FOKUS 1 | Maret 2007

-A A +A
Versi ramah cetakPDF version
FOKUS 5 | Februari 2009
Supirnya lelaki, suaranya perempuan
Ardi Yunanto
06 Februari 2009


MEREKA YANG pada Mei 2004 pernah menunggu di enam halte bus Transjakarta Koridor I, jurusan Blok M-Kota, mungkin masih ingat dengan karya kartun Muhammad Reza. Sebuah panel kartun seukuran kertas A2 dipajang di enam halte yang berbeda: halte Stasiun Kota, Harmoni, Sarinah, Dukuh Atas, Benhil, dan Blok M. Tak banyak, memang. Namun bagi Reza saat itu, juga tak sedikit.

Karya-karya kartun Reza adalah satu dari sejumlah karya yang dihasilkan dari lokakarya Komik Metropolis Gadungan Menyertai Anda yang diadakan oleh ruangrupa—sebuah organisasi seni rupa kontemporer di Jakarta—pada April-Mei 2004. Diskusi intens berlangsung selama sebulan sebelum akhirnya para peserta membuat karya. Ada enam komikus yang ikut: Didoth, M. Ariv Russanto, Narpati Awangga, Rachman, Ardie—yang akhirnya mengundurkan diri—dan Muhammad Reza sendiri. Semua peserta kecuali Narparti Awangga, masih mahasiswa saat itu.

Lokakarya komik ini mengajak peserta membahas masalah sehari-hari Jakarta. Selama masa diskusi yang lumayan memusingkan itu, mereka melakukan penelitian singkat untuk bahan karya. Definisi komik—sebagai seni yang menyejajarkan gambar-gambar dalam jalinan waktu—agak dilonggarkan. Peserta diajak bebas berkreasi di luar kecenderungan mereka sebelumnya.

Hasilnya, Didoth menggunakan guntingan koran Lampu Merah sebagai bagian karyanya dengan sebuah karakter mirip dirinya yang selalu muncul dan mengomentari isi dari berita koran kuning itu. Karya ini jauh berbeda dengan kecenderungan ‘bercerita’ Didoth sebelumnya, seperti yang bisa kita baca dalam komiknya, Suatu Saat Sebelum dan Sesudah Si Dul Mati (2002). Ada pula duet komikus Ariv dan Rachman—biasa dipanggil Abe—yang cerita komiknya berlokasi di Stasiun Bekasi. Jika sebelumnya mereka biasa mengandalkan ingatan mata, kali ini mereka menggunakan bantuan fotografi untuk mengakuratkan detail visual lokasi. Sementara itu, Narpati Awangga—lebih dikenal sebagai Oomleo—membuat sebuah buku yang lebih kecil daripada buku saku. Buku mini itu berisi cerita bergambar. Di halaman kirinya terdapat teks dengan narasi yang absurd, tapi merupakan sebuah eksplorasi bahasa dari kecerdasan yang tak lazim, dan mungkin juga bisa disebut sebagai puisi eksperimental. Sedangkan di halaman kanan, terdapat gambar dengan teknik pixel. Gambar-gambar yang sedikit sekali berhubungan dengan racauan teks panjang itu akan beranimasi jika kita membuka halamannya dengan cepat.

* * *

Berbeda dengan rekan-rekannya, Reza tertarik membuat komik tentang penumpang bus di halte. “Mengapa bukan tentang penumpang busway saja?” usul Ardie kepada Reza. Mereka lalu sepakat bekerjasama. Sayang, belakangan Ardie mengundurkan diri dari lokakarya karena sibuk bekerja. Jadilah Reza yang melanjutkan ide itu sendirian.

Saat itu bus Transjakarta masih “hijau”, baru beberapa bulan beroperasi. Lengkap dengan pro-kontra publik karena Transjakarta merebut satu lajur jalan sepanjang koridor dan kehadirannya diragukan sebagai solusi kemacetan. Tetap saja, warga Jakarta jadi punya mainan baru. Hasil diskusi kemudian sepakat agar Reza tak hanya menjadikan penumpang Transjakarta sebagai tema komiknya, namun juga memamerkan karyanya di halte Transjakarta.

