FOKUS 1 | Maret 2007

-A A +A
Versi ramah cetakPDF version
FOKUS 7: Des 2010 - Des 2011
Menyeduh jeda, lincahnya ruang ngopi kita
Rika Febriyani
04 Desember 2010


Jika terdengar bunyi seperti gemericik koin, bisa jadi mereka sedang mendekat. Pengait logam yang terikat pada kemudi, memang sesekali digeser untuk menyapa. Tring…tring… bel itu jadi tanda kehadiran seorang tukang kopi sepeda.

Kami biasa menemui mereka di Taman Suropati dan sekitar Menteng, Jakarta Pusat. Anda juga bisa menjumpainya di sekitar Jalan HR. Rasuna Said dan seputar Hotel Indonesia. Siapapun yang bermukim di wilayah Manggarai, Cikini, Senen, hingga Sunter, mestinya tak asing dengan para tukang kopi sepeda.

Merekalah yang memperantarai berbagai latar orang Jakarta dari tempat ke tempat, baik yang berkemeja licin, yang berkaos distro, yang menggemari merek maupun harga grosiran, dengan ragam gaya: rapi, modis, atau santai; juga macam aroma: parfum impor, deodoran lokal, hingga peluh belaka. Kopi memang memikat banyak kalangan.

Mereka pun menamakan diri sebagai ‘tukang kopi’, bukan ‘tukang sari buah’, meskipun berderet merek minuman sachet sari buah turut bergantung di keranjang sepeda. Atau, andai ingin mewakili jenis minuman sachet yang juga disediakan—jahe manis, teh celup, sereal, dan sejenisnya—mereka tak juga menjuluki diri sebagai ‘tukang minuman’.

Persahabatan kita dengan kopi memang sudah terjalin sebelum tukang kopi sepeda melintasi Jakarta. Tersebutlah Medan, Flores,  Malang, dan Toraja, sebagai daerah penghasil Kopi Arabica. Bengkulu, Semarang, dan Bandung untuk Kopi Robusta. Dijulukilah Lampung sebagai surga kopi Indonesia, menimbang luas perkebunan dan jumlah produksinya. Dari hasil kebun, pabrik kopi Aroma di Bandung memanjakan pecinta kopi sedari 1930. Tak kalah legendaris di Jakarta adalah Warung Tinggi sejak 1878 hingga tersohor dengan nama barunya Bakoel Koffie. Merayakan geliat yang sama, terjumpai taburan tempat ngopi lesehan di Aceh.


Ngopi, yuk. Ngopi..” bukan cuma menyeruput
Ngopi ampuh jadi ajang kenal lebih dekat. Sebab kopi populer menemani kita saat bincang cenderung santai, berselap-selip senda gurau. Dan, walau seolah tak serius, bukan berarti tak ditemukan persamaan-perbedaan. Kita bisa makin akrab atau sebaliknya.

Tapi ngopi juga bukan sekadar soal keakraban. Di dalamnya kerap terjadi pertukaran informasi dan wacana, pengembangan wawasan dan rekanan. Sering terjadi kesepakatan kerjasama, mulai dari janji lanjutan hingga tanda tangan kontrak. Kabarnya, bagi masyarakat Aceh, banyak masalah bisa terselesaikan di tempat ngopi.

Seperti melekati irama kehidupan, ngopi cenderung layak disebut kebutuhan, melebihi sekadar gaya hidup. Kegandrungan kita pada cita rasa kopi, telah menjelmakan ngopi sebagai ruang senggang, gaul, dan negosiasi.

Bermacam tempat ngopi mengitari kita, dari warkop sampai kafe. Meski belum ada satu definisi pembeda, agaknya kita suka melakukannya saat berucap dalam keseharian. Misalnya, kita tidak menyebut tempat ngopi terbuka di pinggir saluran air sebagai kafe. Seolah ada kehendak untuk memberi ciri, mana yang disebut warung kopi, dan mana yang kafe. Meski keduanya berfungsi sama, tempat ngopi.

