FOKUS 1 | Maret 2007

-A A +A
Versi ramah cetakPDF version
FOKUS 2 | Mei 2007
Terlalu lama menunggu: halte bus di Jakarta
Ardi Yunanto
14 Mei 2007


KITA TAHU tahu untuk apa dan siapa jalanan di kota Jakarta dibangun. Demi menyambut tamu Asian Games IV 1962, jalan Thamrin-Sudirman dibangun dengan skala kendaraan. Sementara lebar jalan Gatot Subroto dengan jalan tolnya sudah jelas untuk apa. Begitu pula dengan lebih daripada 80% ruang jalan yang hanya digunakan untuk kendaraan pribadi. Kita akhirnya tidak punya tradisi berjalan kaki, semenjak Jakarta, sebagai kota seutuhnya, dibangun untuk kendaraan.

Namun tak semua orang beruntung memiliki kendaraan pribadi. Tak semua orang yang berkendaraan pribadi juga mampu seleluasa ambulans bersirene atau iringan pejabat.[1] Jika ambulans punya orang sekarat, pejabat punya sepasukan polisi yang mampu membelah jalanan seperti Nabi Musa membelah laut. Tak heran jika banyak orang ingin menganggap kendaraan umum sebagai milik pribadi. Sudah sejak lama, supir dan penumpang begitu kompak memaksa bus berhenti di mana dan kapan saja. Ketika halte bus bisa seluas jalanan, keberadaannya nyaris sia-sia.

Halte bus sebenarnya bisa menjadi ruang kota yang hanya perlu dialami paling sebentar. Namun tentu saja, hal itu mustahil di Jakarta. Semenjak bus kita luar biasa jam karet dan macet nyaris seteguh matahari yang terbenam di barat, mungkin memang belum saatnya kita peduli dengan halte. Apalagi mengingat bentuk halte di seluruh dunia memang tak punya standar, sangat tergantung pada kebutuhan spesifik lokalnya, desain halte jadi bebas diterjemahkan, seandainya bukan dilupakan.

Jakarta pernah dan masih memiliki halte model lama. Sebuah kotak raksasa tua beratap kokoh dengan tempat duduk luas. Sekilas tampak mubazir—apalagi banyak halte yang tak berfungsi karena mungkin dahulu pemerintah mengira jumlah penumpang akan sama banyak di semua tempat—namun di beberapa halte tua yang cukup digemari orang, keramaian di sana sebenarnya sangat menarik untuk dilihat kembali.

Satu-satunya kebutuhan mendasar bagi orang yang menunggu di halte bus Jakarta, adalah duduk. Beruntunglah kita, karena halte tua itu dikaruniai tempat duduk berlimpah-ruah, entah yang berbahan keramik kamar mandi atau pipa besi, namun semuanya sangat pas untuk menunggu bus yang suka mengira dirinya bus luar kota. Selain itu, halte tua itu juga membentuk komunitasnya sendiri.
[2] Banyak pedagang kakilima dari yang berperangkat dagang paling sederhana sampai yang paling serius berupa warung rokok permanen. Ada juga penjual koran, pengamen bus kota, tukang ojek, dan satu profesi menarik lainnya: timer, seseorang yang mengukur jarak-waktu antarbus.

Rupanya, jalanan macet tak hanya memusingkan penumpang bus, namun juga supir bus yang perlu tahu keberadaan bus saingannya—terlalu jauh atau terlalu dekat sangat memengaruhi setoran mereka. Karena itu, kehadiran seorang timer, yang menarik royalti dari supir bus atas jasa informasinya, menjadi sangat berarti. Mereka tidak saja seperti papan elektronik informasi waktu tunggu bus (yang bisa kita temukan di beberapa halte di Berlin) dalam versi manusia, namun mereka juga narasumber terpercaya bagi orang-orang yang buta jalur bus.

Ada beberapa orang yang menganggap komunitas halte itu menganggu. Bahwa halte semestinya hanya untuk penumpang bus. Namun ini Jakarta. Tak ada yang mustahil bagi masyarakatnya untuk merebut kembali hak tinggal atas kotanya. Seperti pagar-pagar Gubernur Sutiyoso yang tidak bisa mencegah taman kota menjadi rumah tunawisma, untuk membersihkan halte dari komunitas itu, berarti perlu terlebih dahulu meningkatkan kualitas hidup mereka, yang sayangnya menjadi tanggung jawab pemerintah, bukan Tramtib yang temperamental.

