KARBON 7 | Januari 2006
KARBON 6 | April 2004
ruangrupa, Jakarta, 13 Mei 2003
Pembicara: Antariksa (peneliti, pengurus Kunci Cultural Studies Center, Yogyakarta)
Moderator: Farah Wardani (kurator, kritikus seni)
Bersama Dimas Jayasrana (seniman), Lulu Ratna (pendiri dan pengurus Boemboe),
Katinka van Heeren (peneliti), Indra Ameng (seniman, koordinator program ruangrupa), Ade Darmawan (seniman, pimpinan ruangrupa)
Antariksa: Arah penelitian ini sebenarnya ingin melihat perkembangan antara gagasan kemajuan dan minat saya terhadap industri seni pertunjukan, khususnya bioskop, dimana wacana kemajuan itu secara garis besar selalu dikaitkan dengan teknologi audio-visual.
Dipelopori Amerika sejak 1930-an, bisnis bioskop mulai dikaitkan dengan bisnis lain, seperti pakaian, rokok dan minuman ringan. Dari Lollypop, Popcorn, hingga Coca Cola setelah Perang Dunia II, yang kemudian diinternasionalisasikan. Bioskop Indonesia sendiri baru pada 1950-an mulai terkait dengan bisnis-bisnis lain tersebut. Sebelum itu, bioskop hanya sebagai tempat pemutaran film, dimana kemajuan teknologi itu dipamerkan, seperti kamera foto, hingga kemudian radio.
Kemajuan di Indonesia dalam hal ini muncul pada masa Dandels pada 1870, di mana Undang-undang Agraria diberlakukan. Setelah itu, orang-orang asing mulai membeli dan memiliki tanah, yang kemudian dijadikan perkebunan, pabrik dan lain sebagainya. Bahkan bangsawan Jawa tidak punya hak untuk mengelola perkebunan, mereka hanya diberi jatah sekian persen dari hasilnya. Kepemilikan tanah tersebut terkait dengan gagasan kemajuan. Setelah itu, muncul jalan raya, jalur kereta api, hingga meningkatnya urbanisasi, nilai-nilai baru, dan moralitas baru. Masa itu bersamaan dengan diberlakukannya zaman etis pada pergantian abad dari 1890-an hingga 1990-an, dimana sekolah dibangun, penerbitan buku dalam bahasa Melayu diberlakukan, kemudian berkembangnya industri perkebunan dan batik di kota baru seperti Solo, Batavia dan Yogyakarta.
Sebelum muncul bioskop pertama di Indonesia, sekitar 2-3 tahun sebelumnya di Jakarta ada seorang Belanda bernama Talbot dan seorang Perancis yang mulai membuat “gambar hidup”, berupa rangkaian foto yang disusun, yang biasanya diputar di taman Monas dan depan stasiun dan pasar.
Bioskop pertama hadir di Tanah Abang pada 5 Desember 1900. Namun ini adalah rumah seorang kaya Belanda yang dirubah begitu saja dengan susunan kursi-kursi. Mereka menjual tiket yang sangat mahal, hingga mayoritas penonton tentu orang Belanda.
Setelah munculnya gedung bioskop ini, gagasan budaya urban kemudian berubah lagi. Mulai banyak perjudian dan taruwan. Judi sebelum munculnya bioskop memang sudah ada, namun tidak dalam kaitan perkembangan dari zaman etis dan kebijakan agraria tersebut. Ini benar-benar perjudian yang muncul karena adanya bioskop. Juga mulai ada preman. Di koran-koran pada 1900-an, banyak sekali surat pembaca yang mengeluhkan perjudian, pelacuran, dan tawuran di bioskop.