Pilihan tempat ngopi memang bisa jatuh di mana saja. Di Jakarta, alasan memilih yang biasa dipahami adalah soal daya beli. Harga kopi memengaruhi suasana tempat dan kualitas racikan kopi. Perhitungan soal kenyamanan, sangat mungkin jadi syarat tersirat dari tempat ngopi. Maka, baik di terminal, pasar, pinggiran jalan, kawasan perumahan, deret pertokoan, atau mal yang bertingkat-tingkat, tidak di seluruhnya kita bisa terlibat di dalamnya.

Lalu apa jadinya kita kalau melepaskan faktor daya beli, suasana, dan kualitas kopi? Bila waktu senggang, gaul, bahkan mungkin negosiasi, ternyata mesti menguapkan sekat dan atap?


Kalau harus lebih leluasa
Kalau mau ngopi, ya, ngopi. Kalau mau lari-larian, ya, jangan di tempat ngopi. Apalagi hendak gaduh dengan biola, sebab belum tentu bikin suasana jadi syahdu.

Namun di luar kopi dan ngopi, bukankah kita masih punya kegemaran? Baik sekadar untuk mengisi jeda, melepas jenuh, sampai yang diseriusi sebagai pilihan hidup. Sehingga, lalu, terhamparlah bermacam aktivitas di Taman Suropati.

Taman seluas 16,322 meter persegi ini adalah satu dari sedikit tempat tanpa gerai atau badan usaha yang mematok lahan. Ruang gerak pengunjung jadi tidak terganggu. Beruntung bagi kami yang bisa menjangkau kawasan Menteng, dengan tetap menyadari jika taman itu masih sangat tak seberapa dibanding luas dan jumlah penduduk Jakarta.

Di sini, selalu ada gerak aktivitas yang melebihi kapasitas tempat-tempat ngopi. Misalnya kumpulan orang bermain biola, gitar, dan terompet. Jangan kira mereka sedang mengamen. Mereka pun mengisi taman ini layaknya yang bergerombol atau berdua-duaan. Seperti para bartender berlatih lempar-tangkap dua-tiga botol ke udara, yang membawa alat musik pun demikian. Tak ketinggalan penggemar jogging keliling taman yang ditemani hewan piaraan sekali waktu. Di akhir pekan, para orang tua datang beserta anak-anak kecilnya yang gemar berkejaran, mendekat-dekati air mancur dan kolam.

Ya, kami butuh ruang yang lebih lapang dari tempat-tempat ngopi itu. Ini tak ada kaitannya dengan kegandrungan ngopi. Dan, bukankah di mana saja kita berada, kita tak berdalil meniadakan kecintaan pada apapun, termasuk pada kopi? Dan ngopi juga melengkapi kita di taman ini.


Mengatasi batas
Salah satu kebutuhan kita yang tak teringkari adalah jeda di antara kepentingan komersial. Sebab manusia tak cuma dihidupi pertimbangan ekonomi. Taman Suropati hanya sebagian kecil yang jelas menyatakan diri pada jeda itu atau ternyatakan secara legal jika menimbang posisinya sebagai taman resmi. Lainnya, banyak yang seolah terselip begitu saja.

Ruang yang terselip itu bukan cuma gang-gang kecil antara mal, apartemen, hotel, serta perkantoran. Kita bahkan bisa menyaksikannya di depan Plaza Indonesia. Ketika para pekerja berseragam duduk-duduk sembari ngopi, memandang lalu lalang kendaraan pada bunderan Hotel Indonesia, sambil menikmati jam istirahat. Oleh karena tak ada bentuk sah untuk duduk, jadilah pinggiran pot dan sepotong bagian pipa gas menggantikannya.  

Pun, di suatu minggu sore, saat kerumunan di Pasar Tanah Abang menyepi dan ditinggalkan kemacetan, orang-orang akan duduk sekenanya di trotoar, membiarkan diri terlepas lelah.

