja massal, proyek bangunan terbengkalai, likuidasi bank-bank, juga “Gerakan Cinta Rupiah”, semua hadir di seri ini. Adalah menarik bahwa seri ini dibuka dan ditutup dengan gambaran kuatnya budaya konsumerisme dan snobisme kelas menengah dan atas Jakarta, sebelum maupun di tengah krisis ekonomi.

Pada seri selanjutnya, Reformasi (1998), pembaca disajikan grafis-bersama yang prima, komentar-dialog yang canggih, dan sebuah dokumen sosial-politik yang berbobot dengan latar-peristiwa meletusnya reformasi beserta dampak sosial-politik yang mengikutinya, langsung dari jantung peristiwa: Jakarta. Saking berbobotnya, terasa betul kali ini Benny dan Mice hendak menampilkan diri sebagai “analis politik”. Sejak awal keduanya sudah terlibat dalam dialog yang mempertanyakan keampuhan gerakan reformasi. Sebab sudah setahun kritis tapi belum juga terlihat tanda-tanda kemajuan dan perbaikan nasib. Lantas, melalui kilas-balik, keduanya memaparkan dasar-dasar kekuasaan politik dan praktik ekonomi Orde Baru serta model pembangunan yang dipilih. Krisis yang tiba lantas disambung oleh gerakan reformasi, lengkap dengan kisah mahasiswa yang mati dalam demonstrasi, dan penjarahan yang membuat Jakarta tak aman, serta pendudukan gedung MPR/DPR, termasuk kontroversi Presiden Habibie, kebebasan media, juga ganti baju para politisi dan ramai-ramai muncul partai baru. Yang terakhir ini kemudian diungkapkan lebih pada seri (Huru-Hara) Hura-Hura Pemilu ‘99, dan ini pun tak kurang semangatnya untuk tampil sebagai “analisa politik” berbentuk kartun dengan terlalu banyak kata-kata.

Pada tiga seri terakhir, Benny dan Mice tentu telah berjasa membuat sebuah rekaman sosial-politik Jakarta menjelang dan pada masa awal reformasi, berbentuk gambar. Namun, sebagai karya, tiga seri tersebut lebih mendekati sebuah kaleidoskop bergaya kartun politik (Gambar 4). Sebagaimana disebut oleh Ray Soemantoro dalam Sinar Harapan, 26 April 2008, tiga terakhir seri Lagak Jakarta itu memang menjadi “hasil karya yang masih hangat bila dibaca hingga sekarang” tetapi terasa “sarat akan pesan moral, kalau tidak mau disebut menggurui”.

Pada Lagak Jakarta, sejoli ini akhirnya memang dibebani gagasan-gagasan besar untuk menampilkan kartun berkelas “laporan sosiologi” sebagaimana tersebut dalam halaman pembuka setiap seri Lagak Jakarta. Dalam situasi ini, bukan tak ada harapan untuk mendapatkan sebuah pengalaman otentik dan khas antara individu dan tatanan sosial, tetapi pada kenyataannya menjadi lain: individu tenggelam dalam arus peristiwa dan kehilangan peran dan perasaannya, sehingga berakhir dalam keumuman saja.

Adalah menarik untuk mencermati pengamatan Hikmat Darmawan, seorang pemerhati kritis komik Indonesia. Dalam sebuah ulasan atas komik Tita Larasati, Curhat Tita: a Graphic Diary, Hikmat sempat menyinggung bahwa “Komik Lagak Jakarta […] tak sepenuhnya bisa dikategorikan sebagai model komik biografis atau graphic diary karena masih mengandung kehendak menjadi komik fiksi”. Memang, pada masa-masa awal Lagak Jakarta terutama di seri Transportasi dan Profesi, Benny Rachmadi sempat menunjukkan gagasan komik sebagai medium untuk mendedahkan sepenuhnya pribadi seorang seniman atau bersifat otobiografis. Pembaca pun bisa menikmati pengalaman individual seniman sebagai pengalaman bersama, lengkap dengan aspek kritiknya, seperti pengalaman khas warga Jakarta yang sering pulang malam dan naik omprengan yang menuntut sikap curiga tinggi dan tak jarang berujung konyol, atau pengalaman naik metromini yang memaksa si seniman yang berbadan tinggi memilih duduk menyimpang ketimbang lurus ke arah supir tetapi mesti menekuk dengkul. Juga ketika si seniman sedang bernyaman-nyaman dalam bis dan tiba-tiba dipindahkan ke bis lain yang penuh sesak, ia cuma jadi penumpang, dan namanya menumpang maka boleh diperlakukan semena-mena.

