FOKUS 1 | Maret 2007

-A A +A
Versi ramah cetakPDF version
FOKUS 2 | Mei 2007
Ziarah meruang: ritual perjalanan Bandung - Jakarta
T. Ismail Reza
12 Mei 2007


MOBILITAS ITU luar biasa. Suatu dorongan praktis untuk bergerak dari ‘sini’ ke ‘sana’ yang kemudian justru menjadi elemen penting peradaban manusia. Pengaruhnya tidak hanya terasa pada kenyamanan gerak, namun juga gaya, yang kemudian menjadi gaya hidup, mulai dari berpakaian necis di dalam mobil BMW seri terbaru, lagak-lagu khas para penggemar Harley Davidson atau pun VW tua, sampai ugal-ugalan bis kota dan joki 3 in 1.

Semua ini menjadi sejenis kaleidoskop yang terbentuk dari mobilitas. Salah satu bentuk yang punya pengaruh personal bagi saya adalah jalan Tol Cipularang yang menghubungkan Bandung-Jakarta, dibangun dengan dana 1,4 triliun dalam satu tahun, selama 7 April 2004 sampai 7 April 2005.

Dahulu, diperlukan persiapan penuh untuk perjalanan Jakarta-Bandung—mulai dari bekal arem-arem hingga pesanan mobil suburben (logat kita melafalkan sub-urban yang lalu menjadi label mobil sewaan). Semua rasa mual selama mabuk perjalanan di daerah Puncak, makan masakan Padang di Cipanas, hingga kue moci di Cianjur, pernah menjadi proses ritual yang wajib saya lakukan sebelum bepergian ke Bandung.

Semua ritual itu berubah saat tol Cipularang jadi. Kini dalam satu hari, kita bisa bolak-balik Bandung-Jakarta-Bandung tanpa perlu serius berjuang dalam menempuh jarak. Teman saya bahkan pernah berkelakar bahwa perjalanan Bandung-Jakarta sangat sebentar jika dibandingkan kemacetan di Jakarta. Banyak orang yang kemudian memilih tinggal di Bandung dan bekerja di Jakarta, walau mereka tentu harus rela untuk memacetkan gerbang tol Pondok Gede setiap hari. Keberadaan tol Cipularang ini kemudian juga menambah masalah orang Bandung dengan bertambah banjirnya orang Jakarta di setiap akhir pekan. Di satu sisi, ada kejenuhan atas polah orang Jakarta yang berbeda, namun di sisi lain, kedatangan orang Jakarta mengalirkan pemasukan yang berarti bagi orang Bandung, terutama berkat semangat orang Jakarta dalam menelan berbagai produk lokal Bandung, mulai dari factory outlet, restoran, sampai distro.

Tak selang berapa lama, bermunculan pula jasa-jasa pengantaran: travel. Layanan ini selalu penuh, terutama di akhir pekan dan awal minggu. Ritual perjalanan yang memendek juga membuat perjalanan dapat dilakukan tanpa perencanaan panjang. Jasa travel ada setiap jam di setiap hari, memudahkan berbagai urusan.

Dahulu, setelah era mobil suburben, saya sempat akrab dengan kereta api, yang saat itu merupakan satu-satunya sarana perjalanan Jakarta-Bandung yang tenang, dan seharusnya tepat waktu. Sayang, jumlah penumpang di setiap akhir minggu tidak pernah diantisipasi dengan sesuai, sehingga mendapatkan tiket kereta api pulang-pergi Jakarta-Bandung, merupakan sebuah perjuangan tersendiri. Tol Cipularang mendobrak hal ini dan membuat kereta api begitu kesepian.

Takjub rasanya ketika saya pertama kali mengalami tol Cipularang. Sebentar saja sudah sampai di Jakarta, padahal tidur pun saya belum puas. Sebuah contoh unik bagi saya tentang pergantian paradigma yang terjadi begitu nyata, bahwa saya hidup di zaman yang bergerak maju dan terus-menerus menuntut kecepatan dan kemudahan. Beberapa kawan saya bahkan membual bahwa mereka pernah menempuh Jakarta-Bandung hanya 1,5 jam, sama dengan waktu yang sering saya luangkan untuk berjalan-jalan keliling Bandung.

Dalam beberapa teori perkotaan banyak disebutkan bahwa sebuah perjalanan tidak hanya berarti proses fisik antartempat, namun sekaligus juga proses psikologis. Bagi saya, perjalanan pada dasarnya adalah ritual, seperti ziarah mengalami ruang. Jika dulu perjalanan ke Bandung merupakan untaian ritual yang sub-urban, masakan Padang di Cipanas, manisan mangga Cianjur, bahkan liak-liuk jalanan Puncak, sekarang ziarah meruang ini digantikan dengan bentangan aspal tol yang terus-menerus.