Komunitas halte itu sendiri sebenarnya cukup memeriahkan suasana. Mereka menyediakan makanan, minuman, rokok, bacaan dari Kompas sampai Lampu Merah, yang dibeli juga oleh Tramtib ketika tidak bertugas. Kehadiran mereka setidaknya mampu menjadi ukuran kenyamanan dan keamanan. Selama-lamanya orang menunggu bus di halte, masih lebih lama mereka yang tinggal di sana seperti pemilik warung rokok permanen. Keduanya sama-sama tidak ingin berlama-lama tinggal di halte. Pengguna bus juga bisa merasa aman, karena kita tentu lebih memilih halte yang ramai daripada sendirian di halte yang sepi.

Lalu entah mengapa, mungkin hanya karena bosan atau karena halte merupakan salah satu proyek basah, halte tua itu diganti dengan halte model atap Betawi. Proporsinya lebih irit dan tempat duduknya hanyalah ‘lebihan’ dari kaki tiang silinder, yang membuat sebagian orang akan duduk menghadap arah yang bukan jalan. Efesiensi halte ini lalu dikembangkan secara eksklusif dengan halte model baru, yang paling banyak bisa kita temukan di sepanjang jalan Thamrin-Sudirman.

Halte terbaru ini memiliki desain sangat kontemporer—para arsitek yang demam filsafat pada 90-an mungkin akan menyebutnya desain pascamodern—dan minimalis dalam arti sebenarnya. Halte itu berupa aluminium ringan yang murah namun elegan, dengan atap lengkung cantik yang lupa kalau hujan tidak selalu jatuh tegak-lurus, dan sebilah tempat duduk mungil. Tempat duduk ini sangat unik karena hanya memuat empat orang yang saling kenal (atau yang begitu capek dan sudah tak peduli siapapun orang di sampingnya), atau untuk dua orang asing di kedua sudutnya. Kita juga tidak bisa santai duduk di sini, karena lengkungan di sudut kursi sangat licin dan berpotensi membuat kita merosot seperti adegan Srimulat. Mereka yang bisa duduk adalah orang-orang beruntung layaknya kelas VIP dalam sebuah pertunjukan, sementara sisanya hanya mampu berdiri di kelas Festival, namun lebih sigap menyambut parade bus yang dinanti.
[3]

Jika memoles halte adalah bagian dari mempercantik kota, telah terlupakan manusia yang perlu dilayani lebih. Jika bus memang belum mampu tepat waktu, belum saatnya jatah tempat duduk halte dikurangi, semenjak tak semua orang bisa berdiri seperti tentara. Bus yang berhenti di mana saja, jika masih mau ditertibkan, seharusnya punya cara atur yang lebih baik daripada menyebarkan ketakutan. Tidak heran jika halte bus paling tertib, mungkin adalah halte di depan Komdak jalan Gatot Subroto. Lengkap dengan suara memerintah polisi wanita yang mengatur lama singgah bus.

Di halte baru itu, saya pernah melihat seorang ibu sampai harus menyewa ojek payung ketika hujan sekalipun ia berdiri di dalam halte. Atap halte tidak berguna kecuali untuk memasang iklan besar di atasnya yang memiliki tiang konstruksi berbeda. Semuanya lebih penting daripada adanya papan nama halte, begitu pula dengan papan informasi bus. Terkadang ada halte berpapan nama, ada yang hanya papan informasi bus, ada halte atap Betawi dengan tempat duduk model halte baru. Semuanya tak jelas. Untuk halte baru itu, bentuknya yang “singkat-padat-dan-tidak-berisi” itu, selain terkadang tak terlihat jika tak punya orang di dalamnya, juga akan membuat seorang pedagang kakilima dengan perangkat paling sederhana sekalipun akan langsung terlihat untuk segera dibasmi oleh Tramtib.

Jika banyak pengguna halte yang tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, saya yakin bukan karena mereka tak peduli, namun karena maklum. Semenjak batasan antara pasrah dan terpaksa begitu tipis di Jakarta, masyarakat tidak hanya menjadi mandiri, kuat, dan keras—kalau bukan beringas—namun juga lentur menghadapi segala kemungkinan. Dalam beberapa hal, masyarakat menjadi tak sepenuhnya bergantung pada pemerintah. Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa komunitas itu tercipta hanya karena untuk bertahan hidup, namun tentu saja, semua analisa akan mudah meraih kesimpulan jika hanya dilihat dari desakan ekonomi. Adanya transaksi di halte itu, memang bermula dari kebutuhan, baik demi bertahan hidup atau sekadar tergoda cemilan, namun tidak mengada-ada seperti bongkar-pasang halte. Di saat persoalan kualitas hidup masyarakat belum juga terpecahkan, kebutuhan dalam ruang-ruang seperti itu sebenarnya bisa dibincangkan oleh para arsitek, dengan tidak menyingkirkan keberadaan komunitas organik itu atas nama keindahan ruang kota dalam pengertian arsitektural yang paling puritan. Siapapun mereka yang menunggu dan tinggal di halte itulah, yang membuat halte itu ada, bukan sebaliknya. Seandainya halte bisa menjadi lebih nyaman, mungkin perjalanan pulang-pergi selanjutnya, dengan durasi yang nyaris serupa liburan ke Bandung itu, akan terasa lebih singkat.