Tak masalah mereka berjarak dari tempat ngopi, sebab sang pembawa kopi kerap menghampiri. Seperti halnya para satpam di Kawasan Mega Kuningan, ketika mencapai tempat ngopi terlalu beresiko bagi ketatnya jam kerja mereka. Suatu ruang ngopi bisa terkuak di pelataran tertentu karena hadirnya tukang kopi sepeda. 

Ruang jeda kita memang tak terbentang luas. Jakarta seperti menuntut warganya supaya hanya mengisi waktu senggang di mal dan sejenisnya. Padahal ada batas kemampuan, waktu, jarak, dan aktivitas kegemaran kita yang tak bisa diwadahi di sana. Tapi terlaksananya ngopi-ngopi kita di luar ruang beratap dan bersekat itu menjadi satu tanda kalau batas itu bukan tak teratasi.

Tukang kopi mengatasi batasan waktu ngopi, kalau kita menimbang sistem kerja tukang kopi sepeda. Terbentuk secara alami, sebagian tukang kopi sepeda menjajakan kopi dari sekitar pukul 5 pagi hingga senja di pukul 6 sore. Lainnya, memulai sore hari dan berakhir nyaris menjelang dini hari, atau pukul 3 pagi. Di antara kedua bagian itu, ada yang mengambil waktu setelah jam makan siang hingga tengah malam.

“Ini suka-suka aja. Terserah cocoknya, mau keliling pagi atau malam” begitu pengakuan Jamal, seperti dinyatakan juga oleh Rifaldi dalam kesempatan berbeda. Keduanya adalah tukang kopi sepeda yang kerap mangkal di Taman Suropati. 

Kelangsungan sistem ini dijaga oleh perasaan ‘tidak enak’, atau tepatnya ‘tahu diri’ pada keberadaan satu sama lain. Dikatakan Jamal, “Nggak enak, kalo jam 8 malam masih ada di taman, yang jualan sore sudah datang.” Maka tukang kopi sepeda lain yang telah berjualan sejak pagi akan menyingkir saat senja. Jika masih ada di taman, mereka memilih duduk-duduk saja.

Agaknya ini jadi alasan mengapa belum terdengar soal perebutan yang berarti di antara mereka. Sebaliknya, menyusul dinamika Jakarta yang katanya tak pernah tidur, kerjasama itu membuat ruang jeda kita tidak absen dari kehadiran tukang kopi sepeda selama nyaris 24 jam.


Menyalakan ruang
Menggunakan sepeda, tukang kopi kita tak memerlukan skala yang berarti untuk menempatkan diri. Di perjalanan, mereka lebih lincah menembus arus kendaraan dan kemacetan. Di taman, mereka tak mengusik pemain alat musik, jalur jogging dan lelarian para anak, kelompok aksi lempar tangkap botol, apalagi mesranya berpasang kekasih. Kehadiran tukang kopi sepeda jadi mengisi ruang tanpa menyita ruang.

“Karena fungsi taman untuk publik, tak ada kantinnya, menguntungkan ada pedagang bersepeda, bisa memperoleh minuman.” ucap Widya yang mengunjungi Taman Suropati bersama suami dan anak-anaknya. 

Ruang gerak pengunjung malah akan terganggu, kalau saja Taman Suropati diisi lapak-lapak kaki lima atau kafe sebergengsi apapun namanya. Pada lapak kaki lima, sering dilayangkan keluhan karena menyendat hilir-mudik pengguna ruang. Terhadap gerai-gerai penjual minuman, keluhan bisa bukan lagi karena mereka memakan lahan, tapi malah karena mereka membebankan biaya, bahkan untuk sekadar duduk. Di sini, jelas lebih besar kontribusi tukang kopi sepeda.

“Tukang kopi sepeda memudahkan mendapatkan minuman ‘rumahan’ yang murah, yang bisa mempersemarak kongkow.” kata Dinny yang berkemeja kantoran saat ditemui petang hari.

