FOKUS 1 | Maret 2007

-A A +A
Versi ramah cetakPDF version
FOKUS 6 | Agustus 2009
Surat protes untuk Produser Eksekutif Divisi Produksi Komedi sebuah stasiun televisi ternama
M. Isfanani Haidar Ilyas
03 Agustus 2009


Yth. Bapak Bondet,


Sebagai pegawai bawahan Anda di Divisi Produksi sebuah stasiun televisi ternama, saya mengajukan nota protes. Itu juga kalau Anda ingat siapa saya, dan apa perlakuan yang saya terima.

Mari segarkan ingatan sejenak: waktu itu kita sedang rapat produksi, dan Anda memimpin rapat diselingi guyonan yang garing. Tapi sudah jadi adat perusahaan untuk mengharuskan bawahan tertawa jika atasannya bercanda. Maka saya heran ketika Anda mengusir Ponijan, justru gara-gara dia tertawa setelah Anda melucu. Sejujurnya kami juga tidak yakin. Coba, ketika mengucapkan ini, Anda bercanda tidak?

“Aku punya ide bagus nih, buat acara komedi kita selanjutnya. Nah… kira-kira apa, ya?”


Selama beberapa detik kami terdiam tegang, tidak yakin apakah Anda melucu atau serius. Tapi begitu Anda mengusir Ponijan yang tertawa keras-keras, sepertinya kami tahu jawabannya. Dan ketika Ponirah ikut Anda usir, justru karena dia mengingatkan Ponijan untuk tidak tertawa, kami semakin tidak habis pikir. Saya ingatkan dialog kala itu:

“Ponirah, kamu juga!” teriak Anda, “ngapain kamu ngomong sendiri?”
“S-saya tidak ngomong sendiri, Pak…” kata Ponirah terbata-bata, “saya ngomong sama Ponijan.”


Bukan tangkisan yang taktis memang, tapi alangkah benarnya. Tetap saja Anda usir Ponirah karena dia berkata benar, dan mungkin juga karena nyelekit. Dari situ saya mulai meragukan selera humor Anda, dan keraguan itu mencapai puncaknya saat SAYA ikut diusir semata karena tampang saya lebih cocok jadi pesuruh kantor.

Pak Bondet, saya rasa, sebagai produser, Anda pasti orang pinter lagi berpendidikan. Apalagi produser acara komedi. Pastilah tahu prinsip-prinsip komedi. Kenapa Anda sampai lupa menerapkannya baik di acara maupun di keseharian, itu di luar kuasa akal saya. Bolehlah saya ingatkan sedikit.


BAHAN MENTAH KOMEDI
Pak Bondet, komedi adalah cara manusia melepas ketegangan hidup, dan juga cara unik menyehatkan pola pikir. Fondasi komedi umumnya sama, yaitu menimbulkan tawa dari sesuatu yang tidak terduga. Ketidakterdugaan itu biasanya muncul dalam tingkatan berikut:

[1] Aneh secara fisik. Ini adalah bentuk termudah dari komedi. Tampilan fisik yang dianggap aneh, di luar kebiasaan, dan konyol memang berpotensi menimbulkan keterkejutan, lalu tawa. Tapi di zaman serbaaneh ini, apa lagi tampilan fisik yang masih bisa mengejutkan? Apakah pelawak bertubuh kerdil semacam Ucok Baba atau yang pertumbuhannya terhambat semacam Adul dan Ony masih bisa mengejutkan kita?

[2] Logika yang dibelokkan. Biasanya tampil dalam bentuk permainan kata, plesetan, atau tebak-tebakan yang biasa. Ini bentuk favorit Keliek Pelipur Lara, atau yang sering muncul di sketsa-sketsa Tawa Sutra tanpa peduli konteks cerita. Jenis ini menuntut sedikit penggunaan otak, setidaknya lebih daripada tipe pertama. Tapi secara umum, yang dibutuhkan hanyalah pengetahuan bahasa paling dasar.

[3] Disonansi kognitif. Maaf atas penggunaan istilah sok intelek ini. Mungkin Anda justru tidak mengerti. Tapi intinya adalah, dengan prinsip disonansi kognitif ini terjadi pengecohan pemirsa dengan logika yang sesungguhnya benar, tapi tidak terduga sebelumnya. Cara kerjanya sederhana. Giring pemirsa ke persepsi tertentu, untuk kemudian mematahkannya. Tidak menafikan, tapi membuat sadar bahwa ada konklusi lain yang sama logisnya, dan tidak terpikir sebelumnya. Keterkejutan dari sini biasanya menimbulkan tawa karena pencipta mampu menemukan poin-poin penghubung materi mentah yang di mata pemirsa terlihat lepas satu sama lain. Tapi prasyarat dari jenis ini lebih ketat: karena pemirsa dan kreator harus sama-sama tahu materi yang dikomedikan, maka perbendaharaan materi yang dikuasai masing-masing pihak jadi kunci keberhasilan komedinya. Apa gunanya melawak dengan materi berita terkini jika pemirsanya tidak pernah tahu dunia. Apa gunanya melawak dengan memelintir logika filsafat jika pemirsanya bahkan tidak tahu siapa itu Aristoteles?


