FOKUS 1 | Maret 2007

-A A +A
Versi ramah cetakPDF version
FOKUS 7: Des 2010 - Des 2011
Nakal penuh akal demi warga? Dinas Artistik Kota menjawabnya
jurnal Karbon
26 April 2011



Jakarta punya Dinas Artistik Kota. Bukan, ini bukan instansi dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang nyaris tak bisa diharapkan lagi kinerjanya. Namanya saja yang terdengar tua dan resmi, namun mereka semua masih muda dan penuh semangat. Mereka adalah sekelompok anak-anak muda yang tergabung dalam ruang inisiatif Serrum, sebuah organisasi yang fokus pada pendidikan dan seni rupa sebagai ruang berbagi, yang sesuai dengan latar pendidikan keguruan di almamater mereka semula, Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Jakarta. Dengan berseragam seperti Dinas Pekerjaan Umum agar aman dari gangguan aparat, anak-anak muda ini menggeser pengertian mural di Jakarta, yang umumnya hanya dilakukan sebagai corat-coret penanda eksistensi pribadi individual urban, menjadi sebuah alat aktivisme demokratis: mural dari warga, untuk warga, oleh warga. Kesadaran baru ini didukung pula oleh kesadaran aktivisme baru global yang dicapai melalui dunia maya. Dua redaktur kami, Farid Rakun dan Ardi Yunanto mengajak MG Pringgotono sebagai inisiator Dinas Artistik Kota dan pentolan Serrum, berbincang-bincang di ruangrupa, Jakarta Selatan, pada 18 Februari 2011. Ditemani aroma kopi yang kental dan sore yang mendung, ia mengungkap latar belakang, anekdot-anekdot seru, serta harapan yang mereka miliki di kemudian hari.



Bagaimana Dinas Artistik Kota (DAK) berdiri?
Pada 2004, waktu CCF (Center Culturel Francais) dan ruangrupa (organisasi seni rupa kontemporer penerbit jurnal Karbon ini) mengajak kami mengerjakan mural [dalam proyek WA, 2004] di Kuningan, Jakarta Selatan, kami sadar walaupun dilakukan tanpa izin, mural bisa tetap aman dikerjakan asal ada lampu, generator, dan peralatan lainnya. Sederhananya, ternyata kita bisa membuat mural di jalanan dengan nyaman dan aman jika dilakukan dengan tidak tanggung-tanggung. Bawa saja perlengkapan. Jika terlihat bahwa itu serius, orang tidak akan mengusik. Itu mengapa sekarang kami memakai seragam yang menyerupai Dinas PU (Pekerjaan Umum). DAK sendiri berdiri pada akhir 2010.

Kami bahkan pernah tak jadi diberhentikan karena memakai rompi dan membawa peralatan waktu ada razia kendaraan bermotor di daerah Tambak, Jakarta Pusat. Haha.


Dengan nama yang terkesan resmi, Dinas Artistik Kota, kalian nggak khawatir orang akan berpikir bahwa kalian adalah dinas resmi dari pemerintah?
Justru kami ingin memancing orang berpikir bahwa ini mungkin saja dari pemerintah. Kami ‘kan jadi terlihat serius dengan  peralatan yang banyak, sehingga orang akan berpikir, ‘Oh, ini mungkin didukung pemerintah’. Sehingga kami menjadi aman waktu mengerjakan mural.

Jika kami tidak terlihat dari awal sebagai inisiatif, tak apa. Orang bisa tahu lanjut, bahwa sebenarnya aksi mural kami bukan dari pemerintah, tapi justru “melawan” pemerintah dengan “mengambil alih” peran pemerintah, karena pemerintah tak akan mungkin berpikir untuk mempedulikan mural bagi warga. Jika orang melihat situs kami, orang akan mengerti bahwa itu bukan pemerintah karena pemerintah tak mungkin menggunakan gaya bahasa seperti yang ada di dalam situs itu.

Sebenarnya ini hanya strategi, karena kondisi ruang publik kita berbeda dengan di luar, Amerika, misalnya, yang peraturan ruang publiknya jelas sehingga mural harus dibuat secara sembunyi-sembunyi. Di sini, mudah saja asal bergerombol. Masalahnya tinggal persoalan muatan karya. Suatu mural harus punya pesan kuat dan bermanfaat buat orang banyak.