Dengan munculnya gedung bioskop, sedikit demi sedikit seni pertunjukan tradisional keliling juga mulai mati, puncak kematiannya ada pada 1930-an. Gagasan bagaimana budaya visual terkait dengan teknologi ini kemudian juga berkembang pada gagasan tentang kelas. Ini adalah Cina dan Slam (menunjuk presentasi slide). Slam itu orang Islam (pengunjung tertawa), ini iklan pada 1905. Pada masa itu ada beberapa kelas, kelas Loge, kelas satu, dua dan tiga. Kelas Loge itu khusus dengan ruang tersendiri untuk orang-orang Eropa dan kulit putih pada umumnya. Kelas dua adalah orang-orang Tionghoa dan Cina, sebagian besar orang Eropa dan India. Kemudian kelas tiga, itu khusus orang Jawa dan Islam, dimana akhirnya muncul istilah kelas kambing, karena waktu itu orang Islam berjenggot semua, dan mereka nonton di kelas yang paling murah (pengunjung tertawa).
Kemudian kita lihat ada unsur politis di sini. Dalam gerakan nasionalisme Indonesia, organisasi Islam mulai tumbuh. Dan ini salah satu cara Belanda untuk memaparkan pembagian kelas. Yang diatas menentukan semuanya dari politik hingga moral; yang nanti akan kita bicarakan lebih lanjut.
Sebelum iklan ini (dalam presentasi slide diskusi ini), sebenarnya laki-laki dan perempuan dicampur, tapi kemudian orang-orang Islam di Jakarta protes. Akhirnya dibuat terpisah untuk laki-laki dan perempuan bagi kelas Islam, kecuali bagi suami-istri.
Lulu Ratna: Suami-istri di tempat tersendiri?
Antariksa: Sayangnya saya tidak tahu, tapi dibolehkan suami-istri itu nonton bersama.
Dimas Jayasrana: Bagaimana orang-orang Islam itu punya kekuatan untuk memaksa hingga itu terjadi?
Antariksa: Saya tidak punya data tentang hal itu. Tapi pandangan saya adalah bahwa film adalah salah satu pembentukan moral. Film pertama yang diputar itu adalah film dokumenter, yang digunakan untuk menunjukkan tingginya moralitas orang-orang Eropa dengan menampilkan kemewahan. Jadi Belanda sangat punya kepentingan dalam film, sasaran mereka adalah kelompok-kelompok yang punya potensi melawan. Sebagian kemudian mudah diatur, namun Islam sendiri punya kekuatan yang cukup besar waktu itu. Ada satu kasus sekitar 1911-1912-an, dimana satu bioskop diboikot oleh orang Jawa dan Islam, karena menampilkan gambar-gambar yang bertentangan dengan keyakinan mereka, misalnya, perempuan berkulit putih yang kelihatan baik-baik, tapi setelah bertemu dengan lelaki ia berciuman (pengunjung tertawa). Pemboikotan itu saya kira yang pertama, terjadi di dua kota, Jakarta dan Semarang. Kemudian terjadi lagi pada 1960-an ketika PKI dan Serikat buruh dan pekerja film memboikot film-film Amerika.
Ade Darmawan: Waktu itu agen pemutaran film itu perorangan atau bagaimana?
Antariksa: Perorangan. Pada 1900 itu baru si pemilik, belum ada nama, kemudian bernama menjadi Royal Base. Pada 1900, hanya dia satu-satunya yang mendatangkan film ke Hindia Belanda, itu berlangsung hingga 1905. Kemudian terdapat 2 agen pengimpor film lainnya. Jadi biasanya mereka agen pengimpor awal abad 20 sekaligus pemilik gedung Bioskop.
Dimas Jayasrana: Kemudian muncul juga budaya calo?
Antariksa: Saya tidak sempat mewancarai orang di dunia film pada 1920-1930-an yang mayoritas sudah meninggal. Tapi di sebuah majalah kecil khusus film pada 1951, ada surat pembaca yang mengeluhkan bahwa calo sudah semakin banyak. Sebelum 1950-an saya tidak tahu.
Kemudian pada 1916 mulai ada undang-undang film yang dikaitkan dengan moral. Karena pada tahun 1916 film Amerika mulai masuk, yang sama sekali berbeda dengan film Eropa yang mayoritas dokumenter. Mereka menemukan paha, pantat, buah dada walau belum seberani blue film. Oleh Belanda hal itu dianggap berbahaya karena merusak citra moral kulit putih. Kemudian mulai ada komisi sensor, walau masih kacau balau. Seperti sekarang, lebih banyak badan sensor main potong saja.
