FOKUS 1 | Maret 2007

-A A +A
Versi ramah cetakPDF version
FOKUS 5 | Februari 2009
Mencari Jakarta dalam Senggol Jakarta
Arief Ash Shiddiq
04 Februari 2009


UNTUK PARA redaktur, pada malam kesekian, dengan tumpukan komik di sisi.

Terasa seperti mengunyah sepah tebu saat membaca tiga kompilasi komik Senggol Jakarta (2007) terbitan Akademi Samali ini. Tawar dan tak berisi. Terus terang, saya bingung betul mau menulis apa atau mulai dari mana.

Kata orang, semua bermula dari kata. Tentu saja tidak. Semuanya bermula dari tindakan. Dan tindakan itu, beberapa berulang lalu menjadi penting, beberapa menghasilkan sesuatu yang diinginkan sehingga menjadi penting, lalu lahirlah tradisi. Itu yang saya percaya.

Menulis tentang komik di Indonesia semestinya bermula dari tradisi. Namun, seperti dalam kisah Fiddler on the Roof, tradisi tidaklah mudah dipegang. Nilai-nilai berubah. Begitu pula yang dianggap penting, bermakna, atau berguna, juga berubah. Terkadang saya merasa semua itu cukup selama biola tersebut masih dimainkan, walau nada yang terdengar terkadang sayu, sering sumbang. Kadang sang pemain biola terpeleset, dan saat-saat demikian, saya menyesal tak memperhatikan nada-nada terakhir yang dimainkan, karena mungkin biola tersebut masih akan lama berbunyi lagi.

Itulah alasan kita tetap berharap, bukan? Para komikus kita masih memainkan biolanya. Dan, dengan memperhatikan nada-nada yang dimainkan mereka, kita bisa teriak protes, mengacungkan kepalan pada nada-nada sumbangnya. Jadi, saya masih berharap, ada yang bisa dicatat sebagai permulaan yang baik dari kompilasi Senggol Jakarta ini.

Mengenai kedekatan komik dan kota, dalam tradisinya, dalam sejarahnya, komik memang lahir dengan cara “memaki-maki” kota. Dengan cara memaki-maki kotalah, komik Yellow Kid lahir. Komik Lagak Jakarta rasanya juga lahir dengan cara yang sama. Melalui media massa, komik menertawakan wajah penghuni kotanya sendiri.

Dalam sejarah perkembangannya, komik dan kota tak terpisahkan. Awalnya, komik strip bercerita tentang secuil bagian kota. Saat semakin populer, komik koran Minggu memuat bagian kota yang makin luas. Kota-kota dipinjam untuk melahirkan kota-kota impian, New York dipinjam untuk menjadi Gotham, atau jadi Metropolis; terkadang dengan mengubah waktunya, Tokyo di banyak manga Jepang berubah menjadi Neo-Tokyo atau Post Apocalyptic Tokyo. Kota-kota impian dalam komik juga telah dipinjam dalam arsitektur kota yang nyata.

Itulah yang menjadi alasan saya membolak-balik lagi ketiga kompilasi ini. Komik pasti punya potensi besar untuk bicara tentang kota. Ia lahir karena lingkungan urban ini. Dengan keyakinan itulah, saya menawarkan tulisan di bawah ini.

GOYANG BOLEH, SENGGOL BACOK

Ada tiga kompilasi yang disusun Akademi Samali untuk memotret Jakarta. Kompilasi ini dikumpulkan dari berbagai komik para komikus muda yang ada di perpustakaan Akademi Samali. Selain dua kompilasi lain, yaitu Jakarta Senggol Dikit dan Jakarta Senggol-senggolan—kompilasi Jakarta Senggal Senggol disusun dengan tujuan menampilkan suasana Jakarta, untuk menunjukkan hal-hal yang Jakarta banget. Penyusun kompilasi ini berkata bahwa ia “cukup untuk ikut merasakan bahwa banyak hal yang ada di sekitar kita untuk menjadi tanda bahwa kota Jakarta ada.” Dengan keyakinan yang sama, saya mencoba mencari Jakarta dalam komik-komik ini.

Dalam kompilasi ini ada Achtung (Gambar 1), sebuah komik bergaya naif dan sederhana. Penyusun kompilasi memilih Achtung karena “bahasa-bahasa konyol yang diucapkan secara fasih”. Saya sendiri lebih tertarik pada cara Achtung menyusun waktu menjadi unit-unit yang sama panjang. Dari Senin sampai Sabtu, selama “seminggu yang penuh teror”, hari berganti tanpa perubahan isi dan tata panel, yang berubah hanya hari. Sederhana, dengan tawa mirip Beavis and Butthead.