*

Karya pertama Dinas Artistik Kota ada di dalam proyek mural yang saat itu dikerjakan Serrum atas permintaan kerjasama dari Pemerintah Kota Jakarta Pusat. Karya itu adalah karya MG Pringgotono, Belajar Internet Bijak 1b, yang digambar dengan model sampul buku-buku lawas pelajaran SD (Gambar 1). Dengan kenyataan bahwa mural itu digubah dari model sampul buku, maka MG menorehkan namanya sendiri di sana, layaknya nama pengarang pada sebuah buku, yang kali ini ditulis dengan teks “dimural oleh: MG Pringgotono”. Pemberian nama itu kemudian sempat menimbulkan masalah dengan pihak Pemkot yang tak menginginkan penulisan nama apapun dalam setiap mural yang dikerjakan. Tak lupa, Pihak Pemkot juga menanyakan “Mural itu apa?”. Mural yang Anda lihat sekarang adalah mural sebelum nama MG Pringgotono tersebut akhirnya dihapus. Mural ini kemudian menjadi karya pertama dari Dinas Artistik Kota yang selanjutnya berkeinginan melakukan proyek mural mereka sendiri.


Gambar 1. Mural Belajar Internet Bijak 1 b, karya pertama Dinas Artistik Kota, dibuat oleh MG. Pringgotono, 2010. Foto koleksi Dinas Artistik Kota.

*

Bagaimana jika ke depan, Pemkot hendak bekerjasama dengan Dinas Artistik Kota?
Saya nggak mau repot adu argumentasi dengan mereka, jadi kita tak akan pakai nama Dinas Artistik Kota jika nantinya terjalin kerjasama dengan Pemerintah.

Di grup Facebook kalian, ada yang berkomentar, bahwa suatu saat nanti Dinas Artistik Kota memang harus benar-benar ada dari pemerintah.
Ya, komentar itu saya jawab seenaknya saja, kalau akhirnya ada betulan, ya bagus itu. Hehe. Karena saya melihat apapun yang menjadi pekerjaan pemerintah akan sama saja dengan lainnya, bakal dicampuri oleh partai, ada pro dan kontra, dan lain sebagainya. Males, ’aja.

Berandai-andai, nih, jika kalian benar-benar menjadi dinas resmi pemerintah, kebijakan apa yang akan kalian buat?
Kalau sudah masuk ke wilayah kebijakan, buat saya sudah tidak seru lagi. Tapi kalau kamu lihat, dengan memberdayakan tembok-tembok kota kita juga bisa memberdayakan ekonomi warga. Coba kamu bayangkan kalau dibuat kegiatan mural di suatu wilayah, bisa muncul orang-orang baru yang akhirnya menjadi seniman mural dan mengambil orderan dari orang lain lagi. Ada unsur pemberdayaan. Ekonomi jadi berjalan. Karena di luar negeri, pemural-pemural asal Indonesia itu diakui sebagai seniman mural yang paling bagus. Dari mural sampai airbrush, baik yang komersial maupun yang inisiatif dalam sebuah gerakan. Banyak sekali orang Indonesia yang jago mural tapi lebih terkenal di luar negeri ketimbang di wilayahnya sendiri. Bahkan mereka ada juga di kampung-kampung, menggambar di waktu senggang mereka, dan setelah itu pulang, kembali bekerja sebagai penjual kelapa muda.

Lalu apalagi yang kalian kerjakan?
Ini karya kedua kami, Tetap Semangat Kerja untuk Publik, proyek bersama Propagraphic Movement—yang juga menjadi program Serrum (2010). Kami menggarap mural, poster, dan grafiti ini di Dukuh Atas, agar teman-teman seniman lain tetap semangat membuat karya untuk publik (Gambar 2).


Gambar 2. Mural Tetap Semangat Bekerja untuk Publik, dikerjakan bersama
Propagraphic Movement, Jakarta, 2010. Foto koleksi Dinas Artistik Kota.



Selain itu ada proyek Ojek (2010). Jakarta ini ‘kan punya banyak pangkalan ojek, yang keberadaannya antara dibutuhkan tapi juga tidak diakui negara. Mengapa tidak sekalian kita buatkan rambu pangkalan ojek untuk para tukang ojek? Kami akhirnya bekerjasama dengan Carterpaper, kelompok seniman yang memang sering mengerjakan desain rambu jalan.

