Karbon

KARBON 1: KEINDAHAN LAWAN KESEZAMANAN

KARBON 1 | November 2000
Sebuah Pengantar

Ya, pernah memang untuk suatu masa tertentunya, kritisisme harus pula tidak berdaya hingga sekecil apapun, sampai saat ketika kepandiran betul-betul memalukan adab manusiawi survival of the fittest kebudayaan untuk apa yang layak atau tak berharga atas yang dihasilkannya.

KARBON 1 | November 2000
Ugeng T. Moetidjo

Bagaimana kesenian, dengan berbagai konteks sosial dan terutama zamannya, hadir dalam ruang publik? Ugeng T. Moetidjo, penulis dan pemerhati seni rupa, sekaligus editor jurnal Karbon, membahas bagaimana tafsir-tafsir kesenian memiliki wilayahnya sendiri-sendiri, yang terus-menerus menuntut untuk selalu dibongkar kembali.

KARBON 1 | November 2000
Marco Kusumawijaya

Bagaimana sebaiknya seni rupa dan arsitektur meletakkan diri dalam ruang publik? Dialog antara arsitektur dengan seni rupa, bukan saja karena kedekatan sifatnya, namun juga karena keduanya berpotensi mengganggu ruang publik itu sendiri. Marco Kusumawijaya, kritikus perkotaan, menuliskan argumentasinya dengan kritis.

KARBON 1 | November 2000
FX Harsono

Sejak masa Persagi hingga akhir 1940-an, seni rupa adalah wilayah publik itu sendiri, dari ideologi hingga poster perjuangan di jalanan. Bagaimana Apotik Komik dan Taring Padi di awal 2000-an, sebagai kelompok berbasis publik dengan ideologi yang saling bertolakbelakang ini dalam menyikapi ruang publiknya sendiri? FX Harsono, salah satu pendiri Gerakan Seni Rupa Baru pada 1970-an, menuliskannya.

KARBON 1 | November 2000
Ugeng T. Moetidjo

Karya-karya pada periode 1959–1969, bagaimanapun ketatnya diktum-diktum yang terencana diterapkan pada seni demi mempertahankan tujuan kediktatoran, pada akhirnya toh ditemukan dalam diam sebagai praksis estetik. Jikalah ada pembenaran pada penerapannya di luar karya seni, itu semata-mata keputusan politis atas nama seni dan budaya.

KARBON 2: CETAK URBAN

KARBON 2 | April 2001
Sebuah Pengantar

Riset kimiawi bisa membuktikan keabsahan tahun, tapi tetap ia tak bisa menjawab: kedudukan apakah yang disandang Dua Petani Jagung dalam sejarah seni rupa di sana maupun di sini? Di bawah dentum palu si juru lelang, pertanyaan macam itu jadi tak masuk akal. Si juru lelang tak ada urusannya dengan itu. Mahal atau tak mahal, itulah soalnya.

KARBON 2 | April 2001
Ronny Agustinus

Dua-tiga tahun belakangan, cetak urban tumbuh menjamur, menggambarkan ‘kemarahan massal’ yang sebenarnya juga mengalami politisasi. Jika dulu tidak ada gugatan langsung atas kondisi sosial-politik, sekarang poster ‘Gantung Tommy Soeharto’ adalah hal biasa. Ronny Agustinus menuliskan hal ini.

KARBON 2 | April 2001
Ronny Agustinus

Cetak urban bukanlah produk kultural pasca-modernisme. Ia hadir lancang-menyegarkan, tak pernah berniat melawan tapi tunduk pada keinginan pasar dan zaman. Namun ia punya pendukung massa, yang tak dimiliki seni modern tinggi kita. Seni rupa modern kita seharusnya menjadi potensi terkuat untuk melawan keburukan cita rasa rupa ini.

KARBON 2 | April 2001
Alexander Sudheim

Alexander Sudheim, musisi dan jurnalis dari Durban, Afrika Selatan, tinggal dan bekerja selama seminggu bersama ruangrupa untuk proyek Cetak Urban di Jakarta pada 2000. Dalam catatan hariannya, kesannya atas Jakarta menyegarkan kita, akan betapa banyak hal yang terlanjur kita anggap lumrah hanya karena hidup di dalamnya. Naskah ini hanya tersedia dalam bahasa Inggris sesuai versi aslinya.