Di beberapa negara maju, ruas jalan tol yang cenderung monoton itu telah disadari sebagai permasalahan habitat, tidak semata permasalahan teknis pembangunan, sehingga dilibatkan juga para desainer lansekap untuk menata ruang-ruang jalan ini agar tampak lebih manusiawi. Mereka menggubah elemen-elemen ruang, mulai dari jenis tanaman dan potensi warna yang akan dihadirkan, hingga bentuk-bentuk penguat komposisi ruang seperti konfigurasi batu-batu besar di beberapa lokasi jalan tol. Sekalipun masih berada dalam wilayah ruang luar yang bukan ruang kota, gubahan desain ini akan menciptakan komposisi ruang luar yang habitable dengan ranah manusia. Dengan ini, perjalanan menjadi rangkaian kesan yang menimbulkan rasa berziarah. Pada kita, kesadaran akan habitat seringkali berhenti pada ranah ekonomi. Sangat logis, namun pertimbangan kapital yang terlalu besar, hanya akan menimbulkan desain yang cenderung impulsif, serta terlalu menggamit-gamit kita untuk berbelanja.
Demi menangkap peluang bisnis dari adanya tol Cipularang, berdiri Bandung Super Mall (BSM) yang memprolamasikan diri sebagai mall terbesar di Bandung. Mereka menyediakan jasa angkutan bus dari Bandung ke Bandara Udara Soekarno Hatta. BSM seolah menjadi batu penanda atas kemudahan melanglang-buana dari Bandung.

Secara kapital, posisi travel-masuk-mall ini memudahkan konsumen. Selama menunggu, konsumen bisa menjelajahi barang-barang sebelum berbelanja, atau sekadar belanja mata. Tidak ada waktu luang, semua jeda telah dipenuhi kegiatan yang menyerap impuls rayuan kapital untuk, sedapat mungkin, bertransaksi. Dengan cara ini, BSM berusaha mendudukkan diri sebagai tempat tujuan spesifik, tidak hanya untuk mereka yang ingin berbelanja atau berekreasi, namun juga oleh mereka yang ingin menempuh perjalanan jauh. Di masa mendatang, mungkin penduduk Bandung yang bepergian naik pesawat terbang dari Soekarno-Hatta, akan punya ritual yang menempatkan BSM sebagai titik penting sebuah ziarah.

Bagi saya, hal ini absurd. Biasanya, pada sebuah titik pergantian moda seperti terminal bus, proporsi tempat bus akan dominan dan ditunjang oleh fungsi-fungsi sekunder semisal kantin atau toko, sementara yang terjadi di BSM adalah sebuah terminal bus sangat kecil yang ditunjang oleh mall—lengkap dengan gerai retail dunia seperti Hugo Boss, Starbucks, atau taman bermain anak, dari komidi putar sampai roller coaster dalam ruangan. Sebuah pemandangan lazim bila kita melihat seorang ibu trendi memilih belanjaan sambil menyeret-nyeret koper besar, menunggu keberangkatan bus yang akan mengantarnya melanglang-buana.

Bukti kebutuhan manusia akan ritual dalam perjalanannya secara tidak sengaja juga berhasil dimanfaatkan oleh pengembangan sarana di jalan tol. Seperti yang kita ketahui, ruas jalan tol Cipularang akan bersambungan dengan jalan tol Cikampek, menjadi penerus perjalanan Jakarta-Bandung atau sebaliknya. Di ruas jalan Cipularang ini kemudian hadir tempat peristirahatan yang unik: KM 19.

Didesain dengan sepenuh hati oleh arsiteknya, Supi Yolodi dan Maria Rosantina, arsitektur KM 19 sangat menarik, tidak biasa, dan menjadi ikon di tengah jalan tol Cikampek yang monoton. KM 19 menampung berbagai kegiatan yang tidak hanya bersifat menunjang istirahat, seperti makan-minum, namun juga penyegar mata semacam retail dan sejenisnya.

Mungkin bila tidak ada jalan tol Cipularang, KM 19 hanya akan menjadi tempat pelayanan terhadap jalan tol Cikampek di hadapannya, namun keberadaan tol Cipularang yang dihubungkan tol Cikampek ini, membuat KM 19 menjadi tempat istirahat favorit. Beberapa kolega berkata bahwa mereka selalu berhenti di KM 19, sekadar ngopi dulu di Starbucks, atau leyeh-leyeh sebelum mengebut kembali ke Bandung.

