FOKUS 1 | Maret 2007

-A A +A
Versi ramah cetakPDF version
FOKUS 1 | Maret 2007
Ruang transit di Jakarta
Gustaff H. Iskandar
14 Maret 2007

Pada hari Selasa, 9 September 2003, saya menuju Jakarta untuk terlibat dalam sebuah proyek yang digagas oleh ruangrupa. Sekelompok seniman diminta untuk tinggal di rumah susun dan apartemen selama kurang lebih satu bulan penuh. Berikut ini adalah beberapa catatan yang saya susun selama proyek ini berlangsung.

 
SAYA TIBA di Jakarta, kira-kira pukul sebelas siang. Seperti biasa, begitu kereta berhenti biasanya para penumpang langsung berduyun-duyun keluar dari gerbong kereta. Perjalanan dari Bandung yang memakan waktu lebih dari tiga jam sepertinya menjadi alasan yang cukup bagi orang-orang ini untuk segera bergegas keluar dan bersentuhan dengan suasana rutin di Stasiun Gambir, sebelum akhirnya mereka semua menghilang entah ke mana. Saya berhenti sejenak di dekat pemberhentian taksi, menyalakan sebatang rokok untuk mendapatkan sedikit jeda. Satu persatu saya perhatikan orang-orang mulai pergi meninggalkan stasiun. Pada saat yang hampir bersamaan, sekelompok orang tiba di stasiun ini dengan ekspresi yang nyaris serupa. Begitu datang, langsung pergi lagi entah ke mana.

Kedatangan dan kepergian, tampaknya ini adalah sebuah prosesi rutin untuk sebuah kota seperti Jakarta. Hampir setiap saat orang-orang datang dan pergi, berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Memenuhi stasiun, jalan-jalan raya, terminal, mall, gedung-gedung tinggi, sampai rumah-rumah kecil di pojokan kota. Mereka muncul berduyun-duyun seperti semut, untuk kemudian menghilang dan digantikan oleh gerombolan semut yang lain. Di kota ini sepertinya orang-orang memang senantiasa bergerak, mengisi setiap jengkal tanah, pojok-pojok bangunan, ruas-ruas jalan, dan setiap rumah yang kemudian hanya menjadi tempat persinggahan sementara. Tempat untuk berhenti sejenak, untuk selanjutnya meneruskan perjalanan dan membuat kota ini dapat terus hidup dan berdenyut-denyut, layaknya sebuah organisme yang “bernyawa” dan dapat berkembangbiak.


Ruang transit di Jakarta, sebuah ruang persinggahan sementara yang nyaris permanen. Sebuah teritori imajiner yang menyebar hampir di setiap jengkal tanah Kota Jakarta. Di dalam ruang ini, realitas keseharian senantiasa diisi oleh berbagai macam arus yang mengalir dari satu tempat ke tempat lain. Di Jakarta kita dapat menemui orang-orang yang harus senantiasa bergerak untuk mempertahankan hidupnya. Persis seperti cerita mengenai Bangsa Nomad yang menghabiskan sebagian hidupnya dengan berpindah-pindah agar dapat bertahan hidup. Tidak ada ruang yang benar-benar permanen di sini. Bahkan sebuah kamar tidur pun dapat menjadi ruang persinggahan sementara, sama persis seperti ruang perkantoran, mall, café, metro mini, atau mobil. Ruang transit di Jakarta adalah ruang imajiner yang senantiasa berubah bentuk dari waktu ke waktu. Terkadang begitu intim, namun dapat juga menjadi begitu asing dan penuh dengan suara yang hingar-bingar. Terus terang, hal ini kemudian membuat saya bertanya-tanya, narasi semacam apa yang ada di balik setiap gedung, tembok beton, jalan raya dan setiap pojok ruangan yang ada di kota semacam ini.

Rokok sudah habis. Saya harus melanjutkan perjalanan menuju Tebet, untuk kemudian bertemu dengan beberapa teman di ruangrupa. Di dalam taksi, saya sempatkan untuk membaca kembali catatan yang dikirimkan kepada saya melalui e-mail beberapa hari yang lalu. Selama satu bulan ke depan saya diminta untuk menemani sekelompok seniman untuk bekerja di sebuah lokasi yang spesifik di Kota Jakarta. Satu kelompok akan tinggal di apartemen, sementara kelompok yang lain akan tinggal di rumah susun. Dalam benak saya, proyek ini tentunya akan menjadi semacam investigasi personal yang akan membaca setiap persoalan yang ditemui selama proyek ini berlangsung. Untuk ukuran orang Indonesia hal semacam ini tentu saja bisa dibilang menarik, mengingat kebiasaan untuk menghuni bangunan vertikal sebagai sebuah rumah tinggal masih terhitung sebagai sebuah kebiasaan yang baru. Sebelumnya, kebanyakan orang Indonesia hanya mengenal tempat tinggal yang bernama rumah, yang biasanya tidak dibangun secara bertumpuk-tumpuk.