KARBON 2 | April 2001
Andrea Peresthu

Penciptaan seni publik sangatlah kompleks karena memiliki dampak sosial. Andrea Peresthu, seorang arsitek, mengulas secara kritis tentang seni publik yang berpotensi besar merusak ruang publik itu sendiri. Bahwa pemahaman seni publik akan lebih jernih jika dihayati sebagai proses sosial dan bukan hanya sebagai penghayatan individualisme sempit berdasarkan otoritas penciptanya.

KARBON 2 | April 2001
Kutipan Diskusi

Berikut adalah berbagai petikan dari rangkaian diskusi dan pembahasan mengenai cetak urban,yang dilakukan oleh ruangrupa dengan sejumlah seniman yang diundang dalam proyek Cetak Urban pada November 2000.

KARBON 3: VIDEO ART

KARBON 3 | Februari 2002
Sebuah Pengantar

Tak kurang, video-video dari dalam lemari menjelaskannya: yang sudah, terkuak dalam yang kini, namun selewat itu, menyimpannya kembali ke dalam lemari, mengingatkan pada lempeng di kelok jalan yang biasa dilewati, sebaris petunjuk dalam biru resmi, berbunyi: “Arsip, Pusat Ingatan”, sore tadi sudah runtuh bersama lempengnya sekaligus.

KARBON 3 | Februari 2002
Ugeng T. Moetidjo

Tidak sebagaimana film-film digital lainnya—di tempat kami di sini—film inilah yang secara begitu kentara memasalahkan kedudukan seorang pribadi dengan dan terhadap media teknologinya: ia bercerita namun seraya juga mempertautkan keunggulan perekaman visual yang dalam representasinya boleh kita sebut sebagai kebenaran, ke dalam taraf ambigunya.

KARBON 4: PERFORMANCE ART

KARBON 4 | September 2002
Sebuah Pengantar

Edisi ini membahas seni performans. Sebuah jenis seni rupa yang masih misterius hingga saat ini bagi seni rupa kontemporer Indonesia karena kurangnya kritik dan penelitian memadai terhadapnya. ruangrupa dan jurnal Karbon mengundang beberapa seniman performans untuk berdiskusi pada Juli 2002. Hal yang sangat penting karena seluruh data tentang seni performans saat itu berasal dari seniman. Dalam edisi online ini, kami menampilkan kembali sejumlah esai. Sementara untuk transkripsi diskusi saat itu, pemindahannya ke dalam situs ini masih dalam proses.

KARBON 4 | September 2002
Agung Hujatnikajenong

Seni performans bermula dari pemberontakan atas kemapanan idiom artistik dan estetik tertentu dalam seni rupa Indonesia. Agung Hujatnikajennong mencatat perkembangan itu, dari Gerakan Seni Rupa Baru hingga karya-karya seni performans pada awal 2000-an, untuk melihat hubungan dan keterputusan makna dan tindakannya.

KARBON 4 | September 2002
Farah Wardani

"The term ‘performance art’, inevitably, is something that’s imported from the (English-speaking) Western art discourse. It can be taken from there how the words ‘perform’ and ‘performance’ are implemented a bit differently between the Indonesian and the English language, which may not really be a problem in the matter of creation process, but may be so when it comes to encountering perceptions." ujar Farah Wardani. Esai ini hanya tersedia dalam bahasa Inggris, sesuai versi aslinya.

KARBON 5: RUANG ALTERNATIF

KARBON 5 | Mei 2003
Sebuah Pengantar

Kondisi infrastruktur seni rupa Indonesia yang tak memadai, dari museum, galeri, sampai pendidikan seni di sekolah-sekolah, menciptakan ketegangan tertentu, dan langsung atau tidak, memicu munculnya berbagai ruang seni alternatif. Karbon edisi ini membahas ruang-ruang alternatif tersebut.

KARBON 5 | Mei 2003
Amanda Katherine Rath

Ruang seni alternatif urban di Indonesia bisa dipandang sebagai kelanjutan konsep dasar sistem sanggar. Namun kebanyakan seniman yang berinisiatif ini tak punya kenangan fisik akan kolonialisme dan revolusi, mereka mengalami kebijakan negara yang berdampak langsung pada kesenian, para generasi MTV dan internet, di mana seni dan kehidupan telah melebur.