Jakarta, April 2007




ARDI YUNANTO lahir di Jakarta, 21 November 1980. Setelah lulus dari jurusan Arsitektur di Institut Teknologi Nasional Malang, ia kembali ke Jakarta pada 2003, kota di mana ia dibesarkan. Sejak 2004 bergabung dengan ruangrupa dan sejak 2007 menjadi redaktur untuk Karbonjournal.org ini. Selain menulis dengan sangat tidak produktif, ia bekerja lepas sebagai penyunting, peneliti, desainer grafis, penyelenggara pameran, sambil terus meluangkan waktu menulis fiksi.





1. Halte model baru, Jakarta 2007. Foto oleh Ardi Yunanto


2. Halte model lama, Jakarta 2007. Foto oleh Ardi Yunanto


3. Halte model atap Betawi, Jakarta 2007. Foto oleh Ardi Yunanto


4. Halte model baru, Jakarta 2007. Foto oleh Ardi Yunanto


Catatan kaki
[1] Suatu sore di Jakarta pada akhir 2006, saya pernah terlibat percakapan ini dengan supir taksi. Iringan pejabat itulah, menurut supir taksi, yang membuat mereka tidak pernah tahu rasanya macet.
[2] Istilah “komunitas halte” ini, pertama kali saya baca—walau dengan penyikapan yang jauh berbeda--dalam artikel “Komunitas Halte” oleh Prabham Wulung, mahasiswa arsitektur Universitas Indonesia (UI) yang pernah dimuat di harian Kompas, Rabu, 28 Pebruari 2001.
[3] Sebuah kalimat pengantar saya untuk karya Anton Adinugroho, “VIP – FESTIVAL” dalam presentasi karya dan katalog untuk Workshop “Bermain di Ruang Tunggu Publik”, bagian dari pameran karya visual mahasiswa Jakarta 32ºc 2006 yang diselenggarakan oleh Komplotan Jakarta 32ºc dan ruangrupa di Jakarta. Lebih jauh tentang workshop ini, Anda bisa membaca tulisan Annisa S. Febrina, “‘Dysfunctional’ Shelters become artists’ playground” di The Jakarta Post pada 12 Agustus 2006.

www.the-bus-stop-here.org adalah sebuah situs yang secara lengkap mengupas segala hal tentang halte, dari mulai jenis halte, fasilitas, dokumentasi foto, sampai kisah-kisah jenaka seputar halte bus.





Komentar

I take great pleasure in reading articles with quality content. This article is one such writing that I can appreciateI take great pleasure in reading articles with quality content. This article is one such writing that I can appreciateIf many users stop is not too concerned about it, I'm sure not because they do not care, but as advised. Since the boundaries between surrender and forced so thin in Jakarta, people not only to be independent, strong, and hard-if not hostile-but also flexible

Your style iss so unique compared to other people I've rsad stuff from. Many thanks for posting when you've got the opportunity, Guess I'll just bookmark this web site.
Hi there, I enjoy reading through your article post. I like to write a little comment to support you.
When undertaking a repair perform, running around the garage to search for a nut, bolt, or a wrench amid a pile of other perform materials and dirt would undoubtedly be irritating. Regular or Section 8 Landlord, why are you waiting. This replacement process can also be achieved by removing the entire door, but this will also mean that it will have to be re-hung and the spring tension of the system readjusted.
Good post however I was wanting to know if you could write a litte more on this subject? I'd be very thankful if you could elaborate a little bit further. Appreciate it!
I am neww to building sites and I was wondering iff having yur blog title relevant to your articles and other content really that important? I notice your title, "Tanggapi komentar | karbonjournal.org " does seem tto be spot on with what your website is about but yet, I prefer to keep my title ldss content descriptive and based more around site branding. Would you think this is a good idea or bad idea? Any kind of help would be greatly valued.

Apalagi mengingat bentuk halte di seluruh dunia memang tak punya standar, sangat tergantung pada kebutuhan spesifik lokalnya, desain halte jadi bebas diterjemahkan, seandainya bukan dilupakan.

What's up, I log on to your new stuff like every week. Your writing style is awesome, keep it up! www.avenida24.com
My family members always say that I am killing my time here at net, except I know I am getting familiarity everyday by reading thes good content.

 Begitu pula dengan lebih daripada 80% ruang jalan yang hanya digunakan untuk kendaraan pribadi. Kita akhirnya tidak punya tradisi berjalan kaki, semenjak Jakarta, sebagai kota seutuhnya, dibangun untuk kendaraan.

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.