Sementara pada komedi Jackass: an extreme form of slapstick, komik ini menampilkan tokoh-tokoh minim mimik dan sangat kartun, jauh dari figur realis. Hal ini membuat kekerasan yang ditampilkan Jackass tampak aman dan tak nyata, dan sesuai dengan narasi simplistik yang tak bercerita tentang apa-apa.

Apakah ini Jakarta?

Komik Bunga Liar menampilkan “cerita getir tentang mimpi manusia-manusia yang mulai merasa kerdil karena kerasnya hidup di Jakarta”. Goresan pena dalam komik ini memang keras. Cerita diawali dengan pesan moral yang bisa saja jadi menyenangkan, namun saat cerita ditutup dengan frase “… terpaksa beres…”, saya mulai curiga, jangan-jangan sang komikus tak mampu bercerita.

Kalau masalah kekerasan, rasanya ‘komik sambung-menyambung-menjadi-satu’ dalam kompilasi ini bisa menunjukkan bahwa kekerasan pada komikus ini adalah ‘kekerasan tanpa maksud jahat’. Menggebuk kepala orang tidak menimbulkan rasa sakit, orang bisa mati lalu hidup lagi, bahkan instrumen kekerasan pun dapat dipelesetkan. Ondel-ondel, botol, bajaj, dan andong yang bisa dikeroyok orang ramai-ramai, membuat kekerasan menjadi lucu.

Apakah ini Jakarta?

Kekerasan, padahal cukup nyata ada di Jakarta. Dalam komik Jon Neurotic, kekerasan bahkan menjadi “tokoh utama” cerita. Pengamen yang meminta dengan kasar, perkelahian fisik, sampai ulah kencing sembarangan memang terjadi di Jakarta. Tetapi apakah ini terjadi di tempat lain? Bisa saja. Bahkan bisa terjadi di desa sekalipun.

Sementara itu, komik Niken (Gambar 2) bercerita tentang kecelakaan lalulintas, pelecehan seksual di ruang kerja, dan kekerasan dalam rumahtangga. Kisah ini tipikal kota besar, dan mirip dengan Bunga Liar, ia getir.

Apakah ini Jakarta?

Di sisi lain, yang khas Jakarta mungkin memang komik Lagak Jakarta. Sumber inspirasinya nyata ada. Kelakuannya memang ada. Sedikit dilebih-lebihkan, kadang. Namun, bisa juga betul-betul sebuah fakta, seperti saat ada gambar seseorang berkaos Ellu-Ellu Gua-Gua, si komikus memberi catatan kecil bahwa “Teman kantor saya pernah memakai desain kaos ini!” (Gambar 3).

Yang jelas terlihat, dengan menggambarkan keberadaan warteg (Warung Tegal), trotoar, telepon umum, atau pembantu rumahtangga, yang Jakarta justru lebih terasa. Dengan memakai bahasa Betawi, yang Jakarta mungkin lebih tercatat. Dengan menggunakan bajaj, yang Jakarta mungkin lebih terjelajahi.

Mencari khas Jakarta mungkin bisa melalui ikon-ikonnya.

Tugu Monumen Nasional, bajaj, anak band, pengamen, waria, Museum Nasional, Taman Ismail Marzuki, gedung pencakar langit, jalan raya adalah sederetan ikon Jakarta yang dipakai untuk bicara tentang hal lain dalam kompilasi Jakarta Senggol Dikit (Gambar 4). Ikon-ikon ini sekadar dipinjam hingga rasanya memang tak perlu mencari Jakarta di kompilasi ini.

Yang khas Jakarta mungkin adalah persoalan-persoalannya.

Dalam Jakarta Senggol-senggolan hal inilah yang dirangkum. Sekian persoalan yang dihadapi ibukota ini tercatat dalam komik dan dikumpulkan oleh Akademi Samali. Dalam Jakarta Senggol-senggolan, inilah peta persoalan tersebut: 1. Kekerasan, 2. Kekerasan, 3. Kekerasan, 4. Bahasa, 5. Kekerasan, 6. Kekerasan, 7. Kekerasan, lagi. Pantas saja kekerasan harus dipelesetkan dan ditertawakan dalam komik-komik ini.