Di luar taman yang tidak seberapa banyaknya di Jakarta, tukang kopi sepeda menemui selipan-selipan ruang bagi jeda kita. Bahkan mungkin merekalah yang menghadirkannya: ‘ruang’ yang tidak pernah terkira bisa ada.

Kita tahu akan minimnya ruang di Jakarta untuk menikmati jeda di sekitar rutinitas keseharian. Dan jika ngopi merupakan suatu ruang sebab mencipta kemungkinan bagi interaksi antarmanusia, maka di pinggir jalan, pada gang antargedung, bahkan di pos penjaga keamanan, dan juga setiap jeda yang terjadi di manapun, tukang kopi sepeda yang menyajikan kopi jadi seperti membuka kunci bagi ruang yang sebelumnya tertutup.

Adanya ngopi-ngopi, nyata menerangi selipan ruang itu. Sebab banyak ruang yang kerap ‘terhalau’ gemerlap lampu sorot gedung-gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, papan reklame, dan segala macam aktivitas Jakarta. Tukang kopi sepeda ibarat penanda ruang jeda, baik yang peruntukannya disengaja seperti Taman Suropati, maupun yang terselip begitu saja.

Dan, pada ruang yang terbukakan oleh tukang kopi sepeda itu, mereka pun hanya singgah. Cukup bersepeda, tak butuh patok lahan. Sebaliknya, mereka tidak memilih ruang-ruang yang telah dihuni kegiatan usaha lain seperti warteg dan sejenisnya. Seperti kata Rifaldi, “Nggak enak keliling di sekitar Masjid Sunda Kelapa, sudah banyak warung di sana.”


Merentang asal
Di Jakarta, aktivitas menjual kopi keliling sebenarnya sudah dilakoni sejak awal abad 20. Hanya saja bukan dengan bersepeda tapi dipikul dengan keranjang. Keterangan ini diperoleh dari serdadu Belanda, H.C.C Clockener Brousson. Nasi berikut aneka lauk-pauknya adalah yang terutama disajikan. Kopi dan pisang goreng dianggap sebagai pelengkap. Brousson menyebutkan hanya butuh beberapa sen untuk memilih menu makanan pokok, kudapan plus segelas kopi hangat.

Di salah satu cerita pendek berjudul “Gambir, Pramoedya Ananta Toer melibatkan kehadiran penjual pikulan. Setiap pagi ia mangkal di stasiun Gambir, menyediakan kopi dan kue pancong. Dalam cerita yang ditulis pada 1953 itu, si penjual bukan disebut tukang kopi, melainkan tukang pancong. Meski tak muncul dalam keseluruhan cerita, tak sedikit perannya sebagai ruang negosiasi para tokoh. Tawar-menawar pun terjadi sembari ngopi.

Kaitan penjual keliling dan ruang interaksi, juga ditegaskan Abah Dudi, pemilik Koffie Djaman Doeloe. Pada 2009, kafe ini sempat ditemui di Jalan Purnawarman No. 38, Bandung. Di kota itu, hingga 1960-an, penjual kopi dengan bakul pikul kerap mangkal di pasar-pasar. Orang-orang di pasar biasa berkerumun, ngopi sambil menyantap kue-kue, dan membicarakan banyak hal.

Belakangan, keberadaan penjual kopi pikulan masih dibuktikan oleh sosok Pak Hasan yang kadang mendatangi Taman Suropati. Keterangan ini diperoleh dari Jamal. “Tapi, sekarang jualan kopi [yang] dipikul, kalah cepat sama yang bersepeda.” Mungkin itu kenapa, baik Pak Hasan maupun tukang kopi pikulan lain, belum kami temui hingga saat ini.

Dalam hal pertimbangan soal kecepatan menjangkau konsumen, penjual kopi lalu mengubah moda dari pikulan ke sepeda. Bisa jadi ini karena amatan terhadap intensitas mobilitas warga yang tidak sama dibanding berpuluh tahun lalu, sekaligus peluang untuk meluaskan kemungkinan jangkauan titik-titik ngopi.