Ada tujuh orang seniman yang akan berpartisipasi dalam proyek ini. Mereka adalah Arjan van Helmond, Anggun Priambodo, Dimas Jayasrana, Henry Foundation, Reza Afisina, Tomoko Take, dan Teresa Stok. Kami memulai aktifitas kami dengan melakukan serangkaian presentasi dan diskusi yang menggambarkan kebiasaan dari masing-masing peserta. Saling bertukar pengalaman, gagasan, dan beberapa pandangan yang spesifik mengenai proyek ini. Keragaman biografi personal dari masing-masing seniman ini menyiratkan peluang untuk melakukan dialog yang sangat menarik. Salah satunya adalah diskusi kami mengenai konsepsi sebuah rumah. Sebagai sebuah ruang kolektif, rumah kemudian dapat dipahami sebagai sebuah penggalan narasi yang beragam. Tidak hanya sebentuk bangunan beratap yang memiliki beberapa ruang, jendela dan pintu. Rumah adalah sebuah teritori sosial yang juga memiliki relasi dengan ingatan personal, yang pada tingkatan yang lain juga dapat menjadi sebuah ekstensi yang mempengaruhi pola-pola hubungan, imajinasi, dan ekspresi yang bersifat privat maupun kolektif.

Pada hari-hari berikutnya, ke enam seniman ini kemudian mengisi kegiatan mereka dengan melakukan serangkaian aktivitas observasi, pengumpulan dokumen-dokumen, mencatat setiap pengalaman, dan mencoba untuk membangun hubungan dengan penghuni rumah susun dan apartemen. Arjan dan Anggun yang tinggal di rumah susun tampaknya tidak menemui banyak kesulitan untuk berhubungan dengan tetangga mereka yang baru. Hal ini tentu saja dapat dipahami, karena pola hubungan sosial yang ada di rumah susun relatif lebih cair apabila dibandingkan dengan suasana di apartemen. Sepertinya privasi dan rasa aman memang dimaknai secara berbeda di kedua tempat ini. Apabila di rumah susun masalah privat dan rasa aman adalah pola relasi sosial yang didasari oleh konsensus kolektif yang longgar, sementara itu di apartemen, privasi dan rasa aman diterjemahkan melalui serangkaian regulasi dan pembagian teritori yang lumayan ketat. Mungkin kita bisa mendapat penjelasan lebih jauh dari masalah ini dengan meninjau latar belakang kelas sosial dan narasi kolektif yang melatari kehidupan keseharian masyarakat yang tinggal di rumah susun maupun di apartemen.

Dalam proyek ini, masing-masing seniman melakukan proses investigasi dengan pendekatan personal yang beragam. Terkadang ada beberapa titik temu yang memungkinkan mereka untuk melakukan aktifitas secara bersama-sama. Anggun membiarkan proses kerjanya berjalan secara mengalir dan simultan. Ia mengumpulkan tanda-tanda visual sembari sesekali mewawancara para penghuni rumah susun dengan pendekatan yang sangat santai. Sementara itu, Arjan tampaknya berupaya untuk membangun komunikasi secara lebih intim. Tidak hanya sekedar melakukan hubungan secara lisan, ia juga meminta para penghuni rumah susun untuk menggambarkan tempat tinggal masing-masing berdasarkan ingatan dan imajinasi personal mereka diatas secarik kertas. Pada satu kesempatan, ia mengundang anak-anak yang tinggal di rumah susun untuk menggambar bersama. Mereka masing-masing diminta untuk menggambar sebuah rumah. Hasilnya sangat mengesankan, anak-anak ini bukan hanya menggambarkan rumah dengan aneka bentuk dan warna, tetapi juga citraan yang metaforik dan sangat imajinatif.

Para seniman yang bekerja di apartemen rupanya menunjukan respons dan pendekatan yang berbeda. Tomoko memulai proyek ini dengan mewawancarai orang-orang yang ditemui di sekitarnya, dengan pertanyaan sederhana mengenai rumah. Selanjutnya, ia juga mencoba untuk mengumpulkan foto dari orang yang ia wawancarai. Terkadang ia meminta orang-orang ini untuk berfoto dengan benda-benda yang memiliki makna personal bagi mereka. Pada beberapa hasil wawancara yang dikumpulkan oleh para seniman ini, rata-rata para penghuni rumah susun dan apartemen ternyata tidak melihat tempat tinggal mereka sebagai rumah yang akan mereka tinggali selama hidup mereka. Bagi sebagian dari mereka, tampaknya rumah susun dan apartemen adalah sebuah ruang singgah yang diisi dengan berbagai macam harapan dan mimpi-mimpi, mengenai sebuah rumah ideal yang diwakili oleh imajinasi kolektif mereka.