Pengalaman-pengalaman individual yang disebut Hikmat sebagai pengalaman “jiwa gelisah” Benny yang sempat nongol itu, seharusnya memang bisa menguat pada Lagak Jakarta, apalagi Benny dan Mice pernah mengaku “amat sangat meneladani dan dipengaruhi oleh Lat” yang menjadikan model komik biografis dan graphic diary sebagai ideologi berkarya. Tak perlu sampai ke negeri tetangga, di Jakarta pun jauh sebelum Lat sudah ada Put On karya Kho Wan Gie yang kalau diperhatikan adalah model terdekat komik biografis dan graphic diary. Ideologi berkomik itu, pada Benny dan Mice memang sempat timbul-tenggelam, namun bukan berarti mati, sebab pada 2003 ideologi itu hidup kembali melalui harian Kompas yang memberikan mereka kesempatan untuk mengisi komik strip rutin setiap hari Minggu. Bukan saja sebagai sejoli kartunis tetapi juga sebagai sosok kartun di mana pengalaman individual keduanya dengan sekeliling menjadi titik sentral dari semua cerita kehidupan sehari-hari.


BENNY & MICE: TUBANGKE GILE ASAL GOBLEK

Kartun Benny dan Mice adalah penggambaran dari Benny Rachmadi dan Muh. Misrad sendiri. Benny dan Mice adalah warga Jakarta yang bertampang pas-pasan dan samasekali tak punya ciri pahlawan. Bila ia berusaha menjadi seseorang, sesuatu yang konyol pun terjadi. Potongan badan keduanya yang kerempeng juga mempermudah mereka digambarkan dalam berbagai situasi lucu.

Soal umur, kira-kira di atas 30-an tahun, atau mungkin 40-an, tapi tampak bahwa keduanya bertabiat dan berkelakuan tak ubahnya seorang ABG (Anak Baru Gede), saben-saben merenggangkan diri terhadap berbagai ikatan aturan. Di Jakarta, memang banyak sosok orang tua tetapi berkelakuan ABG. Bahkan orang Betawi punya ungkapan tubangke gile untuk menggambarkan orang tua dengan kelakuan masih seperti anak-anak.

Bagaimanapun, tubangke gile dianggap sebagai sesuatu yang tidak pada tempatnya dan sangat tidak patut. Namun, perilaku yang tidak patut itulah yang menjadi kunci keberhasilan komik strip Benny dan Mice di harian Kompas (Gambar 5). Sebab dari sanalah muncul satu aspek yang paling menarik, yaitu penggambaran petualangan dua orang lelaki penghuni Kota Jakarta yang tabiatnya—seperti kata Benyamin S—“asal goblek” alias seenaknya, asal saja. Dan sikap asal goblek yang merupakan implikasi dari pilihan menjadi tubangke gile ini menarik untuk diperhatikan sebab hal itu muncul sebagai cerminan—lebih jauh lagi penyikapan (kalau tidak bisa disebut sebagai budaya tanding)—terhadap Kota Jakarta yang ternyata tumbuh dan berkembang secara kacau, tidak sesuai kepatutan.

Kalau membaca dua kumpulan kartun Benny dan Mice: Jakarta Luar Dalem dan Jakarta Atas Bawah, tampak bahwa semesta komik Benny dan Mice adalah dunia yang tanpa kepatutan. Semesta yang berbeda sekali dengan Put On. Put On tinggal bersama ibunya yang selain suka mengomel juga penuh disiplin dan dua adik laki-lakinya yang suka cari perhatian dan menggodanya. Rumah mereka berupa rumah petak dengan teras di depan dan halaman kecil di belakang, di mana ia kadang bekerja, beristirahat, dan mengalami sebagian besar petualangannya. Dalam komik itu, beberapa karakter lain berperan, seperti kakak perempuannya yang menikah dan tinggal di tempat lain, dan pacarnya Dortji. Put On bekerja di sebuah kantor dan mempunyai atasan yang bisa membuat hidupnya sangat sulit. Untuk memberi kontras kelajangan Put On dengan kehidupan seorang pria berkeluarga, ia “diberikan” seorang teman, A Liuk, yang sering bermasalah dengan istrinya.