“Ya, ini ide teman-teman saja dulu. Kira-kira sepuluh tahun lalu.” kata pak Haji Usman ketika ditanya siapa dan apa yang mencetuskan ide untuk berjualan kopi menggunakan sepeda.

Pak Haji Usman enggan menyebutkan siapa saja yang juga terlibat. Atau, memang layaknya bincang tak tentu arah kala ngopi, ia tak perlu tunjuk nama. Siapa berpendapat akan didukung yang lain, sembari ada kritik, juga dibumbui gurauan. Ide yang mungkin tercetus saat ngopi itu ternyata langgeng hingga kini.

Ia sendiri mengaku terlibat di masa awal kemunculan tukang kopi sepeda di bilangan Kwitang, Senen, Jakarta Pusat. Keterlibatannya bukan dengan berjualan keliling tapi memodali teman-temannya para tukang kopi sepeda. Bentuk modal yang diberikannya setiap hari adalah berbagai jenis minuman sachet. Karena itu, ia disebut sebagai bos kopi. Saat ini, anak buahnya mencapai sekitar 100 tukang kopi sepeda. Dan, ada lima bos kopi bertetangga dengannya. Perkiraannya, bos-bos itu menaungi jumlah tukang kopi sepeda yang tak jauh beda dengannya.

Lalu, entah ada pertimbangan apa terhadap perubahan produk jualan, mulai dari menempatkan kopi sebagai pelengkap nasi beserta lauk-pauknya pada 1900-an, kemudian menyandingkannya dengan kue-kue saja sekitar 1950-an, hingga memilih menjual berjenis-jenis minuman saja pada saat ini; sudah terlalu banyak warung makan, mungkin? Atau demi kepraktisan saja, menyeduh-siap saji?


1000 tukang kopi sepeda
“Bisa jadi 1000-an tukang kopi. Kan, banyak juga yang nggak punya bos.” kata Hola, yang diakui teman-temannya sudah tahunan bekerja sebagai tukang kopi sepeda. Ia pun tak mau terikat dengan bos kopi.

Di belakang Hotel Aryaduta, rumah pak Haji Usman dan lima bos kopi lainnya bukan satu-satunya tempat bernaung tukang kopi sepeda. Banyak yang memilih menyewa rumah sendiri daripada tinggal di gang yang dihuni sekitar 600 tukang kopi sepeda itu.

Jumlah 1000 tukang kopi sepeda juga menimbang daya kayuh mereka dari Kwitang yang nyaris tidak mungkin mencapai Sunter atau kawasan Rawamangun setiap hari. Mesti ada tukang-tukang kopi sepeda yang bermukim jauh dari Kwitang.

Salah satu perbedaan antara bernaung dan tidak bernaung pada bos, adalah soal tempat tinggal. Mereka yang bekerja dengan bos akan tinggal di rumah bos. Setiap rumah bos kopi, bisa terdiri dari tiga hingga empat lantai. Lantai paling bawah dihuni keluarga bos dan menjadi ruang untuk warung. Lantai lainnya ditempati para tukang kopi sepeda. Satu lantai khusus tersedia bagi mereka yang telah berkeluarga. Dari keterangan yang diperoleh, yang lajang bisa tinggal gratis sementara yang sudah berkeluarga diberlakukan sewa.

Hingga kini, belum ada, atau mungkin memang tak perlu suatu sistem pengawasan tertentu dari bos. Juga soal persaingan yang mungkin terjadi di suatu wilayah. Di sekitar Menteng, tukang kopi bersepeda yang memiliki bos dan yang tidak, mengedari daerah yang sama. Uniknya, tanpa membedakan soal itu, mereka terbuka untuk bekerjasama. Misalnya, jika mereka kehabisan kopi atau sesuatu yang dikehendaki pembeli, siapa pun yang terdekat akan dipanggil untuk menggantikan.