Nah, tadi saya sempat menyebut potensi komedi sebagai penyehat pola pikir. Bagaimana bisa? Karena selain mengecoh, komedi memiliki ciri melanggar tabu dan nakal. Dari ciri ini, komedi berpotensi besar untuk jadi sarana penggugat realita, sehingga dari humor yang mengakar pada kondisi sosial, dia bisa jadi alat hebat untuk protes sosial. Di sana terkandung kebermainan, kelakar, dan olok-olok.

Tapi Pak Bondet, mengingat reaksi Anda, justru ketika humor dibalikkan ke hadapan Anda, saya jadi bertanya-tanya, apakah kita masih bermasalah dengan kritik diri, termasuk yang lewat humor? Apakah karena itu, masyarakat seakan berkonspirasi untuk menjaga status humor di level terendahnya, yakni sebagai pemancing tawa sesaat saja? Apakah karena itu pula, acara komedi di televisi dijaga tetap dangkal?

Maaf, ini agak berbau spekulasi budaya. Lebih baik saya membahas dari yang terlihat saja dulu.


FENOMENA KOMEDI TELEVISI 1: DANGKAL
Di acara televisi, bertahun-tahun kita disajikan—maaf—menyajikan bahan yang itu-itu saja. Kostum aneh, muka peot yang dilucukan, dan banci. Semua itu adalah contoh tafsir dangkal atas pemahaman “bahwa yang aneh itu lucu”. Selama beberapa dasawarsa, kita berhenti pada taraf aneh-secara-fisik saja, dan kalaupun berciri nakal dan melanggar tabu, selalu pada wilayah yang samasekali salah. Contohnya banci. Konon, tawa kita atas sosok banci didasarkan pada beberapa hal yang tidak terlalu membanggakan. Pertama, rasa superioritas kita atas “makhluk aneh” itu, di mana kita menertawakan tingkah laku laki-laki yang tidak sesuai ‘kodrat’-nya. Kedua, tampilan mereka aneh. Titik.[1] Jika hingga kini banci masih saja diandalkan sebagai pemancing tawa, saya kira itu berarti ada ‘sesuatu’ dalam ideologi tawa kita. Entahlah apa ‘sesuatu’ itu.

“Aneh itu lucu” memang resep dasar Srimulat, tapi seperti biasa, siapa sih di antara kita pelaku media yang mau menelusuri apa yang ada di balik sebuah resep? Aneh yang bagaimana seharusnya yang lucu? Demi mengejar keanehan, ujung-ujungnya semua malah dibuat-buat dan palsu, padahal keanehan barulah satu dari sekian bahan bakar pemancing tawa. Saya ingat sekali ketakjuban saya, Pak Bondet, ketika Anda nyaris meremukkan sebuah konsep komedi situasi bertemakan anak band dengan berusaha memasukkan tokoh berambut kribo dan berkostum aneh, semata karena keanehannya itu Anda anggap “pasti lucu”. Dengan segala hormat, ini komedi situasi, Pak Bondet. Keanehan yang Bapak usulkan hanya akan lucu pertama kali (kalaupun iya!), dan bagaimana menurut Anda cara mempertahankan kelucuan semacam itu ke episode-episode berikutnya? Memasukkan aktor Malaysia hanya karena cara bicara mereka Anda anggap lucu?

Tunggu dulu.

Maaf, Pak Bondet. Saya lupa. Anda memang pernah mengusulkan hal itu dengan antusias. Saya takjub Anda bisa terpikir menggunakan kata “Miller”[2] dan frase “kualitas akting” dalam satu kalimat.

Ada usul lain, mungkin? Memasukkan anak band berkostum sapi dan main biola?

Ngerinya, cara pandang kacamata kuda akan ‘keanehan’ ini merasuk hingga ke bibit-bibit muda komedi kita. Dalam ajang API 2005 lalu,
[3] kita bisa melihat jelas membanjirnya cara pandang tadi. Mereka kerap berusaha keras tampil aneh, sementara materi lawakan justru tidak nyambung dengan kostum. Apa logikanya membicarakan budaya pop sembari berkostum bebek? Untuk apa berkostum ala kerajaan, tapi tidak mengoptimalkannya dalam materi lawakan (yang isinya cuma tebak-tebakan dan celaan)? Bagaimana mungkin bibit-bibit baru itu jungkir balik berusaha aneh? Tak lain karena mereka korban ‘pencemaran lingkungan’.