Sedangkan, Benny dan Mice selalu berada dalam situasi yang tak beraturan (Gambar 6). Meskipun selalu hadir berdua, dan dalam beberapa kesempatan digambarkan bahwa mereka serumah, tapi sering juga mereka tampil tak serumah, bahkan berhadapan sebagai dua orang yang tak saling mengenal. Adalah menarik bahwa Benny dan Mice sedikit sekali memperlihatkan aspek etnisitas dalam semesta komik stripnya. Tak pernah pula diungkapkan asal-usul mereka. Benny dan Mice adalah ‘manusia baru’, kalau tidak bisa disebut ‘manusia kota’, yang rupanya sudah berhasil—meminjam ungkapan Goenawan Mohamad—“menggosok-gosokkan punggungnya hingga beberapa sisa masa lalu yang melekat seperti daki itu kikis, makin pudar.” Tiada itu Cina, Batak, Betawi, Sunda, Jawa, Melayu, ataupun Bugis. Di dalam komik strip mereka, Jakarta benar-benar sebuah kuali pelebur.

Secara ekonomi, kehidupan mereka ditampilkan sebagai masyarakat kelas bawah, bahkan kaum miskin Jakarta. Tetapi dalam saat-saat tertentu, keduanya bisa tampil sebagai orang berpunya, kelas menengah, bahkan elite bisnis Jakarta yang ke mana-mana bermobil, nongkrong di kafe, atau bepergian dengan pesawat. Begitu juga dalam soal pekerjaaan. Tak ada yang bisa disebut sebagai pekerjaan tetap mereka. Keduanya secara bersama atau sendiri-sendiri silih berganti tampil dengan berbagai pekerjaan. Mulai sebagai bos, karyawan kantoran lengkap dengan jas-dasi dan jam kantor teratur, eksekutif muda dengan telepon canggih dan komputer jinjing, juga sebagai selebriti televisi atau pemain band yang sedang naik daun, sampai menjadi pekerja kelas bawah, bahkan buruh kasar. Tetapi yang terakhir itulah yang paling banyak, sebut saja misalnya penjaga WC umum, pengemis sedekah di kuburan, pemilik toko, tukang ojek, penjaga gerai telepon genggam, penjaja keliling perabot rumah tangga, tukang pijat, calo tiket, pedagang baju muslim, pedagang jajanan, satpam, tukang obat di pasar, supir bus Transjakarta, tukang jahit keliling, kurir, tukang cukur, tukang tambal ban, pedagang parsel, orang kantoran, sampai tukang sampah. Dalam situasi itulah mayoritas cerita dan petualangan keduanya berlangsung.

Kalau ada karakter lain yang keliatan agak teratur hadir, maka itu hanyalah tukang bajaj dan selebritis Dian Sastro. Soal istri dan pacar boleh dibilang kurang mendapat tempat, bahkan dalam satu seri digambarkan Benny yang menikah, tetapi sebentar saja sudah kembali kepada pasangannya: Mice. Di sini jelas bahwa Benny Rachmadi dan Muh. Misrad enggan untuk keluar dari perkawanan, memilih tetap sebagai tubangke gile, meskipun dengan begitu menghilangkan suatu kesempatan untuk memperlihatkan kehidupan laki-laki yang telah menikah beserta problematikanya, yang tentu saja akan memperkaya semesta komik strip Benny dan Mice.