Bisa dikatakan bahwa ikatan terkuat mereka dengan bos kopi adalah rasa percaya dan kekeluargaan. “Ya, nggak enaklah kalo nggak belanja sama bos. Masa numpang tidur doang.” ucap Rifaldi ketika ditanya kemungkinan untuk belanja di pasar. Ia salah satu yang tinggal di rumah bos kopi.

Tentu ada selisih keuntungan antara dua pilihan itu. Berbelanja di bos kopi akan sedikit lebih mahal daripada di pasar. Jika tukang kopi sepeda yang beredar di kawasan Jakarta Pusat hingga Rasuna Said biasa berbelanja di Pasar Rumput, dan di sana satu renceng minuman sachet (10 bungkus) berharga Rp6000, maka di bos kopi menjadi Rp6500. Namun, keuntungan untuk bos kopi bukan cuma Rp500. Sebab, barang dagangan yang diperoleh sales dari agen lebih murah daripada harga di pasar.

Sales-sales berseragam merek produk minuman itu mendatangi warung bos kopi untuk memasok produk minuman sachetdari merek-merek ternama yang biasa kita jumpai di warung terdekat, supermarket, hipermarket, atau apapun namanya. Pasokan itu kemudian dibeli tukang kopi sepeda setiap hari.

Menurut pak Haji Usman, setiap orang rata-rata menghabiskan Rp75.000 untuk belanja per hari. Tukang kopi sepeda bernama Ja’i, menyebutkan angka Rp100.000, sedangkan Jamal memperkirakan belanja keperluan harian untuk dagang adalah antara Rp80.000 hingga Rp120.000.

Dari uang belanja sebesar Rp75.000 sampai Rp120.000 dikalikan 1000 tukang kopi sepeda Jakarta, beredarlah minimal 75 juta rupiah dari profesi ini. Setiap hari, sebagian besar uang itu mengalir ke berbagai produsen minuman sachet. Sebanyak-banyaknya pengurangan dari nilai itu, adalah 20 juta rupiah—dengan perhitungan belanja gelas dan sedotan plastik, es batu dan air mineral, sekitar Rp20.000 per hari. Tentunya, ini juga menghidupi para produsennya setiap hari.

Di luar 75 juta rupiah itu, masih tersebut angka Rp2000 untuk satu termos air panas. Setiap tukang kopi sepeda membutuhkan isi ulang 4 - 6 termos per hari, sebab mereka hanya bisa membawa satu atau dua termos di sepedanya. Biasanya mereka mengisi ulang air panas itu di warung-warung makan terdekat, misalnya di warteg dekat Masjid Sunda Kelapa untuk mereka yang beredar di sekitar Menteng.

Jika harga Rp2000 per termos dikalikan minimal 4 termos, tersebut angka Rp8000. Dengan sejumlah 1000 tukang kopi sepeda di Jakarta, berarti ada 8 juta rupiah mengalir pada warung-warung makan itu. Hitungan per hari ini, mesti memengaruhi pihak-pihak yang menggeluti usaha bahan bakar memasaknya, yaitu gas. 

Kehadiran tukang kopi sepeda selama sekitar 10 tahun juga telah merantaikan pendapatan kepada pemulung dan tukang loak; pemulung memunguti gelas-gelas plastik dari bekas konsumen kopi sepeda untuk dijual ke tukang loak. Juga kepada pak Kus, si pengantar nasi bungkus. Setiap jam makan, pak Kus datang menggunakan sepeda berkeranjang kardus. Nasi, sayur, dan lauk seharga Rp5000 - Rp7000 per bungkus yang dijualnya jadi santapan para tukang kopi sepeda.

Bicara soal pendapatan tukang kopi sepeda, salah satu hitungan yang bisa dipastikan adalah dari berapa kali mereka mengisi termos dalam sehari. Menurut Jamal, satu termos bisa diperuntukkan bagi 13 - 14 gelas. Tapi selain kopi, dijual pula minuman lain untuk memenuhi permintaan anak-anak yang tak gemar kopi atau kala cuaca menyelerakan rasa dingin. Sehingga selain bentuk yang kita kenal sebagai termos isi air panas penyeduh kopi, sering terlihat pula termos es batu. Seluruh modal awal untuk kelengkapan ini membutuhkan 800 ribu rupiah, dan itu sudah termasuk sepeda.