*

Untuk proyek Rambu Ojek ini, mereka membuatkan stiker sebesar plang rambu jalan untuk dibagi-bagikan agar orang menempelkannya di gang masing-masing rumahnya yang memiliki pangkalan ojek. Sebagai bukti bahwa itu sudah ditempelkan, mereka meminta si penempel memotretnya lalu foto tersebut diunggah ke grup Facebook Dinas Artistik Kota (Gambar 3).



Gambar 3. Dinas Artistik Kota bersama Carterpaper di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, saat berpartisipasi dalam pameran bersama ruangrupa, Hanya Memberi Tak Harap Kembali, Januari 2011. Seperti seniman-seniman lain di pameran tersebut yang menjajakan karyanya, DAK dan Carterpaper membagi-bagikan stiker plang ojek itu dengan gratis. Foto koleksi Dinas Artistik Kota.

*

Lalu bagaimana sambutan orang-orang terhadap proyek rambu ojek ini?
Kami memang tidak mencetak banyak stiker, hanya 30 stiker. Saya belum melihat apa sudah ada yang menempelkan stiker rambu itu, karena belum ada yang memotret dan mengunggahnya di grup Facebook kami.

Sepertinya memang ada masalah desain, ya, karena bisa kita bayangkan proses penempelannya tentu agak sulit juga. Setiap orang misalnya, harus mengusahakan alas seperti triplek seukuran stiker, menempelkan stiker ke alas itu, sebelum akhirnya plang itu bisa ditempel di pangkalan mereka.
Niatnya, sih kami ingin membuatkan plangnya sekaligus, tak hanya berupa stiker. Tapi apa daya, saya harus jadi orang kaya dulu untuk membuatkan puluhan plang. Hehe.

Apa kalian memang mengharapkan tumbuhnya partisipasi lain dari stiker rambu ojek ini?
Ya. Karena selama ini, kami melihat di beberapa pangkalan ojek, memang sudah ada plang ojek dengan bahan triplek, jadi kami pikir penambahan triplek sebagai alas ini tak menjadi usaha yang terlalu merepotkan.

Lalu sekarang kalian sedang mengerjakan apa?
Kami sedang mengerjakan Jalur Sepeda. Ini akan kami tawarkan sebagai gerakan gotong-royong bagi pengguna sepeda untuk membuat jalur sepeda di tempat-tempat yang biasa mereka lalui (Gambar 4).




Gambar 4. Dinas Artistik Kota saat mengerjakan jalur sepeda pada tengah malam di daerah Pasar Rumput, Jakarta Selatan, April 2011. Foto koleksi Dinas Artistik Kota.


Bagaimana kalian mengartikan Dinas Artistik Kota sendiri?
Ini pernah saya tuliskan penjelasannya, yang juga ada di situs kami.

Bacakan, dong…
Haha.

Dinas Artistik Kota adalah sebuah proyek yang bertujuan memancing ide, inisiatif, dan wacana kebijakan artistik di ruang kota. Proyek ini terbuka bagi mereka yang tertarik dengan kerja-kerja artistik ruang kota: street artist, seniman mural, arsitek, perancang grafis, dan peneliti perkotaan.

Dinas Artistik Kota juga kami anggap sebagai gerakan inisiatif, bukan kelompok. Harapannya warga kota dan pemerintah bisa lebih serius dan kritis melihat ruang kota sebagai wilayah artistik yang bisa terus dikembangkan bagi kepentingan publik.


Apa maksud inisiatif itu?
Siapa saja. Jadi siapapun bisa bilang bahwa dirinya adalah Dinas Artistik Kota.

Apa nggak takut kalau nanti kebanyakan peserta atau bisa diklaim punya kelompok tertentu?
Paling mudah, ya, nanti kita potret gambar itu, lalu kami buat pernyataan bahwa itu bukan buatan kami.

Dari sekian banyak kelompok seniman ruang publik di Indonesia, siapa yang cukup penting bagi kalian?
Menurut saya yang gerakannya paling diperuntukkan bagi publik adalah Apotik Komik (Yogyakarta, 1997 – 2005). Ada keberlanjutan dari setiap kegiatan mereka.