Tapi kedua kartunis rupanya telah memilih karakter komik mereka untuk terbebas dari semua yang akan mematok pada satu model kehidupan. Ini sudah terlihat sejak di panel pertama, di mana judul yang terpampang bergambarkan Benny dan Mice dengan karakter yang selalu berubah. Terus berada di tengah bermacam profesi dan situasi serta fantasi kehidupan masyarakat Jakarta yang beraneka ragam itu, rupanya telah menjadi formula yang memungkinkan mereka menghadirkan ironi-ironi komikal, meskipun tak jarang berakhir slapstick belaka, model Srimulat yang menganggap lucu itu hanyalah ‘salah tempat’ dan ‘aneh’. Namun, seperti kata Bre Redana, salah tempat dan keanehan itu tetap saja mengundang tawa, sebab keanehan dan salah tempat itulah Jakarta.

Bagaimana tidak, Jakarta memang telah membuat banyak orang frustrasi karena kota ini gagal menjadi tempat hidup yang lebih baik. Sebagian warganya hidup tunggang-langgang di dalam dan bersamanya. Namun, sebagai metropolis yang menawarkan kesempatan kosmopolitan, ia tetap saja menarik banyak orang. Ia masih dicintai banyak orang, meskipun yang sinis dan benci juga ada banyak, segambreng. Banyak impian pribadi terpenuhi, sebanyak yang terburai di antara para pecundang, tetapi harapan kolektif tak pernah sampai, meskipun terdapat begitu banyak rencana dan kekuatan ekonomi. Banyak yang telah menyerah, tak lagi berharap, menjadi gusar, dan yang lain tak peduli bahkan sampai antipati, semata menarik diri dalam mimpi pribadi masing-masing. Rencana masih dibuat tetapi hampa harapan dan semangat bersama. Jakarta menjadi kota asing. Namun tidak ada pilihan lain, tenggelam dalam arus kota atau tunggang-langgang menyesuaikan diri demi bertahan hidup. Situasi dan mereka yang tunggang-langgang itulah yang menjadi titik berangkat kartun Benny dan Mice. Dari sana diambil cerita-cerita hidup di Jakarta yang sering kali terasa konyol, sebab berbagai kenyataan yang dialami penghuninya lebih fiktif ketimbang fiksi itu sendiri.

TALK ABOUT HAPE, BICARA TENTANG KONSUMERISME
Kalau ada aspek yang paling menyita perhatian Benny dan Mice, itu adalah konsumerisme di Jakarta. Ibukota ini adalah titik di mana gaya berpakaian, berbagai gagasan serta barang dari penjuru dunia paling banyak beredar di Indonesia. Dalam hal terakhir itulah, Jakarta dipacu sebagai unit dagang. Di sinilah konsumerisme merajalela, melahirkan snobisme.

Karya keduanya tentang konsumerisme bisa dianggap berhasil sebagai dokumen zaman. Dalam bukunya A History of Modern Indonesia, Adrian Vickers merujuk kartun mereka untuk menggambarkan tentang konsumerisme di kalangan elite sebelum krisis ekonomi di Indonesia. Tetapi bagi Benny dan Mice, konsumerisme tak hanya mewabah di kalangan elite, namun juga masyarakat kecilnya. Dan justru mereka inilah yang telah memunculkan perilaku “snob-snob” yang menjadi sumber kekonyolan dan kelucuan. Menurut mereka, mayoritas warga Jakarta hidup di bawah panji “lebih baik kurang berat badan daripada kurang gaya”, “mendingan ketinggalan busway daripada ketinggalan gaya”.

Kartun Benny dan Mice: Talk About Hape yang terbit pada Maret 2008, adalah karya yang bisa mewakili sikap mereka yang paling utuh akan mewabahnya jargon tersebut. Hape (handphone: telepongenggam) memang telah menjadi gaya hidup yang—dalam kartun ini—membebani hidup masyarakat Jakarta. Fungsi telepongenggam menjadi jauh dari fungsi asalnya sebagai alat komunikasi. Bagi Benny dan Mice, telepongenggam adalah contoh paling nyata ikhwal bagaimana konsumerisme itu menemukan mangsa empuknya. Sebab itu gaya hidup bertelepongenggam digambarkan lebih sering menekan, bahkan mengalahkan kebutuhan hidup lain. Sejak halaman awal, Benny dan Mice sudah memberikan ilustrasi, bahwa tanpa telepongenggam, seseorang di metropolitan Jakarta bukan saja akan merasa terkucil dan terancam hidupnya, namun bertelepongenggam sama artinya dalam situasi tercekik, bukan saja oleh belanja pulsa, tapi juga untuk terus mengikuti perkembangan modelnya.