Pada 1916-1925 mulai ada sensor. Ada pasal yang menarik, di mana pegawai badan sensor negara boleh sewaktu-waktu melakukan pemeriksaan ke gedung bioskop, dan diatur dalam pasal yang jelas, bahwa pemilik bioskop tidak boleh menolak untuk memberikan fasilitas-fasilitas ini dan seterusnya, di situ mulai terlihat campur tangan negara dalam bidang moral yang berkaitan dengan film.
Berkaitan dengan pertanyaan Dimas tadi, apakah ada golongan-golongan pribumi yang menonton? Tentu ada. Dengan cara, karena mereka tidak bisa masuk bioskop karena selalu ada pengawas, jadi film yang masuk Hindia Belanda mereka sogok dulu badan sensor sebelum disensor. Kemudian mereka melakukan pemutaran di hotel atau di rumah orang kaya pribumi dengan sebagian golongan Eropa yang ikut menonton. Jadi mereka bisa menonton film yang belum disensor.
Tapi kemudian konsekuensinya di bioskop, banyak sekali keluhan karena film-film itu terlalu pendek dan tidak ada ceritanya karena dipotongnya ngawur. Akhirnya hanya orang kaya saja yang bisa menonton lengkap, kalangan menengah kebawah harus menonton film potongan. Akhirnya Bioskop membuat strategi berupa film sortie; kumpulan potongan-potongan film, dikumpulkan menjadi satu. Itulah yang ditonton oleh orang pribumi di kelas paling bawah. Jadi untuk kelas kambing seperti yang tadi saya bilang, setelah munculnya ordonansi 1916 dan kemudian 1965, orang-orang pribumi hanya menonton film-film sortie.
Saya sempat mewawancarai nenek teman saya yang sempat mengalami masa itu. Suasana kala itu sangat kacau, orang-orang berteriak, ada yang bercinta di belakang dan macam-macam. Karena ada data tentang munculnya kebiasaan seksual baru di bioskop.
Untuk kelas bioskop yang lebih mahal, mereka memutar film-film baru, sementara bioskop murah memutar film yang lebih lama dan filosofis. Pada 1926 mulai ada film berbicara di Amerika, namun baru masuk Indonesia pada 1929.
Kemudian ada pembagian bioskop sound dan bioskop silent, hingga terjadi kelas lagi, yang kaya nonton di bioskop sound, yang miskin di bioskop silent. Saya belum menemukan data apa yang terjadi di luar negeri, tapi sekitar tahun 1915 hingga 1920-an, improvisasi teknologi itu sudah ada di Indonesia, misalnya dengan memutar film, kemudian di belakang ada yang bicara untuk mengisi suaranya (pengunjung tertawa).
Jadi sebelum 1929 itu sudah ada film yang diisi suara. Waktu jaman Jepang, karena film yang diputar itu berbahasa Jepang, dan film Jerman sekutunya, orang-orang tidak mengerti. Akhirnya sebelum film diputar, biasanya ada juru cerita (pengunjung tertawa), dia menceritakan sinopsis. Biasanya juru cerita itu si pemilik Bioskop, atau wakil pemerintahan Jepang jika ia tidak mengerti bahasa Jepang. Dan tentu saja sinopsis ini sudah ditafsirkan, jadi seperti kritik film sebelum film itu dimulai (pengunjung tertawa).
Kemudian pada 1940 ada ordonansi yang mengatur sensor besar-besaran. Saya akan lanjutkan dengan kebudayaan yang mulai berubah seiring dengan budaya visual itu. Pada 1940-an seorang penulis Jawa dengan nama samaran Anak Kota Mini (pengunjung tertawa), bercerita tentang permainan tradisional anak-anak yang mulai hilang. Jenis permainan bertambah dengan koboi-koboian, pistol-pistolan, pelepah pisang jadi kuda-kudaan, tali jemuran dijadikan laso (pengunjung tertawa). Perubahan itu juga terekam pada novel Student Hijau karya Marko Katrodipromo, yang menggambarkannya dengan penggunaan bahasa belanda, lampu listrik, nonton film di bioskop, pergi ke restoran, dan minum limun (pengunjung tertawa).
