karbonjournal.org

Di Kota Tua Jakarta, semakin banyak orang yang datang untuk mengambil gambar, dengan ‘sejarah’ sebagai latar belakang. Beberapa dari wisatawan lokal bahkan datang khusus untuk memotret, dengan kostum lengkap dan tebal di sore yang panas, bersama seorang fotografer dan perekam video (23/5).  Dian Bara  l July 2009
ESAI BARU
ESAI | 27 Juni 2009
Jakarta dari dalam Taksi: Mengawang tapi mengakar
Ifan Adriansyah Ismail
Film Taksi (Arifin C. Noer, 1990) yang dibintangi Rano Karno dan Meriam Belina, meraih 6 piala Citra pada masa ketika perihal kota merebut sudut pandang, ketika pandangan yang ‘Jakarta-sentris’ semakin mengukuhkan diri. ‘Suara’ manakah yang direkam oleh Taksi di dalam narasinya, dan bagaimana film Taksi merekam jejak sejarah ruang kota di Jakarta? Ifan Adriansyah Ismail mengulasnya untuk Anda.
ESAI | 29 Mei 2009
“Monas dan kita”: Menjelajahi beragam interaksi
Irma Chantily
ESAI | 20 April 2009
Tanda-tanda dan wajah kota
Mahatmanto
ESAI | 1 Juli 2008
Sebuah esai tanpa hak cipta
Ronny Agustinus










KOMIK DAN KOTA
JAN_PATAHNYA_SAMPUL.jpg
FOKUS 5 | Februari 2009
Menelusuri kota dalam komik Indonesia
Sebuah pengantar
Bagaimana komik Indonesia merepresentasikan gejolak sosial kota? Sejauh apa representasi itu memiliki hubungan dengan kenyataan, mampu mencatat sejarah mental masyarakatnya, dan dengan cara apa para komikus mengatasi permasalahan medium komiknya sendiri untuk menghadirkan representasi tersebut? Dan mengapa sebagian besar komik selalu merujuk pada Jakarta? Edisi ini membahas hal-hal tersebut dan menyingkap fenomena serta permasalahan di baliknya.
00.MAWARPUTIH_GAMBARUTAMA.jpg
FOKUS 5 | Februari 2009
Kota yang naif: sketsa Jakarta 1960-1970-an dalam komik roman
Hikmat Darmawan
Jika kita ingin melihat bagaimana Jakarta pada awal 1960 hingga akhir 1970-an melalui komik, maka komik roman adalah satu-satunya genre yang setia berlatar kota metropolitan. Bergelimang cinta yang mendamba dan kota sebagai impian dalam komik roman, Hikmat Darmawan memaparkan sejumlah kesamaan pola dalam komik roman, dari kebiasaan membaca koran, interior, hingga gaya berbusana, yang tak hanya menunjukkan kenaifan, namun juga imajinasi atas kota.
00.GAMBAR-JUD.jpg
FOKUS 5 | Februari 2009
Lagak Benny dan Mice di Jakarta
JJ Rizal
Bila dikaitkan dengan relevansi atas zaman, terutama dalam konteks Jakarta, Benny dan Mice adalah kartunis terdepan Indonesia saat ini. Mereka ada karena kekacauan Jakarta dan menceritakan segala kekonyolan situasi hidup di ibukota itu. Di tangan penulis JJ Rizal, karya mereka selama satu dekade dibahas dari sudut pandang kekotaan secara mendalam, kritis, dan berimbang. Inilah esai paling bernas tentang karya Benny dan Mice sampai saat ini.

00.SENGGOLJAKARTA.jpg
FOKUS 5 | Februari 2009
Mencari Jakarta dalam Senggol Jakarta
Arief Ash Shiddiq
Ada tiga kompilasi Senggol Jakarta yang disusun Akademi Samali, berisi berbagai komik dari para komikus muda saat ini. Arief Ash Shiddiq mengamati komik-komik ini dengan pertanyaan awal sederhana: Apakah ini Jakarta? Ketika kekerasan ditampilkan tanpa konsekuensi? Ketika jalanan ditampilkan hanya sebagai tempat? Berusaha mengelak dari situasi jalanan yang sebenarnya? Arief, dengan sangat keras mengkritik, namun juga tak berhenti berharap.
DOYOK_GAMBAR1_WEB.jpg
FOKUS 5 | Februari 2009
Doyok: potret kelas bawah Jakarta
Seno Gumira Ajidarma
Siapa yang tak kenal Doyok? Sosok berblangkon dan bercelana tiga perempat yang selalu setia muncul di harian Pos Kota? Karakter komik ini sering berkomentar tentang masalah politik mutakhir dari sudut pandang orang kebanyakan. Doyok, sungguh maunya serius, dan bagaimana keseriusan itu mendapat bentuk, ternyata sungguh-sungguh menarik, sebagaimana bahasan Seno Gumira Ajidarma dalam esainya ini.
REZA_DEPAN.jpg
FOKUS 5 | Februari 2009
Supirnya lelaki, suaranya perempuan
Ardi Yunanto
Pada 2004, enam panel kartun karya Muhammad Reza dipamerkan di enam halte Transjakarta yang saat itu baru beberapa bulan beroperasi di Jakarta—sebelum halte itu terpasang iklan, sebelum kepemilikan Transjakarta diperebutkan. ‘Sehijau’ kehadirannya, warga Jakarta mulai beradaptasi dengan “tradisi baru bertransportasi” ini, bersama segala tingkah-lakunya yang sebagian direkam oleh Reza melalui karyanya.