Dengan menghidupi diri sendiri dan berbagai pihak karena profesinya, juga membuka selipan ruang bagi masyarakat Jakarta, bukan lantas tukang kopi sepeda bisa didaulat jadi semacam ‘pahlawan’. Terutama, mungkin, bagi mereka yang mementingkan suatu kualitas racikan kopi. Apalah arti segelas plastik kopi sachet seharga Rp3000?

Jauhnya tukang kopi sepeda dari predikat ‘pahlawan’ itu juga tercermin dari tindakan Satpol PP. Mereka kerap melakukan razia di Taman Suropati, mengangkut sepeda-sepeda tukang kopi yang dianggap mengotori.

Rifaldi mengatakan, diperlukan sekitar 800 ribu rupiah untuk menebus sepeda beserta kelengkapan dagangnya. Yang lain menuturkan kalau mereka diharuskan oleh Satpol PP untuk menyertakan syarat berupa surat-surat, sehingga sebagian memilih untuk membeli sepeda dan perangkat yang baru, agar mereka bisa segera kembali melintasi Jakarta.

“Kita nggak mengotori taman. Setiap tukang kopi bawa plastik sampah di sepeda, bekas bungkus minum disimpan di situ. Gelas-gelas selalu ada yang mungut, dikiloin ke tukang loak” begitu pembelaan Jamal.


Menggelar kita
Seolah mengacuhi Satpol PP, terik matahari, juga kendala lain, tukang kopi sepeda terus lincah menjelajah Jakarta. Sepanjang hari mereka membukakan ruang demi ruang agar siapa saja bisa terisi di dalamnya.

Telah terbentang berbagai bentuk ruang kita di kota, dari pencakar hingga kolong langit, antara satu dengan lain, ditenggarai sepanjang jalan yang berselang-seling lebar-sempitnya. Di antara semua itu terdirikan lapis-lapis perbedaan di setiap kita. Ada beda keinginan dan impian, yang bukan berarti tak bersinggungan. Interaksi mampu mereduksi ketakpahaman kita akan keberadaan satu sama lain.

Jakarta, tersirat meninggikan satu bagian sekaligus menghimpit lainnya. Kita yang bergapaian hasrat mesti menjejaki kemungkinan lain, menemukan ruang selain yang tersirat itu. Maka, terdapati kami di Taman Suropati, mereka di sepanjang sisi jalan, juga Anda di segala tempat di antara tinggi rendah bangunan dan permukaan jalan.

Pada ruang itu, terpercik-percik jeda melepas ketinggian dan keterhimpitan, terlangsungkan interaksi akan keberbedaan kita. Interaksi yang memungkinkan teraktualisasinya ragam potensi karena terinspirasi keseluruhan gerak kita, seperti membersitnya ide bersepeda keliling menjual kopi yang mengubah penggunaan bakul pikulan berpuluh tahun sebelumnya.

Dengan sepeda, tukang kopi lebih lincah menjelajahi kota daripada dengan bakul pikulan. Kehadirannya kian menjangkau gelaran ruang bagi kita, menandai dan menyelenggarakan jeda, melenturkan interaksi melalui kegandrungan ngopi-ngopi. Kesemuanya, seperti yang bisa berlanjut setelah ngopi, berpeluang melebarkan kesempatan di masa mendatang.

Ruang menghamparkan potensi yang selalu mungkin teraktualisasi. Pada jeda yang tersedia, ruang kian bernyawa oleh tukang kopi sepeda. Pada ruang yang terselip, kita menguakkannya. Pada yang terhalau sorot lampu kota, aktivitas ngopi-ngopi meneranginya. Tanpa mengindahkan suatu kualitas dan racikan, cita rasa ‘pasaran’ ini jadi tak teringkari keistimewaannya. Seluas keberadaan terjangkau, Anda selalu terundang untuk bergabung.