Kemudian di zamannya, PKI menuntut pengurangan pajak untuk masuknya film-film India, Melayu, Filipina, dan sebaliknya menuntut pemboikotan film-film Amerika. Masa 1960-an yang sangat keras, sampai ada pembakaran gedung-gedung bioskop yang tetap memutar film Amerika.
Pengunjung: Apa kemudian yang membuat budaya visual begitu berpengaruh pada masyarakatnya?
Antariksa: Saya tidak mau mengatakan pengaruhnya sangat kuat secara langsung, tapi ini selalu didukung oleh struktur ekonomi dan politik tertentu. Jika kembali pada awal abad 20, alasan orang menonton pun punya latar belakang politik etis, membolehkan pribumi mengikuti gaya hidup barat lewat buku, bioskop, tentara dapat diskon, bangsawan dapat diskon, orang Islam diberi harga murah. Ada politik etis di situ.
Setelah 1930-an ketika mulai ada koneksi dengan Amerika, ada kepentingan ekonomi dan politik yang sangat besar. Seperti ketika terjadi perdebatan besar dari 1940-an tentang perbedaan Barat dan Timur, kita harus jadi Barat untuk modern, atau berbagai komentar lainnya. Juga pada 1940-an, orang pergi ke bioskop juga didukung oleh gagasan tentang sebuah negara baru. Pada masa itu banyak kedutaan besar yang ditutup karena hancur, dibakar, atau dijadikan markas tentara. Industri bioskop bisa dikatakan mati, dan mereka membangunnya lagi dengan cara menjadi bioskop sebagai tempat pengumpulan amal, mereka menjual gagasan nasionalisme.
Sayangnya, saya memang tak bisa menyatakan langsung seperti itu, mungkin seperti ini jika dibuat kesimpulannya: kalau budaya visual ingin membuat perubahan di wilayah lain, ia harus didukung oleh gerakan lain, dengan kebijakan negara, misalnya… Karena film kemudian punya peran yang penting. Saya punya kliping tentang bagaimana kotornya kontrak-kontrak dagang antara Indonesia dan Amerika di bidang budaya visual. Segala macam merchandise yang menekan Indonesia, karena kalau tidak setuju, ekspor Indonesia yang lain bisa dibatasi.
Seandainya film Indonesia mau bangkit kembali, memang harus ada regulasi yang lebih luas, seperti perdagangan dan lainnya, walau saya tak tahu persis apa yang harus dilakukan untuk mencapai itu. Jelas harus ada strateginya. Tentang kuota saya tidak begitu mengerti, karena itu pernah dilakukan di zaman PKI dan gagal. Film Amerika pernah diboikot sama sekali dan orang tidak mau pergi ke bioskop karena film Indonesia, Malaysia, Philipina saat itu jelek. Lalu mau apa lagi?
Dimas Jayasrana: Sedkit menambahkan tentang peran politik dalam menentukan perkembangan bioskop, dulu Usmar Ismail atau Sumandjaya—saya lupa siapa diantara keduanya—pernah mengatakan bahwa kita tak perlu takut dengan gempuran film-film Barat, karena semestinya orang Indonesia punya kecerdasan tersendiri untuk memilih. Tapi pernyataan itu meleset, bukan dalam hal tentang kecerdasan, tapi gempuran itu memang terlalu kuat, sama sekali tidak sederhana karena banyak komponen yang bermain di sana.