Berbeda dengan Tomoko, Dimas tampaknya lebih senang untuk mengamati suasana perkampungan yang terletak di dekat apartemen. Situasi yang sangat berjarak antara apartemen dengan perkampungan tampaknya mempengaruhi ekspresi kekaryaan Dimas yang muram dan cenderung dingin. Dalam salah satu karyanya, ia membuat sebuah kartu pos dengan gambar lanskap gedung-gedung yang didominasi warna hitam dan putih. Hal ini juga sedikit banyak terasa dalam proses kekaryaan Henry yang memproduksi teks “WE ARE A PART BUT WE ARE APART”, yang didistribusikan di sekitar lingkungan apartemen melalui stiker kecil, t-shirt, dan proyeksi slide yang dilakukan di beberapa tempat di sekitar apartemen. Kehadiran teks ini tentu saja menyiratkan sebuah ironi ketika disandingkan dengan suasana gedung apartemen yang tersekat-sekat dan dirasakan tidak bersahabat.

Reza memutuskan untuk melakukan serangkaian performance pada sesi presentasi proyek. Mengambil latar belakang gedung-gedung, suara musik, dan perlengkapan yang seadanya, ia mengutarakan catatan-catatan personalnya selama berada di apartemen. Untuk saya, apa yang diungkapkan oleh Reza sedikit banyak juga mencerminkan ketegangan, rasa bosan dan kekalutan personal. Ia tampaknya cenderung melihat ruangan di apartemen sebagai sebuah ruang kolektif yang terdiri dari berbagai macam persinggungan yang tidak lepas dari pola pergesekan dan konflik. Bentuk ketegangan yang berbeda dapat kita temui pada seri karya Teresa yang terdiri dari olahan gambar digital yang dicetak di atas kertas foto. Teresa menampilkan citraan gedung-gedung, jalan raya, dan obyek-obyek lain yang ia temui selama tinggal di apartemen sebagai sekumpulan bentuk yang mengambang. Selama hampir satu bulan penuh, ia mengisi kesehariannya dengan melakukan perjalanan dari apartemen menuju tempat-tempat lain di sekitar Kota Jakarta. Dari dalam mobil, baginya setiap ruas jalan, bangunan, dan citraan yang ada di dalam kesehariannya adalah sekumpulan imaji yang berlapis, yang terkadang bersinggungan, saling tumpang tindih dan nyaris serba semrawut.

Dalam beberapa catatan yang saya kumpulkan, realitas keseharian sebagai sebuah index pengalaman yang nyata (lived experience), tentu saja sedikit banyak ikut mempengaruhi pola hubungan dan model kesepakatan sosial yang ada. Bekerja selama hampir satu bulan penuh di sebuah lokasi yang spesifik semacam rumah susun dan apartemen tampaknya mendorong seniman-seniman ini untuk ikut mengakomodasi aspirasi kolektif yang berkembang di tempat mereka masing-masing. Selama proyek ini berlangsung, mereka secara intensif menggali beberapa masalah yang terkait dengan masalah tempat tinggal, berikut beragam persoalan yang melingkupinya. Walaupun kemudian proyek ini tidak merujuk pada satu kesimpulan yang baku, satu hal yang saya rasa menarik untuk dicermati adalah terbacanya sekumpulan biografi personal yang hidup dan hadir di rumah susun dan apartemen. Setiap lekuk gedung, ruas jalan, petak-petak rumah, termasuk setiap ruang di rumah susun dan apartemen adalah sekumpulan narasi yang diisi oleh subyek yang memiliki berbagai ingatan sejarah, lengkap dengan muatan ekspresi yang bersifat personal maupun kolektif.

Sebagai penutup, satu hal yang rasanya menonjol dari proyek ini adalah kecenderungan untuk melakukan pengamatan (surveillance) terhadap wilayah yang selama ini dapat dikatakan senyap dan cenderung dilupakan dalam ranah kajian masyarakat urban Jakarta. Melalui berbagai tawaran yang diungkap oleh para seniman peserta proyek ini, setidaknya intensi untuk membongkar berbagai bentuk narasi yang berada di wilayah extra-territory semacam ini menjadi penting untuk melengkapi pemahaman kita akan realitas kehidupan sehari-hari di belantara ruang urban Jakarta. Untuk itu, proyek ini dapat dikatakan telah berhasil membuka ruang-ruang kemungkinan untuk membaca persoalan keseharian masyarakat Jakarta sebagai sebuah pintu menuju pengetahuan, walaupun jalan untuk membawa persoalan ini menjadi wacana publik merupakan perkara yang masih harus terus diupayakan.