Tring…tring… bel sepeda jadi tanda kebersamaan. ***




Jakarta, Desember 2010




RIKA FEBRIYANI lahir dan tinggal di Jakarta. Memelajari kota mulai dari jurusan Planologi pada salah satu perguruan tinggi, beberapa instansi pemerintah dan swasta, dan terutama dalam keseharian masyarakat. Sejak beberapa tahun mencoba fokus untuk menelaah makna elemen-elemen kota, seperti trotoar, toilet, toko buku, taman, halte bus, cemilan, dan sejenisnya. Catatan seputar ketertarikan ini, diantaranya termuat di www.rujak.org dan www.beritabandoeng.com.


 






Tukang kopi sepeda di Taman Menteng, Jakarta Pusat.

Tukang kopi sepeda di trotoar Kuningan, Jakarta Pusat.


Tukang kopi sepeda di Taman Lembang, Jakarta Pusat.





Tukang kopi sepeda di Taman Suropati, Jakarta Pusat.


Jl. Perapatan Baru, Kwitang, Jakarta Pusat. Tempat tinggal para tukang kopi sepeda.


Deretan sepeda para tukang kopi di Jl. Perapatan Baru, Kwitang, Jakarta Pusat.




Toko Usman, Jl. Perapatan Baru, Kwitang, Jakarta Pusat.



Pengumuman berhadiah bagi para pelanggan Toko Usman.


Peran sponsor dalam aktivitas tukang kopi sepeda.



Ruang hidup para tukang kopi sepeda di Jl. Perapatan Baru, Kwitang, Jakarta Pusat.




Narasumber dan pustaka
1. Jamal, Rifaldi, Hola, Ridho’I, Ja’i, Azis, dan lainnya; tukang Kopi Sepeda.
2. Pak Haji Usman, Bos kopi.
3. Para pengunjung Taman Suropati.
4. A Passion of Coffee. Gaya Hidup Sehat. Gramedia. Jakarta.
5. H.C.C Clockener Brousson. Batavia Awal Abad 20. Jakarta: Masup Jakarta, 2007.
6. Her Suganda. Jendela Bandung, Pengalaman Bersama Kompas. Jakarta: Kompas, 2007.
7. Pramoedya Ananta Toer, “Gambir” dalam kumpulan Cerita Dari Jakarta. Jakarta: Hasta Mitra, 2002.
8. Kue Balok, Nenek Moyangnya Kue. Berita Bandoeng. 17 Februari 2009. http://www.beritabandoeng.com/berita/2009-02/kue-balok-nenek-moyangnya-kue/


Foto-foto oleh Farid Rakun, 2010.

Komentar

Appreciate this post. Let me try it out.
I read this piece of writing fully on the topic of the difference of most recent and earlier technologies, it's awesome article.

Excellent and beneficial post… i am so grateful to left comment on this. This has been a so exciting study, would really like to study more here….

Hello, Neat post. There's an issue along with your web site in internet explorer, may test this? IE nonetheless is the market leader and a large portion of people will miss your excellent writing because of this problem.
I always spent my half an hour to read this weblog's articles or reviews everyday along with a cup of coffee.
Hey there excellent blog! Does running a blog like this take a large amount of work? I have very little expertise in programming however I had been hoping to start my own blog in the near future. Anyways, should you have any ideas or techniques for new blog owners please share. I know this is off subject nevertheless I just needed to ask. Thank you!
Hello, an amazing article dude. Thanks But Were issues in your rss . Dont know why Unable to subscribe to it. Could there be others having similar RSS trouble? Anybody nobody can assist please reply. Thnx! 

 

Hi there, its nice piece of writing about media print, we all know media is a wonderful source of facts.
Hello Dear, Really your blog is very interesting.... it contains great and unique information. I enjoyed to visiting your blog. It's just amazing.... Thanks very much 

 

Appreciate the recommendation. Let me try it out.

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.