Sejak lama penyakit komedi televisi Indonesia berputar-putar di sini. Kegagalan mengembangkan potensi komedi menciptakan lingkaran setan: pemirsa tidak bertambah wawasan, kreator juga sama saja, sehingga masing-masing tetap saja berkubang di komedi yang itu-itu juga. Akibatnya, masih sulit mengharap komedi disejajarkan sebagai salah satu di antara tiga kawasan kreativitas, di samping kesenian dan ilmu pengetahuan.

Yang tersisa di layar televisi adalah plesetan ataupun lawakan yang menyerempet wilayah-wilayah biru dan porno yang terus diulang-ulang di belasan stasiun televisi setiap malam. Kebekuan ini bukan saja mengakibatkan pendangkalan pengalaman berkomedi, tapi juga mengikis penggunaan otak. Maka dari itu, kami para pekerja media sesungguhnya telah rela berkorban banyak. Kami tidak hanya mengorbankan idealisme, tapi juga mengorbankan daya-pikir. Kalau ditanya “demi tujuan apa”, ya, kami hanya bisa menjawab… apa ya? Eh, lihat! Ada sapi main biola!


FENOMENA KOMEDI TELEVISI 2: JIPLAKAN
Pak Bondet, ingatkah Anda betapa kita di kalangan pelaku media selalu menghibur diri, membenarkan diri dengan pernyataan bahwa orisinalitas itu musykil? Saya sepakat Pak, meskipun sudah diusir dari ruang rapat dan mendapat SP-1.
[4] Di zaman membanjirnya informasi seperti ini, sulit mencari ide yang belum pernah dilakukan, apalagi yang benar-benar tidak pernah dipikirkan orang lain.

Terinspirasi oleh ide lama jelas sah, tapi sepatutnya ada pengolahan ide dulu di situ. Sebuah proses sintesa dalam mengaduk bahan-bahan lama menjadi baru, seperti yang dilakukan Jepang ketika pada 1970-an banyak meniru, mendadak pada 1980-an banyak mencipta. Inilah sebuah proses yang disebut Garin Nugroho sebagai “peniruan kreatif”. Misalnya, jikalau memang hendak membuat acara yang terinspirasi dari acara luar negeri, kira-kira bagaimana menyesuaikan bahan itu untuk pemirsa Indonesia? Gawatnya, ini sama saja dengan ‘berpikir’! Pasti Bapak sudah alergi mendengar kata itu ‘kan? Apalagi Anda benar, kita tidak pernah punya waktu berpikir. Hanya ada waktu bertindak. Maka meniru sajalah kita bulat-bulat.

Tapi peniruan itu sering berakhir tragis, karena sang peniru (alias kita!) tidak pernah berhasil menembus intisari acaranya. Tengoklah So What Gitu Lho? (SWGTL) yang meniru mentah-mentah serial Friends. Tapi adakah di situ pemahaman tentang konsep hidup para twenty-something ala New York itu? Bagaimanakah bisa dijelaskan ketika dalam SWGTL, rumah yang katanya diisi pemuda golongan menengah atas itu lantas diisi dengan guyonan tebak-tebakan dan plesetan? Maka sah jika saya sebut ‘mentah-mentah’ tadi, karena memang tidak meniru ‘matang-matang’. Tengok juga Mister Bego, judul yang saya kira lebih merujuk pada pembuatnya. Acara itu adalah puncak dari epigon menyedihkan atas Mr. Bean, tanpa mau menelusuri akar karakter Bean yang didasarkan pada fondasi-fondasi psikologis yang canggih. Setidaknya saya masih salut kepada pembuat SWGTL, Pak Bondet. Jika istilah Mister Bego dengan mudah dipelintir untuk merujuk kepada pembuatnya sendiri, SWGTL menyiapkan jawaban pamungkas kalau-kalau ada yang memprotes. “Lalu? So what ‘gitu, lho?” begitu mungkin jawab mereka.

Lalu perhatikan juga: begitu satu stasiun televisi membuat acara yang terhitung baru (meskipun mungkin terinsipirasi dari acara luar juga), stasiun lain akan dengan cekatan menirunya. Semakin ke sini, proses peniruan semakin cepat. Di akhir 1990-an, Cek & Ricek bisa dibilang sebagai infotainment pertama. Perlahan-lahan, stasiun televisi lain mengikuti. Muncullah Kroscek, KiSS, Insert!, dan lain-lain. Dalam kasus ini, kecepatan peniruan masih terjadi dalam hitungan semester.

Extravaganza memperkenalkan konsep sketsa komedi, yang sebetulnya juga mengambil gagasan Saturday Night Live. Dengan cepat ia ditiru oleh acara-acara lain, termasuk Tawa Sutra, dan bahkan ironisnya juga dari dalam stasiun pembuatnya sendiri. Tiba-tiba saja dari dalam stasiun sendiri ada Happy Hour, Full Colours, Sketsa, PlesTer dan lain-lain. Konon ini praktik biasa. Sebuah ide dipecah-pecah, didiversifikasi, dan dijadikan beberapa acara, meskipun konsepnya mirip satu sama lain. Untuk apa? Untuk meraup sebanyak-banyaknya kue iklan. Yang ini pasti Anda akui, Pak Bondet.