Antariksa: Sementara di luar negeri bioskop tetap hidup karena sudah jadi kebiasaan dan bahkan budaya, di Indonesia kegagalan bioskop ditujukan pada pengaruh TV, VCD, dan pemutar DVD. Terlebih karena tak adanya sensor di video orisinal itu. Dulu ketika pabrik TV pertama Indonesia pada awal 1960-an di Cipayung dibuat demi persiapan Sea Games, serentak bioskop menawarkan kecanggihan yang tak dimiliki TV, mulai layar lebar, standar kursi, hingga suara, namun bioskop tetap kalah.
Katinka van Heeren: Bukannya itu baru benar-benar terjadi karena adanya TV swasta pada 1993?
Antariksa: Untuk Jawa, ya, TV swasta saat itu sudah seperti studio elegan. Tapi untuk luar jawa rontoknya bioskop dimulai sejak satelit palapa. Kemudian mati sama sekali setelah ada RCTI.
Indra Ameng: Bagaimana dengan layar tancep?
Antariksa: Layar tancep itu berbeda lagi, sebenarnya. Berdasarkan wawancara, pada zaman Belanda film keliling itu disebut Bioskop Pes, karena film yang diputar selalu tentang penyakit Pes di desa-desa. Kemudian bioskop keliling itu dijadikan propaganda pada zaman Jepang. Bahkan data saya mengatakan mereka mendatangkan ahli bioskop keliling langsung dari Jepang untuk itu.
Sampai sekarang layar tancep itu masih ada, yang paling maju di Jakarta dan Bandung. Tapi ketika saya kecil, film tersebut merupakan propaganda partai, dari penemuan Keluarga Berencana, pembangunan 5 tahun Orde Baru, iklan Nyonya Meneer, Djarum, dimana iklan itu juga tetap sebagai propaganda. Kalau sekarang saya tidak tahu film apa yang diputar.
Dimas Jayasrana: Di Pasar Minggu, orang tetap tertarik dengan film Indonesia terutama yang bacok-bacokan itu, seperti Barry Prima atau Jaka Sembung. Tetangga saya yang pengusaha layar tancep bilang, dari film yang memang bisa dipilih jika kita punya acara, film Amerika tetap jadi prioritas kedua. Dulu yang top rating tetap Satria Bergitar-nya Rhoma Irama, Dono Kasino Indro; apapun judulnya, Barry Prima; apapun judulnya, dan Advent Bangun; apapun judulnya. Jadi lebih ke film laga. Bahkan di Pasar Minggu, ada budaya ketika filmnya tidak memuaskan, penonton akan menonton tiang dan pertunjukan selesai, itu sangat sering terjadi. Film Amerika mulai merambah ke penonton layar tancep setelah film Rambo I. Entah kenapa…
Layar tancep kemudian jadi gengsi tersendiri bagi si pemilik acara. 35 mm itu istilahnya layar lebar, dan 16 mm itu layar kecil untuk kelas menengah ke bawah. Di layar tancep itu juga digelar berbagai perjudian, berbagai keributan untuk mengambil keuntungan, yang terkadang juga sudah direncanakan antara preman dan pemilik.
Pengunjung: Bagaimana dengan hak cipta pada layar tancep?
Antariksa: Ada organisasinya yang mengurus itu. Dan karena layar tancep adalah pesta, dimana ada dangdut, keconcong, judi, sirkus, hingga kemudian sempat dilarang diadakan pertunjukan film di lapangan terbuka, karena faktor kriminalitas dan keamanan.
Gaya berbagai macam hiburan itu kemudian dilakukan lagi setelah 1940-an. Masa itu film Amerika sulit karena habis perang, lalu film Amerika di boikot, film jadi sedikit, tersisa hanya film Malaysia, India, Philipina. Akhirnya pengusaha bioskop ini membuat hiburan sebelum pemutaran, dari mulai sandiwara, keroncong, di dalam gedung (pengunjung tertawa). Itulah mengapa di bioskop agak tua, biasanya ada panggung di depannya. Dulu yang paling terkenal di Yogyakarta adalah Gedung Indra; singkatan dari Indonesia Raya. Bahkan pernah ada sebelum pertunjukan film, digelar pertandingan tinju (pengunjung tertawa), sulap, pertunjukan ular, jumpa bintang film atau lomba mirip artis. Itu cara pengusaha bioskop untuk mempertahankan bisnisnya.