Walaupun sangat diragukan bahwa ada kesengajaan dari para komikus atau pembuat kompilasi, ternyata ada benang merah lain yang menarik dibahas lebih lanjut. Sekalipun tak berlaku untuk semua karya komik dalam tiga kompilasi ini, ternyata cukup banyak yang memiliki kesamaan, yaitu bahasan tentang ‘jalanan’.

Cerita-cerita tentang Jakarta yang disajikan dalam komik-komik ini sering kali terjadi di jalanan. Saya rasa ini bukan kebetulan. Tidak sulit untuk setuju bahwa di Jakarta, kehidupan terjadi di jalanan. Idiom “tua di jalan” sungguh akrab bagi orang Jakarta. Dan, bila para komikus kita ternyata berhasil menangkapnya, maka tak berlebih untuk bilang bahwa kita sudah punya komik Jakarta.

Apakah memang demikian?

Sulit untuk berkata “ya”. Jalanan sebenarnya jarang menjadi perhatian utama para komikus ini, karena jalanan jadi sekadar ‘tempat’. Beberapa memang punya perhatian khusus, seperti komik Jakarta (Beng Rahadian) yang berisi komentar karakter komik tentang para komuter di Jakarta (Gambar 5). Komik ini memiliki pernyataan yang cukup berani tentang apa itu Jakarta. Halaman pertama, setelah halaman judul, berisi pernyataan narator:

Panel 1
(caption)
Aku tinggal di sini

Panel 2
(caption)
Jakarta!

Panel 3
SFX (Sound effect)
BRAK!

Dari halaman pertama, narator telah membuat relasi antara Jakarta dan jalanannya sebagai fokus utama. Kecelakaan mobil, yang terjadi pada panel 3, menjadi cara masuk yang dramatis dari sang karakter utama. Sepanjang komik ini, kemudian, Beng bercerita tentang perilaku pengguna jalan Jakarta, dan berhasil membujuk saya untuk berpihak padanya, bahwa pilihannya untuk bicara hanya tentang kehidupan jalanan di Jakarta adalah pilihan yang tepat untuk bicara tentang kota ini. Bagi saya, ini salah satu komik yang berhasil mengemukakan Jakarta.

Tetapi contoh yang berhasil menyatakan secara sadar tentang pentingnya memperhatikan jalanan untuk bercerita tentang Jakarta, tidak banyak. Sebuah komik bisu dalam kompilasi Jakarta Senggol-senggolan membicarakan pengalaman bangun kesiangan, terburu-buru berangkat entah ke mana, menunggang ojek, mengejar kereta. Tipikal Jakarta, memang, tapi tidak sekhas yang digambarkan oleh Beng. Mungkin karena pembuatnya lebih peduli pada teknis penceritaan bisu daripada adanya pengamatan yang lebih dalam pada cerita. Kalau saja pengamatan komikusnya bisa lebih mantap, mungkin akan ia sadari bahwa ada hal yang lucu pada cerita orang-orang yang terburu-buru naik angkutan umum di Jakarta. Mereka semua terburu-buru, tergesa-gesa, sradak-sruduk sana-sini untuk naik angkutan yang berjalan lamban. Lucu juga kalau menyadari bahwa memakai jalanan Jakarta berarti berebut ‘segera’ demi memasuki ‘kelambanan’.

Kedangkalan pengamatan ini juga berkaitan dengan kerasnya Jakarta yang sering muncul di komik-komik ini. Dengan keyakinan bahwa Jakarta itu keras, maka selalu ada anggapan bahwa kejahatan mengintai di tiap sudut kota. Oleh sebab itu, muncul pula kecenderungan untuk membatasi dunia—untuk tidak menyapa dan bertemu dengan orang lain. Seperti selalu ada potensi kejahatan di balik topeng setiap orang asing. “Never talk to stranger.” Di Jakarta, hal ini tampak bijak untuk dilakukan.

Jadi, okelah, kita terima pernyataan bahwa Jakarta tidaklah aman. Apa artinya ini? Satu hal yang terlihat adalah bahwa di kota yang tidak aman ini, perjalanan dan eksplorasi hanya nyaman dilakukan dalam fantasi. Ini menjelaskan banyak hal. Menjelaskan mengapa kekerasan yang muncul dalam komik-komik ini adalah kekerasan yang terjadi di khayalan, tempat orang tidak benar-benar terluka.

