-A A +A
Versi ramah cetakPDF version

Di lantai dua dan tiga, bisa kita tinggal di sana

Ardi Yunanto
22 Juni 2011



Mungkin memang tak ada keinginan pemerintah untuk mengusahakan dengan baik suatu hunian layak dan terjangkau bagi masyarakatnya. Padahal dengan itu, kualitas hidup warga bisa lebih baik dan laju perekonomian kota, yang masih bisa dikorupsi pemerintah, bisa semakin baik.

Seorang kawan, dengan kesal pernah mengomentari proyek Rusunami dan Rusunawa. Ia sudah tak peduli seberapa banyak pemerintah mau mengorupsi proyek itu, asal proyek itu bisa berjalan dengan baik. Namun seperti yang kita tahu, proyek 1000 menara itu justru terkatung-katung. Minimnya perencanaan, koordinasi, dan yang paling utama, kemauan pemerintah, menyebabkan menara yang baru terbangun 180 unit se-Jabodetabek dan Surabaya itu baru terisi 63 unit. Itu belum membicarakan kualitas bangunan. Harga jual pun naik dari Rp. 114 juta menjadi Rp 180 juta. Sebagian justru dibeli oleh kelas menengah atas yang bukan sasaran penghuninya—untuk investasi. Sementara, masih ada rumah susun yang belum berlistrik dan yang terbengkalai mulai dihuni oleh ular-ular sawah.

Sementara masalah proyek tertunda ini belum kelar, baru-baru ini pemerintah malah berencana membuat 100.000 unit Rumah Super Murah, yang akan menjumpai masalah yang sama: sulitnya pembebasan lahan di tengah kota. Hal yang tidak mampu, atau tidak mau, dilakukan pemerintah sejak dulu, sehingga pengembang, yang pasti tak mau rugi, membeli tanah di pinggiran kota yang lebih murah untuk rumah susun bersubsidi, dan tak mau menanggung ketiadaan infrastruktur memadai yang akhirnya tak juga ditanggung pemerintah. Maka tak heran kalau ada yang tak mau tinggal di rumah susun semacam itu. Lokasi rencana Rumah Super Murah, yang membutuhkan lahan yang lebih luas, jadi terancam di pinggiran juga. Sehingga sama sekali tak menyelesaikan masalah banyaknya pelaju, terutama di kota besar seperti Jakarta, apalagi memenuhi logika standar akan pentingnya kelas bawah dan menengah bisa tinggal di tengah kota, agar kehidupan kota bisa lebih produktif, efisien, murah, dan tentu memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Saat ini, banyak warga di usia produktif yang masih tinggal di rumah orangtua atau mertua, di kos murah yang kumal atau mewah berlebihan, di rumah kontrakan bobrok atau rumah susun kumuh. Sementara apartemen telanjur jadi mainan liar kelas atas untuk investasi yang merampas hak banyak warga kota. Salah satu alasan pemerintah soal pengadaan hunian berkisar pada sulitnya pembebasan lahan di tengah kota tadi: untuk membangun rumah susun sekalipun memang dibutuhkan lahan yang cukup luas. Namun apakah benar ruang kota sudah penuh terisi?

Banyak cara bisa dilakukan, sebenarnya, dari “merebut” apartemen-apartemen mahal yang kosong, sampai “merampas” rumah-rumah orang kaya yang terlalu besar seperti yang kabarnya sedang diteliti oleh pemerintah Belgia. Hal itu tentu terlalu mustahil untuk dibayangkan, apalagi oleh kita yang kian hari kian sulit berimajinasi bersama harapan yang telah menyelinap pergi.

Tetapi sebenarnya masih ada ruang yang selama ini terlupakan. Ruang terbengkalai yang bisa menjadi alternatif bagi pengadaan hunian kelas menengah, setidaknya, atau bahkan kelas bawah sekalian. Ruang-ruang itu adalah lantai atas dari setiap ruko (rumah toko) dan rukan (rumah kantor) yang tersebar tak hanya di tengah, namun juga di seantero kota.

Ruko-ruko yang banyak terdapat di kota-kota Asia Tenggara ini, dalam perjalanannya toh sudah bergeser dari peran awalnya yang merupakan rumah sekaligus toko bagi perantauan Cina. Setelah politik permukiman rasial kolonial (1835 – 1915) dihentikan, masyarakat Cina bebas bermukim di luar Pecinan sehingga wilayah pembangunan ruko semakin meluas. Perkembangan gaya hidup, pada akhirnya membuat ruko tak lagi dihuni pemiliknya. Setelah itu banyak ruko baru dibangun sebagai alat spekulasi properti. Lantai atas ruko lama maupun baru terbengkalai, berakhir sebagai gudang atau barak para pegawai.

Ada satu faktor penting pada ruko, yaitu tangga samping terpisah. Kebanyakan ruko tak memilikinya, sehingga siapapun yang hendak masuk atau berkunjung ke lantai atas, harus melalui toko atau restoran di bawahnya terlebih dulu. Ruang tinggal dipisahkan dari jalan oleh ruang usaha. Maka ketika pemilik ruko bisa membeli rumah baru, yang lebih nyaman dan tak menyatu dengan tempat usaha, praktis ruko tak lagi dihuni sebagai tempat tinggal. Anehnya, konsep kepemilikan satu unit ruko berikut lantai atasnya diteruskan pengembang pada ruko-ruko baru sehingga tangga samping terpisah yang bisa menjadi akses bagi penyewa lain, tak dibangun. Padahal dengan lebar 5 – 6 meter dan panjang belasan meter, ruko cukup luas untuk disewa keluarga kecil. Ruang mubazir itu bisa digunakan oleh penyewa lain dengan membangun tangga samping di luar ruangan sebagai akses tersendiri. Di Kuala Lumpur, Malaysia, apartemen sederhana di atas toko-toko semacam itu banyak ditemukan, dan mungkin juga di kota-kota Asia Tenggara lainnya.

