KARBON 7 | Januari 2006

KARBON 7: TIGABELASAN: Diskusi Seni Visual
Pengantar
KARBON 7: TIGABELASAN: Diskusi Seni Visual
Antariksa
KARBON 7: TIGABELASAN: Diskusi Seni Visual
Hikmat Darmawan

KARBON 6 | April 2004

KARBON 6: PEMIRSA
Pengantar
KARBON 6: PEMIRSA
Ade Darmawan dan Ardi Yunanto
-A A +A
Versi ramah cetakPDF version
KARBON 6 | April 2004
Memandang pemandang
Ade Darmawan dan Ardi Yunanto
02 April 2004

Pemirsa, penonton atau publik dalam seni selalu menarik untuk dibicarakan. Terlebih jika memandang analisa mengenainya yang tak pernah secara mendalam dilakukan. Selama ini perbincangan tentang itu dalam media, dengan tajuk apresiasi, hanya menjadikannya sebuah kata sifat yang tak mampu bergerak. Dan layaknya kata, ia berkembang diluar pelakunya sendiri. Berbagai macam usaha pemetaan kemudian hanya dan terus berulang dalam perspektif pewacana. Jika kemudian, banyaknya publik yang datang dalam sebuah acara menjadi ukuran keberhasilan, itu tidaklah mengherankan. Karena opini publik, memang cenderung berada di luar permasalahan seni, berbicara tentang keseharian dalam realitas mereka. Dan itu tentunya bukan sesuatu yang diharapkan untuk menjadi diskursus baru dalam seni, untuk diperbincangkan, selama usaha pengukuhan seni di dalam masyarakat tak pernah melibatkan publik secara langsung, bahkan dari segi opini yang terkecil.

Apa yang diharapkan dari publik memang bukanlah perbendaharaan teori seni, karena itu bukanlah keseharian mereka. Sebuah inti terlupakan, tentu saja. Karena keseharian itu sebenarnya yang dibidik secara artistik oleh dunia seni, sehingga secara tidak langsung menistakan publik sebagai kebodohan atas dasar persepsi artistik yang baku. Hal ini merupakan ironi terbalik karena sesungguhnya publiklah yang melakukan, dan dengan sendirinya lebih mengerti apa itu keseharian. Sehingga arti apresiasi disini, tampaknya juga harus diredifinisi kembali.

Untuk karya kontekstual, kedekatan apresiasi memang ditunjang, karena ia sangat memperhatikan unsur publik, terlebih jika publik kemudian menjadi elemen dari karya tersebut. Namun penuntutan terhadap publik untuk mengerti suatu karya, atau bahkan personal statement didalamnya, tidak harus menjadi utama, ketika justru mengalami adalah sesuatu yang lebih penting untuk dirasakan publik.

Karena karya seni, diluar sisi eksternalnya, telah dipotensikan dengan multi-interpretasi. Sifat beku dan berjarak dari sesuatu yang direpresentasikan, sesuai dengan jenis karya itu sendiri. Lukisan dan instalasi sebagai misal, secara medium memaparkan arti kedekatan apresiasi itu atas pengalaman visual publiknya. Dan seni lukis mungkin merupakan contoh terbesar sebuah usaha pengukuhan ketunggalan interpretasi yang sebenarnya lebih mengacu pada pernyataan personal seniman semula.

Multi-interpretasi sebuah karya tersebut adalah keadaan yang harus digali lapis demi lapisnya, melewati fase personal dalam skala prioritas kualitas, sebelum tereksekusi dan dihadirkan dalam presentasi kepada publik. Karena sepenting apa sebuah karya perlu dipamerkan dalam usahanya mencapai publik luas untuk diapresiasi? Dan seberapa penting itu secara konseptual bagi karya itu sendiri? Ini merupakan pertanyaan penting, sebelum memaparkan sebuah gagasan dalam persoalan yang justru telah lebih intim dialami oleh publik.

Seluruh keadaan tersebut, membuatnya selalu dalam dualisme posisi. Dimana dunia seni rupa yang menganggap publik kurang apresiatif, berhadapan dengan publik yang memandang seniman sebagai sekumpulan mesin produksi benda-benda aneh. Keadaan ini sendiri diperparah oleh tidak kuatnya elemen-elemen antara, seperti institusi, museum, galeri, kritikus, media, bahkan organisasi seni yang seharusnya memperhatikan komunikasi sebagai aspek hubungan terhadap publiknya.

*

ruangrupa, dengan sendirinya mencoba melihat publik sebagai bagian dari proses kreatif secara konseptual, pemikiran yang berangkat dari kesadaran untuk tidak menjauhkan posisi apresiator. Sehingga, sebagai usaha peniadaan dualisme antara pencipta dan pelihat tersebut, tidak mungkin sebuah ketidak-mengertian publik tidak dialami oleh seniman, dan begitu pula sebaliknya.

Setelah 4 tahun, ruangrupa kemudian tumbuh dengan jangkauan meluas laksana ruang publik: sebuah platform yang menarik ketika semua orang dapat berinteraksi tanpa merasa berjarak. Kedatangan publik dari berbagai disiplin ilmu, menciptakan kesadaran untuk lebih fokus pada ragam, seperti halnya seluruh proyek yang selalu multi-dimensi dan berawal dari fenomena urban jakarta. Dimana dengan itu, kami akhirnya mampu membuka akses pada publik yang beragam, bersama terciptanya kedekatan refleksi dari presentasi-presentasi yang ada.