Ini menjelaskan minimnya potret realitas, karena usaha memotret realitas Kota Jakarta terlalu berisiko. “Jangan-jangan nanti saya kena copet lagi.” Ini menjelaskan minimnya konteks dalam cerita yang mengambil latar di jalanan Jakarta, karena jalanan adalah tempat yang sebisa mungkin dihindari. Kalau bisa naik bajaj, jangan jalan kaki. Kalau bisa naik taksi, jangan naik bajaj. Kalau bisa naik busway, jangan naik metromini. Kalau bisa naik mobil pribadi, jangan naik angkutan umum. Kalau bisa nggak keluar ke jalan, jangan keluar. Yang tersedia bukan pilihan yang setara tapi tingkatan keinginan: karena trotoar sempit, bolong-bolong, dan becek. Karena di ujung gang ada tukang palak, dan selalu ada sepeda motor yang bisa nyamber nyawa kita. Ini menjelaskan mengapa pengalaman-pengalaman mengenai hal ini sering kali muncul dan diceritakan dalam komik-komik ini melalui pandangan narator yang berjarak terhadap peristiwa, atau dengan cara mengomedikannya. Saat ada hal yang mengganggu, jarang orang mau menghadangnya, dan cukup bilang, “Let’s bring it on!

Komik-komik ini terbatas dunianya. Ia tak mencoba memberi kedalaman, merasa cukup dengan ikon-ikon pinjaman saja. Yang disajikan bukanlah sebuah laporan pengalaman yang dilaporkan secara utuh, alih-alih yang sering kali muncul hanyalah permainan imajinasi yang dirangsang oleh ikon-ikon klise, yang menjadi semakin klise, karena perlakuan komikus terhadapnya. Bila kita disuguhi cerita tentang metromini, maka yang muncul adalah cerita tentang ancaman yang mengancam para penumpang metromini, kekerasan yang dilakukan supir terhadap penumpang, penumpang terhadap penumpang lain, pencopet, penjaja makanan, dan pengamen.

Melihat itu semua, jadi masuk akal bila para komikus adalah orang-orang yang menghindari semua itu. Namun, pada dasarnya seluruh komikus tetaplah pencerita. “Never talk to stranger” berarti menutup pintu dari ilham. Bagaimana mungkin kita mendapatkan komik tentang Jakarta, bila para penceritanya hanya mau mencelupkan separuh kaki ke dalam kehidupan kotanya?

Apa artinya ini? Bahwa membuat komik tentang Jakarta perlu perut kuat dan nyali baja? Mungkin perlu wartawan sekaliber Joe Sacco yang pernah makan nyali macan sehingga bisa mengomikkan Gorazde? Tentu saja menyenangkan untuk punya komikus sekaliber ini bercerita tentang Jakarta. Tapi, saya rasa, yang diperlukan sekadar sikap lebih terbuka.

Jakarta punya banyak masalah. Ini cuma berarti bahwa Jakarta punya banyak cerita. Menghindari kenyataan Jakarta, dengan alasan apapun, hanya berarti menghindari panggilan ilham. Dengan menutup diri, yang bisa dituturkan komikus hanya dunia dalam dirinya. Bila ini terus dilakukan, seberapa pun jeniusnya dia, pasti akan kering juga. Tugas para pencerita adalah meluangkan waktu untuk membuka diri terhadap cerita-cerita yang terjadi di sekelilingnya. Para komikus kita, perlu lebih menyadari bahwa jalanan Jakarta bukanlah sekadar penghubung dari satu tempat ke tempat lainnya. Jalanan adalah penghubung para manusianya. On the street you acquire smart. You survive the street long enough, then you can be wise. Ini terjadi, hanya bila orang mau terbuka akan pengalaman.

Lalu, apakah dengan mengalami Jakarta dengan baik, para komikus kita akan jadi baik? Bila Anda membaca kompilasi komik ini lalu membaca komentar ini, tentu akan ada yang nyeletuk, bagaimana dengan Lagak Jakarta? Beginikah yang saya tuntut dari komikus-komikus kita? Sayangnya, tidak. Petilan Lagak Jakarta, setidaknya yang ada dalam kompilasi ini, memang penuh dengan material cantik tentang Jakarta. Sayangnya, ia lebih sering bicara dengan modus kartun, alih-alih komik. Ia lebih sering menyuguhkan potret atau informasi paralel. Ia lebih sering bicara dalam satu kalimat. Untuk mengerti, kita perlu tahu latarbelakang kata-kata yang digunakannya.