KM 19 mungkin sudah menjadi tujuan ritual, bagian dari ziarah ruang Jakarta-Bandung. Sebuah papan pengumuman cukup besar, mengimbau pengunjung untuk segera meneruskan perjalanan jika sudah cukup lama beristirahat, karena jika terlalu lama akan mengganggu sirkulasi internal. Ramai sekali ternyata KM 19 ini. Padahal cukup banyak tempat peristirahatan lain yang telah dibangun di jalan tol Cikampek. Arsitektur yang unik, retail yang variatif, serta kekosongan titik ziarah dalam sebuah perjalanan, mungkin menjadi resep sukses KM 19.

Kasus BSM dan KM 19 merupakan upaya meraup cipratan rezeki dari akses yang bernama jalan tol Cipularang ini. Ditilik dari posisi serta skalanya, sekilas BSM sudah jadi tujuan; sebuah upaya umum bagi banyak mall dan pusat perbelanjaan untuk menyedot pengunjung. Tetapi sebenarnya, dari perspektif pandang tol Cipularang, BSM justru menjadi tempat tujuan-semu, karena mendudukkan diri serupa dengan KM 19, sebuah sarana pendukung yang dikunjungi karena adanya tujuan yang lebih besar, sedangkan sebuah tujuan galibnya merupakan titik akhir kunjungan.

Tetap saja, BSM jeli melihat bahwa dalam untaian proses itu, ada kendaraan pengantar yang diparkir dan waktu menunggu yang nyaman bila dilewatkan di kafe atau membeli barang—semuanya merupakan upaya perputaran kapital yang juga akan menguntungkan. Perilaku manusia yang memerlukan tol Cipularang berhasil mereka petakan, dan dari situ mereka tarik satu kemungkinan bisnis.

Hal tersebut memberikan konfirmasi bahwa pada dasarnya manusia memang tidak hanya memerlukan sekadar produk atau titik akhir tujuan, namun juga proses. Perjalanan adalah sebuah pengalaman meruang yang istimewa, seharusnya tidak hanya melulu bercerita tentang aspal jalan, tapi juga kejadian-kejadian, dan tempat-tempat spesifik. Jakarta-Bandung bukan hanya narasi dua kota, tapi juga momen-momen di antaranya, sebuah ziarah meruang.

Bandung, Mei 2007

T. ISMAIL REZA menempuh pendidikan Arsitektur dan Tata Kota di Universitas Katolik Parahyangan dan Institut Teknologi Bandung. Ia seorang kolektor musik rock ekspemerintal dan moderator milis prog-rock@yahoogroups.com. Bersama beberapa rekan, ia mendirikan Bandung Center for New Media Arts. Pemerhati kota Bandung ini merasa bahwa Bandung harus menggali potensi kalangan bawah-tanah serta bertebarannya distro sebagai sebuah image branding yang khas dan spesifik. Pengguna setia komputer Apple Macintosh sejak 1995 ini, bekerja dan berkarya sebagai Urban Designer di UrbanE, Bandung, serta menjadi editor untuk jurnal Karbon ini hingga pertengahan 2007.




Foto Priyadi Iman Nurcahyo


Foto oleh Priyadi Iman Nurcahyo.

Komentar

The chambres d'hôtes bedrooms have been beautifully furnished. The spacious bedrooms have double beds or twin beds. Each of the bedrooms has a comfortable sitting area

Mimes is a website where you can distribute your news or links together with an emotion that you feel by that news. And remember an expression or body language gif to add there of the emotion.

This info is simple to understand the normal people also.

That is a very quality blog. Great content and a very nice design.  <a href="https://www.geekshosted.com" title="cheap web hosting">cheap web hosting</a>

He can be most favorited by gays in the U.S. because of his action, lol. Come on gays, he deserves to win aome awards.

Step up height increasing formula is an amazing height increasing formula. I am using from some time now and it has marked a great improvement in my height. I recommend trying this amazing product at least once.

Great Article , thanks for sharing At the end of the day, I believe it's the consumer's responsibility to do their own due diligence before investing in any program, but I definitely want to share with you what I've discovered during my own research in case it helps

Great Post, I like it very much , I like coming to AnalogPlanet and finding recordings to track down that I'd never really think about buying. I'm listening to it now and I do like it. The only albums I've ever "scored" at goodwill's are Belafontesque records. I was going to get rid of my goodwill copy of Belafonte Sings The Blues but I always throw a record on before I get rid of it. I thought it was good enough to keep. I must be getting older too because when I listen to these old records and they say gay I don't snicker any longer. It sucks getting old. I hope everyone has a gay day

Hulk is known as one of the super hero character. However, the character is just not like others. Hulk can be a strong character when he's angry.
Beautiful garden park that will be liked by many people. There are many types of garden you can see and watch carefully.

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.