-A A +A
Versi ramah cetakPDF version

Estetika kebablasan dalam arsitektur masjid Jami’ Al-Baitul Amin

Halim Bahriz
03 Agustus 2011



Memberi prioritas antara “nilai estetis” dan ”nilai fungsi” dalam proses penciptaan arsitektur, barangkali merupakan pertimbangan awal yang harus dibangun dengan kokoh. Seringkali saya membatalkan kekaguman pada karya arsitektur bangunan karena saya menganggap sang perancang “amnesia” atau salah menimbang prioritas atas “nilai estetis” dan “nilai fungsi” tersebut. Saya sepakat jika estetika adalah hal mutlak dalam penciptaan karya seni. Namun dalam arsitektur bangunan, selera estetika sang arsitek harus diberangkatkan dari pemahaman atas fungsi bangunan yang akan dirancangnya.

Menomorsatukan nilai fungsi bukan berarti ”menyapih” nilai keindahan,tetapi mendasarkan pilihan-pilihan bentuk estetika rancangan pada nilai fungsi bangunan tersebut. Contoh beberapa karya cipta dari sedikit karya rancang bangunan yang mampu “mengawinkan” kedua nilai tersebut dengan baik—menurut saya—adalah gedung DPR/MPR RI, Gelora Bung Karno, dan Masjid Istiqlal. Memang harus diakui jika di negara ini, arsitektur yang berhasil memadukan nilai fungsi sekaligus estetika tidak banyak. Ambil contoh masjid Jami’ Al-Baitul Amin di kota Jember, Jawa Timur. Menurut saya, setelah hampir empat tahun hidup di kota tembakau ini, arsitektur masjid Jami’ Al-Baitul Amin secara estetis amboy-lah, tetapi bangunan peribadatan umat muslim yang terletak di sebelah Barat alun-alun kota ini terkesan menganaktirikan nilai fungsinya sebagai tempat peribadatan kolektif (jamaah).

Memahami nilai fungsi suatu bangunan yang akan dirancang saya kira tidak terlampau sulit, apalagi oleh seorang arsitek profesional. Hanya saja kekuatan nilai estetis yang memang menawarkan kepuasan psikologis lebih, seringkali mengecoh. Hal ini yang saya sebut sebagai estetika kebablasan. Nilai keindahannya pun menipu. Coba Anda bayangkan, jika pembangunan jalan layang yang sebenarnya diperuntukkan sebagai penyelesaian atas kemacetan dibangun dengan rumit, berkelok-kelok, memutar berkali-kali, hingga membentuk tokoh pewayangan Gatot Kaca misalnya. Jika kemudian saya berteriak bahwa hal tersebut adalah estetika yang menipu, anggap saja saya sedang berkata jujur sekaligus mengingatkan Anda untuk tidak melintasi jalan layang yang akan memperpanjang perjalanan Anda dengan kemacetan tersebut.

Jami’ Al-Baitul Amin, masjid kebanggaan masyarakat Jember ini, tidak mempunyai kubah yang terpisah di puncak bangunan seperti pada umumnya masjid-masjid di Indonesia, yang dalam hal ini bisa dikatakan sebagai pilihan estetis yang unik dan tidak konvensional. Bangunan masjid ini malah keseluruhannya adalah kubah dari bawah sampai atas sehingga mendapat sebutan sebagai “Masjid Jamur”. Masjid ini mempunyai lima kubah utama dan dua kubah kecil sebagai tempat wudu. Dari lima kubah utama ini terdapat satu kubah yang paling luas. Namun setiap kubah/ruang masjid tersebut tidak memiliki ruang interaksi mata yang memadai untuk pelaksanaan shalat jamaah. Berangkat dari hal tersebut, arsitektur yang mengagumkan dari luar ini sungguh ‘menipu’ ketika kita melihat masjid ini dari fungsi hakikinya sebagai peribadatan kolektif (shalat jamaah).

Shalat jamaah memiliki syarat-syarat tertentu, misalnya ruang tatap mata yang lepas antara makmum dan imam. Seorang ma’mum harus mengetahui gerakan shalat seorang imam,  baik dengan mendengar suara imam ataupun melihat gerakan ma'mum lain. Syarat semacam ini mensyaratkan bahwa ruang tatap antara ma’mum dan imam tak boleh terputus. Dengan konsep rancang bangun yang terpisah dan terbelah antara ruang satu dengan yang lain, arsitektur masjid Jami’ Al-Baitul Amin tentu ingkar pada persoalan syariat tersebut. Selain itu, shaf dalam shalat jamaah diharuskan lurus dan rapat, sehingga bentuk ruang yang melingkar pada masjid ini akhirnya menyisakan pojok-pojok barisan shalat yang menganga.

