karbonjournal.org

Pada Kamis, 10 Desember 2009, di Taman Menteng, Jakarta Pusat, patung Obama kanak-kanak diresmikan oleh Wali Kota Jakarta Pusat. Didedikasikan untuk menginspirasi anak-anak Indonesia, patung ini justru “melecehkan logika”, seakan pendidikan kita mampu menghasilkan seorang Presiden AS. Menghadap monumen Persija yang tampil ala kadarnya, secara ironis patung ini melecehkan sejarah Taman Menteng yang semula adalah Stadion Persija, sebuah pameran permanen atas “kenaifan psikotik” dari pemerintah yang inferior.  Ardi Yunanto  l Desember 2009
ESAI BARU
ESAI | 15 November 2009
Revitalisasi Setengah Hati di Koningin van het Oosten
Pradaningrum Mijarto
Kota Tua Jakarta adalah sang “Ratu dari Timur” yang ditetapkan sebagai cagar budaya. Namun pada 2008, Taman Fatahillah sempat dijadikan areal parkir untuk pesta pernikahan besar yang bertempat di Museum Seni Rupa dan Keramik. Pradaningrum Mijarto, mengulas kondisi “sang ratu” yang tidak  jelas, akibat terlalu banyak kepentingan dan ketidakpedulian terhadap upaya mengembalikan “sang ratu”.
ESAI | 3 Oktober 2009
Penyeragaman yang selalu gagal
Haris Firdaus
ESAI | 26 Agustus 2009
Antara banal, binal, dan ’ndeso: Eksotisisme Yogyakarta dalam film Indonesia
Grace Samboh
ESAI | 27 Juni 2009
Jakarta dari dalam Taksi: Mengawang tapi mengakar
Ifan Adriansyah Ismail
ESAI | 29 Mei 2009
“Monas dan kita”: Menjelajahi beragam interaksi
Irma Chantily
ESAI | 20 April 2009
Tanda-tanda dan wajah kota
Mahatmanto










HUMOR DI RUANG KOTA
wish-you-where-here_Paul-Kadarisman_36.jpg
FOKUS 6 | Agustus 2009
Memandang kota dengan humor tanpa menjadi tumor
Pengantar redaktur
Hidup di kota yang suntuk dan muluk, sesekali kecemasan perlu dilemaskan oleh humor. Dengan gagah berani, edisi ini memandang kelucuan kota dengan humor. Dari esai tentang perancang acara komedi di stasiun televisi, kelucuan seluruh layar kaca itu—tontonan yang bisa kita saksikan di ruang keluarga—bahasan esai lalu keluar ke jalanan, hingga apa yang direkam kembali kepada kita, untuk kita lihat di depan layar komputer.
VevenSpWardhana_8.jpg
FOKUS 6 | Agustus 2009
Horor + rumor made in televisi Indonesia = Humor
Veven Sp. Wardhana
Tak perlu mencari tayangan khusus humor di televisi jika ingin terpingkal-pingkal. Cukup menonton televisi Indonesia, maka segala yang aneh bin ajaib dijamin bisa membuat kita geli sendiri. Veven Sp. Wardhana, pengamat televisi, menggeledah keanehan-keanehan itu. Dari mulai film horor yang bisa-bisanya menjadi sinema reliji, kegilaan infotainmen, istilah-istilah aneh, sampai tayangan sinetron absurd dan iklan-iklan siluman yang suka menyamar tapi selalu ketahuan.

Isfanani_Surat-protes-_K.jpg
FOKUS 6 | Agustus 2009
Surat protes untuk Produser Eksekutif Divisi Produksi Komedi sebuah stasiun televisi ternama
M. Isfanani Haidar Ilyas
Seorang pelacur media menulis surat ini setelah ia diusir dari ruang rapat. Sebuah protes yang ditulis oleh ‘orang dalam’ pertelevisian, yang akan mengungkapkan kepada kita: mengapa televisi Indonesia yang belum kapok-kapok membuat program komedi, selalu gagal membuat kita tertawa.
NurainiJuliastuti_1.jpg
FOKUS 6 | Agustus 2009
Dan tubuh tropismu bertanya-tanya: cuaca apakah ini?
Nuraini Juliastuti
Di kota yang panas, berjaket atau tidak berjaket kadang memusingkan, terutama bagi perempuan. Antara berpakaian tertutup lalu panas sendirian atau terbuka lalu panas ramai-ramai dari sejuta mata yang memandang. Nuraini Juliastuti menceritakan pengalaman dia dan Ani, temannya, tentang kebiasaan berjaket di Yogyakarta.
EviMariani_fokus6.jpg
FOKUS 6 | Agustus 2009
Keluh-kasih jalanan Jakarta
Evi Mariani Sofian
Jalanan bisa jadi satu-satunya tempat seorang anak kaya menabrak pejalan kaki papa, namun ia juga bisa jadi tempat seorang pebisnis mapan tersenyum pada petugas parkir miskin dan memberinya upah karena mencarikannya tempat parkir yang nyaman. Evi Mariani menuliskan pengalaman dan pandangannya tentang jalanan Jakarta yang sebenarnya penuh dengan kasih-sayang jika kita melihatnya dengan hati.
Gambar0.jpg
FOKUS 6 | Agustus 2009
Benci tapi rindu, mencaci atau melucu? Sebuah refleksi personal lewat situs web SERASA
Farid Rakun
Sebuah blog SERASA merekam produk Indonesia yang memplesetkan merk terkenal luar negeri. Farid Rakun, dari balik layar komputernya, terus bertanya: apakah blog ini sungguh hendak berbagi kelucuan atau hanya sekadar menertawakan? Atau jarak—berupa layar komputer, bahkan negara—yang bukan langsung di jalanan tempat foto-foto itu diambil, yang membuat semua benci menjadi rindu, atau bahkan mencaci bisa menyamar jadi melucu?