Di masa depan, apa Dinas Artistik Kota akan punya proyek sendiri atau bekerjasama dengan teman-teman yang lain?
Mengalir saja. Kami mencoba memperkenalkan kepada publik luar bahwa dengan proyek mural ini kita bisa berkolaborasi dengan pihak lain. Adanya situs juga menjadi penting sebagai bahan publikasi.

Jadi, kalian terbuka untuk bekerjasama dengan pihak lain secara alami dan sesuai kapasitas kalian, yang dimulai dari teman-teman sendiri. Pernah terbayang untuk memperluas kerjasama itu suatu saat, terutama terkait dengan warga di lokasi tertentu? Misalnya saja, ada warga tertentu yang ingin tembok di gangnya digambar, dan ingin mengontak kalian untuk bekerjasama?
Selama ini kami memulai saja dulu dengan apa yang ada. Termasuk jika kita bekerja dan mau memakai nama Dinas Artistik Kota atau tidak. Mungkin ada satu-dua proyek yang akan kita lakukan dengan berkolaborasi dengan kelompok-kelompok lain.

Bagaimana strategi dan taktik kalian untuk bekerja? Bagaimana kalian mencari dana untuk setiap proyek kalian ini?
Kebanyakan kami lakukan dengan cat sisa dan sisa dana dari kerjaan komersial. Teman-teman lain yang mengerjakan mural di jalan biasanya juga, seperti kami, mengerjakan mural komersial, dan sisa dananya kami gunakan untuk berkarya mandiri. Karena kalau kita mau menjalankan satu proyek dengan dana sendiri, biayanya bisa sampai Rp500,000—itu baru untuk cat saja.

Kenapa kami tertarik sejak awal pada DAK, karena ada pernyataan dari kalian, yang tercermin lewat nama, karya, dan situs kalian, bahwa karya-karya yang kalian buat memang pro publik. Kalian tidak ingin membuat karya yang hanya berupa ekspresi pribadi yang dituangkan di ruang publik. Bagi kalian, apa arti memberikan sesuatu kepada publik?
Sederhana, saja, agar apa yang kami lakukan ini bisa menginspirasi orang lain, apalagi ketika persoalan yang diangkat cukup kontekstual dengan keadaan yang sedang berlangsung, lalu membuat orang jadi berpikir, ’Oh, iya, ya’...

Bagi kami, juga kelompok lain yang biasa berkarya di ruang publik, ya lakukan saja dulu. Jika ada kritik, itu akan menjadi bagian dari proses kerja kami juga, karena dengan kritik kami mendapatkan masukan.


Semua karya pasti memiliki pesan tertentu yang dianggap pembuatnya cukup penting untuk diangkat ke ruang publik. Namun semuanya ’kan bermula dari pembuatnya—dalam hal ini: kalian—dan publik hanya akan melihat setelah hasilnya jadi. Bagaimana kalian mengandaikan bahwa apa yang kalian lakukan itu cukup penting bagi publik? Karena bisa saja bahwa ternyata suatu karya akhirnya tidak dianggap penting oleh publik. Bagaimana kalian memikirkan jarak dan bias tersebut?
Terkadang kita memang perlu cuek. Berkarya saja. Bisa jadi, publik memang akan menyambut karya kami dengan biasa-biasa saja.

Kalian punya situs, dinasartistikkota.webs.com untuk memberitakan kegiatan-kegiatan kalian. Menurut kamu, seberapa besar peran internet dalam pembentukan komunitas seni di Jakarta?
Sangat besar. Contohnya dalam dunia airbrush; yang tidak populer untuk dijadikan pilihan dalam media berkarya—karena kebetulan saya juga mengumpulkan teman-teman yang bergerak di seni aibrush dan membuat blog airbrush. Dulu saya kesulitan untuk ngobrol dengan teman-teman sesama pekerja airbrush karena masalah jarak. Semenjak adanya Facebook semua terhubungkan. Ini terbukti waktu kita bisa bikin acara kumpul-kumpul dengan berkarya bersama pada akhir tahun lalu. Nah, kalau dalam dunia street art lebih seru lagi. Selama ini kalau kita melihat karya-karya street art di jalan, kita umumnya tidak tahu siapa yang membuat karya-karya itu. Tapi di dunia maya, kita bisa menelusuri siapa dia.