Perihal peniruan, pernahkah Pak Bondet bertanya, apakah ini semata karena yang penting bisa menjual produk yang mirip dengan produk kompetitor? Tapi jangan-jangan, bagaimana jika alasan peniruan itu sangat sederhana: jika tidak bisa jadi yang orisinal, cegah supaya jangan ada yang lain yang orisinal!

Karena peniruan itu kini semakin cepat saja. DeringS, Dahsyat, KissVaganza, Inbox, dan OnTheSpot tiba-tiba sudah berjajar dengan isi yang tidak jauh berbeda. Mana yang duluan? Pasti, ya, salah satunya, tapi jangan-jangan itu tak penting lagi. Kita telah sampai pada tahap bahwa bukan saja orisinalitas itu musykil, tapi malah sudah sampai melarang adanya orisinalitas.

Saya berlebihan, tentu saja.


MENGAPA, OH, MENGAPA…
Pak Bondet, dari semua itu, di kepala saya kini ada pertanyaan besar dengan tanda tanya besar, kalau perlu diikuti tanda seru: mengapa budaya komedi di televisi sebegitu dangkal? Izinkan saya mengajukan beberapa dugaan.

1. Kesulitan Menertawakan Diri
Hipotesa yang ini, maaf-maaf saja, berbau spekulasi budaya. Berhubung saya bukan antropolog budaya, prasangka saya akan ringkas saja. Masyarakat kita sesungguhnya tidak humoris. Titik. Apa maksudnya ini? Sederhana: entah norma sosial mana yang jadi biang kerok, yang jelas kita bukanlah masyarakat yang mampu berkaca diri dan melakukan otokritik. Mengutip kata-kata Darminto M. Sudarmo, terlalu banyak pagar untuk membatasi komedi di masyarakat kita. Lalu lanjutnya:

“Sebagian besar masyarakat kita belum siap untuk menertawakan kekurangan dan ketololan kita sendiri. Maunya: citra kita harus sempurna. Masing-masing korps, masing-masing komunitas, masing-masing kelompok dan lain-lain penginnya (sic!) beridentitas sempurna. Begitu korps terusik ‘humor’, langsung bereaksi.”[5]


Maka ruang gerak humor di sini menuntut kreativitas tingkat tinggi, untuk tidak memancing kemarahan kaum ultra-sensitif. Kalau begitu seharusnya kualitas komedi kita bisa sangat bagus, dong? Sayang sekali, ketiadaan sistem regenerasi membuat bibit-bibit baru hanya mampu meniru permukaannya saja. Dan peniruan tanpa pemahaman esensi hanya berarti mundurnya kualitas. Belum lagi di iklim industri televisi, kecepatan jadi norma utama, sehingga, ya, seperti tadi: kita tidak pernah punya waktu berpikir.

Yang tersisa kini hanyalah humor celaan. Dari mana datangnya humor celaan, sejujurnya saya malas untuk mencari tahu. Tapi saya menduga bahwa humor celaan datang persis dari ketidaksanggupan menertawakan diri tadi, sehingga mencela yang lain dirasa lebih aman dan nyaman.

Pak Bondet, ingatkah Anda ketika almarhum Basuki terdiam gara-gara ditanyai oleh seorang tokoh agama dalam perjalanan pulang haji, “Melawak itu kan identik dengan mencela orang lain?”
[6]

Jika Anda yang ditanyai, akan Anda jawab apa, Pak Bondet?

Tahun-tahun terakhir ini, seseorang bernama Tukul Arwana mencoba memasukkan perspektif yang lebih dewasa dalam berhumor (mungkin juga berguru pada Srimulat), yaitu konsep menertawakan-diri-sendiri tadi. Tapi celaka tigabelas. Lingkungan dunia entertainment justru menelannya. Kombinasi kupernya dunia entertainment dan humor yang kadung bersandar pada celaan dan keanehan berakibat gagalnya khalayak merasa terajak ikut menertawakan diri mereka. Alih-alih, kita jadi malah lebih nyaman menertawakan Tukul. Toh, dia tetap bebesar hati. Diikutinya arus, dan dengan rela terus-menerus jadi obyek hinaan, tanpa kesempatan (atau kemauan?) mengembangkan lawakan.

Dalam kasusnya, sebuah potensi terobosan dalam dunia komedi malah jauh lebih singkat. Jika dulu Warkop, Srimulat, d'Bodors, dan lain-lain butuh waktu belasan tahun untuk meranggas dan mendangkal, Tukul dengan cepat meranggas dalam satu musim acaranya.