Barangkali jadi tidak menarik ketika menghubungkan rancang bangunan masjid dengan teknis religiositas (syariat), akan tetapi hal seperti ini dapat menjadi indikasi bahwa sang arsitek tidak terlampau detail mengolah berbagai pertimbangan-pertimbangan sebelum menentukan pilihan estetika yang akan dimunculkan sebagai bentuk visual bangunan. Lepasnya pertimbangan syariat dalam arsitektur masjid Jami’ Al-Baitul Amin ini yang saya sebut sebagai estetika yang mengecoh, menipu, dan akhirnya kebablasan. Adalah kesalahan fatal ketika menganaktirikan nilai fungsi dalam memunculkan kekuatan arsitektur sebuah bangunan atas nama estetika.

Mengawalkan segala pemilihan bentuk-bentuk estetis dalam rancang bangun dari nilai fungsi bukan merupakan pembatasan kreatif melainkan menempatkan estetika dengan bijaksana. Masjid Jami’ Al-Baitul Amin Jember menjadi salah satu arsitektur bangunan yang lalai pada pemrioritasan tersebut. Fungsi teknis religiositas tersebut justru merupakan hal yang penting dalam bangunan semacam masjid atau tempat peribadatan. Menimbang nilai fungsi dengan sedetail-detailnya adalah penting untuk melahirkan estetika yang tidak kebablasan. Disiplin apapun tak akan mampu berdiri sendirian karena begitu banyak hal yang harus ditumbang dan ditimbang.***

 

 

Halim Bahriz adalah mantan Ketua Umum UKM Kesenian Universitas Jember, Jawa Timur, periode 2009/2010. Menyukai dunia seni rupa dan karya cipta visual sejak kecil, ia bercita-cita menjadi arsitek, namun setelah dikandaskan hasil SMPTN, ia menjadi mahasiswa jurusan Sastra Indonesia Universitas Jember angkatan 2007. Ia lalu memutuskan untuk tidak melanjutkan studi sastranya di kampusnya dan lebih memilih beraktivitas di luar kampus. Bersama beberapa temannya, ia sedang merintis Kelompok Tikungan: Tak Harus Lurus, yang berkonsentrasi di wilayah seni dan pertunjukan. Ia pernah memenangkan sayembara penulisan lakon tingkat Jawa Timur. Ia juga sempat aktif melukis, walaupun hari-hari ini lebih banyak menghabiskan waktunya dengan ngopi dan bercanda.

 


Tampak depan masjid Jami’ Al-Baitul Amin di Jember, Jawa Timur.

Masjid Jami’ Al-Baitul Amin dengan kubah, menara, dan halamannya.

Letak masjid Jami’ Al-Baitul Amin di depan jalan raya.

Pola bangunan masjid yang terpisah.

Tampak dalam masjid Jami’ Al-Baitul Amin.

Di lantai dua, ruang tatap makmum dan imam terpisah sempurna.

Desain lantai yang melingkar menciptakan kerenggangan shaf shalat.

Foto-foto koleksi Halim Bahriz, 2011.

 

Komentar

In the guaranteed form, the particular borrower has got to place any collateral and the unsecured credit card form he doesn't need to spot collateral of any sorts. The financial industry provides broad range connected with organizations which often deals with the actual management of cash various types of economic services. But due to increased Pell Allows and regulations and tax breaks, the out-of-pocket (or net) price paid through community college college students actually fell into, the College Table believes It's fairly much more interesting to have a property you may get in touch with your very own, remodel and also prepare it to suit your desire.
No other accessory can make a women appear as erotically sexy as a stiletto heel can. Most designer companies label the items with their logos while others imprint their companies' collage or theme. Sporting an almost even assortment of high top and low top sneakers in numerous looks.
Hello, Neat post. There is a problem along with your website in internet explorer, might test this? IE nonetheless is the marketplace leader and a huge element of people will pass over your excellent writing because of this problem.
Hermes Scarf May perhaps people today may possibly think slightly. There are shapes, sizes, and styles for all occasions, which brings up the second point. Hobo bags are an all in one more or less any having to do with handbag it have an all in one distinctive crescent shape.

Masjid Jami' Jember masih lebih lumayanlah, meskipun jauh dari ciri lokalitas Jember. Paling tidak, dengan masjid yang tega kubahnya bersepuh emas di hadapan sekian banyak rakyat di daerah terpencil yang untuk wudhu pun, mesti berjuang keras. Nama pembuatnya pun mesti dicantumkan agar dunia mengakui eksistensinya... Bentuk kubah, pasti memakan beaya konstruksi yang lebih besar, karena tak sesuai dengan lokalitas Indonesia atau Nusantara yang tropis lembab dan kaya hujan. Dalam al Quran dan al Hadits, belum pernah dijumpai anjran apalagi perintah bahwa masjid harus berkubah dan berminaret. Islam bukan Arab, Arab belum tentu Islam.