Jika melihat dari yang terjadi di luar negeri, budaya menonton bioskop itu tidak mati. Tapi masalahnya lebih pada aspek pengelolaan yang memang belum kita bicarakan. Misalnya, ketika film Amerika diboikot, mereka melakukan hiburan seperti itu. Sekarang ini ketika bioskop 21 melakukan monopoli, kita masih punya banyak strategi. Bioskop Mataram, salah satu yang masih hidup dari tiga bioskop di Yogyakarta sekarang, setiap bulan selalu ada fashion show, atau pesta-pesta untuk mempertahankan bisnisnya, meskipun Bioskop Mataram adalah jaringan 21 juga, sebetulnya.
Itu dari sisi pengelolaannya. Saya belum mewancarai bioskop di Jakarta memang, tapi sudah untuk beberapa kota di luar Jakarta. Standar 21 itu sangat mahal dari segi peralatannya, jadi butuh modal untuk itu. Belum lagi pajak tontonan dari Pemda yang bisa mencapai 15% (pengunjung mengeluh). Pada 1950-an kapasitas bioskop bisa sampai 1600 orang, sekarang hanya sekitar 600-an. Bagaimana kemudian jika filmnya tidak laku dan masih dipotong 15%? Pajak tontonan itu harus diregulasi, termasuk regulasi distribusi film dimana 21 yang main kotor ini mesti dibersihkan (pengunjung tertawa).
Pengunjung: Di samping itu juga masalah hak cipta dan pembajakan. Gagasan bahwa bioskop adalah layar lebar dengan sistem suara bagus sangat kecil dipahami orang. Yang penting sudah nonton film, kita bisa beli bajakan dari film yang belum keluar.
Katinka van Heeren: Juga harga, VCD bajakan Rp. 3.000, DVD bajakan Rp. 6.000, sementara bioskop 20 ribuan lalu kita kedinginan (pengunjung tertawa)…
Pengunjung: Dengan masuknya VCD dan DVD bajakan ke daerah-daerah terpencil, jadi mungkin yang tersisa hanyalah eksotisme. Karena saya pribadi terkadang masih berpikir, untuk film seperti, harusnya saya menonton di bioskop, bukan di DVD…
Lulu Ratna: Saya pikir memang karena sejarah kita tidak menjadi saksi penemuan teori itu sendiri. Sampai sekarang, mungkin orang tidak tahu sejarah bioskop seperti yang Antariksa paparkan. Jadi pemahaman itu sangat kurang, hingga orang terus-menerus gagap…



Gambar-gambar koleksi Antariksa.
____________________________________________

KARBON 7
Tigabelasan
April 2006
Setiap bulan di tanggal 13, sampai 2006. ruangrupa mengadakan Tigabelasan, diskusi seni-budaya yang mengundang berbagai pembicara. Edisi ini adalah transkripsi dari diskusi terpilih. Baru dua diskusi yang kami tampilkan disini dari tujuh diskusi yang ada dalam edisi cetak jurnal Karbon. Penampilannya kembali dalam situs ini akan kami lakukan kemudian.
Editor: Ardi Yunanto, Andang Kelana, Lola Kandina, Agung Hujatnikajenong
Desain Grafis: Ardi Yunanto
Sampul: “O” oleh Irwan Ahmett
Terjemahan: Che Kyongfa, Agung Hujatnikajenong, Rani Ambyo, Farah Wardani.
Editor Terjemahan: Che Kyongfa, Agung Hujatnikajenong, Dimas Jayasrana
Dua bahasa, Indonesia & Inggris.
1000 eksemplar.
17 x 22 cm.
84 halaman.
Isi hitam-putih.
Sampul warna.
Rp 35.000
Harga sudah termasuk ongkos kirim untuk di pulau Jawa.
Untuk pemesanan Anda bisa menghubungi editor@karbonjournal.org.





Komentar