FOKUS 1 | Maret 2007

-A A +A
Versi ramah cetakPDF version
FOKUS 3 | Agustus 2007
Mereka yang mengantarkan kita
Pengantar
11 Agustus 2007


TRANSPORTASI UMUM selalu menjadi permasalahan kota yang tak pernah selesai. Jika ada yang sudah selesai, hilang sama sekali, itu adalah becak di Jakarta yang sudah habis dibasmi dengan alasan tidak jelas. Satu hal yang jelas, becak adalah representasi ketidakmampuan pemerintah dalam merawat perekonomian negara. Pada masa krisis 1980-an, Gubernur Tjokropranolo melonggarkan keberadaan becak, begitu pula Gubernur Sutiyoso setelah krisis moneter 1998—walau pernyataan lisannya itu segera dicabut kembali. Semua karena pemerintah tidak sanggup memberi pilihan pekerjaan yang lebih baik. Becak boleh saja ada asal tidak di Jakarta. Namun, setangguh betis tukang becak, sekian dekade dibasmi, becak tetap ada, tak terkalahkan seperti Rambo, salah satu tokoh dalam cerita pendek Seno Gumira Ajidarma (Becak Terakhir di Dunia (atawa Rambo), 1986).

Dilihat dari segi pariwisata, Jakarta dan Yogyakarta jelas memiliki sudut pandang berbeda. Demi menyambut Visit Indonesia Year 1991, Gubernur Jakarta, Wiyogo kembali membasmi becak demi kepuasan mata turis. Sementara di Yogyakarta, dengan alasan yang sama dan berbagai kepentingan dibaliknya, “Becak akan dipertahankan sampai umur Yogyakarta habis”, seperti dikutip dari pernyataan Walikota Yogyakarta pada 2004 oleh Yoshi Fajar Kresno Murti dalam tulisannya kali ini. Saat ini, becak telah tiada di Jakarta, namun tetap ada di Yogyakarta dan kota-kota lainnya. Yoshi Fajar Kresno Murti menuliskan perjalanan becak di Yogyakarta dengan sangat menarik. Diakhiri dengan keberadaan becak motor di sana, ia kembali mempertanyakan rencana besar Yogyakarta di masa depan dalam hal transportasi umumnya. Namun, kembali ke Jakarta—juga dalam hal rencana besarnya di masa depan, yang dahulu direncanakan tanpa mengikutsertakan becak—bukankah lebih baik jika Jakarta sekarang tidak memiliki becak? Mau mengayuh ke mana lagi tukang becak sekarang? Ada atau tiadanya becak, Jakarta tetap macet, dan rencana jalanan Jakarta bukan hanya tak ramah bagi becak, namun bagi semua jenis kendaraan dan juga manusianya.

Kini, ojek merajalela, begitu juga taksi yang kini hadir dalam berbagai merk dan tarif—banyak supir butuh penghasilan, dan banyak pengusaha butuh keuntungan. Namun adakah perubahan dalam kehidupan supir taksi sendiri? Anda bisa membandingkan kondisi saat ini dengan tulisan Seno Gumira Ajidarma yang kembali kami hadirkan. Sejumlah pengalaman dan pandangan hormatnya atas kehidupan supir taksi. Kedua hal yang juga ingin dibagi sebagai pengalaman bersama oleh Andry Mochamad, dalam sebuah stiker yang dibuatnya pada 2001 untuk para penumpang tentang supir angkutan yang baik.

Tidak semua jenis transportasi umum kami ulas di sini, sekalipun tambahan sudut pandang baru dari Anda akan terus kami nantikan. Ada kejadian seputar transportasi umum yang berubah dan ada yang tidak, seperti yang saya tuliskan di sini, mengenai perilaku duduk penumpang di dalam bus Patas AC. Situasi ketika mereka tidak hanya memilih akan duduk di mana, namun juga akan duduk dengan siapa. Berbagai pilihan yang kembali menegaskan, betapa masih menakutkannya jalanan ibukota bagi masyarakatnya. Sekaligus menghadirkan kenyataan, betapa perbaikan kualitas transportasi umum kota yang belum juga terlihat, masih harus menanggung beban lain: waktu yang masih sangat lama untuk mengubah perilaku masyarakatnya sendiri.

Ardi Yunanto
redaktur


Foto oleh Ardi Yunanto, 2007.

Komentar

Ada atau tiadanya becak, Jakarta tetap macet, dan rencana jalanan Jakarta bukan hanya tak ramah bagi becak, namun bagi semua jenis kendaraan dan juga manusianya.

 Ada atau tiadanya becak, Jakarta tetap macet, dan rencana jalanan Jakarta bukan hanya tak ramah bagi becak, namun bagi semua jenis kendaraan dan juga manusianya.

“Say, you got a nice article post.Thanks Again. Great.”
Thanks for the article. Great.

Ada atau tiadanya becak, Jakarta tetap macet, dan rencana jalanan Jakarta bukan hanya tak ramah bagi becak, namun bagi semua jenis kendaraan dan juga manusianya.

Ada atau tiadanya becak, Jakarta tetap macet, dan rencana jalanan Jakarta bukan hanya tak ramah bagi becak, namun bagi semua jenis kendaraan dan juga manusianya.

Yoshi Fajar Kresno Murti menuliskan perjalanan becak di Yogyakarta dengan sangat menarik. Diakhiri dengan keberadaan becak motor di sana, ia kembali mempertanyakan rencana besar Yogyakarta di masa depan dalam hal transportasi umumnya

Ada atau tiadanya becak, Jakarta tetap macet, dan rencana jalanan Jakarta bukan hanya tak ramah bagi becak, namun bagi semua jenis kendaraan dan juga manusianya.

You have done a great job. I will definitely dig it and personally recommend to my friends.

You might post on the texture for the blog. You should provide it's helpful. Your blog outline could accelerate your assets

 Ada atau tiadanya becak, Jakarta tetap macet, dan rencana jalanan Jakarta bukan hanya tak ramah bagi becak, namun bagi semua jenis kendaraan dan juga manusianya.

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.