Apa artinya ini semua, Pak Bondet? Apa ini berarti ada percepatan dalam peniruan? Menjiplak semakin cepat. Menurunnya mutu acara pun semakin cepat. Inikah tanda zaman semakin maju?

2. Keterasingan para kreator
Bapak mungkin bertanya-tanya, keterasingan macam apa? Izinkan saya menarik mundur sedikit sebelum sampai ke tema ‘keterasingan’. Bapak dan rekan-rekan pelaku media selalu berlindung di balik alasan bahwa semua ini adalah “keinginan pemirsa”.

Benarkah?

Selama ini lalulintas ragam acara ditentukan oleh rating. Dalam setiap rapat produksi, rating selalu jadi acuan utama, dan strategi disusun semata dari data-data itu. Tidak seorang pun pernah mempertanyakan, apakah rating yang diberhalakan dan iman pada AC Nielsen itu memiliki data pembanding. Bagaimanapun, mereka itu hanyalah data tunggal. Tapi tetap saja, kreator dan pemasang iklan sama-sama bergantung pada data tunggal itu untuk mengeruk keuntungan. Padahal, tidak pernah jelas apakah penjualan produk akan lebih berhasil jika iklannya dipasang di acara dengan rating tinggi. Yang lebih untung hanya pihak televisi saja, sehingga iman mereka kepada rating lebih terbalas. Yang paling tidak jelas nasibnya? Pemirsa.

Pak Bondet, saya ingin sedikit berlogika jumpalitan. Tidakkah Anda pernah bertanya, bahwa ada logika yang bertentangan antara ‘keinginan pemirsa’ dan ‘tim kreatif’, karena kalau sungguh-sungguh kreatif, untuk apa memenuhi keinginan? Kalau semata demi memenuhi keinginan, untuk apa kreatif? Apalagi toh ideologinya peniruan non-kreatif. Di mana kreatifnya?

Nah, di sinilah saya rasa, peran sesungguhnya tim kreatif. Yang bisa mereka lakukan adalah hidup di tengah masyarakat, sembari menjadi pengamat yang teliti, kemudian memahami pikiran di balik sebuah fenomena, dan memahami esensi fenomena itu sendiri untuk kemudian diolah dan disajikan sebagai acara yang berkualitas. Serial Friends berangkat dari pengamatan terhadap kaum yuppies kelas menengah muda di New York, dengan segala karakteristiknya: berpindah, longgar terhadap norma, terikat lebih pada teman-temannya daripada keluarga atau rekan kerja.

Mr. Bean muncul dari pengamatan mendalam di balik karakter orang Inggris yang serba normatif, serba jaim.
[7] Dari situ muncullah karakter seorang dewasa yang hidup sendirian dan, berlawanan dengan semua norma tadi, dia mengikuti naluri kanak-kanaknya dengan segala konsekuensinya. Saturday Night Live berkomentar banyak sekali tentang kehidupan orang Amerika dalam berbagai bentuk sketsa, mulai dari yang nyinyir sampai yang sarkas.

Bagaimana dengan epigon-epigonnya yang muncul di sini? Saya tidak bisa berkata banyak. Jangan-jangan justru merekalah yang bisa jadi target enak buat komentar nyinyir.

Karena celakanya, di sinilah kunci permasalahan. Tim kreatif dan pemegang keputusan ternyata bukanlah jenis manusia yang bisa memahami fenomena masyarakatnya. Seperti yang pernah diurai dengan jitu oleh Arief Ash Shiddiq dalam esai Mencari Jakarta dalam Senggol Jakarta, masalah kreator kita adalah kekurangan waktu dan nyali untuk menyelami kehidupan yang ramai. Maka beralihlah mereka (kita!) ke stereotip yang aman. Tidak heran jika penggambaran preman, misalnya, hanya dangkal semata, tanpa ada pendalaman tentang bagaimana struktur kekerasan dalam masyarakat dijaga. Saya teringat masa itu, Pak Bondet, ketika “bapak-sitkom-Indonesia” Aris Nugraha mampu menyisipkan sedikit akal sehat dalam konsep komedi yang sedang digarap. Saat itu, kita beruntung ada dirinya yang memiliki pengamatan yang lebih tentang bagaimana preman bekerja. Dan ternyata dari situ, kita mampu menggali potensi komedi lebih banyak. Sungguh pengetahuan yang berharga, meskipun kita tahu, pada akhirnya hasil pengetahuannya tadi menumpul lagi dalam penerapan, karena para pemegang keputusan mengganggap komedinya jadi terlalu sulit buat pemirsa kita yang bodoh.

