Demikianlah soalnya, pandangan menyeluruh kita tentang (hasil-hasil karya seni?) seni tak jauh bertumpu kepada zaman-zaman sebagai hanya semacam tempat di atas mana seni-seni itu ditakdirkan ada, dan tidak pada kedirihadiran di dalamnya sendiri, dan oleh sebab itu terlampau sedikit telaah bagi gagasan-gagasan. Bahkanpun revolusi-revolusi bentukan (momen peralihan tajam dan yang terus-menerus mengundang kecemasan dari dan antara yang tradisional dan modern) yang kemudian diterima dalam sikap pencaman estetik tak dapat serta-merta dianggap begitu saja sebagai suatu pergerakan-pergerakan dalam seni rupa, terkecuali apabila ia mempunyai kaitan yang langsung dengan kenyataan, atau tepatnya, tujuan atas ‘kenyataan’ melalui pengambilalihan gambaran berdasarkan ‘perundangan sistematis idealisasi terhadapnya, dengan mana suatu pengetahuan mengenai distorsi kenyataan diubahkan menjadi prinsip representasi yang terbenar’ sebagai kebutuhan perkara-perkara pada zamannya. Lekat di ingatan pelajaran awal kita, bagaimana gunung dan sawah telah dihakimi oleh arit dan garu, dan kemolekan harus dituduh berzinah dengan —waktu itu— penjajahan oleh sebab darinya lahir anak haram keindahan monumental pertama modernitas. ‘Realisme’, beserta pengertian tertentunya yang selalu mau ‘revolusioner’, menjadi penegak terdepan di hadapan persaksian kesejarahan kita. Momen, zaman, atau latar historis dan bukan ‘area-dalam’ dari unsur mula dan terakhir cipta-seni sendiri dari keadaan-keadaan akan lekang yang membuatnya ada dan lalu—waktu ini—mendudukkannya di belakang ujud seni itu sendiri sebagai hal yang pernah dan tetap meyakinkan pemahaman mengenai apakah sesungguhnya seni itu dalam kaitannya dengan alasan mengapa manusia menciptakannya.’ Apa yang sudah lewat dan dianggap sebagai peristiwa-peristiwa sejarah sekalipun, di dalam kejadiannya sendiri di sini dan kini, tertinggal belaka sebagai dasar penjiwaan pada seni dari mana titik-pijak seluruh pengetahuan kita atasnya mempunyai dasar dan dipaksa memerlukan penalaran-penalaran. Tegasnya, kita membutuhkan nama sejarah guna memastikan seolah ketaksangsian kita akan pemetaan terminologi seni: itu sebabnya mengapa begitu kerap kita segera selesai ketika harus mulai menyebut Hindia Jelita, Persagi dan sebagainya, bukan dengan percobaan menguji praktek seni sebagai suatu rumusan estetik ke dalam sesuatu hal yang demikian saja dapat dimaklumi karena sasaran perkara konteksi kesejarahan-zaman kita tampak sebagai yang paling nyata dapat menangani batas keraguan pertentangan antara tradisio-feodal-kolonialistis dengan modernitas-liberal-kepribumian, terutama. Sitegang antara apa yang dimaksud dan dituju atas kenyataan ber-lawan dengan apa yang terjadi di dalam kenyataan. Dengan sendirinya, di dalam seni, kenyataan, yang tak pernah mungkin seutuhnya berlaku purna, tentu saja harus mengalami tranformasinya ke dalam sebentuk realisme sebagai yang pertama-tama dianggap moderen kontekstual, jauh sesudah romantisisme kehilangan masa lanjutannya yang sedemikian panjang, sekaligus di dalamnya, gagasan telah diartikan kepada keterikatan agenda politis dengan segenap penamaannya. Kedua terma adalah protagon bagi kehilangannya cita kebudayaan yang baru tumbuh di masanya. Setidaknya, mendekat seratus tahun seni rupa moderen kita, ia melulu saja terurai berdasar hasil-hasil memaknakan kejadian-kejadian dalam anggapan temporasi historisnya, yakni periodisasi-periodisasi yang terkira sebagai momentum terpenting bagi pengacuan estetik dari fase-fase perubahan bentukan seni. Tetapi bagaimanakah tidak, bila seluruh sebutan-sebutan kesejarahan memang tak digunakan untuk melihat seni yang semurni dan sungguh oleh sebab kesemua itu tak mencerminkan sama sekali tindak-tindak estetik kecuali tendensi momentalnya yang dengan demikian memperjelas semata bahwa sebenarnya soal-soal seni kita enggan pernah bergeser dari maksud-maksud serupa itu? Sekerap perasaan gentar persaksian bahwa keindahan harus sinonim dengan waktu-kesejarahan, menarik suatu resiko yang sepantasnya diterima dari upaya-upaya yang berlawanan dengan itu, guna kemudian mengambil sikap lebih enak untuk bersitakut membalikkan logika penafsiran, bahwa warisan inferioritas kolonis dan kebersikerasan pencarian sifat-sifat kepribumian, tak dapat lain pada pokoknya terarahkan kepada narasi-narasi kenegerian yang begini dan begitu, dari tempatnya yang tampak selalu berposisi guncang tiap kali ia direpresentasikan sehingga satu-satunya peluang bagi cara menandakan permasalahan, adalah dengan membabarkan soal-soal kenyataan sebagai andaian kebenaran. Seperti tak sudah-sudah pula akhirnya perumpamaan masyur dua sisi keping yang sama keindahan terhadap kebenaran dan sebaliknya, yang meneruskan keyakinan akut dan bersama kita, yakni