Praktis, saya dan Dimas Jayasrana, yang saat itu membantu lokakarya yang dipandu oleh Ade Darmawan tersebut, langsung berburu izin ke Transjakarta—yang ternyata menyambut baik proposal kami. Transjakarta waktu itu masih menjadi institusi swasta. Pengelolanya sangat antusias dengan bus mereka dan sempat membayangkan deretan halte busway mereka akan bersih dari iklan, sepenuhnya menjadi ruang publik bagi penumpang. Kami diizinkan memamerkan karya Reza di sana selama dua minggu dengan satu syarat: menyertakan teks imbauan bertuliskan “Dahulukan Penumpang Turun Baru Anda Naik” demi menghindari kecemburuan produsen besar yang sudah agresif menawarkan iklan-iklannya. “Jika buat pameran boleh, kata mereka nanti, mengapa buat iklan tidak?” tutur Ajar Aedi, Humas Transjakarta kala itu. Kami lalu menambahkan keterangan kecil bahwa kartun Reza adalah hasil lokakarya ruangrupa; agar membedakan Transjakarta selaku pemilik tempat dan ruangrupa sebagai penyelenggara acara. Panel-panel kartun itu bertahan lebih lama dari semestinya karena Transjakarta menyukainya. Setelah pameran usai, sebagai kenang-kenangan, kami menghadiahkan panel kartun-kartun Reza kepada mereka.

* * *

Karya kartun Reze memang tidak sampai merekam semua kekikukan warga Jakarta dalam menggunakan busway, seperti rendahnya budaya mengantri atau kebingungan menggunakan tiket kartu. Reza hanya membuat enam panel kartun. Awalnya, kami tak mengira kalau Transjakarta akan menerima proposal kami dengan antusias, sehingga kemungkinan untuk menampilkan karya lebih banyak tak sempat diantisipasi.

Namun bagi Reza, enam karya tidaklah sederhana. Reza, pemuda pendiam yang saat itu baru 21 tahun dan masih kuliah di Institut Kesenian Jakarta, sempat menawarkan sekitar 10 gambar. Hasil diskusi hanya memilih enam gambar dengan revisi di sana-sini.

Dalam kartunnya, Reza membahas kejadian sehari-hari dengan gambar-gambar berlatar efektif. Seandainya tak melihat kartun-kartun itu terpajang di halte busway, kita tetap bisa mengenali bahwa situasi dalam kartun itu terjadi di sana; dari detail pintu, posisi berdiri penumpang yang menyamping, juga pegangan tangan bus yang khas. Tokoh-tokoh kartunnya yang berhidung pelit, bermata gepeng, dengan garis antargigi yang jelas, ditambah gestur dan situasinya, cukup berhasil mengundang tawa seketika.

Namun dari enam kartun Reza, tak banyak sebenarnya yang spesifik membahas masalah di busway—hanya separuh. Sisanya adalah masalah yang bisa saja terjadi di bus lain. Contohnya adalah drastisnya perbedaan tinggi seorang bule dengan kita (Gambar 1), dan kartun bergambarkan seseorang yang iri dengan penumpang lain yang mendapat duduk
(Gambar 2). Soal tempat duduk, dibahas lagi oleh Reza pada gambar seseorang berbadan gemuk yang tidur ngiler, sehingga membuat nelangsa seorang nenek yang tak kebagian kursi, sekaligus membuat sebal penumpang lain (Gambar 3). Penumpang lain digambarkan secara dramatis oleh Reza, yaitu seorang pemuda; yang tampaknya hanya agar mewakili jenis kelamin pria, dan dua wanita yang duduk di antara si gemuk. Satu wanita sedang menggendong anaknya, satu lagi sedang memegang anaknya yang masih dalam kandungan. Keduanya menatap sengit kepada si gemuk yang tak sadarkan diri itu. Namun orang yang tak tahu tentu tak salah. Sehingga, terkadang banyak juga orang yang pura-pura tidur agar terlepas dari tanggungjawab sosial semacam itu.

Untuk kartun lain Reza yang spesifik membahas busway, bisa kita lihat pertama-pertama pada kartun tentang dinginnya pendingin udara di Bus Transjakarta
(Gambar 4). Bus Patas AC juga menggunakan pendingin udara, namun sekarang sudah tak begitu dingin, berbeda dengan Transjakarta yang terkadang berlebihan menyemburkan angin dingin. Dengan cerdas, demi menjadikan lokasi kejadian dalam kartun ini spesifik, Reza membuat karakternya membandingkan dingin Transjakarta dengan dingin kereta Argo Bromo.