Pak Bondet, dari pengalaman itu saya masih menyimpan harapan. Tidak selamanya komedi kita terasing. Tentu saja sejarah mencatat banyak terobosan dan tokoh luar biasa. Dari dunia film, kita temui sosok Nya’ Abbas Akup misalnya. Komedi dia gunakan untuk melakukan kritik sosial dengan halus, tanpa menyinggung urat marah penguasa. Kerap dia menunjukkan fenomena kota dengan jeli. Misalnya, megaproyek rumah susun dia tanggapi dengan film Cintaku di Rumah Susun (Nya’ Abbas Akup, 1987), yang menampilkan ensembel karakter dari berbagai suku dan latarbelakang. Kini, ensembel semacam itu masih saja sering ditampilkan, tapi sesuai penyakit lama, tidak ada pendalamannya. Cukup masukkan saja karakter Batak, Padang, Jawa medok dan lain-lain, lengkap dengan segala stereotipnya, dianggap sudah memancing kelucuan.

Contoh lain datang dari Srimulat, yang dengan segala norma Jawanya, malah diam-diam menggugat hirarki sosial yang rigid dengan menampilkan sosok pembantu yang cerdasnya melebihi majikannya. Dan dari mereka ada kasus menarik. Ingatkah Anda, Pak Bondet, bahwa Anda selalu berkata bahwa pemirsa kita tidak cukup cerdas untuk mencerna komedi yang kaya referensi? Jika Srimulat zaman dulu membuat lakon dengan judul-judul semacam Ambassador of Cleopatra, Janda of Navarone, dan sejumlah lakon lain dengan kata “Dracula” di dalamnya, maka siapa yang sesungguhnya kurang referensi?

Lalu ada Warkop, yang dengan latarbelakang kemahasiswaannya sering tampil kritis dan cerdas, sebelum terjerumus ke guyonan porno. Tapi Warkop dalam kritiknya pun tetap lucu. Ini berbeda dengan Bagito, misalnya, atau yang belakangan ini, acara yang berbau-bau politik, kadang justru terbebani pesan sosial politik dan mengorbankan prasyarat utamanya: lucu!


TERASING, APANYA?
Ini permasalahan yang khas perkotaan, Pak Bondet. Kita para kreator dan pemegang keputusan hidup dalam tabung-tabung yang steril, aman, dan terlindung dari dunia luar. Tapi justru dalam tabung itu kita menjadi terasing dari fenomena masyarakat. Sudah jamak saya saksikan anggota tim kreatif sebuah acara kehabisan waktu mengurusi aspek teknis produksi acara, sementara pengalaman kehidupan yang bisa jadi inspirasi tersedot habis. Defisit ide.

Akar masalah yang menjalar di dalam alam-jiwa para pencipta di dunia televisi bisa kita lacak hingga ke awal zaman Orde Baru. Potensi kritik sosial komedi ditumpulkan karena hanya tersedia satu kanal televisi (TVRI) yang garis kebijakannya jelas di bawah kendali pemerintah.

Tumbuhnya stasiun televisi swasta baru ternyata tidak menjamin kebebasan dari garis resmi tadi. Stasiun-stasiun swasta lahir dari kelas menengah atas yang kadung steril dari masyarakatnya sendiri. Akibatnya, semua tayangan merepresentasikan sudut pandang penduduk kota kelas tertentu, dan memandang desa, kelas bawah (dan bahkan sekitarnya!) sebagai yang liyan.

Fenomena ini akan lebih jelas jika saya sertakan contoh dari dunia film. Bagaimana kita menjelaskan kenyataan bahwa film kiwari semacam Otomatis Romantis (Guntur Soeharjanto, 2008) dan Mengejar Mas-Mas (Rudy Soedjarwo, 2007) memandang kota Yogyakarta sebagai liyan yang eksotis, dan bahkan menganggapnya kampungan? Lalu warganya digambarkan menyebut dirinya berasal dari “kampung saya di Jogja”? Padahal sejak zaman kemerdekaan, karya-karya kreatif audio-visual lebih banyak yang bisa ‘berbicara’ dan tampak lebih mengenali masyarakat dengan intim. Hal itu dimungkinkan justru karena para kreator jadul itu berasal dari tengah-tengah masyarakat dan memiliki kepekaan terhadap sekitarnya.

Atmosfer kreatif dalam keterbatasan itu tidak berlangsung lama. Semenjak ledakan ekonomi 1980-an yang menyedot sumberdaya dan pertumbuhan ekonomi di Jakarta, terbentuklah kelas menengah mapan dan apolitis yang bibit-bibitnya sudah tersemai sejak 1970-an. Pada saat yang sama, dunia perfilman justru mengalami kemunduran parah. Di era 1990-an, menjamurnya televisi swasta menuntut banyaknya tenaga audio-visual yang semakin banyak. Dari mana tenaga ini bisa dipenuhi? Kelas menengah yang telah terbentuk mapan kala itulah yang menyediakannya, sementara terjadi putus generasi dengan pelaku audio-visual generasi sebelumnya.