Menurut DR. Mohammad Ilyas Abdul Ghani (2004) peneliti Pakistan yang bertahun-tahun menelitinya, Ka'bah mengalami setidaknya dua belas kali perubahan sejak kali pertama dibangun oleh Nabi Ibrahim as dan putranya Ismail as. Selama berabad-abad Ka'bah mencerap ciri kesetempatan Arab. Hal yang sangat perlu menjadi catatan adalah bahwa ada yang tetap tak berubah, yaitu pondasi yang tersusun dari batu-batu yang berasal dari lima bukit yang mengelilinginya (menurut riwayat, besar batu-batu pondasinya "bagaikan punggung unta"). Bukankah perubahan-perubahan itu merupakan tamsil bahwa pada Ka'bah pun ada unsur yang tetap dan ada yang berubah?

Pasti tak terlalu gegabah jika pada akhirnya kita menyimpulkan bahwa yang tetap ialah esensi universalitas Islam-nya, yang berubah ialah wujud dari lokalitasnya. Yang tetap adalah makna dan hakikat ruhaniyahnya, yang berubah adalah simbol dan fungsi jasadiyahnya. Dapatkah kaum arsitek mengambil pelajaran dari padanya? Pada tiap lingkungan binaan manusia pasti ada sesuatu yang sifatnya tetap dan ada yang berubah. Masjid Nabawi juga dari waktu ke waktu mengalami perluasan. Yang sulit adalah menjawab: bagaimana menanggapi perubahan itu dengan baik? Itulah tujuan utama dari orientasi, kebijakan, politik kebudayaan, atau dengan kata yang lebih jelas: tujuan hidup. Mohon lihat http://arsiteknusantara.blogspot.com/2011/09/pendahuluan-memahami-satu-kesatuan.html

Saat ini banyak dari kita yang terkecoh dengan estetika arsitektur masjid. Masjid di Indonesia menjadi sebuah landmark kota. Pemerintah kota berbondong-bondong membangun masjid semegah-megahnya demi menunjukkan prestise kotanya. Begitu juga langgam dan gaya arsitekturnya mulai yang modifikasi masjid tradisional, masjid bergaya timur tengah hingga masjid bergaya modern seperti masjid di jember ini. Ironisnya makna dari sebuah masjid malah diabaikan. Arsitek juga sering terkecoh memaknai arsitektur Islam. Arsitektur Islam hanya dimaknai dari copy-paste langgam dan gaya arsitektur timur tengah. Padahal arsitektur Islam bukanlah mengacu pada bentukan fisik yang berkiblat pada timur tengah atau arsitektur dengan segala keindahannya. Merancang sebuah masjid esensi dasar yang harus diperhatikan adalah nilai dan makna dari sebuah ajaran Islam. Bagaimna sebuah masjid mencerminkan nilai-nilai Islami yang memiliki nilai lokal  (Kesetempatan) dan universal (Kesemestaan). Percuma masjid denga segala keindahaanya namun masih belum mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat sekitar. Sebenarnya tidak hanya masjid di Jember, perhatikan masjid berkubah emas Dian Al-mahari di Depok. Dengan segala monumentalitasnya dan kemegahannya namun masjid tersebut masih belum dekat masyarakat hanya menjadi objek wisata religi. Lebih baik untuk memberdayakan masyarakat miskin dari pada digunakan untuk membagun kubah emas.

Betapa jauhnya nilai Islami yang terkandung di masjid-masjid yang menjadi landmark kota.., sesuatu yang berlebihan sangat dihindari dalam Islam.., Setidaknya kita dapat melihat indikator sejauh mana masjid dapat dikatakan dapat memenuhi prinsip arsitektural yang mengadung nilai-nilai Islami yaitu hablumminnallah (Hubungan dengan Allah), Hablumminannaas (Hubungan sesama manusia masyarakat sekita), Hablumminal Alam (Hubunga dengan alam). Jika kita mengacu pada ketiga aspek tersebut InsyaAllah masjid akan lebih sempurna dan bermanfaat bagi umat.

Lihat blog berikut :http://yuliaonarchitecture.wordpress.com/category/islamic-architecture/

Salam kenal kenal buat penulis mas Halim..., tulisannya sangat menarik, kebtulan saya mahasiswa arsitektur yang tertarik dengan kajian arsitektur masjid dengan berbagai perspektif.., 

kalau flyover mesti didesain secara fungsional menurut saya wajah kota bakal keliatan semrawut ....
ambil contoh semanggi flyover. Bayangkan kalau flyover ini didesain secara fungsional, titik sekecil ini akan merusak keseluruhan wajah kota jakarta.

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.