Pada dua kartun lain, baru Reza membahas hal yang ”baru” dalam sejarah transportasi darat kita. Pertama, suara kaset yang memberitahukan nama halte berikutnya
(Gambar 5). Dengan konyolnya, tokoh kartun Reza mengira suara itu adalah suara supir, tapi supirnya pria, sementara suaranya wanita. Kedua, tentang pintu otomatis pada model halte bus yang lebih tinggi daripada aspal (Gambar 6). Kartun ini diambil dari kejadian nyata. Tentang seseorang yang ketinggalan bus, tapi malah terjebak di luar halte karena pintu otomatis telanjur menutup.

* * *

Pada 2007, tiga tahun setelah komik Reza, terbit buku saku Keliling Jakarta Naik Busway, Yuuuk! (Penerbit Nalar, 2007). Buku yang seharusnya dibuat pemerintah ini, tak hanya berisi panduan lengkap tentang Transjakarta namun juga moda transportasi darat lain. Juga, diselingi oleh kartun karya Muh. Mirsad—lebih dikenal sebagai Mice, yang bersama Benny Rachmadi alias Benny membuat kartun Lagak Jakarta.

Dari enam kartun Muh. Mirsad di sini—jumlah yang sama dengan kartun Reza—hanya tiga kartun yang membahas busway, sisanya mengartunkan kejadian di bus reguler. Mungkin karena ini buku panduan, kartun Muh. Mirsad jadi tak sekritis di Lagak Jakarta. Pada sebuah kartun dengan teks anjuran seperti Dahulukan: Manula, Orang Cacat dan Wanita melemahkan kartunnya, ia tampaknya tak mempermasalahkan tentang mengapa wanita terus dianggap selemah orang cacat dan manula? Kartun ini menjadi sekadar potret dan yang dibahas juga bukan sesuatu yang spesifik busway—seperti sebaiknya tidak membawa benda besar di dalam bus, memberikan duduk pada manula, atau tips agar kita percaya diri berdesakan di dalam bus dengan menggunakan pengharum mulut dan ketiak
(Gambar 7). Baru pada buku terbitan baru, Cara Murah Keliling Jakarta (Penerbit Nalar, 2008), di antara kartun tentang moda transportasi lain, Muh. Misrad menggambarkan sebuah kartun yang spesifik busway, tentang seorang supir busway berjas rapi yang jadi mirip direktur, dan seorang direktur berjas rapi yang jadi mirip supir busway (Gambar 8).

Jika kita membandingkan karya kedua kartunis itu, karya Reza menjadi lebih menarik dengan segala kepolosannya. Sekian tahun setelah 2004 itu, tentu semakin banyak hal-hal aneh yang terjadi di sana. Transjakarta sudah berubah. Koridor dan halte semakin banyak, tiket kartu berganti menjadi tiket kertas di beberapa halte baru, dan tentu saja, iklan yang pernah diidamkan tak pernah ada di sana, kini menjamur; dari televisi plasma, papan iklan, sampai sponsor internet gratis. Namun ada yang belum berubah sepenuhnya. Jumlah bus masih sedikit, sering terlambat, dan belum mengalahkan jumlah penumpang yang semakin berjubel. Kebiasaan antri juga masih buruk, dan tentu saja, Jakarta bertambah macet. Segala hal yang semestinya bisa memperkaya masalah jika saat ini ada seorang kartunis atau komikus yang mau menjadikan fenomena busway sebagai tema.

Kartun Reza tak hanya pernah membuat orang tersenyum melihat potret kecil dari diri mereka sendiri di halte itu. Namun juga sempat merekam permasalahan sosial—sekalipun tak banyak dan tak lengkap—dengan sederhana. Sesuatu yang sangat diperlukan bagi Jakarta yang tanpa kita sadari terus berubah dengan cepat.




Jakarta, 18 Desember 2008




ARDI YUNANTO lahir di Jakarta, 21 November 1980. Setelah lulus dari jurusan Arsitektur di Institut Teknologi Nasional Malang pada 2003, ia kembali ke Jakarta, kota di mana ia dibesarkan. Sejak 2004 bergabung dengan ruangrupa, dan sejak 2007 menjadi redaktur utama untuk www.karbonjournal.org. Selain menulis dengan sangat tidak produktif tentang kota dan seni rupa, ia juga bekerja sebagai peneliti untuk beberapa proyek seni-budaya, editor buku, dan desainer grafis, sambil terus mencuri waktu untuk menulis cerita pendek.