KARBON 5 | Mei 2003
FX Harsono

Mencermati pergeseran ideologis dari sanggar ke ruang seni alternatif saat ini, FX Harsono memaparkan, apa yang ia katakan baru sebagai meraba, peta komunitas seni rupa di Indonesia. Sebagai demokratisasi nilai-nilai seni rupa, ruang-ruang alternatif ini tidak saja perlu dirayakan, namun juga dikritisi.

KARBON 5 | Mei 2003
Agung Kurniawan

Ruang alternatif yang berkembang sejak awal 2000-an ini selain bersifat lokal, juga mampu membawanya dalam konteks internasional: globalisme akar rumput. “Masturbasilah dengan tangan kanan, karena kamu seniman dari Indonesia. Dan jangan meniru seniman barat karena mereka menggunakan kedua tangannya untuk masturbasi”.

KARBON 6: PEMIRSA

KARBON 6 | April 2004
Sebuah Pengantar

Publik seringkali hanya menjadi penonton pasif dalam dunia seni rupa kontemporer. Edisi ini mengambil elemen-elemen terdekat dari kehadiran mereka, meliputi penyelenggara acara, pengelola ruang seni dan pemilik galeri, juga menghadirkan perspektif pemirsa dalam memandang seni rupanya sendiri.

KARBON 6 | April 2004
Ade Darmawan dan Ardi Yunanto

Seni dan publik selalu menyimpan masalah. Namun sebenarnya bukan masyarakat yang tidak bisa mengapresiasi seni, namun sebaliknya, seniman yang tidak bisa mengapresiasi masyarakat. Ade Darmawan dan Ardi Yunanto menuliskan pandangan ini dari sudut pandang ruangrupa, sebuah organisasi seni rupa di Jakarta yang fokus pada permasalahan-permasalahan urban dan masyarakatnya.

KARBON 6 | April 2004
Ade Tanesia

Di Indonesia, porsi pendidikan seni dalam kurikulum sekolah sangat kecil tidak semua sekolah mempunyai program ekstra kurikuler untuk mengunjungi galeri atau museum. Kegiatan artist’s talk baru satu dan dua tahun terakhir ini marak di Yogyakarta. Singkat kata bisa dikatakan dunia seni rupa di Yogyakarta, bukan telah, melainkan selalu mengalami krisis penonton.

KARBON 6 | April 2004
Hendro Wiyanto

Dr. Melani W. Setiawan, seorang pecinta seni, selalu memotret dirinya bersama setiap seniman di berbagai acara kesenian. Foto-foto itu lalu dikirimkan ke alamat orang-orang yang ada di dalamnya. Hendro Wiyanto, kurator seni rupa, menuliskan pengalamannya tentang ibu Melani yang begitu tertarik dengan penonton dan selalu menjadi bagian dari penonton itu.

KARBON 7: TIGABELASAN: Diskusi Seni Visual

KARBON 7 | Januari 2006
Sebuah Pengantar

Setiap bulan di tanggal 13, sampai 2006, ruangrupa mengadakan Tigabelasan, diskusi seni-budaya yang mengundang berbagai pembicara. Edisi ini adalah transkripsi dari diskusi terpilih. Baru dua diskusi yang kami tampilkan disini dari tujuh diskusi yang ada dalam edisi cetak jurnal Karbon. Penampilannya kembali dalam situs ini akan kami lakukan kemudian.

KARBON 7 | Januari 2006
Antariksa

Diskusi Tigabelasan mengundang Antariksa, peneliti asal Yogyakarta untuk membicarakan sejarah bioskop. Banyak fakta masa lalu menarik yang relevan dengan kondisi saat ini diungkap dalam diskusi tersebut. Anda bisa membacanya di sini, bagaimana sebuah budaya tontonan lahir di Indonesia dan perjalanannya hingga saat ini.

KARBON 7 | Januari 2006
Hikmat Darmawan

Mengundang Hikmat Darmawan, kritikus komik dan film, diskusi Tigabelasan membicarakan bagaimana komik membawa gagasannya dari kemunculan pertamanya, hingga perkembangannya di Indonesia sejak awal hingga sekarang, dari kreasi, hingga kaitannya dengan industri dan bagaimana maraknya komik asing mempengaruhi komikus Indonesia.