Garbage Sale (27 januari – 21 februari 2003, ruangrupa, jakarta), mungkin merupakan salah satu perayaan atas itu. Ketika semua produk didesakralisasi, baik dalam kolaborasi definisi antara benda seni dan benda sehari-hari, juga dalam praktek nominal pada kisaran harga antara 50 ribu sampai 1 juta. Situasi yang membuka akses lebih bagi publik untuk dapat memiliki karya seniman ternama. Redefinisi, ataupun desakralisasi tersebut (antara benda seni, benda sehari-hari, benda yang dimiliki seniman, atau bahkan benda yang dititip-jualkan begitu saja oleh publik), tidak hanya merubah persepsi publik atas dosa sejarah sakralisasi seni tersebut, namun juga mampu membuat seorang seniman ternama harus menaruh karyanya yang berukuran kecil, yang mungkin terlahir dari persepsi standar harga, yang hanya ditentukan oleh dimensi, bukan karena kualitas.

Keterbukaan untuk lebih melihat publik tersebut, sebenarnya juga diawali dari kebosanan atas tak berkembangnya publik dari setiap organisasi atau institusi seni. Dimana publik hanya melingkar dalam garis yang sama. Sangat jauh dari niat awal untuk membuat seni menjadi tidak ekslusif. Dan demi itu semua, ruangrupa kemudian berusaha masuk ke dalam berbagai media, membebankan informasi, sekalipun itu sulit dimengerti publik. Dan sambutan dari ragam jenis media bersama ragam target pasarnya, setidaknya kemudian membuktikan bahwa publik sebenarnya tertarik, seperti remaja, atau mahasiswa sebagai target terbesar media seperti itu pun, yang kemudian seringkali menjadi kolaborator ruangrupa. Karena pada merekalah sesungguhnya awal dari banyaknya perubahan yang terjadi. Sehingga pengalaman menjelaskan fenomena seni grafis, seni video, atau bahkan seni publik, kepada pelajar, mahasiswa, sampai manajer sebuah mal kemudian merupakan tantangan nyata yang juga harus kami hadapi sebagai seniman.

*

Keterlibatan publik terhadap seni memang sangat berlapis. Seniman menyalahkan infrastruktur dan kemudian berlanjut menyalahkan mekanisme negara yang tak mampu menjadikan seni dan budaya sama pentingnya dengan agenda negara yang lain. Rasanya melelahkan sekali bila lagi-lagi melihat Barat, dimana sistem sosial dan ekonominya sudah sangat jelas berperan dalam setiap aspeknya, hal itu juga mampu menempatkan seniman dan masyarakatnya dalam posisi tertentu. Subsidi yang diberikan pada setiap proyek oleh institusi seni adalah dukungan penuh pajak masyarakat. Dan komunikasi dan informasi yang baik tentang itu, membentuk situasi: dimana publik punya posisi penting pula dalam perjalanan medan sosial seni. Dan hal itu sangat berbeda sekali dengan Indonesia yang pada akhirnya menumbuhkan ketidak-pedulian dengan seni, karena mereka merasa itu tidak berhubungan langsung dalam hidup mereka. Sehingga Amsterdam kemudian bisa ramai ketika Stedelijk membeli “sampah” Damien Hirst, karena di situ ada tanggung jawab, keterkaitan dan tentunya keterlibatan apresiasi publik.

Jakarta, 2006

Ade Darmawan adalah seorang perupa, pendiri dan pemimpin ruangrupa; sebuah artists’ initiative di Jakarta. Ia adalah anggota Dewan Kesenian Jakarta 2006-2009. Saat ini bekerja dan tinggal di Jakarta, Indonesia.

Ardi Yunanto lahir di Jakarta, 21 November 1980. Setelah lulus dari jurusan Arsitektur di Institut Teknologi Nasional Malang pada 2003, ia kembali ke Jakarta, kota di mana ia dibesarkan. Sejak 2004 bergabung dengan ruangrupa, dan sejak 2007 menjadi redaktur utama untuk www.karbonjournal.org. Selain menulis dengan sangat tidak produktif tentang kota dan seni rupa, ia juga bekerja sebagai peneliti untuk beberapa proyek seni-budaya, editor buku, dan desainer grafis, sambil terus berusaha keras menulis fiksi.



"Garbage Sale", ruangrupa, 2003.
Foto koleksi ruangrupa.

____________________________________________




KARBON 6
Pemirsa
April 2004


Publik seringkali hanya menjadi penonton pasif dalam dunia seni rupa kontemporer. Edisi ini mengambil elemen-elemen terdekat dari kehadiran mereka, meliputi penyelenggara acara, pengelola ruang seni dan pemilik galeri, juga menghadirkan perspektif pemirsa dalam memandang seni rupanya sendiri.


Editor: Farah Wardani, Ardi Yunanto
Desain Grafis: Ardi Yunanto
Sampul: Self Portrait With Ade Darmawan, FX Harsono & Agus Suwage oleh Henry Foundation
Penerjemah: Farah Wardani, Lia Palupi

Dua bahasa, Indonesia & Inggris.
1000 eksemplar.
17 x 22 cm.
84 halaman.
Isi hitam-putih.
Sampul warna.
Rp 35.000

Harga sudah termasuk ongkos kirim untuk di pulau Jawa.
Untuk pemesanan Anda bisa menghubungi editor@karbonjournal.org.

Komentar

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.