Mungkinkah ide ini diwujudkan? Mungkin, sebagaimana program Rusunami dan Rusunawa seharusnya bisa berhasil. Dengan ruko yang bertebaran di tengah kota, tak diperlukan pembebasan lahan. Yang perlu dilakukan pemerintah adalah mendata lantai atas ruko yang terlantar, membeli unit atau komplek ruko tersebut sehingga pemilik semula hanya memiliki hak guna, atau meminta pemilik ruko menyewakan lantai atasnya kepada orang lain dengan sistem bagi hasil atau imbalan berupa potongan pajak, dan semua itu dikelola oleh manajemen terpisah di bawah pengawasan pemerintah, yang memastikan harga sewa cukup terjangkau bagi kelas menengah atau menengah bawah—sekalipun lokasinya di tengah kota. Lokasi ruko tersebut bisa disesuaikan dengan tempat kerja calon penghuni. Intinya, tak boleh ada ruang mubazir di lantai atas setiap ruko.

Selain itu, pengadaan tangga samping terpisah juga diperlukan, sekalipun berarti mengecilkan ruang semula bagi ruko yang belum memiliki tangga samping dan menimbulkan masalah teknis yang lain lagi. Selanjutnya, adalah faktor keamanan dan kenyamanan di sekitar ruko-ruko ini, yang perlu ditingkatkan kualitasnya demi mendukung “budaya hunian baru” itu. Tak semua orang akan merasa aman tinggal di atas ruko dengan tangga berpintu mereka berhadapan langsung dengan trotoar. Jika lingkungan setempat terlebih dulu dibuat nyaman, aman, dan akrab, keberadaan ruang tinggal baru ini bisa sekaligus diselaraskan dengan pembangunan taman-taman bermain pada radius tertentu, agar “anak-anak baru” lantai atas ruko bisa bermain bersama anak-anak setempat. Kepada para penghuni kloter awal, bisa diberikan potongan sewa yang menggoda karena sebagai contoh pertama, merekalah yang akan memancing minat banyak orang untuk menghuni “apartemen” baru ini.

Pemanfaatan lantai atas ruko yang kosong sebagai apartemen bagi kelas menengah dan menengah bawah ini bisa mendukung solusi yang sudah ada seperti rumah murah, rumah susun, dan apartemen. Jika Anda masih mengira kalau ide ini mustahil diwujudkan, mengingat betapa kacaunya negara ini menyediakan hunian murah bagi warganya, setidaknya ide ini bisa menambah bahan protes baru, yang bisa tak cuma dialamatkan pada persoalan apartemen mewah berlebihan, rusun kumuh, atau program rusun pemerintah dan calon Rumah Super Murah yang sangat meragukan itu; namun juga kritik atas pemubaziran lantai atas ruko maupun rukan. ***




Ardi Yunanto adalah redaktur Karbonjournal.org
Terimakasih kepada Jemi Irwansyah, Joko Adianto, Mohammad Nanda Widyarta, Setiadi Sopandi, dan Prathiwi Widyatmi Putri, atas dukungan dan bantuan referensinya.






 





Ruko-ruko di Jakarta Barat, 2011. Foto oleh Ardi Yunanto.

Komentar

Whoever will certainly win, one thing for guaranteed is that any of us are from the same almamater. We only would like to make new friends along with happy jointly.
LGBT shoppers are unique. They are having a code to communicate, life in addition to join a community. They are very potential buyers.
It could possibly be ascertained that there are a lot of paintings having a very nice effect this really is indeed the ideal. But usually there are many kinds of lovely artwork.
Hi! I know this is kinda off topic but I'd figured I'd ask. Would you be interested in trading links or maybe guest writing a blog post or vice-versa? My website covers a lot of the same topics as yours and I believe we could greatly benefit from each other. If you happen to be interested feel free to shoot me an email. I look forward to hearing from you! Awesome blog by the way!
It's a very stunning valley. I am certain that people who live you will find very peaceful. You could see if there is an option there for a visit.

Good post but I was wondering if you could write a litte more on this subject? I’d be very thankful if you could elaborate a little bit further. Appreciate it!

 

I feel the conversion of one's is vital. This is completed to avoid using the electricity is consistently until tired.

very good post. i like that very much. thanks so much for sharing. hope u can post much more good articles for us to learn together. thanks for your time.

Last week's write-up, Should there be separate tablet along with desktop editions of Windows 7 Ultimate Product Key?, made an amazing discussion inside the forum with folks hitting the scales on sides with the argument - for and against having one particular edition of Windows 7 Ultimate Activation Key for each touchscreen technology tablets and keyboard/mouse desktops. Though I became studying your comments ought to I encountered a hyperlink with a video titled Daily Made from Glass, which exhibits the Corning (the manufacturers of Gorilla Glass) vision for future years on the touch screen using specialty glass. (Due to reader DudeMacs for sharing this linkup in the forum.)

Nice post.Thank you for taking the time to publish this information very useful! I've been looking for books of this nature for a way too long. I'm just glad that I found yours.

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.