Saya punya tuntutan lebih pada komik, bila dibandingkan dengan kartun. Saya mengharapkan dunia yang lebih utuh dapat dibangun oleh komik. Pengalaman tadi, perlu dituturkan dengan pengetahuan teknis yang baik pula. Urban Minor karya Muhammad Reza, adalah satu contoh komik yang cukup tuntas membangun dunianya. Namun, tetap masih ada yang terasa kurang (Gambar 6).

Pada kasus komik-komik seperti Urban Minor dan Ahmad Rivai, terlihat bahwa komikusnya belum berhasil menggunakan senjata utama komik: parit antara panel-panel. Cerita di kedua komik ini runtun dan mengalir. Sayangnya, bukan begitu cara Jakarta bergerak. Para pengguna jalan Jakarta tahu persis bagaimana ada tiga cara Jakarta bergerak: padat merayap, ramai lancar, dan macet total. Belum ada komik dalam kompilasi ini yang bisa menerjemahkan bagaimana kealamian gerak Jakarta. Satu lagi pekerjaan rumah bagi komikus kita.

Bagi rata-rata komikus dalam komik-komiknya di kompilasi ini, parit antarpanel adalah bahasa yang masih gagap diucapkan. Akibatnya komik kita sering terasa terlalu bertele-tele, membosankan, atau kekanak-kanakan dalam bertutur. Parit antarpanel bisa bercerita banyak, justru dengan membiarkan pembacanya mengisi cerita dan berusaha menyatukan panel satu dengan lainnya.

Penguasaan elemen-elemen lain, seperti pemilihan bentuk huruf, pemilihan format media, tata letak, dan lainnya masih banyak yang perlu dibenahi. Padahal, di sisi lain, kekayaan metode tutur terlihat luar biasa marak. Di kompilasi ini, misalnya, ada panel bergaya Will Eisner, efek gerak ala Kirby, garis melankolis ala manga shōnen-ai, dan kartun ala Lat. Tapi, apakah mereka dipakai dengan tepat? Sering kali, teknik-teknik itu juga hanya dipakai sebagai ikon-ikon pinjaman yang klise. Tentu ini bukan informasi baru di kalangan para komikus kita. Saya bahkan mungkin perlu minta maaf karena pernah terlalu sering mengatakan hal itu kepada mereka. Tapi, masalah ini belum juga bisa diatasi dengan baik. Paling tidak, itulah yang terasa saat membaca komik-komik ini. Komikus kita perlu sadar bahwa meminjam bentuk tutur komik Jepang, misalnya, berarti juga meminjam pengalaman yang coba dituturkan dalam komik itu. Apakah hal itu tepat dilakukan? Memakai metode tuturan Akira Toriyama, tentu tidak tepat bila mau bercerita tentang sebuah desa di Jawa, atau sebuah cerita cinta realis di SMA 70 Jakarta. Kalau kesadaran ini ada, mungkin kita bisa lepas dari perdebatan mengenai identitas, dan mulai bergerak lebih ke bagaimana cara terbaik untuk menuturkan apa yang mau kita tuturkan. Metode tuturan ala Jepang, Amerika, Eropa, Medan, seharusnya menjadi kekayaan bagi komikus, bukan ajang perdebatan mengenai yang mana yang paling baik, apalagi mengenai identitas.

Jadi, apa saja yang saya celotehkan dari tadi? Hanya dua hal sebetulnya, bahwa komikus kita miskin pengalaman hidup, dan karenanya miskin cerita, dan bahwa komikus kita miskin penguasaan teknis, dan karenanya gagap bercerita. Ironisnya, pada saat ini komikus kita juga teramat kaya dengan kata-kata, sayangnya pemahaman terhadap kata-kata itu amat kurang. Nah, di sinilah kita sekarang berpijak. Sekarang, mari kita bicara lagi tentang komik Jakarta yang ternyata masih jauh di muka adanya….

Jakarta, 17 Desember 2008

ARIEF ASH SHIDDIQ lahir di Bandung, 8 November 1978. Ia mulai belajar membaca dengan bimbingan komik-komik Cypress. Setelah mampu bersepeda, ia mulai menghantui taman-taman bacaan di sekitar rumahnya, dan di sekitar rumah teman-temannya. Kini, setelah tiga tahun jadi buruh tinta di Jakarta dengan bekerja sebagai redaktur pelaksana majalah Visual Arts selama 2005-2008, ia menjadi Manajer Operasional di SIGIarts gallery, Jakarta demi memuaskan kebutuhan membeli komik setiap bulannya.