Sebagai buku dengan tujuan membahas telepongenggam, Talk About Hape bisa dikatakan sangat berhasil dalam menyampaikan pesan akan mudaratnya benda itu. Saking lebih banyak mudarat ketimbang manfaat, bahkan buku ini diakhiri dengan adegan Benny dan Mice menjual telepongenggam ke Saidi Cellular karena ternyata hanya membuat—seperti kata Mice—“miskin amat”. Adegan akhir itu memang langsung terasa sebagai keputusan berlebihan, bahkan bodoh dan tidak arif, tetapi seharusnya adegan itu tidak membuat setiap orang kehilangan pesan yang ingin disampaikan, yaitu keinginan untuk menjadi lebih baik.

Telepongenggam sebagai simbol benda dan perilaku konsumerisme yang sebenarnya, sudah disoroti Benny Rachmadi dan Muh. Mirsad sejak pertama mereka berkarya. Bahkan hampir di setiap seri buku mereka, persoalan telepongenggam selalu mendapat perhatian lebih, seperti dalam Lagak Jakarta: Trend & Prilaku, Transportasi, Profesi dan Kartun Benny & Mice: Jakarta Luar Dalem dan Jakarta Atas Bawah. Adalah menarik, terutama dalam seri Jakarta Atas Bawah, bahwa telepongenggam tidak melulu ditempatkan sebagai sesuatu yang negatif, namun juga positif sebagai benda bermanfaat. Dalam konteks itu, bisa disebut bahwa Talk About Hape adalah puncak dari pembahasan telepongenggam sebagai simbol benda dan perilaku konsumerisme yang sebenarnya, tetapi tidak dapat disebut sebagai sebuah sikap yang final, kalau tidak bisa disebut ambigu.

AKHIR
Untuk saat ini, Benny Rachmadi dan Muh. Misrad telah membuat karya terdepan dalam komik Indonesia, bila dikaitkan dengan relevansi atas zamannya, terutama dalam konteks Jakarta, sebuah metropolitan “di mana Tuhan menciptakan manusia Indonesia”.

Meski sejak dini keduanya berniat membuat kartun dengan materi bermuatan, tetapi pada seri Lagak Jakarta, sudut pandang mereka sendiri tampak belum mantap. Lagak Jakarta adalah pengantar yang akhirnya membawa mereka menemukan Benny dan Mice sebagai satu formula menyiasati kenyataan kehidupan masyarakat Jakarta di suatu periode yang sulit secara sosial dan ekonomi, ke dalam ironi komikal. Menjadi tubangke gile asal goblek merupakan sikap protes atas pemerintah dan kaum berduit yang telah membubuhkan cap terlalu kuat pada Jakarta. Sebuah aksi perlawanan untuk sedapat mungkin seseorang mampu memiliki hak dan kesempatan berperan secara aktif memberikan cap pribadi atau kelompok pada Jakarta. Dalam konteks itulah perilaku nyeleneh, nyinyir bahkan kasar, keras, hingga subversif yang sering kali muncul, saben-saben nongol dalam karya mereka, mesti ditempatkan.

Sebab itu—terlepas dari keduanya sering kehabisan napas, diterpa berbagai krisis ide atau bahan, yang membuat karya mereka kurang menukik—selama satu dekade Benny dan Mice berkarya berdua, masyarakat Jakarta bahkan Indonesia bukan saja bisa melihat evolusi teknis dari kartunis terdepan Indonesia sekarang, tetapi juga pergulatan mereka dalam membuktikan filosofi berkomik supaya tak sekadar “more succesful in conception than in execution”. Suatu filosofi berkomik yang menantang, tentang bagaimana mereka menjadi saksi yang tegang dalam menyesuaikan diri dengan kecemasan di sepanjang perkembangan dan perubahan Jakarta sebagai metropolitan yang kacau.