24 November 2003 & 15 Februari 2007

GUSTAFF H. ISKANDAR lahir tahun 1974. Ia lulus pada tahun 1999 dari jurusan Seni Murni, Fakultas Seni Rupa & Desain (FSRD – ITB). Pada tahun 2001, bersama R.E Hartanto dan T. Ismail Reza, ia mendirikan Bandung Center for New Media Arts, sebuah organisasi yang bergerak di bidang penelitian dan pengembangan seni media dan praktik seni mutidisiplin di Indonesia. Pada tahun 2003, ia mendirikan Common Room Networks Foundation (www.commonroom.info), sebuah ruang inisiatif yang kemudian dikelola secara bersama oleh Bandung Center for New Media Arts dan Toko Buku Kecil (Tobucil). Bermitra dengan Reina Wulansari dan beberapa teman di Kota Bandung, saat ini ia aktif berkarya, menjadi kurator pameran, menulis dan menjadi pembicara dalam beberapa acara diskusi dan simposium.

 


Suasana Apartment Taman Rasuna, Kuningan, Jakarta.

 


Suasana Rumah Susun Bendungan Hillir II, Pejompongan, Jakarta.
 

Fotografi oleh Anggun Priambodo, 2003
 


House and Memory, Arjan van Helmond, 2003. Gambar-gambar denah rumah asal para penghuni rumah susun, Debby, Mundia, Nining, Nganti & Erna yang dilakukan selama wawancara bersama Arjan van Helmond.
 


A Place We Call Home, Dimas Jayasrana, 2003. Fotografi dan kartupos.


A Place We Call Home, Dimas Jayasrana, 2003. Fotografi dan kartupos.


 

May you find and meet me here, probably (not) now, Reza Afisina, 2003



We are a part but we are apart, Henry Foundation, 2003. Stiker & Slide Show.
Fotografi koleksi ruangrupa, 2003.


Apartment Project
5 September – 4 Oktober 2003
Proyek berlokasi di Apartemen Taman Rasuna, Kuningan & Rumah Susun Bendungan Hilir II, Pejompongan, Jakarta, Indonesia.
Seniman: Anggun Priambodo, Arjan van Helmond, Reza Afisina, Dimas Jayasrana, Henry Foundation, Teresa Stok, Tomoko Take. Dikelola oleh ruangrupa. Project Officer: Indra Ameng. Konsep: Ade Darmawan, Anggun Priambodo, Hafiz, Henry Foundation, Indra Ameng, Reza Afisina. Fasilitator: Gustaff H. Iskandar, Indra Ameng, Daniella Fitria. Riset & Dokumentasi: Ardi Yunanto, M. Rony Nabawi.


Komentar

Do you mind if I quote a couple of your posts as long as I provide credit and sources back to your webpage? My blog site is in the exact same area of interest as yours and my users would definitely benefit from some of the information you present here. Please let me know if this ok with you. Thanks!
Howdy would yyou mind sharing ԝhich blog platform you'гe ԝorking with? I'm gοing to start myy оwn blog іn the near future but ӏ'm Һaving a difficult time selecting betԝeen BlogEngine/Wordpress/B2evolution ɑnd Drupal. Thee reason Ι аsk іs beϲause your layout sеems diffеrent then mοst blogs and I'm looking fοr somеtҺing coompletely unique. P.S Ѕorry for getting off-topic but I haɗ to ask!

This is a wonderful article, Given so much info in it, These type of articles keeps the users interest in the website, and keep on sharing more ...

Tempat untuk berhenti sejenak, untuk selanjutnya meneruskan perjalanan dan membuat kota ini dapat terus hidup dan berdenyut-denyut, layaknya sebuah organisme yang “bernyawa” dan dapat berkembangbiak.

Excellent blog you've got here .. It's difficult to find excellent writing like yours nowadays. I honestly appreciate Individuals like you!

Тhere's certainly a great deal to find out about tɦis topic. I really like all of the points you have maɗe.
Well, I strongly recommend this post to everyone because it will provide you very useful info. Thanks for sharing. mitre saw machine

I am always searching online for articles that can help me. A very awesome blog post.

I am always searching online for articles that can help me. A very awesome blog post.

 I thought it was going to be some boring old post, but it really compensated for my time. I will post a link to this page on my blog. I am sure my visitors will find that very useful.

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.