Adanya kelas menengah baru yang jadi penentu tadi sebetulnya bukan menjadi masalah seandainya saja tidak terjadi putus-generasi. Parahnya, selain putus-generasi, kelas baru ini juga mengalami putus hubungan dengan masyarakatnya. Bagaimana itu bisa terjadi? Seperti yang dicermati Abidin Kusno,[8] metode kerja Orde Baru, terutama dalam ruang kota, adalah menciptakan keterpisahan dalam masyarakat. Kelas-kelas diciptakan dalam enklav-enklav terpisah yang patuh, giat bekerja demi menapaki tangga sosialnya masing-masing. Ini konon dilakukan demi mencegah terciptanya konsolidasi subversi masyarakat yang manunggal. Akibat lanjut dari cara kerja semacam ini, kelas menengah yang baru tumbuh adalah kelas yang sejak kelahirannya dididik untuk takut pada kehidupan di luar sarangnya. Kota dikesankan sebagai area berbahaya yang sebaiknya dijauhi. Repotnya, kita para pekerja media dan penggerak dunia komedi televisi berasal dari kelas itu.

Generasi Riri Riza inilah yang berasal dari kelas menengah tadi. Memang, dari para praktisi audio-visual generasi ini sebagian memiliki kehendak untuk belajar dan memahami masyarakat, tapi itu terjadi lebih banyak di dunia film (tidak termasuk contoh semacam Otomatis Romantis, tentu saja). Sementara itu, dunia televisi terus berkubang dalam keterasingannya, dan menuju ke jurusan yang entah.

Pelawak dan komedian masa lalu memang bisa jadi berasal dari luar kelas yang mencari aman itu. Srimulat berasal dari rakyat bawah, dan Warkop meskipun kelas menengah, tapi lahir dari dunia mahasiswa yang kritis. Tapi sejak zaman Orde Baru pun, mereka memiliki ketergantungan yang tinggi kepada media televisi, baik negeri maupun swasta, yang telah kita saksikan tidak sering bisa diandalkan.


MENCOBA MENYIMPULKAN, SAMBIL TERSENYUM SIMPUL
Pada akhirnya, akar permasalahan tidak jauh berbeda dari yang dicermati Arief Ash Shiddiq dalam esainya tadi, yaitu bahwa pencipta kekurangan waktu dan nyali untuk menyelami kehidupan sosial. Jikapun terdapat oknum-oknum pelaku media televisi yang memiliki kepekaan untuk mencipta komedi yang berkualitas, di dalam ruang rapat mendadak mereka terbenam dalam sebuah entitas baru bernama ‘manajemen’, yang keputusan-keputusannya menandakan keterasingan dan ketidakpedulian yang parah.

Gejala keterasingan itu kian nyata kini, Pak Bondet. Semakin ke sini, semakin sedikit pelawak dan komedian yang memiliki pengamatan tajam atas masyarakatnya. Sebelum ledakan komedi tiga tahun belakangan ini, masih ada acara-acara berbasiskan pelawak dan komedian, meskipun dengan segala keterbatasannya. Ba-Sho, Ngelaba, Tawa Malam, dan Santai Bareng Yuk (SBY) misalnya, masih menampilkan pelawak. Belakangan, setiap orang seperti merasa bisa melucu dan menyematkan titel “komedian” meskipun yang bisa dilakukannya hanya mencela rekan main.

Secara ajaib guyonan televisi kiwari muncul dari kelas tertutup yang disebut “selebriti”. Karena komedi dianggap menjamin popularitas, mendadak semua selebriti merasa bisa melucu dengan tingkah yang naudzubillah. Perhatikan Happy Family: Me vs. Mom, misalnya. Di sana para selebriti menselebrasi dirinya dikerjai kru televisi, jungkir-balik, dan lalu balik mengerjai, sambil tertawa-tawa. Seolah belum cukup, kru televisi pun ikut tampil bersorak-sorai. Ini ibarat kita sedang berkumpul dan bercanda asyik sendiri dengan teman-teman, lalu menyajikannya kepada khalayak.

Srimulat, Warkop, Bagito, d’Bodors, dan bahkan Patrio telah menjadi masa lalu.

Keterasingan dan ketertutupan itu sempurna sudah. Kalau kata teman saya, komedi televisi adalah genre tersendiri, alias TERtawa SENDIRI. Bukan saja komedi televisi telah menjadi dunia yang murni narsistik, malahan pemirsa luar pun turut dibuai dan dijerat ke dalam lingkaran itu dengan kontes-kontes menjadi bintang atau disuruh mengetik REG spasi BLABLABLA, kirim ke nomor 666. Dan lebih buruknya lagi, bujukan dan buaian itu sifatnya lebih seperti jerat, karena mereka yang gagal menembus dunia semu ini biasanya malah kehilangan banyak yang nyata.

