Saya pernah membayangkannya—maaf—seperti “mesin” yang bekerja mangkus dan sangkil (berhasil guna dan berdaya guna) di dalam sebuah “kotak putih” yang paling kita gemari selama lebih kurang 20 tahun terakhir ini. Apa lagi kalau bukan sebuah galeri?
Ia berkomunikasi melalui mesin itu, memperkenalkan sekaligus mengekalkan diri dengan cepat bersama orang-orang yang ada di sekitarnya, meringkusnya di dalam sebuah mesin bernama (alat) fotografi. Beberapa hari atau minggu kemudian, kita akan menerima hasil produksi mesin Melani: kita berada di antara orang-orang yang tampak aktif dan bergembira di dalam sebuah peristiwa pameran atau di sekeliling acara sarasehan atau diskusi, makan-makan, sambutan-sambutan, kongkow, salam-salaman, berhaha-hehe di depan lukisan atau mejeng di dekat karya-karya seni rupa, dalam foto-foto bersama Melani.
Di dalam foto-foto itulah kita akan melihat kembali wajah-wajah para seniman, kolektor, pemilik galeri, kurator, art dealer, wartawan seni dan teman-teman mereka dari berbagai kalangan pada suatu tempat dan waktu. Di antara semua itu, Melani niscaya ada di sana, apakah di tengah atau di pinggir, di sebelah Anda atau di sisi orang lain yang Anda sendiri tak kenal; ekspresi wajahnya bahkan hampir tak berubah untuk semua foto itu. Foto bagi Melani tampaknya lebih berperan untuk mengekalkan atau mengukur kesamaan-kesamaan ketimbang kebedaan. Yang selalu sama di dalam foto itu tentunya adalah kehadiran terus-menerus Melani.
Saya beberapa kali menerima foto-foto yang dibungkus dalam sebuah amplop, dengan nama dan alamat lengkap pengirim, “Dr. Melani W. Setiawan, MSc, Jl. Arjuna________". Saya selalu merasa pasti, sudah tahu apa isinya, yakni foto-foto berwarna berukuran 3 R, tapi selalu juga terkejut karena seakan diingatkan lagi akan saat dan peristiwa yang sudah—terkadang memang perlu- dilupakan begitu saja. Di situlah mesin pengingat Melani hadir.
Di dalam foto-foto yang Anda terima dari Melani, Anda akan selalu melihat dua unsur pokok: Anda sendiri dan Melani. Tak peduli siapa pun Anda, tapi agaknya perlu Anda perhatikan atau pastikan bahwa di situ Anda hadir bersama dengan Melani di dalam foto itu. Anda juga tak akan menerima foto Melani di sana, tanpa Anda dan yang lain-lain. Di sebalik foto itu tak ada keterangan apapun; rupanya foto itu memang tak memerlukan penjelasan apa-apa lagi kecuali apa yang dapat kita lihat pada foto itu sendiri. Malahan dapat dipastikan pula, foto-foto yang Anda terima dari Melani sebagian adalah juga foto-foto yang sama yang disimpan di album foto Melani.
Anda boleh bertanya, siapa Melani? Mungkin tak semua dapat menjawabnya, namun mustahillah bila Anda tak dapat membedakan “yang mana Melani” dan mana yang “bukan Melani” di dalam foto-foto itu. Tapi perlu juga Anda bertanya lagi, siapa Anda di dalam foto itu? Jangan lupa, Anda hadir di dalam foto itu karena ada sebuah mesin yang telah bekerja dengan mangkus dan sangkil, sebuah alat foto yang selalu berada di tangan Melani. Melani tak dapat dipisahkan dengan alat itu seperti halnya Anda tak mungkin lolos dari jepretan bersama Melani.
Anda dan Melani di dalam foto itu adalah publik yang mengunjungi pameran-pameran seni rupa, ritualnya, pasarnya, gosipnya, persaingannya dan sebagainya. Di tempat-tempat itulah Melani menemukan pertama-tama publik seni rupa, baru yang kedua adalah karya-karya. Anda tak akan pernah melihat Melani memotret sebuah lukisan, misalnya. Ia jauh lebih tertarik dengan penonton yang ada di sekitar lukisan itu dan menjadi bagian dari penonton itu, yang entah apa persisnya hubungannya dengan karya yang seringkali hanya menjadi latar belakang atau terpotong oleh deretan orang yang dipotret.
Dengan melihat ribuan foto yang sudah dibuatnya selama puluhan tahun di dalam berpuluh album, barulah kita dapat melihat semacam transformasi yang diam-diam terjadi di dalam lingkungan seni rupa di sekitar Melani. Barangkali juga transformasi di dalam diri Melani sendiri. Ada masanya di mana seorang pelukis tertentu tampak sering muncul di dalam foto-foto bersama Melani, lalu menghilang dalam masa yang lain. Atau kegiatan pameran di sebuah galeri tertentu, dengan orang-orang yang itu-itu juga selama rentang waktu tertentu. Kelak ribuan foto itu jika dijajar akan memperlihatkan tren-tren tertentu di dalam medan sosial seni rupa yang sering dikunjungi oleh Melani.
Saya sendiri tak dapat membayangkan apa yang dipikirkan oleh Melani tentang publik semacam itu, tanpa dirinya sendiri ada di sana.
Jika Anda menyadari bahwa di masa kini realitas kita seakan tak dapat dipahami tanpa selembar foto, Anda pasti akan setuju dengan cara kerja mirip mesin Melani: mengajak Anda berfoto, berfoto dan terus berfoto. Mungkin karena bagi Melani, publik semacam itu tak pernah memancarkan aura, sedangkan karya seni rupa sebaliknya.
Hendro Wiyanto adalah seorang kritikus, penulis dan kurator seni rupa. Tinggal dan bekerja di Jakarta, Indonesia.
Melani Machine
Melani Machine
Hendro Wiyanto
04 April 2004







Foto-foto koleksi Dr. Melani W. Setiawan.
____________________________________________

KARBON 6
Pemirsa
April 2004
Publik seringkali hanya menjadi penonton pasif dalam dunia seni rupa kontemporer. Edisi ini mengambil elemen-elemen terdekat dari kehadiran mereka, meliputi penyelenggara acara, pengelola ruang seni dan pemilik galeri, juga menghadirkan perspektif pemirsa dalam memandang seni rupanya sendiri.
Editor: Farah Wardani, Ardi Yunanto
Desain Grafis: Ardi Yunanto
Sampul: Self Portrait With Ade Darmawan, FX Harsono & Agus Suwage oleh Henry Foundation
Penerjemah: Farah Wardani, Lia Palupi
Dua bahasa, Indonesia & Inggris.
1000 eksemplar.
17 x 22 cm.
84 halaman.
Isi hitam-putih.
Sampul warna.
Rp 35.000
Harga sudah termasuk ongkos kirim untuk di pulau Jawa.
Untuk pemesanan Anda bisa menghubungi editor@karbonjournal.org.
KARBON 1 | November 2000
KARBON 1: KEINDAHAN LAWAN KESEZAMANAN
Marco Kusumawijaya
KARBON 1: KEINDAHAN LAWAN KESEZAMANAN
Ugeng T. Moetidjo
KARBON 2 | April 2001
KARBON 3 | Februari 2002
KARBON 4 | September 2002
KARBON 5 | Mei 2003
KARBON 6 | April 2004
KARBON 7 | Januari 2006
KARBON 7: TIGABELASAN: Diskusi Seni Visual
Hikmat Darmawan