Apakah kamu dan Dinas Artistik Kota, memperlakukan situs kalian secara sama atau berbeda dengan situs-situs lain dari kelompok seni rupa di ruang publik? Dan sejauh apa?
Kalau sebagai ide, saya pikir sama saja, ada informasi, karya-karya, anggota, forum, diskusi, dan lain-lain. Yang berbeda pembahasannya. Teman teman street art lain juga pasti ada yang—dari sekian karyanya—benar-benar punya manfaat buat publik. Tapi jelas kalau Dinas Artistik Kota sudah seharusnya membahas persoalan kota-publik-dan visual dan bagaimana hubungan antar ketiganya. Karya-karya seni, desain, atau produk yang akan dibahas tentunya yang ada hubungannya secara langsung dengan masyarakat, karena karya di ruang publik sudah seharusnya bisa berdialog dengan publik, tidak semata-mata demi ekspresi pribadi.***

 



 


MG Pringgotono dan Ardi Yunanto di ruangrupa, Jakarta Selatan, 18 Februari 2011. Foto oleh Farid Rakun.




Propagraphic Movement dan Dinas Artistik Kota ketika terlibat dalam aksi bersama Berbeda dan Merdeka 100% di Jakarta pada 13 Februari, 2011,yang merupakan aksi yang melibatkan seniman dan warga di 20 kota secara serempak dalam satu hari. Karya pertama oleh MG Pringgotono dan karya kedua berupa wheatpaste oleh JJ Adibrata. Foto dan video koleksi Dinas Artistik Kota dan Propagraphic Movement.


Komentar

Ditemani aroma kopi yang kental dan sore yang mendung, ia mengungkap latar belakang, anekdot-anekdot seru, serta harapan yang mereka miliki di kemudian hari.

Ditemani aroma kopi yang kental dan sore yang mendung, ia mengungkap latar belakang, anekdot-anekdot seru, serta harapan yang mereka miliki di kemudian hari.

Awesome blog! Is your theme custom made or did you download it from somewhere? A design like yours with a few simple adjustements would really make my blog jump out. Please let me know where you got your design. Appreciate it bad credit personal loans personal loans how to make money fast installment loans no credit check online payday loans hard money lender instant loans texas car title loans payday loan direct lenders direct lender installment loans for bad credit payday loans direct lender only hard money lender bad credit mobile home loans instant online loans unsecured loans for people with bad credit auto title loans auto title loans short term loans no credit check no credit check personal loan unsecured loans loans for people with bad credit and no bank account no credit check payday loans loans online with no credit check online loans with no credit check online payday loans direct lenders best cash advance loans loans for people with bad credit loans online with no credit check quick loans fast cash
I me just realize that snowboarding is often a catalog. I guess this is quite some sort of lucrative business in the united kingdom there can be weather your snow.

Bawa saja perlengkapan. Jika terlihat bahwa itu serius, orang tidak akan mengusik. Itu mengapa sekarang kami memakai seragam yang menyerupai Dinas PU (Pekerjaan Umum). DAK sendiri berdiri pada akhir 2010.

Remarkable issues here. I'm very glad to peer your article. Thank you so much and I'm having a look forward to touch you. Will you please drop me a e-mail?
Nice response in return of this question with genuine arguments and describing the whole thing on the topic of that.
Today, while I was at work, my cousin stole my iPad and tested to see if it can survive a 25 foot drop, just so she can be a youtube sensation. My apple ipad is now broken and she has 83 views. I know this is entirely off topic but I had to share it with someone! track phone free phone tracker gps phone tracker spy mobile phone google cell phone tracker sms tracker android how to track a cell phone location without them knowing iphone tracker app mobile tracker track my phone track phone number how to track a cell phone location without them knowing sms tracker free mobile phone tracker cell phone tracker how to track a cell phone how to track a cell phone cell phone tracker mobile number tracker how to gps track a cell phone spy mobile phone mobile spy phone iphone tracker sms tracker android sms tracker track my phone track phone sms tracker free how to track a cell phone cell phone number tracker
All subjects linked to math is very hard. For those who appreciate this lesson, then there won't be as difficult since the problem with additional subjects.
Pretty section of content. I just stumbled upon your site and in accession capital to assert that I acquire actually enjoyed account your weblog posts. Anyway I'll be subscribing to your augment and even I fulfillment you get admission to persistently quickly.

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.