Depok, Desember 2008

JJ RIZAL lahir di Jakarta, 1975. Ia kuliah di Jurusan Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Setelah lulus pada 1998, ia mendirikan Penerbit Komunitas Bambu yang banyak menerbitkan buku-buku ilmu pengetahuan budaya dan humaniora. Penerbit ini berkembang dan pada 2005 membuat sayap penerbitan Masup Jakarta yang khusus menerbitkan buku-buku sejarah dan sastra Jakarta. Selain menjadi editor buku, ia juga menulis di berbagai media massa. Selama 2001-2006 ia pernah menjadi kolomnis tetap tentang sejarah Batavia-Betawi-Jakarta untuk MOESSON Het Indisch Maandblad di Belanda. Karyanya telah dimuat dalam kumpulan Politik Kota Kita (Penerbit Kompas, 2006), Onze Ong: Onghokham dalam Kenangan (Komunitas Bambu, 2007), dan Sejarah yang Memihak: Mengenang Sartono Kartodirdjo (Ombak, 2008).



1. Lagak Jakarta Edisi Koleksi 1, “Trend & Prilaku” (Kepustakaan Gramedia Populer, 2007), hal. 27, 28, 30.


2. Lagak Jakarta Edisi Koleksi 1, “Transportasi” (Kepustakaan Gramedia Populer, 2007), hal. 190.


3. Detik kelahiran Benny dan Mice sebagai sosok kartun. Lagak Jakarta Edisi Koleksi 2, “Krisis …Oh …Krisis” (Kepustakaan Gramedia Populer, 2007), hal. 3.


4. Lagak Jakarta Edisi Koleksi 2, “Reformasi” (Kepustakaan Gramedia Populer, 2007), hal. 159.


5. Kartun Benny dan Mice: Jakarta Luar Dalem (Penerbit Nalar, 2007), hal. 11.

6. Kartun Benny dan Mice:Jakarta Luar Dalem (Penerbit Nalar, 2007), hal. 131.


7. Kartun Benny dan Mice:Jakarta Atas Bawah (Penerbit Nalar, 2007), hal. 11.


8. Kartun Benny dan Mice: Talk About Hape (Penerbit Nalar, 2007), hal 87 & 69.

Seluruh pemuatan gambar dilakukan atas izin dari penerbit. Terimakasih kepada
Pax Benedanto dari Penerbit
Kepustakaan Gramedia Populer dan Sidabutar Leo Tigor dari Penerbit Nalar.


Komentar

Clash of Clans Hack rédigé par nous est testé et sans virus.

 Jangka waktu nan panjang itu akan memberi cukup bahan untuk mengikuti perubahan politik, sosial, dan budaya yang terjadi.

Its such as you learn my thoughts! You appear to know so much about this, like you wrote the e book in it or something. I feel that you just can do with some percent to drive the message home a bit, however other than that, this is fantastic blog. A great read. I'll definitely be back. twitter twitter twitter
Hello there! This post couldn't be written any better! Reading through this post reminds me of my previous roommate! He continually kept talking about this. I am going to send this article to him. Fairly certain he will have a good read. Thanks for sharing!
It's the best time to make some plans for the future and it's time to be happy. I've read this post and if I could I wish to suggest you some interesting things or tips. Perhaps you could write next articles referring to this article. I wish to read more things about it!
like your site ate my first comment (it was extremely long) so I guess I'll just sum it up what I wrote and say, I'm thoroughly enjoying your blog..
For most recent information you have to pay a visit the web and on the web I found this site as a best web page for newest updates.

I am wondering how I might be notified whenever a new post has been made. I have subscribed to your RSS which may do the trick? Have a great day

sum it up what I wrote and say, I'm thoroughly enjoying your blog. I too am an aspiring blog writer but I'm still new to the whole thing..

  

so I guess I'll just sum it up what I wrote and say, I'm thoroughly enjoying your blog. I too am an aspiring blog writer but I'm still new to the whole thing. Do you have any points for novice blog writers? I'd really appreciate it.

 

 

http://www.amazon.com/Industrial-Stainless-Unpeeled-Priority-Chef/dp/B00JJOEV9Y

 

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.