Tiga kompilasi komik Senggol Jakarta adalah kompilasi yang dibuat oleh Akademi Samali, sebuah komunitas komik di Jakarta. Sebagian besar sumber kompilasi adalah berbagai komik dari generasi muda komikus yang ada dalam perpustakaan Akademi Samali. Kompilasi ini dibuat pertama kali untuk undangan pameran Festival Tanda Kota di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki pada November 2007. Pameran yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta, dengan kurator Reza Afisina dan asisten kurator Ardi Yunanto, yang kebetulan adalah redaktur utama Jurnal Karbon ini, adalah pameran tentang tanda-tanda visual informal yang membentuk tanda-tanda baru dalam sebuah kota, diikuti oleh berbagai seniman dari sejumlah kota di Pulau Jawa. Akademi Samali mengumpulkan semacam cuplikan tentang karya-karya terkini yang membicarakan Jakarta dalam kompilasi Senggol Jakarta. Dalam edisi “Komik dan Kota” ini, kompilasi ini digunakan sebagai ‘panduan sementara’ demi melihat perkembangan komik mutakhir dari generasi komikus muda kita, yang membicarakan Jakarta.


Tiga kompilasi Senggol Jakarta
(Jakarta: Akademi Samali, 2007).



1. “Achtung” dalam Senggol Jakarta: Jakarta Senggal-senggol (Jakarta: Akademi Samali, 2007), hal. 4-5.


2. “Niken” dalam Senggol Jakarta: Jakarta Senggal-senggol (Jakarta: Akademi Samali, 2007), hal. 156.


3. “Lagak Jakarta” dalam Senggol Jakarta: Jakarta Senggal-senggol (Jakarta: Akademi Samali, 2007), hal. 125.


4. "Omen Anak Ben!" dalam Senggol Jakarta: Jakarta Senggol Dikit (Jakarta: Akademi Samali, 2007), hal. 14.

"12 Komik Simpolbadampo" (Reza Azer) dalam Senggol Jakarta: Jakarta Senggal-senggol (Jakarta: Akademi Samali, 2007), hal.262.


"Komik Karpet Biru" dalam Senggol Jakarta: Jakarta Senggol-senggolan (Jakarta: Akademi Samali, 2007), hal.24-25.


"Damai itu Indah" (Anto) dalam Senggol Jakarta: Jakarta Senggol-senggolan (Jakarta: Akademi Samali, 2007), hal.274.


5. "Jakarta" (Beng Rahadian) dalam Senggol Jakarta: Jakarta Senggol-senggolan (Jakarta: Akademi Samali, 2007), hal.286.

5. "Jakarta" (Beng Rahadian) dalam Senggol Jakarta: Jakarta Senggol-senggolan (Jakarta: Akademi Samali, 2007), hal.288.



6. "Urban Minor" (Muhamad Reza) dalam Senggol Jakarta: Jakarta Senggol-senggolan (Jakarta: Akademi Samali, 2007), hal.112-113.


6. "Urban Minor" (Muhamad Reza) dalam Senggol Jakarta: Jakarta Senggol-senggolan (Jakarta: Akademi Samali, 2007), hal.118-119.

Semua gambar diambil dari kompilasi
Senggol Jakarta (Jakarta: Akademi Samali, 2007) atas izin Akademi Samali.
Terimakasih kepada Beng Rahadian dan Ari Wowo.


Komentar

Hi there! I'm at work browsing your blo from my new iphone 4! Just wanted to say I love reading through your blog and look forward to all your posts! Carry on the great work!
People who decide to go to war can get the right reasons. There were only a few people who will find the proper reasons.
This event is apparently an essential event. You may use a lot of information to be a guide and see types of show.
Hurrah! Finally I got a website from where I be able to really get helpful data concerning my study and knowledge.
Hello my loved one! I wish to say that this article is awesome, nice written and include approximately all important infos. I would like to peer more posts like this .
There are many things I dont know before and after reading your great Information I know now.

 

Many informative websites I known but this is also the one of that kind. Thanks for the information.

 

I must agree that this is one of the coolest website I have ever seen. Thank for sharing.

 

I can tell that this is the perfect information for me. Thank you so much.

 

I really enjoyed reading you whole information you shared with us. Thank you.

 

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.