MUHAMMAD REZA, alias Azer, lahir di Jakarta, 25 Oktober 1983. Lulusan Desain Komunikasi Visual, Institut Kesenian Jakarta ini menyukai komik sejak kecil dan mulai memberanikan diri membuatnya pada umur delapan tahun. Semasa kuliah, ia aktif mengikuti organisasi kampus Sekte Komik, dan sering mengikuti berbagai pameran dan lokakarya. Rekor tercepatnya membuat komik adalah pada acara 24 Hour Comics Day, pada 2008: 24 halaman selama 24 jam. Sebuah prestasi baginya karena ia sebelumnya tak pernah benar-benar mematok tenggat waktu setiap mengerjakan komik. Saat ini, ia terjebak di majalah Highend Teen, milik perusahaan media MNC, yang memaksanya membuat komik dengan tema remaja setiap bulan. Ia masih mencari waktu luang untuk membuat komiknya sendiri.




1.
"How Are You!?", Muhammad Reza, 2004.

2. "Enak ye bisa dapet duduk...", Muhammad Reza, 2004.


3. "Grook...", Muhammad Reza, 2004.


4. "Dingin banget ye, Pak! Kaya naek Argo Bromo...", Muhammad Reza, 2004.

5. "Perasaan yang nyupir laki deh, kok suaranya perempuan!??", Muhammad Reza, 2004

6. "Bu tolongin Bu, saya kekunci di luar...", Muhammad Reza, 2004.



Muhammad Reza dan panel kartunnya di halte Transjakarta, 2004.




7. Kartun-kartun Muh. Mirshad pada buku Keliling Jakarta Naik Busway, Yuuuk! (Penerbit Nalar, 2007)


8. Kartun Muh. Mirsad pada buku Cara Murah Keliling Jakarta (Penerbit Nalar, 2008).




Komik Didoth
, 2004.



Komik M. Ariv Russanto & Rachman
, 2004.

Cerita bergambar Narpati Awangga
, 2004.

Gambar-gambar koleksi ruangrupa, 2004, kecuali gambar kartun Muh. Mirshad yang dipindai dari buku asli atas izin dari Penerbit Nalar.







Komentar

Hasilnya, Didoth menggunakan guntingan koran Lampu Merah sebagai bagian karyanya dengan sebuah karakter mirip dirinya yang selalu muncul dan mengomentari isi dari berita koran kuning itu.

Step Up Height is really an outstanding solution for me. It provide me new confidence & happy life which I never believe. Really thankful of this amazing product.

 Definisi komik—sebagai seni yang menyejajarkan gambar-gambar dalam jalinan waktu—agak dilonggarkan. Peserta diajak bebas berkreasi di luar kecenderungan mereka sebelumnya.

Such a very useful article. Very interesting to read this article.I would like to thank you for the efforts you had made for writing this awesome article.

Definisi komik—sebagai seni yang menyejajarkan gambar-gambar dalam jalinan waktu—agak dilonggarkan. Peserta diajak bebas berkreasi di luar kecenderungan mereka sebelumnya.

There are many resources on the internet if you’re looking to make your own and tastes vary widely

Keduanya menatap sengit kepada si gemuk yang tak sadarkan diri itu. Namun orang yang tak tahu tentu tak salah. Sehingga, terkadang banyak juga orang yang pura-pura tidur agar terlepas dari tanggungjawab sosial semacam itu.

Hello! Quick question that's completely off topic. Do you know how to make your site mobile friendly? My weblog looks weird when viewing from my iphone. I'm trying to find a template or plugin that might be able to resolve this issue. If you have any suggestions, please share. Many thanks!
I do not know if it's just me or if everybody else experiencing issues with your website. It appears as if some of the text on your posts are running off the screen. Can somebody else please provide feedback and let me know if this is happening to them too? This could be a issue with my browser because I've had this happen before. Thanks

Sedangkan di halaman kanan, terdapat gambar dengan teknik pixel. Gambar-gambar yang sedikit sekali berhubungan dengan racauan teks panjang itu akan beranimasi jika kita membuka halamannya dengan cepat.

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.