Kedua, melihat fenomena percepatan peniruan yang semakin cepat, iklim komersial dan lajunya yang terlalu cepat, membuat komedi bukan lagi refleksi sosial atau apalah, tapi barang dagangan semata. Apapun genre komedi, apapun terobosan dari grup-grup lawak macam Warkop (radio-kritis), Srimulat (spontan-merakyat), di lingkungan televisi akan cepat terdegradasi ke level terluar tadi, yaitu “aneh”.

Tentu saja pemirsa akan menontonnya, karena, apakah ada yang lain? Oh, lihat! Sapi itu sekarang main suling!


SALAM PENUTUP
Pak Bondet, saya tahu Anda sebetulnya menghukum saya menulis kalimat “Saya tidak akan melucu lagi di ruang rapat” sebanyak 1.000 kali. Tapi saya pikir, lebih baik saya menulis surat ini. Izinkan saya menutup tulisan ini dengan sedikit komentar nyinyir saya sendiri, menggunakan cara ungkap orang lain. Kalau kata orang Jawa, nabok nyilih tangan.
[9]

Karl Marx bilang, “agama itu candu.”
Sekarang saya bilang: komedi itu candu.

Drs. H. Wahyu Sardono (Dono) berpesan, ”tertawalah sebelum tertawa itu dilarang.”
Sekarang saya bilang: tertawalah sebelum tidak ada lagi kegiatan lain.

Djamaluddin Malik bilang “kalau inginnya India, kita beri India sampai capek.”
Sekarang saya bilang: inginnya komedi, kita beri komedi sampai mabok.

Neil Postman bilang, “menghibur diri sampai mati.”
Sekarang saya bilang: silakan, Pak Bondet.



Jakarta, Juni 2009



Ttd,

M. Isfanani Haidar Ilyas





M. ISFANANI HAIDAR ILYAS adalah pelaku media, yang sering menyebut dirinya pelacur media. Sehari-hari dia mengenakan kostum badut di hadapan produser eksekutifnya, karena sang atasan yakin itulah yang diinginkan pemirsa. Di malam hari dia mengenakan kostum badutnya di depan cermin seraya bertanya-tanya siapa dirinya, dan kenapa rias badut itu tidak pernah bisa dihapus dari mukanya.







Catatan kaki
[1] Di era ketika ludruk Jawa Timuran meraja di sekitar gejolak revolusi kemerdekaan, memang ada alasan lain yang bertendensi mulia, meskipun tetap saja chauvinistic. Yaitu bahwa pelaku ludruk tidak tega menyuruh perempuan memerankan sosok yang harus jungkir-balik, sehingga terpaksa laki-lakilah yang melakukannya. Toh, yang lebih chauvinistic lagi, ternyata di balik alasan ‘mulia’ tadi tetap saja ada fakta bahwa perempuan dianggap tidak pantas bermain di atas panggung.
[2] Model Malaysia yang bermain dalam film Cintapuccino (Rudy Soedjarwo, 2007) dengan kualitas akting yang tidak tega saya bicarakan di sini.
[3] Akademi Pelawak Televisi Pendidikan Indonesia (API).
[4] Surat Peringatan Pertama. Maaf, maklum idiom kantoran.
[5] Darminto M. Sudarmo, Mutu Humor Televisi, www.kolomhumor.com/2009/01/mutu-humor-televisi.html
[6] Bambang Haryanto, “Kejujuran Mengolok Diri Sendiri”, Kompas, 27 Januari 2007
[7] Jaim: Jaga Image.
[8] Abidin Kusno, Ruang Publik, Identitas dan Memori Kolektif: Jakarta Pasca-Suharto (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2009)
[9] Nabok nyilih tangan” berarti “menampar dengan meminjam tangan (orang lain)”.


Komentar

Read our Unbiased Husqvarna 130BT Backpack Blower review and find out about other consumers feedback and ratings for this Husqvarna backpack blower.

Wow that was strange. I just wrote an very long comment but after I clicked submit my comment didn't appear. Grrrr... well I'm not writing all that over again. Regardless, just wanted to say superb blog!

Read our Unbiased Karcher K 2.350 Power Washer review and find out about other consumers feedback and ratings for this Karcher Power Washer. 

 

How pretty and good post. I just stumbled upon your blog and wanted to say that I have really enjoyed reading your blog posts. Any way I'll be subscribing to your feed and I hope you post again soon. I am very happy to be read your share. Have a good time !

If you continuously share this kind of information daily you will blow my mind.

 

Many people dont know how to share the information look attractive and I appreciate for that.

 

Well written and useful stuff you share with us. I want more this kind of information from you.

 

Many people dont know how to share the information look attractive and I appreciate for that.

 

I like your post very much and appreciate your work in this. Thank you for sharing with us.

 

Glad I read this information its really helpful for me and I will save it too. Thanks for sharing with everyone.

 

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.