bahwa kebenaran dengan sendirinya adalah sejarah kenyataan dan karenanya juga ber-arti sejarah estetik, suatu maklum yang hingga penghujung zaman masih tetap diberlakukan sebetapapun dengan rupa teknik serta bentuk-bentuk dan sifat-sifat serta alasan-alasan beragam. Demikianlah memang, lacur sudah kita tidak berpaling kepada pemerian atas isi bentukan seni dari harkat esensialnya sebagai juga subjek yang terbebas dari tekanan-tekanan di luar dirinya. Padahal, andai terma-terma pergerakan sejak mula juga diinsyafi dalam ‘keserbamungkinan pencapaian di dalam persusunannya sendiri’, boleh niscaya, seni yang kemudian berangkat menjadi ilmu pengetahuan layaknya, dipeluangkan untuk juga mengandung kesadaran yang luas dan mendalam akan seluruh unsur kelahiran cipta bentukan estetik yang menempatkan latar sejarah bukan lagi sebab-sebab mendasar dan terfinal dari lahirnya representasi bentukan, baik yang menghasilkan perlambang, kebendaan, dan citra pada karya seni, sepenuhnya mengukuh–saatnya mungkin akan tiba juga dan cukup banyak literatur mengenainya yang membutuhkan penafsiran kembali hal itu—perdebatan soal-soal kesenian kita tidak akan melulu memperkarakan nama dan sebutan di dalam fungsi dan malprakteknya. Subjek-subjek, di dalam peran dan mal-prakteknya malahan bukan tidak kentara memang akhirnya membuat jerumus suatu keindahan dijalankan selamanya sebagai suatu kesalahan bersyarat yang menyeluruh di hadapan tafsir kesejarahan, dengan mana mengakibatkan bagian terbesar dari keberpihakan diri kita menderita fetisis traumatis: ‘pekik-haru’ kita, dan ini tak mesti bisa dengan sengaja, tertujukan pada kerumun tema-tema, bukan pada pembebasan tafsir-tafsir keindahan bentukan yang genial. Setelah ini, supaya tidak terlalu membosankan, kita lalu tahu, di bawah kesadaran, tanpa selalu mudah dipahami oleh alasan-alasan keputusan sendiri, saya tak melihat lain bahwa kita lebih suka memilih merayakan kenangan ‘kekejaman’ sebagai penampang hadirnya po-tensi reflektif diri kita selewat debat dan permusuhan seputar itu tak bisa diatasi dengan selain argumen subjek-tikal guna menyambut tibanya tanggung-jawab sosial seni di mana-mana. Kedua pihak, pada masing-masing garis perseberangannya sama berseru bahwa, ya, seni adalah soal kagunan juga, dan hampir boleh di-pastikan bagian terbesar dari kita senang hati memanfaatkan ini, tersebab dari situlah keresahan bertahun kita seakan terjawab: seni ialah tidak lain kebutuhan akan zamannya. Dan mungkin baru hingga saatnya penolakan represif kita akan laku pemahlawanan berangsur lenyap dan membiarkan seni dan zamannya tertinggal semata-mata dokumen, di saat keduanya menyingkir dari kebutuhan-kebutuhan manusiawi, kedua mata kita akan terperangahi keindahan yang tak cepat tertarai pada apapun kembali selain dalam warna, komposisi, suatu garis, bidang, dan kita akan dengan tenang menambahi awalan dan imbuhan padanya: kewarnaan, kegarisan atau kebidangan, dan di saat kebebasan untuk melaksanakan upaya pengetahuan atas seni bergerak teruji, segenap unsur kreatifa yang murni dan sungguh, berpeluang menggembirakan temuan-temuan bentukan mengilham yang tersampaikan ke diri kita.
Ugeng T. Moetidjo adalah seorang penulis dan pelukis. Ia menjadi editor Karbon sampai 2002 dan saat ini sering terlibat dalam penulisan naskah teater di Jakarta, menjadi Koordinator Penelitian & Pengembangan di ruangrupa, serta aktif di Forum Lenteng, Jakarta.
Berkas perkara: keindahan lawan kesezamanan
Berkas perkara: keindahan lawan kesezamanan

Taring Padi. Proses Pengerjaan baliho di Sanggar Ciliwung.
Foto koleksi ruangrupa, 2000.
____________________________________________
KARBON 1
Keindahan lawan kesezamanan
November 2000
Edisi pertama jurnal Karbon terbit dalam dua bahasa, Indonesia-Inggris, pada 2000 dengan oplah 1000 eksemplar dan dibagikan gratis ke sejumlah ruang seni di dalam dan luar Indonesia. Edisi ini membahas tentang seni publik dan seni di ruang publik; dua pemikiran berbeda yang sering menjalin kerancuan dalam kritik seni rupa kontemporer Indonesia.
Editor: Ade Darmawan, Hafiz, Ugeng T. Moetidjo
Penerjemah: Lasya Fauzia, Theresia Anggraeni, Trisniati Ekaningsih, Yenny Lesiase
Desain Grafis: Ronny Agustinus
Sampul muka: Proses Pengerjaan baliho karya Taring Padi di Sanggar Ciliwung
Sampul belakang: Project mock up oleh Apotik Komik
Dua bahasa, Indonesia & Inggris.
1000 eksemplar.
17 x 22 cm.
84 halaman.
Isi hitam-putih.
Sampul warna.
Rp 35.000
Tidak semua tulisan dimuat dalam jurnal-online Karbon ini. Versi lengkap sedang dalam proses pengerjaan.
Edisi ini sudah habis. Untuk pemesanan, kami hanya bisa menyediakan format fotokopi.
Harga sudah termasuk ongkos kirim untuk di pulau Jawa. Untuk informasi lebih lengkap, Anda bisa menghubungi editor@karbonjournal.org.


